Salah satu teman baik saya, yang adalah teman baik sejak jaman SD, yang kemarin dulu sempat kecanduan novel Twilight itu, menikah sekitar sebulan lalu (atau dua bulan lalu, duh maap saya lupa). Berhubung orangtuanya sudah pindah dinas ke Palembang, yang mana juga adalah kampung halamannya, dan mengingat bahwa resepsi pernikahan adalah hajatan milik orangtua, maka resepsi pernikahannya digelar di kampung halamannya tersebut.
Saya tidak menghadiri acara itu, tentu sudah bisa diduga. Palembang terlalu jauh, dan waktu itu saya sedang pusing sekali dengan pekerjaan, sehingga sama sekali tidak berdaya. Untungnya, teman baik saya itu maklum.
Nah, sampai disitu, semua baik-baik saja. Yang menjadi persoalan adalah, saya lupa tanggal pernikahannya, dan tidak sempat mengucapkan secara langsung. Padahal sebelumnya, di kepala saya sudah terbayang skenario indah tentang membeli kado pernikahan, lalu menyempatkan bertemu dia di Jakarta sebelum acara. Tapi entah bagaimana caranya, saya sibuk sendiri, dan baru tiba-tiba tersadar tentang hal itu pada suatu malam. Detik itu juga, saya sms dia. Betapa hancur hati saya, waktu malam itu dia bilang, dia baru saja landing di Palembang, dan hari pernikahannya adalah besok lusa.
Terus terang, sampai hari ini, saya masih juga belum sempat menemuinya. Entahlah. Belakangan saya dapati saya ini semakin cuek saja pada teman-teman terdekat. Bahkan terhadap salah satu sahabat saya yang bakal berangkat sekolah itu, bisa dibilang saya harus sedikit dipaksa untuk bisa bertemu.
Lalu, masih ada lagi ‘dosa’ saya terhadap teman baik saya yang baru menikah itu. Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja obrolan di status Facebook-nya menyatakan bahwa dia rupanya sudah mulai ngidam. Terus terang, saya sedih sekali harus mengetahuinya dengan cara seperti itu. Kalau saja dalam minggu-minggu ini saya sempat menemuinya, atau setidaknya menyenggol-nyenggol dia di yahoo messenger, mungkin saya bisa mendengar berita bahagia itu langsung dari mulutnya. Tapi nyatanya, saya sudah berubah jadi teman yang cuek sekali.
Dan sejujurnya, masih ada lagi daftar beberapa orang terdekat yang padanya saya merasa berdosa atas kecuekan saya. Tapi lain kali saja saya ceritakan, saya malu menuliskannya.


0 comments:
Post a Comment