and if she tells you two is one
then two is one my love
(Suede - She’s In Fashion)
Hujan batik melanda dunia mode kita. Jakarta dihujani kain batik dengan berbagai macam corak dan warna. Saya, sebagai penyuka batik, tentu saja turut berbahagia karenanya. Gara-gara hujan batik, saya jadi tiba-tiba bisa jalan di mal sambil mengenakan batik, tanpa harus menunggu adanya undangan acara Kartini, dipadukan dengan jeans pula. Amboi, gembiranya saya! Tiba-tiba semua orang, terutama kaum perempuan, beramai-ramai mengenakan batik, sehingga batik bukan lagi monopoli bapak-bapak yang menghadiri undangan pernikahan, atau seragam ibu-ibu pegawai pemerintahan setiap hari jumat. Batik jadi seperti perawan yang mekar pada usia 17, yang menguarkan pesona terpendam sampai-sampai seisi dunia jatuh cinta padanya.
Jika memang benar demikian yang terjadi, sungguh saya berbahagia karenanya. Alangkah indahnya dunia jika dibungkus batik. Tapi, apakah pasukan perempuan berbatik yang memadati mal-mal ibu kota, memadati jalan-jalan raya, dan memadati perkantoran Jakarta benar-benar mencintai batik itu sendiri?
Sebagai perempuan yang tahu benar bagaimana sulitnya melawan diri dari cengkeraman sihir mode, saya takut kebanyakan dari mereka sebenarnya tidak perduli, apakah yang mereka kenakan adalah batik, atau mungkin pakaian ala seragam ABRI, asalkan itulah tren moden saat ini. Apalagi jika gelontoran batik dalam berbagai macam model dan warna yang memenuhi mal-mal ibu kota semakin tidak terkendali. Saya khawatir bahwa hujan batik hanya akan menjadi euforia semata. Komoditas bisnis semata.
Apabila kita melihatnya secara sekilas, seakan memang tidak ada pihak yang dirugikan -kecuali tentu saja perempuan yang tidak bisa menahan diri sehingga kalap memborong batik, yang patut saya akui, memang sungguh menggoda dalam berbagai corak dan warnanya. Tapi, pernahkah terpikir oleh kita, bagaimana citra batik paska berlalunya euforia itu?
Berdasarkan pengalaman saya sebagai perempuan yang tentu saja pernah tergoda oleh rayuan mode yang memabukkan, saya tahu benar bagaimana siklus kerja mode. Dia selalu bisa menyihir para perempuan untuk tiba-tiba berbondong-bondong memuja sesuatu, lantas tiba-tiba mencampakkannya begitu saja untuk kembali memuja sesuatu yang baru, dan begitu seterusnya. Saya masih ingat betul, bagaimana tiba-tiba skinny jeans jadi begitu menawan di mata saya, sehingga saya jadi muak menatap tumpukkan baggy jeans yang menggunung di lemari saya, setelah sebelumnya saya begitu tergila-gila pada mereka. Dengan cara yang sedemikian rupa, fashion berhasil mencuci otak saya.
Maka, betapa cemasnya saya membayangkan citra batik apabila sihir mode telah pudar dari dirinya. Saya membayangkan perempuan-perempuan itu akan berangsur-angsur menanggalkan baju-baju batik modernnya, ketika melihat produk terbaru yang tengah naik daun. Dan batik-batik itu pun terlupakan, cuma jadi pajangan di lemari, dan kembali digunakan hanya untuk menghadiri undangan pernikahan. Yang lebih parah, jika masih ada seseorang yang nekat mengenakan baju batik untuk berjalan-jalan di mal, seisi dunia akan mengutuknya sambil berujar: “basi banget sih masih pake batik! batik udah gak mode lagi, tauk!”. Sungguh suatu efek samping yang cukup fatal, karena menurut hemat saya, bicara batik berarti bicara identitas nasional.
Tapi semoga, semoga saja, ini hanya pikiran buruk saya yang kelewatan, semoga ini cuma sekedar kebiasaan saya yang memang suka mencemaskan sesuatu secara berlebihan. Semoga saya cuma sekedar sok pintar dengan penilaian sembrono saya bahwa perempuan Jakarta gampang dicucuk hidungnya oleh mode. Semoga saya cuma sekedar suudzon bahwa perempuan Jakarta yang kini tengah berbatik itu akan segera mencibir apa yang sedang dikenakannya apabila dihadapkan pada bintang fashion yang baru. Semoga perempuan Jakarta memang benar-benar mencintai batik.
June 27, 2008
June 25, 2008
BEAUTIFUL NEWS
Berita itu, adalah salah satu berita yang paling indah yang pernah disampaikan pada saya.
Karena yang diberitakan di dalamnya, adalah laki-laki paling indah sejagat raya. Begitu indahnya dia sampai tak habis-habisnya saya memuja dia. Dan tentu saja, walaupun saya tidak mengenalnya, perempuan yang ikut diberitakan di dalamnya adalah perempuan yang pasti juga paling indah sejagat raya. Sebab pada pilihannya saya percaya.
Berita itu datang tidak sebagai huruf berukir yang dicetak indah dalam tinta emas, jauh lebih indah dari segalanya, dia yang diberitakan menyampaikannya langsung pada saya. Dipilihnya waktu yang paling tepat, lalu dengan cara yang teramat indah disampaikannya pada saya, seakan-akan tidak tenang hidupnya apabila saya belum mengetahuinya.
Belum pernah saya merasa begitu tersanjung ketika menerima sebuah berita, dan belum pernah saya merasa begitu berbahagia dalam menghayati kata selamat yang saya ucapkan atas sebuah berita.
(I am honored we’re still friends. God bless you and your family.)
Karena yang diberitakan di dalamnya, adalah laki-laki paling indah sejagat raya. Begitu indahnya dia sampai tak habis-habisnya saya memuja dia. Dan tentu saja, walaupun saya tidak mengenalnya, perempuan yang ikut diberitakan di dalamnya adalah perempuan yang pasti juga paling indah sejagat raya. Sebab pada pilihannya saya percaya.
Berita itu datang tidak sebagai huruf berukir yang dicetak indah dalam tinta emas, jauh lebih indah dari segalanya, dia yang diberitakan menyampaikannya langsung pada saya. Dipilihnya waktu yang paling tepat, lalu dengan cara yang teramat indah disampaikannya pada saya, seakan-akan tidak tenang hidupnya apabila saya belum mengetahuinya.
Belum pernah saya merasa begitu tersanjung ketika menerima sebuah berita, dan belum pernah saya merasa begitu berbahagia dalam menghayati kata selamat yang saya ucapkan atas sebuah berita.
(I am honored we’re still friends. God bless you and your family.)
Labels:
an unquiet mind
June 19, 2008
DADDY'S HOME
Pada hari sabtu pagi tiba-tiba Ayah saya membawa kabar berita. Tidak penting isinya. Cuma mengabarkan bahwa besok senin beliau harus pergi ke luar kota. Selama lima hari. Untuk urusan kantor.
Sepanjang saya bisa mengingat, Ayah saya jarang pergi ke luar kota untuk urusan kantor. Beliau sangat menghindarinya karena tidak suka pergi berlama-lama meninggalkan rumah, dan terutama karena beliau tidak betah tidur di tempat asing. Kalaupun terpaksa pergi, apabila urusan yang penting sudah beres, beliau biasanya pulang lebih awal dari rekan-rekannya yang seringkali masih punya jadwal acara bebas untuk jalan-jalan. Jadilah sepanjang sejarah hidup kami sekeluarga, Ayah saya hampir tidak pernah pulang membawa oleh-oleh.
Waktu saya masih sekolah, saya sering menyesali kebiasaan Ayah saya ini. Menurut hemat saya waktu itu, tentu menyenangkan apabila beliau tidak berada di rumah untuk jangka waktu lama. Dalam bayangan saya, apabila beliau tidak ada, tentu saya bisa pulang pagi sebebas-bebasnya, karena Ayah saya cukup ketat untuk urusan pulang pagi, dan sangat pelit untuk urusan izin menginap, sementara Ibu saya terkenal tidak tega menolak permintaan anaknya.
Tapi seiring pertambahan kedewasaan kami anak-anaknya, aturan Ayah saya pelan-pelan berubah lebih longgar, dan soal izin menginap tidak lagi sesulit dulu. Selain itu, semakin kesini, Ayah saya semakin menempatkan diri sebagai teman daripada orang tua -walaupun sayangnya ketegasan dan kegalakannya tidak pernah hilang benar, saya jamin, tidak akan pernah. Sehingga waktu saya dengar kabar itu, saya tidak lagi antusias. Keinginan nakal jaman sekolah telah lama menguap dari pikiran saya. Reaksi saya malah cenderung khawatir. Semakin Ayah dan Ibu saya bertambah tua, saya jadi lebih sering mengkhawatirkan mereka.
Akhirnya, jadilah Ayah saya berangkat hari senin pagi. Malamnya tinggal saya, Ibu saya, dan adik-adik. Tiba-tiba, naluri ‘anak sulung’ dan penyakit paranoid saya kambuh dan saling berkolaborasi. Saya jadi berlebihan mengecek pagar, pintu, dan jendela. Adik laki-laki saya yang biasanya pulang kuliah tengah malam, saya wanti-wanti untuk tidak nongkrong lama-lama di kampus dan segera pulang.
Entahlah, ada semacam perasaan tidak aman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Rumah saya rasanya sepi tanpa Ayah saya, padahal hampir tidak ada bedanya dengan sehari-hari, karena biasanya beliau rajin ikut pengajian dan hampir selalu pulang malam. Keberadaan adik laki-laki saya di rumah pun saya rasakan tidak banyak membantu. Menurut saya, biar bagaimana pun juga, dia tetap saja adik saya, dia tetap saja berada di bawah tanggung jawab saya, betapa pun dia laki-laki, betapa pun postur badannya tinggi besar.
Pada malam ketiga, dini hari menjelang subuh, saya terbangun karena mendengar suara-suara. Antara sadar dan tidak sadar, suara yang sangat khas itu saya kenali sebagai suara napas Ayah saya yang kalau tidur tidak bisa tidak mengorok, dengan volume yang lumayan kencang.
Saya pun memutuskan bangun untuk membuktikan kebenaran pendengaran saya. Pelan-pelan saya masuki kamar Ayah dan Ibu saya, dan benarlah, Ayah saya tengah tidur pulas di samping Ibu saya yang juga sama pulasnya. Sementara di lantai kamar tergeletak koper bekas perjalanan dan beberapa bungkusan lain yang digeletakkan begitu saja.
Paginya, saya lihat Ayah saya sudah kembali pada rutinitas biasanya: menyirami tanaman-tanaman kesayangannya di pekarangan sempit kami. Waktu saya tanya kenapa beliau sudah ada di rumah padahal baru tiga hari pergi, seperti biasa, beliau mengaku tidak betah di tempatnya menginap, sampai akhirnya nekat pulang ke rumah. Lalu kami terkikik geli berdua -sekedar informasi, dibalik kegalakannya, Ayah saya adalah pelawak paling lucu sedunia.
Dalam hati saya gembira sekali, Ayah saya sudah pulang ke rumah.
Sepanjang saya bisa mengingat, Ayah saya jarang pergi ke luar kota untuk urusan kantor. Beliau sangat menghindarinya karena tidak suka pergi berlama-lama meninggalkan rumah, dan terutama karena beliau tidak betah tidur di tempat asing. Kalaupun terpaksa pergi, apabila urusan yang penting sudah beres, beliau biasanya pulang lebih awal dari rekan-rekannya yang seringkali masih punya jadwal acara bebas untuk jalan-jalan. Jadilah sepanjang sejarah hidup kami sekeluarga, Ayah saya hampir tidak pernah pulang membawa oleh-oleh.
Waktu saya masih sekolah, saya sering menyesali kebiasaan Ayah saya ini. Menurut hemat saya waktu itu, tentu menyenangkan apabila beliau tidak berada di rumah untuk jangka waktu lama. Dalam bayangan saya, apabila beliau tidak ada, tentu saya bisa pulang pagi sebebas-bebasnya, karena Ayah saya cukup ketat untuk urusan pulang pagi, dan sangat pelit untuk urusan izin menginap, sementara Ibu saya terkenal tidak tega menolak permintaan anaknya.
Tapi seiring pertambahan kedewasaan kami anak-anaknya, aturan Ayah saya pelan-pelan berubah lebih longgar, dan soal izin menginap tidak lagi sesulit dulu. Selain itu, semakin kesini, Ayah saya semakin menempatkan diri sebagai teman daripada orang tua -walaupun sayangnya ketegasan dan kegalakannya tidak pernah hilang benar, saya jamin, tidak akan pernah. Sehingga waktu saya dengar kabar itu, saya tidak lagi antusias. Keinginan nakal jaman sekolah telah lama menguap dari pikiran saya. Reaksi saya malah cenderung khawatir. Semakin Ayah dan Ibu saya bertambah tua, saya jadi lebih sering mengkhawatirkan mereka.
Akhirnya, jadilah Ayah saya berangkat hari senin pagi. Malamnya tinggal saya, Ibu saya, dan adik-adik. Tiba-tiba, naluri ‘anak sulung’ dan penyakit paranoid saya kambuh dan saling berkolaborasi. Saya jadi berlebihan mengecek pagar, pintu, dan jendela. Adik laki-laki saya yang biasanya pulang kuliah tengah malam, saya wanti-wanti untuk tidak nongkrong lama-lama di kampus dan segera pulang.
Entahlah, ada semacam perasaan tidak aman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Rumah saya rasanya sepi tanpa Ayah saya, padahal hampir tidak ada bedanya dengan sehari-hari, karena biasanya beliau rajin ikut pengajian dan hampir selalu pulang malam. Keberadaan adik laki-laki saya di rumah pun saya rasakan tidak banyak membantu. Menurut saya, biar bagaimana pun juga, dia tetap saja adik saya, dia tetap saja berada di bawah tanggung jawab saya, betapa pun dia laki-laki, betapa pun postur badannya tinggi besar.
Pada malam ketiga, dini hari menjelang subuh, saya terbangun karena mendengar suara-suara. Antara sadar dan tidak sadar, suara yang sangat khas itu saya kenali sebagai suara napas Ayah saya yang kalau tidur tidak bisa tidak mengorok, dengan volume yang lumayan kencang.
Saya pun memutuskan bangun untuk membuktikan kebenaran pendengaran saya. Pelan-pelan saya masuki kamar Ayah dan Ibu saya, dan benarlah, Ayah saya tengah tidur pulas di samping Ibu saya yang juga sama pulasnya. Sementara di lantai kamar tergeletak koper bekas perjalanan dan beberapa bungkusan lain yang digeletakkan begitu saja.
Paginya, saya lihat Ayah saya sudah kembali pada rutinitas biasanya: menyirami tanaman-tanaman kesayangannya di pekarangan sempit kami. Waktu saya tanya kenapa beliau sudah ada di rumah padahal baru tiga hari pergi, seperti biasa, beliau mengaku tidak betah di tempatnya menginap, sampai akhirnya nekat pulang ke rumah. Lalu kami terkikik geli berdua -sekedar informasi, dibalik kegalakannya, Ayah saya adalah pelawak paling lucu sedunia.
Dalam hati saya gembira sekali, Ayah saya sudah pulang ke rumah.
Labels:
an unquiet mind
June 18, 2008
KISAH SUKUS DAN TUKUS*
Syahdan di suatu samudera terdapat dua pulau yang bertetangga. Sebut saja pulau Aya dan Pulau Baya. Di pulau Aya, suku Sukus hidup sejahtera. Mereka dikaruniai daratan yang subur. Mereka hidup bercocok tanam. Pertanian mereka menghasilkan aneka sayuran dan buah-buahan tropis. Ikan dan sumber daya laut sangat melimpah. Tidak hanya itu, pulau Aya terkenal dengan panorama yang indah. Gemericik air terjun bisa ditemui di banyak tempat. Sungai-sungainya yang jernih juga menjadi daya tarik tersendiri. Tak heran bila pulau ini menjadi tempat tujuan para pelancong dan wisatawan lokal maupun luar pulau.
Masyarakat Sukus dikenal memiliki peradaban yang cukup maju. Mereka beruntung, pulau yang mereka tempati menghasilkan emas. Dan mereka bekerja keras untuk mendapatkan logam mulia ini. Hampir semua anggota suku memiliki emas dan menyimpannya sebagai simbol harta kekayaan.
Selain sebagai simbol peradaban, emas juga berfungsi sebagai alat transaksi. Sejak Saka, sang ketua suku, mencetak koin emas, maka semua transaksi jual beli yang semula dilakukan dengan barter beralih dan diukur dengan emas. Berdagang pun menjadi lebih mudah dan simpel.
Meskipun begitu, mereka tidak mendewa-dewakan emas sebagai satu-satunya pencapaian. Kehidupan sosial mereka tampak lebih penting. Ini bisa dilihat dari cara mereka yang saling tolong menolong. (Kami di dunia setan sangat membenci perilaku ini). Ketika anggota suku perlu membangun rumah baru karena rumah lama tersapu ombak, yang berarti menguras emas simpanannya, anggota-anggota suku lainnya dengan suka rela meminjamkan emas miliknya. Hebatnya, tanpa charge atau tambahan apapun. ” Dasar manusia bodoh, sudah meminjamkan uang kok tidak mau minta kompensasi,” begitu gerutuan kami.
Sementara pulau tetangganya, pulau Baya, didiami suku Tukus. Kebanyakan penduduknya bekerja sebagai petani. Mengolah lahan di sawah atau ladang dan memelihara ternak. Sebagian lagi yang memiliki ketrampilan khusus, memproduksi kerajinan tangan.
Dibandingkan suku Sukus, mereka lebih sederhana. Mereka masih menggunakan sistem barter dalam transaksi keseharian. Yang menghasilkan padi menukar berasnya dengan kerajinan tangan atau sebaliknya. Boleh dibilang secara ekonomi, kesejahteraan mereka di bawah suku Sukus. Mereka memang kebanyakan hanya pekerja kasar. Mereka tidak memiliki pusat kota yang indah dan maju seperti halnya Sukus. Sesekali mereka menjual hasil bumi mereka ke suku Sukus. Mereka, apalagi para wanitanya, sangat senang menerima koin emas sebagai jasa dari padi atau kerajinan tangan yang mereka hasilkan. Meskipun berbeda dalam hal kesejahteraan, ada satu persamaan menonjol diantara Sukus dan Tukus. Mereka sama-sama hidup damai, rukun, dan saling tolong-menolong. Mereka sering bersilaturahmi dan menjalankan ritual agamanya dengan tenang.
Sampai akhirnya datang tamu istimewa ke suku Sukus. Berpenampilan parlente, dua orang asing turun dari kapal yang berlabuh di pulau Aya. Gago dan Sago, begitu mereka mengenalkan diri saat dijamu oleh Saka, pimpinan suku Sukus. Kedua tamu ini disambut dengan suka cita. Saka dan para pembantunya sangat terkesan dengan kisah Gago dan Sago yang mengaku sudah melanglang buana. Sebagai bukti, kedua orang asing itu lalu memamerkan koin emas asing yang mereka kumpulkan dari berbagai tempat perjalanan.
Satu hal lagi -dan ini yang paling menarik bagi Saka dan punggawanya- adalah kertas yang dinyatakan sebagai uang. Gago dan Sago lalu memperkenalkan bagaimana uang kertas jauh lebih efisien ketimbang emas yang sehari-hari mereka pakai. Itulah kenapa uang kertas ini sudah dipakai di negara-negara yang jauh lebih maju dibanding tempat mereka tinggal. Gago dan Sago yang mulai mendapat respon positif semakin bergairah menjelaskan uang kertas ini kepada sang tuan rumah. Lalu, mereka memperkenalkan mesin pencetak uang.
Dan untuk kepentingan itu, sebuah institusi bernama bank perlu didirikan. Bank akan menyimpan deposit koin emas mereka yang menganggur (idle). Lalu uang deposan ini -sebagai taktik, ya, hanya sekedar taktik- bisa dipinjamkan kepada anggota suku lainnya yang memerlukan. Dengan demikian, kesannya semua sumber daya yang ada menjadi optimal karena dialokasikan untuk kegiatan ekonomi produksi.
Upacara pembukaan perdana Bank Aya, sebut saja begitu, sangat meriah. Orang sepulau jadi satu merayakan hari bersejarah itu. Sebagian besar dari mereka sudah membawa koin-koin emas yang selama ini hanya disimpan di bawah bantal. Setiap satu koin emas yang mereka simpan, mereka mendapatkan ganti uang kertas dengan jaminan bila sewaktu-waktu mereka menghendaki, mereka bisa menukarkan kembali uang kertas yang saat ini mereka terima dengan koin emas yang pernah mereka simpan.
Hampir semua anggota suku Sukus menyimpan koin emas mereka di Bank Aya. Sejumlah 100.000 lembar uang kertas diserahkan, yang berarti Bank Aya menerima 100.000 koin emas. Tak terasa, akhirnya penduduk negeri pulau Aya begitu menikmati uang kertas itu. Mereka merasakan dengan menggunakan uang kertas itu, transaksi yang mereka lakukan jauh lebih simpel dan nyaman.
Praktis semakin jarang orang yang menggunakan koin emas dalam transaksi sehari-hari. Sampai akhirnya uang kertas menjadi mata uang dominan. Kenapa mereka begitu? karena selain lebih memudahkan transaksi, mereka juga dengan mudah menukarkan uang kertas mereka dengan koin emas jika mereka memerlukan. Untuk yang satu ini, Gago dan Sago sangat menjaga kepercayaan. Setiap kali ada yang mau menukarkan, kali itu juga koin emas diberikan. Demikian seterusnya sehingga lama-lama orang tidak khawatir dengan uang kertas miliknya. Toh kalau mereka mau, mereka bisa menukarnya sepanjang waktu.
Perkembangan ini ternyata menjadi berita dimana-mana. Suku Tukus yang mendiami pulau Baya diam-diam memuji dan ingin sekali praktik yang sama juga diterapkan di pulau mereka. Bayangkan, dari semula melakukan jual beli dengan cara barter, tiba-tiba ada sistem super canggih yang bisa membantu mereka melakukan transaksi dengan sangat mudah dan efisien.
Tak sabar, mereka mengutus duta menemui Gago dan Sago. Mereka minta agar sistem yang mereka bawa juga bisa diterapkan di pulau Baya. Gago menyanggupi. Dia meminta Sago untuk membuka cabang Bank Aya di pulau Baya dan mengangkat Sago sebagai manajernya. Hanya bedanya, di sini hanya sedikit penduduknya yang memiliki koin emas.
“Anda tidak perlu kecil hati,” kata Sago menghibur. “Tanpa koin emas pun anda bisa mengenyam kenikmatan sebagaimana tetangga pulau anda,” dia bermanis-manis menerangkan. Tentu saja keterangan ini disambut gembira oleh penduduk pulau Baya.
Sago betul-betul agen kami yang cemerlang. Otak bulusnya benar-benar tidak menyimpang dari program yang sudah kami tanamkan: keserakahan.
Begitulah. Mulailah Sago membagikan uang kertas. Ada 100 kepala keluarga di pulau itu. Setiap kepala keluarga diberikan 1000 lembar uang. Jadi total uang yang tersirkulasi di pulau itu mencapai 100.000. “Karena anda tidak menyimpan koin emas seperti halnya penduduk pulau seberang, sebagai gantinya, anda bisa menggunakan uang yang telah saya bagikan.”
Apa yang dikatakan Sago itu disambut dengan senang. Tepuk tangan riuh membahana. Mereka bersyukur, sebentar lagi negeri mereka tidak akan sekolot dan seprimitif tempo hari. Namun kemeriahan itu sempat hening ketika Sago menyela, “Harap diingat. Uang yang saya bagikan tadi tidak gratis. Ini adalah pinjaman, namun setahun setelah saat ini, anda harus mengembalikan uang ini plus 100 lembar uang tambahan.”
“Kenapa harus ada tambahan 100? Kenapa tidak mengembalikan sejumlah yang kami pinjam?” seorang pemuka suku Tukus menyela.
“Huh! Dasar manusia bebal,” umpat kami yang tak sabar mendengar jawaban cerdas dari Sago.
“Betul anda memang hanya meminjam 1000. Yang 100 itu adalah untuk membayar jasa yang kami sediakan,” Sago dengan senyum lepas menjelaskan. Penjelasan brilian. Kami turut puas mendengar Sago. Tak terasa air liur kami berloncatan di sela-sela taring kami yang panjang. Menunggu agar para manusia bodoh itu tak lagi rewel menyoal tambahan yang wajar.
Meski ada yang masih mengganjal, penjelasan Sago cukup tepat untuk membungkam naluri kritis warga Tukus. Itu terlihat dari tak surutnya minat warga Tukus untuk mengambil tawaran Sago. Paling tidak, mereka bisa merasakan mudahnya bertransaksi dengan uang kertas. Dan yang lebih penting lagi, menikmati status sebagai warga dunia baru. Modern dan prestisius.
Setelah sekian lama, dua agen kami itu mulai memainkan kartu truf. Dari pengamatan Gago, di pulau Aya, rata-rata hanya sekitar 10 persen uang kertas yang ditukarkan ke koin emas pada setiap waktu. Sisanya, 90 persen tetap berada di kotak penyimpanan di Bank Aya. Mencermati bahwa uang kertas mereka sudah merajai alat tukar, kami pun tergelak.
“Hai Gago, kenapa tidak kau cetak uang lagi? Bukankah hanya sedikit dari mereka yang menukarkan uang kertasnya dengan koin emas? Bukankah kau bisa meraup untung luar biasa dengan cara ini? Ayolah kawan, tunjukkan otak cerdasmu,” begitu kami tak henti menggelitiki Gago.
Dan benar, Gago memang agen kami yang jempolan. Ia lalu mencetak uang kertas lebih banyak. Tidak tanggung-tanggung hingga 900.000. Dalam kalkulasinya, jumlah ini, ditambah jumlah uang kertas yang telah dibagikan sebelumnya, totalnya 1.000.000. Kalau ada orang yang datang hendak menukarkan uang kertas ini, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah hanya 10 persen saja. Nah, kalau ini yang terjadi, bukankah ia menyimpan 100.000 koin emas, yang tidak lain adalah koin yang telah disetor oleh seluruh penduduk Sukus? Kalau hitung-hitungan pahit itu benar-benar terjadi, bukankah cadangan koin emas yang diperlukan sudah cukup?
Fantastic! Creating money from nothing!
Menciptakan uang dari kekosongan. Hanya orang-orang seperti Gago, kawan kami, yang bisa. Begitulah. Akal bulus Gago bergerak. Ia pinjamkan 900.000 uang kertas yang baru dicetaknya kepada warga Sukus yang memerlukan. Kalau di pulau Baya, Sago mengutip tambahan ekstra sebesar 10 persen dari pokok, nah Gago meningkatkan kutipan hingga 15 persen. Artinya kalau seseorang meminjam 1000 lembar uang kertas, di akhir tahun ia harus mengembalikan 1.150 uang kertas, dimana 150 adalah charge dari layanan yang diberikan.
Hari pun berganti. Bulan berjalan begitu cepat. Tak terasa setahun pun lewat. Apa yang terjadi pada suku Sukus dan Tukus? Pelan tapi pasti, penduduk pulau Aya merasakan harga-harga kebutuhan barang dan jasa mereka naik. Mereka tidak tahu apa penyebabnya. Banyak diantara orang yang meminjam uang dari Gago itu mengalami gagal bayar. Mereka bukan orang pemalas atau penganggur. Tapi meski telah bekerja keras, mereka masih kesulitan melunasi utang berikut bunganya.
Dan mereka memang tidak akan pernah bisa.
Bahkan ketika mereka menjadikan 24 jam untuk bekerja.
Lihatlah, uang yang dipinjamkan 900.000 bila ditambah bunga 15 persen, berarti senilai 135.000, sehingga jumlah total mencapai 1.135.000. Padahal, jumlah uang yang beredar hanya 1.000.000 (100.000 diberikan sebagai ganti 100.000 keping koin emas, ditambah uang baru 900.000 yang dicetak Gago).
Dan inilah panen raya yang kami tunggu: kesuksesan Gago dan Sago. Kami sebut begitu, karena sistem yang dikenalkan dua agen top kami itulah yang pertama kali mengubah watak bisnis kekeluargaan menjadi bisnis yang individual kompetitif. Kehidupan sosial mereka yang harmonis, penuh toleransi dan tolong menolong, perlahan luntur. Masing-masing kepala -apalagi yang berhutang- harus bekerja keras demi mengejar uang untuk melunasi kewajibannya. Sehingga, ketika ada ombak besar menyapu sebagian rumah penduduk, kebiasaan mereka untuk saling bantu luntur. Prinsip saling membantu berubah menjadi time is money. Membantu orang boleh, tapi harus ada kompensasinya: uang. Sisi kehidupan sosial yang akrab perlahan berubah individual. Masing-masing mulai terbebani untuk berusaha keras demi kepentingan masing-masing. Sungguh perubahan yang sulit sekali kami capai sendirian, bila tanpa dua kaki tangan kami si Gago dan Sago.
Hal yang sama pun dialami oleh suku Tukus. Awalnya mereka tidak menyadari. Namun, lambat laun mereka merasakan perubahan. Kebutuhan pokok yang dulunya cukup ditukar dengan barang kerajinan atau sebaliknya, kini mulai sedikit bermasalah. Mereka tidak tahu kenapa, tanpa terasa dengan berlalunya waktu, harga-harga terus merambat naik. Padahal mereka telah membanting tulang dan bekerja keras. Kerjasama antar warga yang semula menjadi tradisi, lama-kelamaan juga mulai luntur. Mereka menjadi egois, diburu kebutuhan masing-masing.
Melihat perkembangan ini, kami di dunia setan pun bersuka ria. Betapa tidak, dimana kerakusan menjadi ideologi, disitulah singgasana kami dibangun. Karena itu, kami pun semakin rajin membisiki Gago dan Sago untuk tidak hanya berhenti di sini saja. Tapi untuk semakin menguasai manusia-manusia bodoh yang dulunya berlagak saling bantu itu.
Gago dan Sago memang sangat impresif. Mereka adalah ciptaan jenius. Terbukti ketika mereka melancarkan dua trik lanjutan untuk memenangkan keadaan. Kepada para penunggak sebagian ada yang dipaksa membayar. Caranya, dengan menyita harta benda mereka. Rumah, sawah, ternak dan maupun harta benda lainnya pun segera berpindah tangan. Sementara penunggak yang mempunyai hubungan baik dengan Gago dan Sago diberi kesempatan untuk memperpanjang masa angsuran. Kebetulan Taka, pim¬pinan suku Tukus, salah seorang di antara penunggak. Maka atas nama “kebaikan hati” Sago bukan saja memberikan tambahan waktu mengangsur utang, tapi juga memberikan tambahan utang baru. Kenapa? Dia beralasan utang ini biar bisa dipakai untuk melancarkan kegiatan produktifnya. Namun alih-alih bisa membayar periode berikutnya, Taka kembali tak bisa melunasi utangnya.
Malu karena tak bisa membayar kewajiban, Taka menarik diri dan menghindari bertemu dengan Sago. la mulai kehilangan kepercayaan diri. Kewibawaannya sebagai kepala Suku Tukus berbalik ke titik nadir. Sementara, Sago yang semula berlagak membantu, kini tinggal melakukan eksekusi. la semakin kaya. la pun berubah lagaknya Tuan Besar. Dalam dunia kami, kedua agen ini memang layak sombong. Karena kepintaran dan kejeniusannya. Hanya orang-orang dengki saja yang menyebut cara-caranya menguasai manusia-manusia bodoh itu sebagai keculasan. Tidak bermoral? Ini hanya retorika gombal, persetan dengan moral.
Setelah beberapa tahun berselang, Gago dan Sago yang semula datang ke Aya dan Baya dengan modal mesin pencetak uang, kini telah menjadi pemilik hampir semua kekayaan di dua pulau tersebut. Mereka menguasai ekonomi dan properti. Lambat laun, dengan uang, mereka pun beroleh kekuasaan baru: menguasai politik negeri itu.
Sementara masyarakat dua pulau itu tinggalah sebagai pekerja kasar. Kemiskinan tiba-tiba seperti menjadi endemik yang terus menyebar cepat. Mereka bekerja keras, untuk hasil yang sedikit. Mereka kehilangan waktu untuk saudara dan tetangga. Mereka semakin jarang melakukan upacara keagamaan. Lebih parah lagi, mereka semakin tidak perhatian satu sama lain.
Kejahatan yang semula hanyalah cerita yang sering mereka dengar dari negara antah berantah, kini menghampiri mereka di depan hidung mereka sendiri. Karena tidak bisa bayar utang, mereka mengorbankan anak dan bahkan istrinya untuk diperbudak. Prostitusi yang semula begitu tabu bagi mereka, seperti menjadi budaya baru. Semua budaya yang datang dari Gago dan Sago, dianggap superior. Budaya lokal pun lambat laun punah. Gago dan Sago telah menguasai semua, tak ada yang tersisa: ekonomi, budaya, kekuasaan, dan keadilan yang bisa mereka beli melalui uang.
Namun ini bukan akhir petualangan mereka. Mereka tak hanya ingin menaklukkan dua pulau Aya dan Baya. Mereka ingin semua pulau di dunia berada dalam pengaruh kekuasaan mereka. Target mereka bukan untuk menaklukkan tentara musuh di negara-negara jauh. Tapi, menaklukkan ekonomi mereka. Membuat mereka terkesan, lalu ketika saatnya tiba, mencekik mereka dengan sekali hentak: melalui uang kertas tanpa jaminan, aturan cadangan 10 persen, dan bunga. Tiga kombinasi jurus ini, sudah terbukti ampuh. Setidaknya, dua penduduk negeri sudah mereka kuasai.
Perangkap inilah yang dengan cerita dan intensitas berbeda terjadi dalam krisis di Asia Tenggara. Cara-cara yang sama akan terus kami kembangkan, sehingga segelintir agen kami yang berkuasa, menyisakan masyarakat banyak yang hidup sengsara. Kalau di kawasan itu sekarang sudah mulai recovery, sasaran bisa dialihkan ke tempat lain. Boleh juga, di kawasan yang sama, tentu menunggu saat yang tepat muncul kembali. Saat-saat balon ekonomi dan keuangan tak lagi bisa menggelembung. Saat-saat ketika manusia kelimpungan. Saat-saat ketika kami untuk kesekian kali merayakan kemenangan karena tiga pilar utama setan -fiat money, fractional reserve requirement, dan interest- berhasil menggoyang ekonomi.
*Diadaptasi dari buku The Theft of Nation (2004) karangan Ahamed Kameel Mydin Meera
(The Satanic Finance – A. Riawan Amin)
Masyarakat Sukus dikenal memiliki peradaban yang cukup maju. Mereka beruntung, pulau yang mereka tempati menghasilkan emas. Dan mereka bekerja keras untuk mendapatkan logam mulia ini. Hampir semua anggota suku memiliki emas dan menyimpannya sebagai simbol harta kekayaan.
Selain sebagai simbol peradaban, emas juga berfungsi sebagai alat transaksi. Sejak Saka, sang ketua suku, mencetak koin emas, maka semua transaksi jual beli yang semula dilakukan dengan barter beralih dan diukur dengan emas. Berdagang pun menjadi lebih mudah dan simpel.
Meskipun begitu, mereka tidak mendewa-dewakan emas sebagai satu-satunya pencapaian. Kehidupan sosial mereka tampak lebih penting. Ini bisa dilihat dari cara mereka yang saling tolong menolong. (Kami di dunia setan sangat membenci perilaku ini). Ketika anggota suku perlu membangun rumah baru karena rumah lama tersapu ombak, yang berarti menguras emas simpanannya, anggota-anggota suku lainnya dengan suka rela meminjamkan emas miliknya. Hebatnya, tanpa charge atau tambahan apapun. ” Dasar manusia bodoh, sudah meminjamkan uang kok tidak mau minta kompensasi,” begitu gerutuan kami.
Sementara pulau tetangganya, pulau Baya, didiami suku Tukus. Kebanyakan penduduknya bekerja sebagai petani. Mengolah lahan di sawah atau ladang dan memelihara ternak. Sebagian lagi yang memiliki ketrampilan khusus, memproduksi kerajinan tangan.
Dibandingkan suku Sukus, mereka lebih sederhana. Mereka masih menggunakan sistem barter dalam transaksi keseharian. Yang menghasilkan padi menukar berasnya dengan kerajinan tangan atau sebaliknya. Boleh dibilang secara ekonomi, kesejahteraan mereka di bawah suku Sukus. Mereka memang kebanyakan hanya pekerja kasar. Mereka tidak memiliki pusat kota yang indah dan maju seperti halnya Sukus. Sesekali mereka menjual hasil bumi mereka ke suku Sukus. Mereka, apalagi para wanitanya, sangat senang menerima koin emas sebagai jasa dari padi atau kerajinan tangan yang mereka hasilkan. Meskipun berbeda dalam hal kesejahteraan, ada satu persamaan menonjol diantara Sukus dan Tukus. Mereka sama-sama hidup damai, rukun, dan saling tolong-menolong. Mereka sering bersilaturahmi dan menjalankan ritual agamanya dengan tenang.
Sampai akhirnya datang tamu istimewa ke suku Sukus. Berpenampilan parlente, dua orang asing turun dari kapal yang berlabuh di pulau Aya. Gago dan Sago, begitu mereka mengenalkan diri saat dijamu oleh Saka, pimpinan suku Sukus. Kedua tamu ini disambut dengan suka cita. Saka dan para pembantunya sangat terkesan dengan kisah Gago dan Sago yang mengaku sudah melanglang buana. Sebagai bukti, kedua orang asing itu lalu memamerkan koin emas asing yang mereka kumpulkan dari berbagai tempat perjalanan.
Satu hal lagi -dan ini yang paling menarik bagi Saka dan punggawanya- adalah kertas yang dinyatakan sebagai uang. Gago dan Sago lalu memperkenalkan bagaimana uang kertas jauh lebih efisien ketimbang emas yang sehari-hari mereka pakai. Itulah kenapa uang kertas ini sudah dipakai di negara-negara yang jauh lebih maju dibanding tempat mereka tinggal. Gago dan Sago yang mulai mendapat respon positif semakin bergairah menjelaskan uang kertas ini kepada sang tuan rumah. Lalu, mereka memperkenalkan mesin pencetak uang.
Dan untuk kepentingan itu, sebuah institusi bernama bank perlu didirikan. Bank akan menyimpan deposit koin emas mereka yang menganggur (idle). Lalu uang deposan ini -sebagai taktik, ya, hanya sekedar taktik- bisa dipinjamkan kepada anggota suku lainnya yang memerlukan. Dengan demikian, kesannya semua sumber daya yang ada menjadi optimal karena dialokasikan untuk kegiatan ekonomi produksi.
Upacara pembukaan perdana Bank Aya, sebut saja begitu, sangat meriah. Orang sepulau jadi satu merayakan hari bersejarah itu. Sebagian besar dari mereka sudah membawa koin-koin emas yang selama ini hanya disimpan di bawah bantal. Setiap satu koin emas yang mereka simpan, mereka mendapatkan ganti uang kertas dengan jaminan bila sewaktu-waktu mereka menghendaki, mereka bisa menukarkan kembali uang kertas yang saat ini mereka terima dengan koin emas yang pernah mereka simpan.
Hampir semua anggota suku Sukus menyimpan koin emas mereka di Bank Aya. Sejumlah 100.000 lembar uang kertas diserahkan, yang berarti Bank Aya menerima 100.000 koin emas. Tak terasa, akhirnya penduduk negeri pulau Aya begitu menikmati uang kertas itu. Mereka merasakan dengan menggunakan uang kertas itu, transaksi yang mereka lakukan jauh lebih simpel dan nyaman.
Praktis semakin jarang orang yang menggunakan koin emas dalam transaksi sehari-hari. Sampai akhirnya uang kertas menjadi mata uang dominan. Kenapa mereka begitu? karena selain lebih memudahkan transaksi, mereka juga dengan mudah menukarkan uang kertas mereka dengan koin emas jika mereka memerlukan. Untuk yang satu ini, Gago dan Sago sangat menjaga kepercayaan. Setiap kali ada yang mau menukarkan, kali itu juga koin emas diberikan. Demikian seterusnya sehingga lama-lama orang tidak khawatir dengan uang kertas miliknya. Toh kalau mereka mau, mereka bisa menukarnya sepanjang waktu.
Perkembangan ini ternyata menjadi berita dimana-mana. Suku Tukus yang mendiami pulau Baya diam-diam memuji dan ingin sekali praktik yang sama juga diterapkan di pulau mereka. Bayangkan, dari semula melakukan jual beli dengan cara barter, tiba-tiba ada sistem super canggih yang bisa membantu mereka melakukan transaksi dengan sangat mudah dan efisien.
Tak sabar, mereka mengutus duta menemui Gago dan Sago. Mereka minta agar sistem yang mereka bawa juga bisa diterapkan di pulau Baya. Gago menyanggupi. Dia meminta Sago untuk membuka cabang Bank Aya di pulau Baya dan mengangkat Sago sebagai manajernya. Hanya bedanya, di sini hanya sedikit penduduknya yang memiliki koin emas.
“Anda tidak perlu kecil hati,” kata Sago menghibur. “Tanpa koin emas pun anda bisa mengenyam kenikmatan sebagaimana tetangga pulau anda,” dia bermanis-manis menerangkan. Tentu saja keterangan ini disambut gembira oleh penduduk pulau Baya.
Sago betul-betul agen kami yang cemerlang. Otak bulusnya benar-benar tidak menyimpang dari program yang sudah kami tanamkan: keserakahan.
Begitulah. Mulailah Sago membagikan uang kertas. Ada 100 kepala keluarga di pulau itu. Setiap kepala keluarga diberikan 1000 lembar uang. Jadi total uang yang tersirkulasi di pulau itu mencapai 100.000. “Karena anda tidak menyimpan koin emas seperti halnya penduduk pulau seberang, sebagai gantinya, anda bisa menggunakan uang yang telah saya bagikan.”
Apa yang dikatakan Sago itu disambut dengan senang. Tepuk tangan riuh membahana. Mereka bersyukur, sebentar lagi negeri mereka tidak akan sekolot dan seprimitif tempo hari. Namun kemeriahan itu sempat hening ketika Sago menyela, “Harap diingat. Uang yang saya bagikan tadi tidak gratis. Ini adalah pinjaman, namun setahun setelah saat ini, anda harus mengembalikan uang ini plus 100 lembar uang tambahan.”
“Kenapa harus ada tambahan 100? Kenapa tidak mengembalikan sejumlah yang kami pinjam?” seorang pemuka suku Tukus menyela.
“Huh! Dasar manusia bebal,” umpat kami yang tak sabar mendengar jawaban cerdas dari Sago.
“Betul anda memang hanya meminjam 1000. Yang 100 itu adalah untuk membayar jasa yang kami sediakan,” Sago dengan senyum lepas menjelaskan. Penjelasan brilian. Kami turut puas mendengar Sago. Tak terasa air liur kami berloncatan di sela-sela taring kami yang panjang. Menunggu agar para manusia bodoh itu tak lagi rewel menyoal tambahan yang wajar.
Meski ada yang masih mengganjal, penjelasan Sago cukup tepat untuk membungkam naluri kritis warga Tukus. Itu terlihat dari tak surutnya minat warga Tukus untuk mengambil tawaran Sago. Paling tidak, mereka bisa merasakan mudahnya bertransaksi dengan uang kertas. Dan yang lebih penting lagi, menikmati status sebagai warga dunia baru. Modern dan prestisius.
Setelah sekian lama, dua agen kami itu mulai memainkan kartu truf. Dari pengamatan Gago, di pulau Aya, rata-rata hanya sekitar 10 persen uang kertas yang ditukarkan ke koin emas pada setiap waktu. Sisanya, 90 persen tetap berada di kotak penyimpanan di Bank Aya. Mencermati bahwa uang kertas mereka sudah merajai alat tukar, kami pun tergelak.
“Hai Gago, kenapa tidak kau cetak uang lagi? Bukankah hanya sedikit dari mereka yang menukarkan uang kertasnya dengan koin emas? Bukankah kau bisa meraup untung luar biasa dengan cara ini? Ayolah kawan, tunjukkan otak cerdasmu,” begitu kami tak henti menggelitiki Gago.
Dan benar, Gago memang agen kami yang jempolan. Ia lalu mencetak uang kertas lebih banyak. Tidak tanggung-tanggung hingga 900.000. Dalam kalkulasinya, jumlah ini, ditambah jumlah uang kertas yang telah dibagikan sebelumnya, totalnya 1.000.000. Kalau ada orang yang datang hendak menukarkan uang kertas ini, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah hanya 10 persen saja. Nah, kalau ini yang terjadi, bukankah ia menyimpan 100.000 koin emas, yang tidak lain adalah koin yang telah disetor oleh seluruh penduduk Sukus? Kalau hitung-hitungan pahit itu benar-benar terjadi, bukankah cadangan koin emas yang diperlukan sudah cukup?
Fantastic! Creating money from nothing!
Menciptakan uang dari kekosongan. Hanya orang-orang seperti Gago, kawan kami, yang bisa. Begitulah. Akal bulus Gago bergerak. Ia pinjamkan 900.000 uang kertas yang baru dicetaknya kepada warga Sukus yang memerlukan. Kalau di pulau Baya, Sago mengutip tambahan ekstra sebesar 10 persen dari pokok, nah Gago meningkatkan kutipan hingga 15 persen. Artinya kalau seseorang meminjam 1000 lembar uang kertas, di akhir tahun ia harus mengembalikan 1.150 uang kertas, dimana 150 adalah charge dari layanan yang diberikan.
Hari pun berganti. Bulan berjalan begitu cepat. Tak terasa setahun pun lewat. Apa yang terjadi pada suku Sukus dan Tukus? Pelan tapi pasti, penduduk pulau Aya merasakan harga-harga kebutuhan barang dan jasa mereka naik. Mereka tidak tahu apa penyebabnya. Banyak diantara orang yang meminjam uang dari Gago itu mengalami gagal bayar. Mereka bukan orang pemalas atau penganggur. Tapi meski telah bekerja keras, mereka masih kesulitan melunasi utang berikut bunganya.
Dan mereka memang tidak akan pernah bisa.
Bahkan ketika mereka menjadikan 24 jam untuk bekerja.
Lihatlah, uang yang dipinjamkan 900.000 bila ditambah bunga 15 persen, berarti senilai 135.000, sehingga jumlah total mencapai 1.135.000. Padahal, jumlah uang yang beredar hanya 1.000.000 (100.000 diberikan sebagai ganti 100.000 keping koin emas, ditambah uang baru 900.000 yang dicetak Gago).
Dan inilah panen raya yang kami tunggu: kesuksesan Gago dan Sago. Kami sebut begitu, karena sistem yang dikenalkan dua agen top kami itulah yang pertama kali mengubah watak bisnis kekeluargaan menjadi bisnis yang individual kompetitif. Kehidupan sosial mereka yang harmonis, penuh toleransi dan tolong menolong, perlahan luntur. Masing-masing kepala -apalagi yang berhutang- harus bekerja keras demi mengejar uang untuk melunasi kewajibannya. Sehingga, ketika ada ombak besar menyapu sebagian rumah penduduk, kebiasaan mereka untuk saling bantu luntur. Prinsip saling membantu berubah menjadi time is money. Membantu orang boleh, tapi harus ada kompensasinya: uang. Sisi kehidupan sosial yang akrab perlahan berubah individual. Masing-masing mulai terbebani untuk berusaha keras demi kepentingan masing-masing. Sungguh perubahan yang sulit sekali kami capai sendirian, bila tanpa dua kaki tangan kami si Gago dan Sago.
Hal yang sama pun dialami oleh suku Tukus. Awalnya mereka tidak menyadari. Namun, lambat laun mereka merasakan perubahan. Kebutuhan pokok yang dulunya cukup ditukar dengan barang kerajinan atau sebaliknya, kini mulai sedikit bermasalah. Mereka tidak tahu kenapa, tanpa terasa dengan berlalunya waktu, harga-harga terus merambat naik. Padahal mereka telah membanting tulang dan bekerja keras. Kerjasama antar warga yang semula menjadi tradisi, lama-kelamaan juga mulai luntur. Mereka menjadi egois, diburu kebutuhan masing-masing.
Melihat perkembangan ini, kami di dunia setan pun bersuka ria. Betapa tidak, dimana kerakusan menjadi ideologi, disitulah singgasana kami dibangun. Karena itu, kami pun semakin rajin membisiki Gago dan Sago untuk tidak hanya berhenti di sini saja. Tapi untuk semakin menguasai manusia-manusia bodoh yang dulunya berlagak saling bantu itu.
Gago dan Sago memang sangat impresif. Mereka adalah ciptaan jenius. Terbukti ketika mereka melancarkan dua trik lanjutan untuk memenangkan keadaan. Kepada para penunggak sebagian ada yang dipaksa membayar. Caranya, dengan menyita harta benda mereka. Rumah, sawah, ternak dan maupun harta benda lainnya pun segera berpindah tangan. Sementara penunggak yang mempunyai hubungan baik dengan Gago dan Sago diberi kesempatan untuk memperpanjang masa angsuran. Kebetulan Taka, pim¬pinan suku Tukus, salah seorang di antara penunggak. Maka atas nama “kebaikan hati” Sago bukan saja memberikan tambahan waktu mengangsur utang, tapi juga memberikan tambahan utang baru. Kenapa? Dia beralasan utang ini biar bisa dipakai untuk melancarkan kegiatan produktifnya. Namun alih-alih bisa membayar periode berikutnya, Taka kembali tak bisa melunasi utangnya.
Malu karena tak bisa membayar kewajiban, Taka menarik diri dan menghindari bertemu dengan Sago. la mulai kehilangan kepercayaan diri. Kewibawaannya sebagai kepala Suku Tukus berbalik ke titik nadir. Sementara, Sago yang semula berlagak membantu, kini tinggal melakukan eksekusi. la semakin kaya. la pun berubah lagaknya Tuan Besar. Dalam dunia kami, kedua agen ini memang layak sombong. Karena kepintaran dan kejeniusannya. Hanya orang-orang dengki saja yang menyebut cara-caranya menguasai manusia-manusia bodoh itu sebagai keculasan. Tidak bermoral? Ini hanya retorika gombal, persetan dengan moral.
Setelah beberapa tahun berselang, Gago dan Sago yang semula datang ke Aya dan Baya dengan modal mesin pencetak uang, kini telah menjadi pemilik hampir semua kekayaan di dua pulau tersebut. Mereka menguasai ekonomi dan properti. Lambat laun, dengan uang, mereka pun beroleh kekuasaan baru: menguasai politik negeri itu.
Sementara masyarakat dua pulau itu tinggalah sebagai pekerja kasar. Kemiskinan tiba-tiba seperti menjadi endemik yang terus menyebar cepat. Mereka bekerja keras, untuk hasil yang sedikit. Mereka kehilangan waktu untuk saudara dan tetangga. Mereka semakin jarang melakukan upacara keagamaan. Lebih parah lagi, mereka semakin tidak perhatian satu sama lain.
Kejahatan yang semula hanyalah cerita yang sering mereka dengar dari negara antah berantah, kini menghampiri mereka di depan hidung mereka sendiri. Karena tidak bisa bayar utang, mereka mengorbankan anak dan bahkan istrinya untuk diperbudak. Prostitusi yang semula begitu tabu bagi mereka, seperti menjadi budaya baru. Semua budaya yang datang dari Gago dan Sago, dianggap superior. Budaya lokal pun lambat laun punah. Gago dan Sago telah menguasai semua, tak ada yang tersisa: ekonomi, budaya, kekuasaan, dan keadilan yang bisa mereka beli melalui uang.
Namun ini bukan akhir petualangan mereka. Mereka tak hanya ingin menaklukkan dua pulau Aya dan Baya. Mereka ingin semua pulau di dunia berada dalam pengaruh kekuasaan mereka. Target mereka bukan untuk menaklukkan tentara musuh di negara-negara jauh. Tapi, menaklukkan ekonomi mereka. Membuat mereka terkesan, lalu ketika saatnya tiba, mencekik mereka dengan sekali hentak: melalui uang kertas tanpa jaminan, aturan cadangan 10 persen, dan bunga. Tiga kombinasi jurus ini, sudah terbukti ampuh. Setidaknya, dua penduduk negeri sudah mereka kuasai.
Perangkap inilah yang dengan cerita dan intensitas berbeda terjadi dalam krisis di Asia Tenggara. Cara-cara yang sama akan terus kami kembangkan, sehingga segelintir agen kami yang berkuasa, menyisakan masyarakat banyak yang hidup sengsara. Kalau di kawasan itu sekarang sudah mulai recovery, sasaran bisa dialihkan ke tempat lain. Boleh juga, di kawasan yang sama, tentu menunggu saat yang tepat muncul kembali. Saat-saat balon ekonomi dan keuangan tak lagi bisa menggelembung. Saat-saat ketika manusia kelimpungan. Saat-saat ketika kami untuk kesekian kali merayakan kemenangan karena tiga pilar utama setan -fiat money, fractional reserve requirement, dan interest- berhasil menggoyang ekonomi.
*Diadaptasi dari buku The Theft of Nation (2004) karangan Ahamed Kameel Mydin Meera
(The Satanic Finance – A. Riawan Amin)
Labels:
an unquiet mind
June 13, 2008
HEART IS THE MOST WONDERFUL ORGAN
"..., I love the heart, it’s the most wonderful organ"
Laki-laki itu benar, hati adalah organ yang paling menakjubkan: satu-satunya organ perasa untuk menginderai hujan cinta dari semesta.
PS. Lucu, karena laki-laki yang memberikan pelajaran tentang logika adalah laki-laki yang sama dengan yang mengucapkan kebenaran tentang hati. Ah, terpujilah laki-laki itu.
Laki-laki itu benar, hati adalah organ yang paling menakjubkan: satu-satunya organ perasa untuk menginderai hujan cinta dari semesta.
PS. Lucu, karena laki-laki yang memberikan pelajaran tentang logika adalah laki-laki yang sama dengan yang mengucapkan kebenaran tentang hati. Ah, terpujilah laki-laki itu.
Labels:
an unquiet mind
June 12, 2008
KILAU CINTA PEREMPUAN MUDA YANG TENGAH JATUH CINTA*
buat FS
Seorang perempuan muda nampaknya sedang jatuh cinta. Diceritakannya kisah itu pada dunia, seperti sebagaimana semua orang yang tengah jatuh cinta ingin berbagi kisah itu pada dunia, dalam bentuk tulisan yang sedemikian rupa disamarkannya. Tapi tentu saja segala bentuk penyamaran itu adalah wajar, karena memang demikianlah adanya cinta: misterius. Namun akhirnya, betapa pun penyamaran itu dilakukan dengan sedemikian rupa, perempuan muda yang tengah jatuh cinta itu gagal membendung kilau cinta yang memancar dari dirinya, seperti sebagaimana semua orang yang tengah jatuh cinta tidak akan sanggup membendung kilau cinta yang memancar dari dirinya.
Maka, dengan mengacu pada semua kilau cinta yang tidak berhenti memancar, teman baik si perempuan muda menghampirinya seraya berkata:
"OMG, romantisnyaaaah! Insting gw mengatakan, ini semua berhubungan dengan perkara email tengah malam, ya kaaaaan? hehehehe."
Wajah si perempuan muda langsung merah padam, dan dia memilih tidak berkomentar. Tapi mendapati perempuan muda yang tidak menjawab apa-apa, si teman baik sama sekali tidak kecewa, malah sebaliknya:
"Hohohohohohoo, tidak berkomentar udah cukup buat gw. Oh, aku bangga dengan instingku, hahahaha."
Lama-lama, si perempuan muda tidak tahan untuk tidak berkomentar, lalu dia menjawab:
"Soooook tauuuuu deehh situuuu. Ahahahahhaa. Aku juga bangga dengan kemisteriusanku. Ahahahaha."
Si teman baik cuma tersenyum gemas mendapati jawaban si perempuan muda yang masih saja berusaha menyembunyikan kilau jatuh cinta dalam dirinya.
"Ih, biarin, nanti juga klo udah jelas apa-apanya, foto2 yang di upload bakal bicara. Hehehehehee."
Demikianlah tanggapan si teman baik atas usaha si perempuan muda yang sia-sia. Tapi akhirnya, akhirnya, perempuan muda itu menyerah pasrah, dengan cara yang begitu diplomatis:
"AHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAA. You don’t know how much I hate you for knowing me so well. Benciiiiiiii. AHAHAHHAHAHAHA"
Si teman baik tersenyum bahagia dari dasar hati. Bukan hanya karena si perempuan muda akhirnya mengaku, tapi lebih karena dirinya disebut sebagai teman yang mengerti. Terpujilah kilau jatuh cinta itu: ada banyak orang yang berbahagia karenanya.
Seorang perempuan muda nampaknya sedang jatuh cinta. Diceritakannya kisah itu pada dunia, seperti sebagaimana semua orang yang tengah jatuh cinta ingin berbagi kisah itu pada dunia, dalam bentuk tulisan yang sedemikian rupa disamarkannya. Tapi tentu saja segala bentuk penyamaran itu adalah wajar, karena memang demikianlah adanya cinta: misterius. Namun akhirnya, betapa pun penyamaran itu dilakukan dengan sedemikian rupa, perempuan muda yang tengah jatuh cinta itu gagal membendung kilau cinta yang memancar dari dirinya, seperti sebagaimana semua orang yang tengah jatuh cinta tidak akan sanggup membendung kilau cinta yang memancar dari dirinya.
Maka, dengan mengacu pada semua kilau cinta yang tidak berhenti memancar, teman baik si perempuan muda menghampirinya seraya berkata:
"OMG, romantisnyaaaah! Insting gw mengatakan, ini semua berhubungan dengan perkara email tengah malam, ya kaaaaan? hehehehe."
Wajah si perempuan muda langsung merah padam, dan dia memilih tidak berkomentar. Tapi mendapati perempuan muda yang tidak menjawab apa-apa, si teman baik sama sekali tidak kecewa, malah sebaliknya:
"Hohohohohohoo, tidak berkomentar udah cukup buat gw. Oh, aku bangga dengan instingku, hahahaha."
Lama-lama, si perempuan muda tidak tahan untuk tidak berkomentar, lalu dia menjawab:
"Soooook tauuuuu deehh situuuu. Ahahahahhaa. Aku juga bangga dengan kemisteriusanku. Ahahahaha."
Si teman baik cuma tersenyum gemas mendapati jawaban si perempuan muda yang masih saja berusaha menyembunyikan kilau jatuh cinta dalam dirinya.
"Ih, biarin, nanti juga klo udah jelas apa-apanya, foto2 yang di upload bakal bicara. Hehehehehee."
Demikianlah tanggapan si teman baik atas usaha si perempuan muda yang sia-sia. Tapi akhirnya, akhirnya, perempuan muda itu menyerah pasrah, dengan cara yang begitu diplomatis:
"AHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAA. You don’t know how much I hate you for knowing me so well. Benciiiiiiii. AHAHAHHAHAHAHA"
Si teman baik tersenyum bahagia dari dasar hati. Bukan hanya karena si perempuan muda akhirnya mengaku, tapi lebih karena dirinya disebut sebagai teman yang mengerti. Terpujilah kilau jatuh cinta itu: ada banyak orang yang berbahagia karenanya.
Labels:
an unquiet mind

