September 06, 2009

MUSEUM ULLEN SENTALU


Terus terang, baru setahun terakhir ini saya mengetahui di pojokan yang sepi di daerah Kaliurang-Jogjakarta, berdiri sebuah museum cantik bernama Ullen Sentalu. Seorang kawan untuk pertama kali bercerita tentang segala keindahannya, sambil menjamin bahwa saya pasti akan suka pada museum tersebut.

Sayang, beberapa orang yang saya anggap cukup mengenal Jogja, tidak mengetahui keberadaan museum tersebut. Lewat milis dan blog para traveler baru saya tahu bahwa museum yang asing di mata orang ’awam’ tersebut rupanya telah ramai dibicarakan di kalangan pewisata budaya.

Pada pertengahan tahun ini, akhirnya saya berkesempatan jalan-jalan ke Jogja. Agenda nomor satu dalam perjalanan tersebut adalah mengunjungi Museum Ullen Sentalu. Saya dan dua sahabat berangkat ke Kaliurang diantar mobil oleh kerabat dari sahabat saya.

Perjalanan menemukan museum tersebut di dalam kompleks wisata Kaliurang tergolong sulit, karena letak museumnya yang agak terpencil. Kerabat sahabat saya yang adalah orang asli Jogja bahkan sama sekali tidak mengetahui keberadaan museum tersebut, baru ketika telah sampai di depannya dia menyadari bahwa dulu sekali rupanya dia sudah pernah datang ke sana untuk mengantar kawannya.

Museum Ullen Sentalu berdiri tegak di dataran yang agak menanjak. Untuk sampai di pintu masuknya, harus melewati beberapa anak tangga dari semen. Pintu masuk dijaga oleh seorang pria berbatik yang pendiam dan tidak banyak berbasa-basi.

Waktu kami tiba di sana, tampak beberapa kelompok kecil keluarga, dan serombongan anak muda yang tengah menunggu di halaman. Rupanya saat itu museum sedang mati listrik. Menurut si penjaga berbatik, di daerah Kaliurang memang sering terjadi mati listrik, yang tidak bisa diprediksi kapan terjadinya dan berapa lama. Dan sayangnya, museum ini tidak dilengkapi dengan mesin genset.

Karena sudah terlanjur berhasrat untuk melihat isi di dalamnya, saya dan para sahabat memutuskan menunggu bersama rombongan lain di halaman. Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya listrik menyala. Dengan tiket seharga Rp. 25.000/ orang, kami serombongan masuk dengan disambut oleh seorang pemandu perempuan yang juga berbaju batik.

Sampai di dalam barulah saya tahu, kenapa pihak museum tega membuat kami semua yang datang dari jauh, menunggu sampai listrik benar-benar menyala. Tanpa lampu, ruangan di dalam museum gelap layaknya terowongan. Ada aroma-aroma tertentu yang membuat kami seperti berada di dalam gua sejarah. Meski udara sejuk karena dilengkapi pendingin ruangan, suasana terasa hangat sebab cahaya lampu dibuat jatuh temaram.

Pemandu kami memperkenalkan diri dengan logat jawa halus. Meski tidak menggunakan mikrofon, suaranya terdengar jelas sebab rombongan kami tertib dan larut dalam suasana yang teduh. Dia menjelaskan susunan pemilik dan pengelola museum tersebut yang rupanya bukan pemerintah.

Kemudian dia menerangkan bahwa Ullen Sentalu adalah museum sejarah budaya jawa. Nama Ullen Sentalu sendiri berasal dari kata bahasa jawa Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku, yang artinya kurang lebih: Pelita Kehidupan.

Kami dibawanya menyusuri satu persatu bagian lorong. Di sepanjang dinding berderet lukisan dan foto para raja dan permaisuri keraton beserta keluarganya. Spot pertama bercerita tentang Gusti Nurul yang adalah putri dari Mangkunegara VIII. Beliau pintar main piano dan menari, sekaligus pandai berkuda. Saat ini beliau telah berusia sekitar delapan puluh tahun, dan tinggal di Bandung.

Satu persatu anggota keluarga keraton dijelaskan oleh pemandu kami. Berderet foto perempuan keraton dengan masing-masing karakternya yang mengagumkan, dalam bermacam-macam busana tradisional jawa, begitu menghipnotis saya. Rasanya seperti tengah berada di jaman lampau. Pikiran saya berkelana jauh membayangkan diri saya duduk di ruangan yang sama dengan mereka. Momen berkhayal di dalam museum itu waktu itu, sungguh tak terlupakan.

Spot lain berisi puluhan model kain batik kuno, dan pemandu kami menjelaskan tentang segala macam nilai filosofi yang terkandung di dalamnya. Bermacam corak batik yang indah dan langka terhampar di hadapan saya dengan begitu mengagumkan.

Salah satu spot yang paling berkesan adalah sebuah lukisan tentang sembilan perempuan keraton yang tengah khusyuk menarikan tarian Bedhaya Ketawang. Pemandu kami menjelaskan, tarian tersebut adalah tarian sakral yang tidak sembarang putri keraton boleh dan bisa menarikannya. Tariannya panjang dan rumit, dan hanya bisa ditarikan oleh orang-orang pilihan.

Menurut kepercayaan, tiap kali tarian itu dipertunjukan, Kanjeng Ratu Kidul akan datang berkunjung untuk menyaksikannya, dan ikut menari sebagai penari yang kesepuluh. Dalam hati saya bercita-cita, semoga satu kali saja seumur hidup, bisa berkesempatan menyaksikan tarian tersebut, entah bagaimana caranya.

Tapi di atas segalanya, bagian favorit saya adalah sebuah ruangan yang di dalamnya penuh dengan pigura berisi macam-macam surat. Menurut keterangan pemandu, surat-surat tersebut adalah surat pribadi yang ditulis tangan oleh keluarga keraton untuk seorang anggota keluarga yang tengah putus cinta. Ada yang berbahasa indonesia, ada pula yang berbahasa belanda. Isinya nasehat berisi kata-kata mutiara untuk menghibur hati. Kebanyakan dikirim dari anggota keluarga yang tengah jauh bersekolah di negeri belanda.

Ruangan itu jadi favorit saya karena di dalam sana pengunjung seperti diajak untuk mengenal putri-putri keraton itu jauh lebih dalam, hampir-hampir secara personal. Tidak ada yang bisa lebih mewah dari diizinkan mengetahui hal yang bersifat pribadi dari orang lain, apalagi surat-surat itu berasal jauh dari lembaran sejarah. Putri-putri keraton itu pandai sekali menulis kata-kata, hampir semuanya puitis dan filosofis bak Kahlil Gibran. Belum lagi tulisan tangan ala jaman dulu kala yang bersambung miring. Saya sampai ketinggalan rombongan karena tidak mau melewatkan barang satu kata pun dari surat-surat itu.

Akhirnya tur satu jam di dalam Museum Ullen Sentalu selesai sudah. Waktu satu jam benar-benar pilihan yang paling tepat. Tidak lebih, tidak kurang. Setelah berjalan melewati ruangan demi ruangan yang naik turun karena dibuat untuk menyesuaikan dengan kontur daerah Kaliurang yang memang naik turun, sampailah kami di ruangan terakhir di mana kami dijamu dengan minuman tradisonal keraton semacam teh.

Sambil istirahat dan menikmati minuman, sekali lagi saya mengedarkan pandang ke segala penjuru museum. Museum Ullen Sentalu adalah museum dengan interor paling indah yang pernah saya lihat. Oh ya, satu hal yang lupa saya ceritakan, pemandu kami bahkan tidak pernah lupa mematikan lampu dan pendingin ruangan manakali kami hendak berpindah ke rungan lain. Tidak ada aliran listrik yang dibiarkan percuma. Betapa museum ini telah dikelola dengan baik sampai pada hal yang sekecil-kecilnya.

Kalau ada orang yang berpikir bahwa bukan orang jawa sia-sia saja mendatangi museum sejarah budaya jawa ini, orang itu sungguh merugi. Sejarah itu milik setiap orang, untuk diambil segala hal yang baik-baik tentangnya. Kunjungan ke museum ini tidak pernah membuat saya berpikir bahwa suku jawa jauh lebih baik ketimbang suku-suku lainnya, ataupun sebaliknya. Museum ini ditujukan untuk orang-orang yang mau belajar dari dan tentang sejarah, juga untuk mereka yang menikmati dan menghargai keindahan.

Ah, jadi teringat saya pada kawan berjasa yang telah memperkenalkan saya pada museum ini. Betapa dia salah besar, bukan hanya saya sekedar suka, melainkan jatuh cinta pada Museum Ullen Sentalu.

0 comments:

Post a Comment