June 04, 2008

WELCOME BABY JOANNA!



Bayi mungil bermata sipit yang fotonya saya pampang di atas bernama Joanna. Usianya kurang lebih baru sepuluh hari. Dari sejak dia dilahirkan, belum pernah saya menemuinya langsung. Maklum saja, bayi Joanna berada jauh di Singapura sana, sehingga dalam waktu dekat pun, saya ragu bakal bisa menengoknya langsung untuk mengucapkan selamat datang, kecuali dalam hati saja.

Lantas, siapakah sebenarnya bayi Joanna? dan bagaimana caranya gambar dirinya bisa tiba-tiba sampai di tangan saya?

Semua berawal dari Ibunya. Ya, Ibunda bayi Joanna adalah atasan saya di kantor. Masih muda. Namanya Paula. Sebenarnya, sudah beberapa kali saya menulis tentang dia di blog ini: sewaktu perpisahan kami sebelum dia harus kembali ke kantor pusat di Singapura, dan sewaktu saya menghadiri pesta pernikahannya lebih dari setahun yang lalu. Tapi pagi ini, ketika foto bayi Joanna yang wajahnya begitu mirip dengan Ibundanya tiba di email saya, saya jadi kepingin menulis lagi.

Ibunda bayi Joanna adalah salah satu perempuan yang sangat saya kagumi. Dia adalah seorang perempuan keturunan Tionghoa berkewarganegaraan Indonesia yang keluarga besarnya menetap di Bandung. Dia bekerja di kantor pusat di Singapura, dan sekitar dua tahun yang lalu dipindahtugaskan ke Indonesia untuk membantu membenahi Accounting Departement yang saat itu tengah menghadapi beberapa kendala. Dia menetap selama satu tahun di kantor Jakarta sebagai Supervisor.

Selama satu tahun itu, hampir setiap hari saya berinteraksi dengannya akibat berbagai macam masalah yang terjadi, mulai dari system error, sampai metode pencatatan jurnal yang rupanya masih banyak kekurangan. Selama waktu-waktu itu, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana dia bekerja dengan begitu profesional. Dia tidak sekedar duduk diam sambil mengawasi, melainkan ikut menyelami. Semua permasalahan dikupasnya satu-persatu, dengan begitu teliti. Hampir setiap malam dia bekerja lembur di kantor, duduk di kursinya di pojok ruangan tanpa keluhan sedikit pun. Tatapannya lurus saja ke depan, sementara kepalanya tenggelam dalam tumpukan dokumen. Dan setiap saat saya menghampirinya untuk mengadukan masalah, dia tidak pernah tidak mengangkat kepalanya dengan tatapan ramah penuh senyuman, betapa pun saya yakin saya telah membuyarkan konsentrasinya.

Selain itu, secara tidak langsung, Ibunda bayi Joanna juga merangkap sebagai penyambung lidah antara karyawan di Jakarta dengan karyawan di Singapura. Selama ini, karyawan kantor pusat di Singapura memiliki anggapan bahwa kami-kami yang di Jakarta memiliki kinerja yang payah, karena output pekerjaan kami sering terlambat dikirim, dan keakuratan data seringkali masih perlu diperbaiki. Namun semenjak dia bergabung di kantor Jakarta, perlahan-lahan mereka dapat menilai kami dengan objektif: anggapan itu tidak sepenuhnya benar, SDM Jakarta tidak sepenuhnya payah, karena rupa-rupanya sistem yang digunakan oleh kami (yang merupakan hasil rancangan mereka) masih memiliki banyak kekurangan, sehingga proses pekerjaan kami membutuhkan usaha lebih keras dari mereka yang berada di kantor pusat di Singapura. Dia adalah wakil dari Singapura yang pertama kali merasakan langsung bagaimana payahnya sistem kami waktu itu, dan selanjutnya selalu berusaha membela manakala ada pihak-pihak yang cenderung menyalahkan kami tanpa berusaha melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi.

Demikianlah akhirnya saya jatuh kagum pada Ibunda bayi Joanna. Saya dan dia memang tidak dekat secara personal, tapi dalam cara sedemikian rupa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, saya bisa merasakan kedekatan rasa dengannya. Bisa saya rasakan tatapannya yang hangat menyentuh sampai ke hati. Bahkan seorang teman pernah bercerita pada saya, bahwa di tengah-tengah meeting bersama pihak manajemen, Ibunda bayi Joanna sempat-sempatnya memuji saya dan meminta secara khusus agar saya dibelikan lampu meja, karena menurut hematnya tempat duduk saya yang terletak di pojok dekat jendela penerangannya kurang bagus kalau malam hari, sementara kuantitas pekerjaan mengharuskan saya rajin lembur. Dan kini, lampu meja itu telah lama bertengger nyaman di sebelah PC saya.

Tambahan lagi, waktu saya menghadiri pesta pernikahannya di Jakarta lebih dari setahun yang lalu, saya diperkenalkan pada suaminya dengan sebutan "colleague", padahal rasanya saya lebih pantas disebut sebagai "subordinate", karena dia jelas-jelas adalah Supervisor saya. Entahlah, mungkin karena sudah terlanjur kagum, saya jadi berlebihan menanggapi sebutan yang sepele itu, tapi yang jelas, saya merasa begitu dihargai. Dan sewaktu akhirnya dia harus kembali ke kantor pusat di Singapura, saya masih ingat betapa saat itu kami bertangisan sambil berpelukan, dan dia berpesan pada saya untuk mengurangi waktu lembur.

Maka, ketika pagi ini foto bayi Joanna yang wajahnya begitu mirip dengan Ibundanya tiba di email saya, dengan penuh kasih sayang dari lubuk hati yang terdalam segera saya ucapkan selamat datang kepadanya.

0 comments:

Post a Comment