June 27, 2008

DI BALIK TERPAAN HUJAN BATIK

and if she tells you two is one
then two is one my love

(Suede - She’s In Fashion)



Hujan batik melanda dunia mode kita. Jakarta dihujani kain batik dengan berbagai macam corak dan warna. Saya, sebagai penyuka batik, tentu saja turut berbahagia karenanya. Gara-gara hujan batik, saya jadi tiba-tiba bisa jalan di mal sambil mengenakan batik, tanpa harus menunggu adanya undangan acara Kartini, dipadukan dengan jeans pula. Amboi, gembiranya saya! Tiba-tiba semua orang, terutama kaum perempuan, beramai-ramai mengenakan batik, sehingga batik bukan lagi monopoli bapak-bapak yang menghadiri undangan pernikahan, atau seragam ibu-ibu pegawai pemerintahan setiap hari jumat. Batik jadi seperti perawan yang mekar pada usia 17, yang menguarkan pesona terpendam sampai-sampai seisi dunia jatuh cinta padanya.

Jika memang benar demikian yang terjadi, sungguh saya berbahagia karenanya. Alangkah indahnya dunia jika dibungkus batik. Tapi, apakah pasukan perempuan berbatik yang memadati mal-mal ibu kota, memadati jalan-jalan raya, dan memadati perkantoran Jakarta benar-benar mencintai batik itu sendiri?

Sebagai perempuan yang tahu benar bagaimana sulitnya melawan diri dari cengkeraman sihir mode, saya takut kebanyakan dari mereka sebenarnya tidak perduli, apakah yang mereka kenakan adalah batik, atau mungkin pakaian ala seragam ABRI, asalkan itulah tren moden saat ini. Apalagi jika gelontoran batik dalam berbagai macam model dan warna yang memenuhi mal-mal ibu kota semakin tidak terkendali. Saya khawatir bahwa hujan batik hanya akan menjadi euforia semata. Komoditas bisnis semata.

Apabila kita melihatnya secara sekilas, seakan memang tidak ada pihak yang dirugikan -kecuali tentu saja perempuan yang tidak bisa menahan diri sehingga kalap memborong batik, yang patut saya akui, memang sungguh menggoda dalam berbagai corak dan warnanya. Tapi, pernahkah terpikir oleh kita, bagaimana citra batik paska berlalunya euforia itu?

Berdasarkan pengalaman saya sebagai perempuan yang tentu saja pernah tergoda oleh rayuan mode yang memabukkan, saya tahu benar bagaimana siklus kerja mode. Dia selalu bisa menyihir para perempuan untuk tiba-tiba berbondong-bondong memuja sesuatu, lantas tiba-tiba mencampakkannya begitu saja untuk kembali memuja sesuatu yang baru, dan begitu seterusnya. Saya masih ingat betul, bagaimana tiba-tiba skinny jeans jadi begitu menawan di mata saya, sehingga saya jadi muak menatap tumpukkan baggy jeans yang menggunung di lemari saya, setelah sebelumnya saya begitu tergila-gila pada mereka. Dengan cara yang sedemikian rupa, fashion berhasil mencuci otak saya.

Maka, betapa cemasnya saya membayangkan citra batik apabila sihir mode telah pudar dari dirinya. Saya membayangkan perempuan-perempuan itu akan berangsur-angsur menanggalkan baju-baju batik modernnya, ketika melihat produk terbaru yang tengah naik daun. Dan batik-batik itu pun terlupakan, cuma jadi pajangan di lemari, dan kembali digunakan hanya untuk menghadiri undangan pernikahan. Yang lebih parah, jika masih ada seseorang yang nekat mengenakan baju batik untuk berjalan-jalan di mal, seisi dunia akan mengutuknya sambil berujar: “basi banget sih masih pake batik! batik udah gak mode lagi, tauk!”. Sungguh suatu efek samping yang cukup fatal, karena menurut hemat saya, bicara batik berarti bicara identitas nasional.

Tapi semoga, semoga saja, ini hanya pikiran buruk saya yang kelewatan, semoga ini cuma sekedar kebiasaan saya yang memang suka mencemaskan sesuatu secara berlebihan. Semoga saya cuma sekedar sok pintar dengan penilaian sembrono saya bahwa perempuan Jakarta gampang dicucuk hidungnya oleh mode. Semoga saya cuma sekedar suudzon bahwa perempuan Jakarta yang kini tengah berbatik itu akan segera mencibir apa yang sedang dikenakannya apabila dihadapkan pada bintang fashion yang baru. Semoga perempuan Jakarta memang benar-benar mencintai batik.

0 comments:

Post a Comment