Pada hari sabtu pagi tiba-tiba Ayah saya membawa kabar berita. Tidak penting isinya. Cuma mengabarkan bahwa besok senin beliau harus pergi ke luar kota. Selama lima hari. Untuk urusan kantor.
Sepanjang saya bisa mengingat, Ayah saya jarang pergi ke luar kota untuk urusan kantor. Beliau sangat menghindarinya karena tidak suka pergi berlama-lama meninggalkan rumah, dan terutama karena beliau tidak betah tidur di tempat asing. Kalaupun terpaksa pergi, apabila urusan yang penting sudah beres, beliau biasanya pulang lebih awal dari rekan-rekannya yang seringkali masih punya jadwal acara bebas untuk jalan-jalan. Jadilah sepanjang sejarah hidup kami sekeluarga, Ayah saya hampir tidak pernah pulang membawa oleh-oleh.
Waktu saya masih sekolah, saya sering menyesali kebiasaan Ayah saya ini. Menurut hemat saya waktu itu, tentu menyenangkan apabila beliau tidak berada di rumah untuk jangka waktu lama. Dalam bayangan saya, apabila beliau tidak ada, tentu saya bisa pulang pagi sebebas-bebasnya, karena Ayah saya cukup ketat untuk urusan pulang pagi, dan sangat pelit untuk urusan izin menginap, sementara Ibu saya terkenal tidak tega menolak permintaan anaknya.
Tapi seiring pertambahan kedewasaan kami anak-anaknya, aturan Ayah saya pelan-pelan berubah lebih longgar, dan soal izin menginap tidak lagi sesulit dulu. Selain itu, semakin kesini, Ayah saya semakin menempatkan diri sebagai teman daripada orang tua -walaupun sayangnya ketegasan dan kegalakannya tidak pernah hilang benar, saya jamin, tidak akan pernah. Sehingga waktu saya dengar kabar itu, saya tidak lagi antusias. Keinginan nakal jaman sekolah telah lama menguap dari pikiran saya. Reaksi saya malah cenderung khawatir. Semakin Ayah dan Ibu saya bertambah tua, saya jadi lebih sering mengkhawatirkan mereka.
Akhirnya, jadilah Ayah saya berangkat hari senin pagi. Malamnya tinggal saya, Ibu saya, dan adik-adik. Tiba-tiba, naluri ‘anak sulung’ dan penyakit paranoid saya kambuh dan saling berkolaborasi. Saya jadi berlebihan mengecek pagar, pintu, dan jendela. Adik laki-laki saya yang biasanya pulang kuliah tengah malam, saya wanti-wanti untuk tidak nongkrong lama-lama di kampus dan segera pulang.
Entahlah, ada semacam perasaan tidak aman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Rumah saya rasanya sepi tanpa Ayah saya, padahal hampir tidak ada bedanya dengan sehari-hari, karena biasanya beliau rajin ikut pengajian dan hampir selalu pulang malam. Keberadaan adik laki-laki saya di rumah pun saya rasakan tidak banyak membantu. Menurut saya, biar bagaimana pun juga, dia tetap saja adik saya, dia tetap saja berada di bawah tanggung jawab saya, betapa pun dia laki-laki, betapa pun postur badannya tinggi besar.
Pada malam ketiga, dini hari menjelang subuh, saya terbangun karena mendengar suara-suara. Antara sadar dan tidak sadar, suara yang sangat khas itu saya kenali sebagai suara napas Ayah saya yang kalau tidur tidak bisa tidak mengorok, dengan volume yang lumayan kencang.
Saya pun memutuskan bangun untuk membuktikan kebenaran pendengaran saya. Pelan-pelan saya masuki kamar Ayah dan Ibu saya, dan benarlah, Ayah saya tengah tidur pulas di samping Ibu saya yang juga sama pulasnya. Sementara di lantai kamar tergeletak koper bekas perjalanan dan beberapa bungkusan lain yang digeletakkan begitu saja.
Paginya, saya lihat Ayah saya sudah kembali pada rutinitas biasanya: menyirami tanaman-tanaman kesayangannya di pekarangan sempit kami. Waktu saya tanya kenapa beliau sudah ada di rumah padahal baru tiga hari pergi, seperti biasa, beliau mengaku tidak betah di tempatnya menginap, sampai akhirnya nekat pulang ke rumah. Lalu kami terkikik geli berdua -sekedar informasi, dibalik kegalakannya, Ayah saya adalah pelawak paling lucu sedunia.
Dalam hati saya gembira sekali, Ayah saya sudah pulang ke rumah.


0 comments:
Post a Comment