Salah satu teman baik saya, yang adalah teman baik sejak jaman SD, yang kemarin dulu sempat kecanduan novel Twilight itu, menikah sekitar sebulan lalu (atau dua bulan lalu, duh maap saya lupa). Berhubung orangtuanya sudah pindah dinas ke Palembang, yang mana juga adalah kampung halamannya, dan mengingat bahwa resepsi pernikahan adalah hajatan milik orangtua, maka resepsi pernikahannya digelar di kampung halamannya tersebut.
Saya tidak menghadiri acara itu, tentu sudah bisa diduga. Palembang terlalu jauh, dan waktu itu saya sedang pusing sekali dengan pekerjaan, sehingga sama sekali tidak berdaya. Untungnya, teman baik saya itu maklum.
Nah, sampai disitu, semua baik-baik saja. Yang menjadi persoalan adalah, saya lupa tanggal pernikahannya, dan tidak sempat mengucapkan secara langsung. Padahal sebelumnya, di kepala saya sudah terbayang skenario indah tentang membeli kado pernikahan, lalu menyempatkan bertemu dia di Jakarta sebelum acara. Tapi entah bagaimana caranya, saya sibuk sendiri, dan baru tiba-tiba tersadar tentang hal itu pada suatu malam. Detik itu juga, saya sms dia. Betapa hancur hati saya, waktu malam itu dia bilang, dia baru saja landing di Palembang, dan hari pernikahannya adalah besok lusa.
Terus terang, sampai hari ini, saya masih juga belum sempat menemuinya. Entahlah. Belakangan saya dapati saya ini semakin cuek saja pada teman-teman terdekat. Bahkan terhadap salah satu sahabat saya yang bakal berangkat sekolah itu, bisa dibilang saya harus sedikit dipaksa untuk bisa bertemu.
Lalu, masih ada lagi ‘dosa’ saya terhadap teman baik saya yang baru menikah itu. Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja obrolan di status Facebook-nya menyatakan bahwa dia rupanya sudah mulai ngidam. Terus terang, saya sedih sekali harus mengetahuinya dengan cara seperti itu. Kalau saja dalam minggu-minggu ini saya sempat menemuinya, atau setidaknya menyenggol-nyenggol dia di yahoo messenger, mungkin saya bisa mendengar berita bahagia itu langsung dari mulutnya. Tapi nyatanya, saya sudah berubah jadi teman yang cuek sekali.
Dan sejujurnya, masih ada lagi daftar beberapa orang terdekat yang padanya saya merasa berdosa atas kecuekan saya. Tapi lain kali saja saya ceritakan, saya malu menuliskannya.
June 04, 2009
June 03, 2009
LESSON FROM MISTAKES
Hari ini saya mendapat pelajaran berharga sekali. Tentang menyikapi perbedaan pendapat. Tentang memahami orang lain dari posisi dia berada. Tentang pertemanan. Dan tentang maaf.
Bermula dari kasus yang terjadi antara Ibu Prita dan RS. Omni yang ramai diberitakan media, dan mengundang banyak simpati. Jadilah saya ikut merasa terpanggil rasa kepeduliannya, karena sebagai seorang blogger, saya merasa perlu benar ada kejelasan dan keadilan soal bagaimana kebebasan berpendapat dilindungi dalam undang-undang. Dan sebagai seorang awam penyakitan yang sering merasakan menginap di rumah sakit, saya tahu benar bagaimana rasanya merasa kecil dan tak berdaya di hadapan dokter rumah sakit yang kebanyakan angkuh.
Menurut hemat saya, pangkal kasus ini terjadi akibat kecenderungan sebagian besar dokter dan rumah sakit yang arogan, ditambah lagi dengan ketidakmengertian pasien, dan sikap mereka yang pasif. Waktu tadi pagi artikel di sebuah surat kabar mengurai hal yang sama dengan analisa saya, giranglah saya. Lantas saya kutiplah isi artikelnya yang menyebutkan tentang lima hak pasien, saya cantumkan di halaman status yang disediakan oleh situs Facebook.
Harapan saya, bukan cuma para dokter yang berintrospeksi, dengan berbekal sepotong info mengenai hak-haknya, para pasien diharapkan bisa keluar dari lembah ketidakmengertian dan bisa berubah jadi lebih aktif. Mereka biar bisa punya bargaining power untuk mereduksi kearoganan institusi kedokteran.
Nah, salah satu teman baik saya, kebetulan adalah karyawan RS. Omni. Awalnya dia netral saja terhadap kasus ini, paling-paling cuma khawatir imbas buruknya berpengaruh ke karyawan yang tak berdosa seperti dirinya. Tanpa saya duga, siang tadi, waktu saya mencantumkan status itu, dia protes lewat sms. Dia bilang dia tidak senang membaca status saya karena dianggapnya memojokkan rumah sakit tempatnya bekerja.
Terus terang, saya langsung kesal membaca kalimatnya. Padahal jelas-jelas isinya cuma menyebutkan lima hak pasien yang sama sekali tidak menyebutkan nama institusi manapun. Dengan emosi, saya balas smsnya. Isinya, ya kurang lebih mengungkapkan kekesalan saya padanya. Walaupun perasaan saya rada tidak tega karena dia teman baik saya sendiri, saya sudah tidak bisa mengendalikan diri. Kalimat saya cukup emosional.
Setelah berjam-jam, sms saya tak dibalasnya. Terus terang, saya jadi menunggu-nunggu. Penasaran mau tahu apa balasnya, karena teman baik saya ini kebetulan adalah seorang yang reaksioner. Tak disangka tak dinyana, ketika akhirnya balasan sms itu tiba juga, isinya jauh sekali dari dugaan saya. Kalimat pertama dibukanya dengan ucapan maaf, lalu dia mengakui, dia tidak seharusnya menuduh saya. Dia bilang, dia jadi defensif karena khawatir terjadi hal-hal buruk terhadap kantornya, yang jelas berpengaruh terhadap masa depannya. Lantas dia menjelaskan, sulit baginya bersikap netral, tapi pada akhirnya dia sadar dan mencoba menilai semuanya secara proporsional. Terakhir, dia bilang dia tidak mau kehilangan teman baik cuma gara-gara perdebatan sepele.
Duh, hati siapa yang tega kalau sudah membaca kalimat seperti itu. Apalagi, saya sendiri jelas punya salah. Saya tadi terlalu emosi dalam membalas smsnya. Harusnya saya bisa membalas smsnya dengan cara yang lebih anggun dan menyejukkan. Andai tadi saya mau sebentar saja membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi sulit seperti dia, tentu tidak akan begini jadinya. Langsung saya balas smsnya dengan berondongan kata maaf yang tak kalah panjangnya. Sambil dengan mata berkaca-kaca.
Baru saya sadari, ini semua konyol sekali, kami nyaris kehilangan satu sama lain cuma gara-gara perdebatan sepele. Lagipula, bukan begini cara berdebat yang baik dan benar. Kalau salah satu dari kami sudah mulai emosi, harusnya kan salah satunya mencoba mendinginkan, bukan malah membalas dengan statement yang memprovokasi.
Dan setelah saya pikir-pikir lagi, di balik sikapnya yang kadang reaksioner, kawan baik saya itu punya kualitas unggul yang tidak saya miliki. Dia berani berbesar hati meminta maaf terlebih dulu. Taruhan, andaikata tadi dia tidak meminta maaf duluan, mungkin kami masih akan terus menyimpan kesal sampai entah kapan.
Berbekal kejadian hari ini, saya berjanji pada diri sendiri, untuk jangan pernah lagi bertindak menuruti emosi. Belajar melihat segala sesuatu dengan bijaksana. Dan, belajar untuk mau meminta maaf. Duh, betapa maaf itu manis rasanya, obat mujarab untuk segala persoalan.
PS. Lima hak pasien, yaitu mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis, meminta pendapat dokter atau dokter lain, mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis, menolak tindakan medis, dan mendapatkan isi rekam medis
Bermula dari kasus yang terjadi antara Ibu Prita dan RS. Omni yang ramai diberitakan media, dan mengundang banyak simpati. Jadilah saya ikut merasa terpanggil rasa kepeduliannya, karena sebagai seorang blogger, saya merasa perlu benar ada kejelasan dan keadilan soal bagaimana kebebasan berpendapat dilindungi dalam undang-undang. Dan sebagai seorang awam penyakitan yang sering merasakan menginap di rumah sakit, saya tahu benar bagaimana rasanya merasa kecil dan tak berdaya di hadapan dokter rumah sakit yang kebanyakan angkuh.
Menurut hemat saya, pangkal kasus ini terjadi akibat kecenderungan sebagian besar dokter dan rumah sakit yang arogan, ditambah lagi dengan ketidakmengertian pasien, dan sikap mereka yang pasif. Waktu tadi pagi artikel di sebuah surat kabar mengurai hal yang sama dengan analisa saya, giranglah saya. Lantas saya kutiplah isi artikelnya yang menyebutkan tentang lima hak pasien, saya cantumkan di halaman status yang disediakan oleh situs Facebook.
Harapan saya, bukan cuma para dokter yang berintrospeksi, dengan berbekal sepotong info mengenai hak-haknya, para pasien diharapkan bisa keluar dari lembah ketidakmengertian dan bisa berubah jadi lebih aktif. Mereka biar bisa punya bargaining power untuk mereduksi kearoganan institusi kedokteran.
Nah, salah satu teman baik saya, kebetulan adalah karyawan RS. Omni. Awalnya dia netral saja terhadap kasus ini, paling-paling cuma khawatir imbas buruknya berpengaruh ke karyawan yang tak berdosa seperti dirinya. Tanpa saya duga, siang tadi, waktu saya mencantumkan status itu, dia protes lewat sms. Dia bilang dia tidak senang membaca status saya karena dianggapnya memojokkan rumah sakit tempatnya bekerja.
Terus terang, saya langsung kesal membaca kalimatnya. Padahal jelas-jelas isinya cuma menyebutkan lima hak pasien yang sama sekali tidak menyebutkan nama institusi manapun. Dengan emosi, saya balas smsnya. Isinya, ya kurang lebih mengungkapkan kekesalan saya padanya. Walaupun perasaan saya rada tidak tega karena dia teman baik saya sendiri, saya sudah tidak bisa mengendalikan diri. Kalimat saya cukup emosional.
Setelah berjam-jam, sms saya tak dibalasnya. Terus terang, saya jadi menunggu-nunggu. Penasaran mau tahu apa balasnya, karena teman baik saya ini kebetulan adalah seorang yang reaksioner. Tak disangka tak dinyana, ketika akhirnya balasan sms itu tiba juga, isinya jauh sekali dari dugaan saya. Kalimat pertama dibukanya dengan ucapan maaf, lalu dia mengakui, dia tidak seharusnya menuduh saya. Dia bilang, dia jadi defensif karena khawatir terjadi hal-hal buruk terhadap kantornya, yang jelas berpengaruh terhadap masa depannya. Lantas dia menjelaskan, sulit baginya bersikap netral, tapi pada akhirnya dia sadar dan mencoba menilai semuanya secara proporsional. Terakhir, dia bilang dia tidak mau kehilangan teman baik cuma gara-gara perdebatan sepele.
Duh, hati siapa yang tega kalau sudah membaca kalimat seperti itu. Apalagi, saya sendiri jelas punya salah. Saya tadi terlalu emosi dalam membalas smsnya. Harusnya saya bisa membalas smsnya dengan cara yang lebih anggun dan menyejukkan. Andai tadi saya mau sebentar saja membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi sulit seperti dia, tentu tidak akan begini jadinya. Langsung saya balas smsnya dengan berondongan kata maaf yang tak kalah panjangnya. Sambil dengan mata berkaca-kaca.
Baru saya sadari, ini semua konyol sekali, kami nyaris kehilangan satu sama lain cuma gara-gara perdebatan sepele. Lagipula, bukan begini cara berdebat yang baik dan benar. Kalau salah satu dari kami sudah mulai emosi, harusnya kan salah satunya mencoba mendinginkan, bukan malah membalas dengan statement yang memprovokasi.
Dan setelah saya pikir-pikir lagi, di balik sikapnya yang kadang reaksioner, kawan baik saya itu punya kualitas unggul yang tidak saya miliki. Dia berani berbesar hati meminta maaf terlebih dulu. Taruhan, andaikata tadi dia tidak meminta maaf duluan, mungkin kami masih akan terus menyimpan kesal sampai entah kapan.
Berbekal kejadian hari ini, saya berjanji pada diri sendiri, untuk jangan pernah lagi bertindak menuruti emosi. Belajar melihat segala sesuatu dengan bijaksana. Dan, belajar untuk mau meminta maaf. Duh, betapa maaf itu manis rasanya, obat mujarab untuk segala persoalan.
PS. Lima hak pasien, yaitu mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis, meminta pendapat dokter atau dokter lain, mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis, menolak tindakan medis, dan mendapatkan isi rekam medis
Labels:
an unquiet mind
May 25, 2009
You Are What You Eat
Jadi ceritanya, malam itu saya dan adik saya yang perempuan sedang duduk di depan televisi. Tidak berapa lama, muncul di hadapan kami iklan makanan beku dalam kaleng. Perhatian saya langsung tertuju pada sekawanan ikan segar sebagai bahan baku makanan kaleng tersebut.
“Ih, ikan teri,..!” celetuk saya spontan.
“Yeeee, itu mah ikan tunaa,..” adik saya kontan protes. Nada suaranya terdengar sangat terganggu, demi mendapati kakaknya yang tiada sanggup membedakan jenis ikan. Walaupun sesungguhnya dia harus memakluminya, karena bertahun-tahun tinggal satu rumah, dia tahu benar saya tidak pandai membedakan makanan. (Saya bahkan tidak bisa membedakan tekstur daging: kambing atau sapi. Hahaha).
Nah, ketika saya sedang tertawa geli dalam hati mengingat kebodohan sendiri, tiba-tiba adik saya ikut-ikutan tertawa. Tawanya sungguh menyebalkan. Dan seolah-olah seperti baru saja mendapatkan ilham, di sela-sela tawanya dia berujar:
“You are what you eat! Hahahaha!”
Tawanya membahana makin kencang. Lama-lama makin menyebalkan. Sungguh memalukan sekali. Padahal, kalau menu makan saya selama ini teri, harusnya dia juga begitu, wong kami serumah. Sial. Tapi yah sudahlah, teri itu kan sehat, banyak kalsiumnya. Hahaha.
“Ih, ikan teri,..!” celetuk saya spontan.
“Yeeee, itu mah ikan tunaa,..” adik saya kontan protes. Nada suaranya terdengar sangat terganggu, demi mendapati kakaknya yang tiada sanggup membedakan jenis ikan. Walaupun sesungguhnya dia harus memakluminya, karena bertahun-tahun tinggal satu rumah, dia tahu benar saya tidak pandai membedakan makanan. (Saya bahkan tidak bisa membedakan tekstur daging: kambing atau sapi. Hahaha).
Nah, ketika saya sedang tertawa geli dalam hati mengingat kebodohan sendiri, tiba-tiba adik saya ikut-ikutan tertawa. Tawanya sungguh menyebalkan. Dan seolah-olah seperti baru saja mendapatkan ilham, di sela-sela tawanya dia berujar:
“You are what you eat! Hahahaha!”
Tawanya membahana makin kencang. Lama-lama makin menyebalkan. Sungguh memalukan sekali. Padahal, kalau menu makan saya selama ini teri, harusnya dia juga begitu, wong kami serumah. Sial. Tapi yah sudahlah, teri itu kan sehat, banyak kalsiumnya. Hahaha.
Labels:
an unquiet mind
May 24, 2009
Natural Born Striker
Andaikata kamu terlahir sebagai pemain sepak bola, aku yakin kamu akan jadi striker yang andal. Betapa kamu berbakat melakukannya. Sungguh.
Labels:
an unquiet mind
May 18, 2009
Another Long Distance Relationship
Salah satu dari dua sahabat saya yang indah itu, yang selama ini berjuang demi beasiswa untuk melanjutkan sekolah, akhirnya mendapatkan ganjaran manis dari serangkaian perjuangannya yang seolah tiada akhir itu. Beberapa bulan yang lalu dia mendapat kabar diterima pada pilihan pertama dari tiga universitas yang dilamarnya: Cornell University.
Cornell University yang terletak di New York ini, adalah salah satu dari delapan universitas bergengsi di Amerika Serikat yang tergabung dalam Ivy League, termasuk di dalamnya Harvard dan Yale. Untuk saya yang kerdil jiwanya dan kurang motivasinya ini, terus terang, tidak pernah berani bermimpi menuntut ilmu jauh sampai ke Amerika. Tapi sahabat saya yang cerdas nan pekerja keras itu telah membuktikan pada saya sebuah kalimat yang sering dikutipnya: bahwa Tuhan tidak pernah bermain dadu. Siapapun yang berani memperjuangkan mimpinya, akan mendapatkan mimpi itu dalam genggamannya.
Bicara tentang Amerika, sudah pasti bicara pula tentang negara adikuasa dengan paham kapitalismenya yang telah meminta banyak korban, termasuk Indonesia. Terbayang oleh saya, betapa sahabat saya akan bersinggungan ideologi begitu dekat dengan semua itu. Namun, tak bisa dipungkiri, Amerika juga adalah sebuah lambang pencapaian. Betapa sahabat saya akan pulang sebagai calon ekonom yang mudah-mudahan bisa memberikan sumbangsih buat tanah airnya. Dan terus terang, di balik semua harapan dan kekhawatiran, saya sangat bangga padanya.
Pernah pada suatu siang yang panas, kami duduk bertiga di dalam kamar kos sahabat saya di Menteng, sambil histeris membayangkan tentang Amerika. Jangankan kami, Miss Bloomwood yang tinggal di London saja tak luput dari histeria ketika pertama kali menginjakkan kaki di New York. Kami membayangkan bagaimana rasanya hidup sendirian di tengah-tengah hiruk pikuk si Big Apple. Oh, Amerika, disanalah sahabat saya akan tinggal selama dua setengah tahun ke depan. Awal Agustus dia sudah akan berangkat, demi mengikuti serangkaian persiapan untuk perkuliahan yang akan dimulai pada September ini.
Selama beberapa bulan yang masih tersisa, sahabat saya sungguh-sungguh memanfaatkan waktu dengan baik. Sejak awal tahun, dia sudah berhenti tinggal di tempat kosnya, dan memutuskan untuk bolak-balik Menteng-Karawaci supaya bisa punya banyak waktu untuk sahabat dan keluarganya. Hampir tiap minggu kami bertiga menyempatkan diri untuk bertemu, yang setiap akhir pertemuannya selalu membuat malam hari saya dipenuhi dengan tangisan cengeng karena membayangkan dua setengah tahun yang panjangnya seperti selamanya — tapi saya tidak pernah mengakui itu di hadapannya, sebab sahabat saya sangat menghindari percakapan yang akan membuat kami bertangisan.
Di belakang segala ketegarannya, sahabat saya didukung pula oleh ibu yang tegar. Dari jauh-jauh hari ibunda sahabat saya malah telah memberikan pesan yang isinya cukup ekstrim, bahwa kelak di Amerika nanti, apabila sahabat saya mengalami masalah, atau terkena penyakit yang masih bisa ditanggulangi, dia harus belajar menyimpannya sendirian. Segala kesulitan harus bisa diselesaikan sendiri. Cuma kabar gembira yang boleh diberitakan ke tanah air, selain itu, dilarang keras untuk mengabarkannya. Kabar buruk cuma akan membuat hati ibundanya hancur, karena tiket ke Amerika tidak murah, dan mengurus visa ke Amerika tidak mudah. Sahabat saya telah sepakat dengan perjanjian itu, dan saya pun mencoba tegar.
Yah, sejujurnya, kami bertiga telah terbiasa hidup berjauhan. Sewaktu kuliah, kami terpisah empat tahun lamanya: saya di Jakarta, sahabat saya di Bandung, sementara yang satunya lagi di Purwokerto. Tapi waktu itu, walaupun sebagian besar komunikasi dilakukan lewat email dan sms, selalu ada waktu dimana mereka akhirnya berpulangan setiap enam bulan sekali.
Sementara kali ini, tiga puluh bulan ke depan itu kecil kemungkinan akan memberikan jeda bagi sahabat saya untuk pulang. Saya bisa mati karena rindu. Air mata saya bisa kering karena menangisinya. Dan selama jangka waktu yang tidak sebentar itu, akan ada banyak hal yang bisa terjadi. Saya atau sahabat saya yang satu lagi bisa saja menemukan jodoh kami masing-masing, lalu kami menikah, lalu punya anak, dan sahabat saya yang pergi tidak bisa menyaksikannya. Duh, Tuhan, betapa saya benci perpisahan.
Belum lagi kalau sahabat saya itu dilanda masalah di sana. Dia sendirian. Dia kesusahan. Dia kebingungan. Betapa dia membutuhkan kami seperti layaknya kemarin saat dia sedang membutuhkan kami. Oh, terkutuklah saya dan tulisan saya yang mengerdilkan hati ini.
Tapi, kalau saya pikir-pikir lagi, tegakah saya melihat sahabat saya yang sudah setengah jalan itu mundur ke belakang gara-gara kami yang ditinggalkan cengeng berlebihan? dan bukankah semua orang hebat di luar sana melakukan apa yang sahabat saya lakukan? mereka meninggalkan rumah dan segala kenyamanan, meninggalkan sarang dan keluarga, demi hidup yang sebenar-benarnya.
Ah, sudahlah, usah menangis. Saya percaya sahabat saya adalah bagian dari rencana besar semesta. Dan saya percaya dia akan baik-baik saja. Tuhan selalu bersama orang-orang yang memeluk mimpinya, bukan?
“Pemahaman memang membutuhkan usaha. Barangkali kamu tidak akan mengagumi seorang teman yang pandai dalam segala hal jika untuk itu dia tidak perlu banyak berusaha.” (Dunia Sophie)
Cornell University yang terletak di New York ini, adalah salah satu dari delapan universitas bergengsi di Amerika Serikat yang tergabung dalam Ivy League, termasuk di dalamnya Harvard dan Yale. Untuk saya yang kerdil jiwanya dan kurang motivasinya ini, terus terang, tidak pernah berani bermimpi menuntut ilmu jauh sampai ke Amerika. Tapi sahabat saya yang cerdas nan pekerja keras itu telah membuktikan pada saya sebuah kalimat yang sering dikutipnya: bahwa Tuhan tidak pernah bermain dadu. Siapapun yang berani memperjuangkan mimpinya, akan mendapatkan mimpi itu dalam genggamannya.
Bicara tentang Amerika, sudah pasti bicara pula tentang negara adikuasa dengan paham kapitalismenya yang telah meminta banyak korban, termasuk Indonesia. Terbayang oleh saya, betapa sahabat saya akan bersinggungan ideologi begitu dekat dengan semua itu. Namun, tak bisa dipungkiri, Amerika juga adalah sebuah lambang pencapaian. Betapa sahabat saya akan pulang sebagai calon ekonom yang mudah-mudahan bisa memberikan sumbangsih buat tanah airnya. Dan terus terang, di balik semua harapan dan kekhawatiran, saya sangat bangga padanya.
Pernah pada suatu siang yang panas, kami duduk bertiga di dalam kamar kos sahabat saya di Menteng, sambil histeris membayangkan tentang Amerika. Jangankan kami, Miss Bloomwood yang tinggal di London saja tak luput dari histeria ketika pertama kali menginjakkan kaki di New York. Kami membayangkan bagaimana rasanya hidup sendirian di tengah-tengah hiruk pikuk si Big Apple. Oh, Amerika, disanalah sahabat saya akan tinggal selama dua setengah tahun ke depan. Awal Agustus dia sudah akan berangkat, demi mengikuti serangkaian persiapan untuk perkuliahan yang akan dimulai pada September ini.
Selama beberapa bulan yang masih tersisa, sahabat saya sungguh-sungguh memanfaatkan waktu dengan baik. Sejak awal tahun, dia sudah berhenti tinggal di tempat kosnya, dan memutuskan untuk bolak-balik Menteng-Karawaci supaya bisa punya banyak waktu untuk sahabat dan keluarganya. Hampir tiap minggu kami bertiga menyempatkan diri untuk bertemu, yang setiap akhir pertemuannya selalu membuat malam hari saya dipenuhi dengan tangisan cengeng karena membayangkan dua setengah tahun yang panjangnya seperti selamanya — tapi saya tidak pernah mengakui itu di hadapannya, sebab sahabat saya sangat menghindari percakapan yang akan membuat kami bertangisan.
Di belakang segala ketegarannya, sahabat saya didukung pula oleh ibu yang tegar. Dari jauh-jauh hari ibunda sahabat saya malah telah memberikan pesan yang isinya cukup ekstrim, bahwa kelak di Amerika nanti, apabila sahabat saya mengalami masalah, atau terkena penyakit yang masih bisa ditanggulangi, dia harus belajar menyimpannya sendirian. Segala kesulitan harus bisa diselesaikan sendiri. Cuma kabar gembira yang boleh diberitakan ke tanah air, selain itu, dilarang keras untuk mengabarkannya. Kabar buruk cuma akan membuat hati ibundanya hancur, karena tiket ke Amerika tidak murah, dan mengurus visa ke Amerika tidak mudah. Sahabat saya telah sepakat dengan perjanjian itu, dan saya pun mencoba tegar.
Yah, sejujurnya, kami bertiga telah terbiasa hidup berjauhan. Sewaktu kuliah, kami terpisah empat tahun lamanya: saya di Jakarta, sahabat saya di Bandung, sementara yang satunya lagi di Purwokerto. Tapi waktu itu, walaupun sebagian besar komunikasi dilakukan lewat email dan sms, selalu ada waktu dimana mereka akhirnya berpulangan setiap enam bulan sekali.
Sementara kali ini, tiga puluh bulan ke depan itu kecil kemungkinan akan memberikan jeda bagi sahabat saya untuk pulang. Saya bisa mati karena rindu. Air mata saya bisa kering karena menangisinya. Dan selama jangka waktu yang tidak sebentar itu, akan ada banyak hal yang bisa terjadi. Saya atau sahabat saya yang satu lagi bisa saja menemukan jodoh kami masing-masing, lalu kami menikah, lalu punya anak, dan sahabat saya yang pergi tidak bisa menyaksikannya. Duh, Tuhan, betapa saya benci perpisahan.
Belum lagi kalau sahabat saya itu dilanda masalah di sana. Dia sendirian. Dia kesusahan. Dia kebingungan. Betapa dia membutuhkan kami seperti layaknya kemarin saat dia sedang membutuhkan kami. Oh, terkutuklah saya dan tulisan saya yang mengerdilkan hati ini.
Tapi, kalau saya pikir-pikir lagi, tegakah saya melihat sahabat saya yang sudah setengah jalan itu mundur ke belakang gara-gara kami yang ditinggalkan cengeng berlebihan? dan bukankah semua orang hebat di luar sana melakukan apa yang sahabat saya lakukan? mereka meninggalkan rumah dan segala kenyamanan, meninggalkan sarang dan keluarga, demi hidup yang sebenar-benarnya.
Ah, sudahlah, usah menangis. Saya percaya sahabat saya adalah bagian dari rencana besar semesta. Dan saya percaya dia akan baik-baik saja. Tuhan selalu bersama orang-orang yang memeluk mimpinya, bukan?
“Pemahaman memang membutuhkan usaha. Barangkali kamu tidak akan mengagumi seorang teman yang pandai dalam segala hal jika untuk itu dia tidak perlu banyak berusaha.” (Dunia Sophie)
Labels:
an unquiet mind
May 15, 2009
TAPI,…
“Kalau terlalu banyak tapi, setiap kisah dan dongeng tidak akan pernah berlanjut. Diam dia menggantung tak ke mana-mana.”
Andi Eriawan
Andi Eriawan
Labels:
an unquiet mind
May 01, 2009
FLIRTATION
It can be very, very sexy to drive a car, and completely unsexy to flirt with someone at a bar.
Bjork
Bjork
Labels:
an unquiet mind

