Kakak perempuan ibu saya, beserta keluarganya, tinggal di bilangan Cilandak. Lokasi rumahnya berdekatan dengan Kebun Binatang Ragunan. Kalau sedang ada kumpul-kumpul keluarga di sana, biasanya para sepupu kecil saya selalu merengek minta diajak jalan-jalan ke Kebun Binatang. Entah sudah berapa ratus kali saya menemani mereka pergi berkunjung ke sana.
Sore itu, kembali saya dan para sepupu mendatangi Kebun Binatang Ragunan. Biasanya kami akan putar-putar sebentar melihat hewan-hewan, lalu menghabiskan sisa sore dengan piknik di bawah pohon rindang. Mereka akan sibuk berlarian di tengah lapangan luas, sementara saya akan duduk santai di atas tikar, menikmati angin sepoi-sepoi sambil mengamati tingkah dan penampilan pengunjung yang lalu lalang. Betapa saya sangat menikmati momen itu.
Waktu sedang asyik jalan-jalan, kami melintas di sebuah tempat berloket bernama Pertunjukan Satwa Pintar. Di dekatnya ada gambar hewan-hewan yang sedang beratraksi. Karena belum pernah menyaksikan pertunjukan tersebut, sepupu saya langsung merengek penasaran. Terpaksalah saya menurutinya. Setelah membayar tiket masing-masing orang empat ribu rupiah, kami diizinkan masuk. Di dalamnya, ada kursi penonton berundak-undak dari semen yang berderet lima baris ke belakang, menghadap ke tempat sejenis panggung berlantai keramik.
Setelah kursi penonton ramai terisi, pertunjukan pertama dimulai. Seekor burung kakatua menunjukkan kebolehannya dengan membuka kartu-kartu bertuliskan ucapan Selamat Datang. Lalu hewan itu menggerakkan tubuh dengan diiringi musik dangdut, sambil mengikuti instruksi pelatihnya, sehingga tampak persis seperti gerakan manusia. Para penonton yang menyaksikan, termasuk para sepupu kecil saya, tergelak-gelak sambil bertepuk tangan. Kami sungguh terhibur.
Atraksi kedua dibawakan oleh seekor simpanse, yang sebelum sempat menunaikan tugasnya, sudah buru-buru dibawa masuk ke balik panggung. Dari sini, saya mulai merasa tidak nyaman dengan segala pertunjukan ini, sebab pelatih yang menangani simpanse tadi memperlakukan satwanya dengan kasar. Waktu itu hari sudah sore, besar kemungkinan simpanse tadi sudah lelah, sehingga tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya berdiri. Dia tidak menghiraukan sama sekali bujukan pelatihnya. Sementara si pelatih yang mungkin juga sudah sama lelahnya, akhirnya kesal. Hingga akhirnya dia bertindak kasar, lupa bahwa pertunjukan itu disaksikan oleh banyak orang, dimana sebagian besar jumlahnya adalah anak-anak. Berkali-kali disepaknya tubuh simpanse itu dengan menggunakan kaki. Tidak sekuat tenaga memang, tapi tetap saja perbuatan itu tidak pantas. Si pelatih juga terlihat beberapa kali menempeleng kepala si simpanse, yang membuat hewan itu menjerit marah dan menepis lengan si pelatih, hingga akhirnya mahluk malang itu dibawa masuk.
Selanjutnya, masih ada lagi atraksi dari berang-berang yang pandai memasukkan bola ke dalam ring yang mirip seperti ring basket. Selain itu, berang-berang itu juga pandai berhitung. Pelatih menyuruh penonton menyebutkan soal perkalian acak, semisal enam dikali tiga, lalu berang-berang itu akan memutar engkol sebanyak hasil perkalian tersebut. Ajaib, dengan tangannya yang mungil, berang-berang itu benar-benar memutar engkol sebanyak delapan belas kali. Juga untuk soal penjumlahan, dia memutar engkolnya dengan tepat. Kembali penonton ramai bertepuk tangan, kecuali saya.
Buat saya, pertunjukan satwa pintar itu sudah tidak lucu lagi. Kakatua tadi sudah tidak lucu lagi. Berang-berang tadi sudah tidak lucu lagi. Semua gara-gara simpanse malang yang diperlakukan dengan kasar. Pada momen paksaan tadi, ketika si pelatih menempeleng kepalanya, simpanse itu dengan spontan (maaf) buang air besar. Semua penonton bisa dengan jelas menyaksikan ada kotoran meluncur keluar dari bagian belakang tubuh hewan itu. Bagaimana hal itu bisa terjadi, saya tidak mengerti. Mungkin hewan itu hendak meledek, atau mungkin dia depresi, saya tidak paham. Kami semua cuma bisa terhenyak kaget. Sepupu-sepupu saya bahkan sampai terbengong-bengong dengan tampang ngeri.
Sejujurnya, saya sendiri juga kurang yakin apakah perlakuan pelatih tadi bisa dikategorikan kasar atau tidak. Kalau tendangan dan tempelengan dianggap sebagai hal yang tidak berperikemanusiaan dalam dunia manusia, mungkin hal tersebut wajar dalam dunia hewan. Entahlah. Saya cuma orang awam yang bahkan tidak menyukai hewan sama sekali. Tapi hati kecil saya yang terdalam mengatakan, perlakuan tadi tidak seharusnya terjadi.
Terus terang, saya jadi penasaran ingin mengetahui bagaimana kehidupan hewan-hewan tersebut di balik panggung. Apakah mereka diperlakukan dengan layak? Entahlah. Yang pasti, saya menyesal sore itu telah mengizinkan sepupu saya yang masih kecil-kecil menyaksikan pertunjukan tersebut.


0 comments:
Post a Comment