June 13, 2008

HEART IS THE MOST WONDERFUL ORGAN

"..., I love the heart, it’s the most wonderful organ"

Laki-laki itu benar, hati adalah organ yang paling menakjubkan: satu-satunya organ perasa untuk menginderai hujan cinta dari semesta.

PS. Lucu, karena laki-laki yang memberikan pelajaran tentang logika adalah laki-laki yang sama dengan yang mengucapkan kebenaran tentang hati. Ah, terpujilah laki-laki itu.

June 12, 2008

KILAU CINTA PEREMPUAN MUDA YANG TENGAH JATUH CINTA*

buat FS

Seorang perempuan muda nampaknya sedang jatuh cinta. Diceritakannya kisah itu pada dunia, seperti sebagaimana semua orang yang tengah jatuh cinta ingin berbagi kisah itu pada dunia, dalam bentuk tulisan yang sedemikian rupa disamarkannya. Tapi tentu saja segala bentuk penyamaran itu adalah wajar, karena memang demikianlah adanya cinta: misterius. Namun akhirnya, betapa pun penyamaran itu dilakukan dengan sedemikian rupa, perempuan muda yang tengah jatuh cinta itu gagal membendung kilau cinta yang memancar dari dirinya, seperti sebagaimana semua orang yang tengah jatuh cinta tidak akan sanggup membendung kilau cinta yang memancar dari dirinya.

Maka, dengan mengacu pada semua kilau cinta yang tidak berhenti memancar, teman baik si perempuan muda menghampirinya seraya berkata:

"OMG, romantisnyaaaah! Insting gw mengatakan, ini semua berhubungan dengan perkara email tengah malam, ya kaaaaan? hehehehe."

Wajah si perempuan muda langsung merah padam, dan dia memilih tidak berkomentar. Tapi mendapati perempuan muda yang tidak menjawab apa-apa, si teman baik sama sekali tidak kecewa, malah sebaliknya:

"Hohohohohohoo, tidak berkomentar udah cukup buat gw. Oh, aku bangga dengan instingku, hahahaha."

Lama-lama, si perempuan muda tidak tahan untuk tidak berkomentar, lalu dia menjawab:

"Soooook tauuuuu deehh situuuu. Ahahahahhaa. Aku juga bangga dengan kemisteriusanku. Ahahahaha."

Si teman baik cuma tersenyum gemas mendapati jawaban si perempuan muda yang masih saja berusaha menyembunyikan kilau jatuh cinta dalam dirinya.

"Ih, biarin, nanti juga klo udah jelas apa-apanya, foto2 yang di upload bakal bicara. Hehehehehee."

Demikianlah tanggapan si teman baik atas usaha si perempuan muda yang sia-sia. Tapi akhirnya, akhirnya, perempuan muda itu menyerah pasrah, dengan cara yang begitu diplomatis:

"AHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAA. You don’t know how much I hate you for knowing me so well. Benciiiiiiii. AHAHAHHAHAHAHA"

Si teman baik tersenyum bahagia dari dasar hati. Bukan hanya karena si perempuan muda akhirnya mengaku, tapi lebih karena dirinya disebut sebagai teman yang mengerti. Terpujilah kilau jatuh cinta itu: ada banyak orang yang berbahagia karenanya.

June 11, 2008

KATA-KATA

Kata-kata adalah kupu-kupu yang berebut bunga, adalah bunga yang berebut warna, adalah warna-warna yang berebut cahaya, adalah cahaya yang berebut cakrawala, adalah cakrawala yang berebut saya.

Joko Pinurbo

June 10, 2008

TEMAN TIDUR

Kadang-kadang, saya kepingin punya teman tidur, agar saya tidak perlu terjaga sendirian di atas tempat tidur pada masa-masa sulit tidur, tapi dia harus seseorang yang bisa membuat saya jatuh tertidur karena saya tidak mau berbagi tempat tidur dengan orang yang membuat saya tidak bisa tidur.

Kadang-kadang, saya kepingin punya teman tidur, agar saya bisa berbagi cerita sebelum tidur pada saat-saat sunyi menjelang tidur, tapi dia harus seseorang yang tidak berhenti menemani hanya sampai saya jatuh tertidur karena saya masih ingin terus berbagi tempat tidur pada saat saya bangun tidur.

Tapi kadang-kadang, saya sama sekali tidak kepingin punya teman tidur, karena cuma kadang-kadang saja saya kepingin punya teman tidur.

Juni 2008

June 04, 2008

WELCOME BABY JOANNA!



Bayi mungil bermata sipit yang fotonya saya pampang di atas bernama Joanna. Usianya kurang lebih baru sepuluh hari. Dari sejak dia dilahirkan, belum pernah saya menemuinya langsung. Maklum saja, bayi Joanna berada jauh di Singapura sana, sehingga dalam waktu dekat pun, saya ragu bakal bisa menengoknya langsung untuk mengucapkan selamat datang, kecuali dalam hati saja.

Lantas, siapakah sebenarnya bayi Joanna? dan bagaimana caranya gambar dirinya bisa tiba-tiba sampai di tangan saya?

Semua berawal dari Ibunya. Ya, Ibunda bayi Joanna adalah atasan saya di kantor. Masih muda. Namanya Paula. Sebenarnya, sudah beberapa kali saya menulis tentang dia di blog ini: sewaktu perpisahan kami sebelum dia harus kembali ke kantor pusat di Singapura, dan sewaktu saya menghadiri pesta pernikahannya lebih dari setahun yang lalu. Tapi pagi ini, ketika foto bayi Joanna yang wajahnya begitu mirip dengan Ibundanya tiba di email saya, saya jadi kepingin menulis lagi.

Ibunda bayi Joanna adalah salah satu perempuan yang sangat saya kagumi. Dia adalah seorang perempuan keturunan Tionghoa berkewarganegaraan Indonesia yang keluarga besarnya menetap di Bandung. Dia bekerja di kantor pusat di Singapura, dan sekitar dua tahun yang lalu dipindahtugaskan ke Indonesia untuk membantu membenahi Accounting Departement yang saat itu tengah menghadapi beberapa kendala. Dia menetap selama satu tahun di kantor Jakarta sebagai Supervisor.

Selama satu tahun itu, hampir setiap hari saya berinteraksi dengannya akibat berbagai macam masalah yang terjadi, mulai dari system error, sampai metode pencatatan jurnal yang rupanya masih banyak kekurangan. Selama waktu-waktu itu, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana dia bekerja dengan begitu profesional. Dia tidak sekedar duduk diam sambil mengawasi, melainkan ikut menyelami. Semua permasalahan dikupasnya satu-persatu, dengan begitu teliti. Hampir setiap malam dia bekerja lembur di kantor, duduk di kursinya di pojok ruangan tanpa keluhan sedikit pun. Tatapannya lurus saja ke depan, sementara kepalanya tenggelam dalam tumpukan dokumen. Dan setiap saat saya menghampirinya untuk mengadukan masalah, dia tidak pernah tidak mengangkat kepalanya dengan tatapan ramah penuh senyuman, betapa pun saya yakin saya telah membuyarkan konsentrasinya.

Selain itu, secara tidak langsung, Ibunda bayi Joanna juga merangkap sebagai penyambung lidah antara karyawan di Jakarta dengan karyawan di Singapura. Selama ini, karyawan kantor pusat di Singapura memiliki anggapan bahwa kami-kami yang di Jakarta memiliki kinerja yang payah, karena output pekerjaan kami sering terlambat dikirim, dan keakuratan data seringkali masih perlu diperbaiki. Namun semenjak dia bergabung di kantor Jakarta, perlahan-lahan mereka dapat menilai kami dengan objektif: anggapan itu tidak sepenuhnya benar, SDM Jakarta tidak sepenuhnya payah, karena rupa-rupanya sistem yang digunakan oleh kami (yang merupakan hasil rancangan mereka) masih memiliki banyak kekurangan, sehingga proses pekerjaan kami membutuhkan usaha lebih keras dari mereka yang berada di kantor pusat di Singapura. Dia adalah wakil dari Singapura yang pertama kali merasakan langsung bagaimana payahnya sistem kami waktu itu, dan selanjutnya selalu berusaha membela manakala ada pihak-pihak yang cenderung menyalahkan kami tanpa berusaha melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi.

Demikianlah akhirnya saya jatuh kagum pada Ibunda bayi Joanna. Saya dan dia memang tidak dekat secara personal, tapi dalam cara sedemikian rupa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, saya bisa merasakan kedekatan rasa dengannya. Bisa saya rasakan tatapannya yang hangat menyentuh sampai ke hati. Bahkan seorang teman pernah bercerita pada saya, bahwa di tengah-tengah meeting bersama pihak manajemen, Ibunda bayi Joanna sempat-sempatnya memuji saya dan meminta secara khusus agar saya dibelikan lampu meja, karena menurut hematnya tempat duduk saya yang terletak di pojok dekat jendela penerangannya kurang bagus kalau malam hari, sementara kuantitas pekerjaan mengharuskan saya rajin lembur. Dan kini, lampu meja itu telah lama bertengger nyaman di sebelah PC saya.

Tambahan lagi, waktu saya menghadiri pesta pernikahannya di Jakarta lebih dari setahun yang lalu, saya diperkenalkan pada suaminya dengan sebutan "colleague", padahal rasanya saya lebih pantas disebut sebagai "subordinate", karena dia jelas-jelas adalah Supervisor saya. Entahlah, mungkin karena sudah terlanjur kagum, saya jadi berlebihan menanggapi sebutan yang sepele itu, tapi yang jelas, saya merasa begitu dihargai. Dan sewaktu akhirnya dia harus kembali ke kantor pusat di Singapura, saya masih ingat betapa saat itu kami bertangisan sambil berpelukan, dan dia berpesan pada saya untuk mengurangi waktu lembur.

Maka, ketika pagi ini foto bayi Joanna yang wajahnya begitu mirip dengan Ibundanya tiba di email saya, dengan penuh kasih sayang dari lubuk hati yang terdalam segera saya ucapkan selamat datang kepadanya.

June 03, 2008

DEADLINE

I love deadline.
I especially love the whooshing sound it makes as it goes flying by.

anonymous

May 27, 2008

TERPUJILAH ADIK SAYA

Adik saya yang perempuan, punya motivasi belajar yang sangat tinggi. Terutama kalau musim ujian tiba, kami sekeluarga sampai harus mengingatkan dia untuk mengurangi belajar dan memperbanyak hiburan. Karena dia sanggup belajar dari malam sampai pagi, dengan konsentrasi yang menakjubkan, terus hingga berhari-hari berturut-turut, dengan ketabahan yang malah jadi mengkhawatirkan.

Selepas lulus kuliah dari fakultas Pertanian beberapa bulan yang lalu, nasib membawanya menyeberang ke tempat yang sama sekali berbeda: dia diterima bekerja di dunia Perbankan. Sebagai seorang Sarjana Pertanian yang sama sekali buta tentang dunia Perbankan, adik saya harus belajar lagi dari nol. Tapi alih-alih menyerah, dia malah merasa tertantang. Hampir setiap pulang bekerja, dia berkutat dengan serius di hadapan tumpukan buku-buku Ekonomi. Dan hampir setiap akhir pekan, dia duduk dengan tekun di hadapan saya, demi sebuah kursus singkat dari seorang kakak yang kuliah di jurusan Akuntansi, betapa pun payahnya penjelasan saya, betapa pun bencinya saya pada ilmu yang satu itu.

Tapi rupanya semesta memang benar-benar adil. Atas semua jerih payah dan kerja kerasnya, adik saya memetik hasil yang cukup manis. Dan terpujilah adik saya, yang begitu mudah kecanduan pada kenikmatan menyumbangkan sejumlah uang buat keluarganya, walaupun cuma sekedarnya. Tidak bosan-bosannya dia, atas keinginannya sendiri, membayari jajan kami sekeluarga, termasuk saya yang notabene punya penghasilan sendiri tapi tidak punya pengeluaran berarti. Dia mengakui pada saya, bahwa ternyata membayari jajan keluarganya, walaupun cuma sekedarnya, adalah sebuah kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Sore ini, waktu jam pulang kantor tiba, saya masih asyik menekuni jurnal saya. Kalau sedang suntuk dan kepingin sendirian, saya paling suka menenggelamkan diri ke dalam pekerjaan. Daripada harus repot-repot memikirkan kesuntukkan, saya lebih suka menggunakan pikiran saya untuk pekerjaan, betapa pun pekerjaan yang kini saya jalani, bukanlah dunia saya.

Tiba-tiba, telepon genggam saya berbunyi. Ada pesan masuk. Rupanya dari adik saya, yang kebetulan gedung kantornya berada satu area dengan gedung kantor saya. Dia mengabarkan bahwa dirinya tengah berada di dalam patas, dan patas yang ditumpanginya sedang menuju gedung kantor saya. Dia menyuruh saya segera turun supaya bisa pulang bersama-sama dengannya, terutama karena kebetulan patas itu tidak penuh penumpang. Cepat-cepat saya balas pesannya, saya katakan bahwa hari ini saya berniat lembur. Tapi adik saya belum mau menyerah, dia menawari untuk membayari ongkos saya pulang. Saya bisa melihat nada bangga yang apa adanya di dalam susunan kata-katanya. Tapi sayangnya hari ini saya sedang benar-benar kepingin sendirian, sehingga dengan teramat menyesal saya tolak tawaran manisnya.

Entah bagaimana caranya, setelah membalas pesan adik saya, saya langsung menangis tersedu-sedu. Bukan atas kesombongan seorang kakak yang merasa tidak pantas dibayari adiknya. Tapi, karena saya benar-benar terharu. Saya terharu pada bagaimana dia begitu kepingin membahagiakan keluarganya. Padahal selama ini dia telah membuat saya bangga. Motivasi belajarnya yang menakjubkan itu sudah lebih dari cukup untuk membahagiakan bapak dan ibu saya. Bahkan andaikata dia hanya seorang mahasiswa drop out karena tiba-tiba malas menyelesaikan kuliah, saya akan tetap bangga padanya. Karena di atas segalanya, dia adalah adik saya. Ah, terpujilah adik saya itu.