September 03, 2009

Saturday Morning Story

Sudahkah saya bercerita tentang kelanjutan kisah Ayah saya yang pergi dinas ke tempat jauh, hampir setahun yang lalu itu?

Singkat cerita, Ayah saya telah pulang ke tanah air dalam keadaan selamat, tidak kurang suatu apa. Kehidupan kami pun kembali normal seperti sedia kala. Saya sudah bisa tidur nyenyak lagi. Rumah kami sudah ramai kembali. Sementara Ayah saya, masih tetap seperti yang dulu: galak kalau sedang marah, lucu dan ajaib kalau sedang tidak marah.

Tidak percaya kalau Ayah saya masih seperti yang dulu? biar saya ceritakan sepotong kisah yang terjadi beberapa minggu sebelum ramadhan.

Saat itu, saya dan Ayah saya sedang menikmati sabtu pagi di halaman. Saya sambil mengepel lantai teras. Ayah saya sambil duduk santai menghadap ikan-ikan di dalam akuarium. Tak lama, datang tetangga sebelah mengucap permisi di depan pagar, lantas menghambur masuk ke dalam teras. Ia mampir mengantarkan sepiring ketan untuk sarapan pagi, kemudian pamit setelah piring ketannya saya terima dengan ucapan terima kasih.

Sepulangnya sang tetangga, Ayah saya kumat anehnya.

Ayah saya: wah, pagi-pagi ada tetangga nganterin makanan, kamu yang untung (nyeletuk tiba-tiba)
Saya: untung? kenapa? kan aku gak doyan ketan
Ayah saya: iya, untung kamu lagi ngepel, pasti langsung disangkain rajin (tanpa dosa)
Saya: … (cck cck cck)

Hahaha.

Apa saya bilang, Ayah saya masih seperti yang dulu.

PS. Jadi teringat lirik lagunya Dian Pisesha: aku masih seperti yang dulu (yang waktu saya SD lagu-lagunya selalu diputar Ayah saya setiap hari sampai akhirnya saya hafal liriknya satu album)




image from: http://ti4n81.multiply.com/photos/album/4/Dian_Pisesha

0 comments:

Post a Comment