July 28, 2008

EXTRA ORDINARY WEEKEND

Rencananya, pada akhir pekan kemarin, saya dan para sahabat akan berlibur ke Bandung. Rencana itu sudah tercetus dari jauh-jauh hari. Cukup lama saya menanti saat itu tiba, sampai akhirnya beberapa hari sebelumnya salah satu sahabat saya datang membawa kabar tidak menyenangkan: dia tidak bisa berangkat karena alasan pekerjaan. Kami batal ke Bandung.

Walaupun sedikit kecewa, kami mencoba membuat plan B. Karena kemungkinan pergi berlibur sambil menginap sudah tidak mungkin dilaksanakan, kami sepakat untuk jalan-jalan seharian ke Bogor pada hari minggunya. Menurut saya, ide itu juga tidak kalah menarik. Terbayang di kepala saya kami bertiga keliling Bogor sambil wisata kuliner, dan tentu saja, sambil foto-foto. Lagi-lagi, saya tak sabar menanti.

Tapi rupanya, pergi berlibur bertiga belum menjadi rejeki kami bulan ini. Hari jumat malam sahabat saya yang satu lagi mengirim kabar. Dia tidak bisa berangkat ke Bogor. Kali ini karena alasan pendidikan.

Sahabat saya yang satu itu memang sedang dalam proses mengurus beasiswa sekolah. Sudah setahun ini dia mengikuti serangkaian tes dan wawancara yang tidak habis-habisnya. Dia bilang dia baru saja menerima berita mendadak, bahwa tes yang selanjutnya akan diadakan hari selasa. Jadi, tidak mungkin dia pergi berlibur. Dia harus menggunakan waktu akhir pekannya untuk mempersiapkan diri menghadapi tes. Kami batal ke Bogor.

Jumat malam menjelang tidur, saya uring-uringan sendirian. Besoknya dua hari saya libur, dan saya tidak punya rencana cadangan untuk pergi kemana pun. Ngomong-ngomong, haruskah saya begitu sibuk memikirkan kemana saya akan menghabiskan akhir pekan? tidak harus. Tidak sama sekali. Dan biasanya pun, saya tidak begitu. Jika tidak punya acara, saya lebih senang menghabiskan seharian di rumah. Tapi kali ini, saya ingin sekali pergi berlibur entah kemana. Bukan ke mal, atau sekedar merumpi di rumah teman. Saya sedang bosan. Saya ingin liburan yang berbeda.

Tiba-tiba, saya teringat sebuah acara yang kemarin saya baca di papan pengumuman Friendster. Salah seorang teman saya semasa SMU yang mempublikasikan acara itu. Sejujurnya, saya tidak begitu mengenal teman saya itu. Tapi saya tahu pasti dia satu almamater dengan saya. Kemarin saya sempat berkirim email dengannya, dan bertanya-tanya mengenai acaranya. Walaupun saya yakin bahwa saya akan pergi berlibur ke Bogor, diam-diam saya tertarik pada acara itu.

Acara itu digelar oleh komunitas relawan buku dan taman bacaan anak 1001buku. Saya sudah sering mendengar tentang organisasi itu, tapi mengenai bentuk acara yang akan mereka gelar, saya tidak punya gambaran sama sekali. Yang saya tahu, pada hari minggu besoknya mereka akan mengadakan acara yang bertajuk Olimpiade Taman Bacaan Anak 2008 dan membutuhkan relawan untuk membantu mengurusi anak-anak. Teman SMU saya yang bernama Lala itu kemarin berkata lewat email, dia pernah menjadi relawan dan kegiatannya sangat menyenangkan. Dia juga berkata, bahwa dia akan mendaftar lagi jadi relawan pada acara besok.

Akhirnya, saya ceritakan semuanya pada adik saya yang perempuan. Sambil berharap-harap dia akan tertarik, lalu mau pergi bersama saya untuk mendaftar jadi relawan dan menghadiri technical meeting yang saya ingat akan diadakan besok hari sabtu jam 2 siang.

Ketika saya sedang seru-serunya bercerita, tiba-tiba adik saya menyela dengan pertanyaan. Dia bertanya siapa nama lengkap teman SMU saya itu. Saya katakan padanya bahwa nama lengkapnya adalah Kemala. Turut pula saya sertakan informasi, bahwa dia dulunya kuliah di FIB UI.

Sekonyong-konyong adik saya tertawa keras. Dia bilang saya pikun. Dia bilang Lala itu sebenarnya bukan teman seangkatan saya. Memang benar kami satu SMU, tapi sebenarnya dia adalah teman sekelas adik saya -dari mulai SD sampai SMU, saya dan adik saya bersekolah di tempat yang sama. Akhirnya saya ikut tertawa. Lebih karena lega daripada malu. Karena apabila seorang kawan yang bernama Lala itu ternyata adalah temannya, tentu kemungkinan besar adik saya akan bersedia bergabung.

Tapi ternyata, lagi-lagi saya harus kembali kecewa. Adik saya berkata bahwa besok dia sudah punya acara. Maka, kalau saya mau mendaftar jadi relawan, saya harus pergi sendiri, baru mungkin bertemu Lala di tempat acara. Jadilah saya berangkat tidur dengan bimbang.

Besoknya hari sabtu, saya bangun tidur pagi-pagi, padahal biasanya saya selalu bangun siang kalau hari libur. Saya masih bimbang, belum bisa menentukan apakah akan berangkat mendaftar jadi relawan siang nanti. Saya lalu mencoba menghabiskan pagi hari saya mendengarkan beberapa file lagu baru. Tapi rupanya, ketika file-file itu telah selesai saya eksekusi, waktu baru menunjukkan pukul 10 pagi, dan saya masih belum tahu harus pergi kemana untuk memuaskan hasrat saya akan akhir pekan yang tidak biasa. Akhirnya, tekad saya bulat. Saya memutuskan mandi dan bersiap-siap untuk berangkat mendaftar jadi relawan siang nanti. Apapun yang bakal terjadi, saya tidak perduli.

Sampai di tempat pendaftaran, saya sama sekali tidak menemukan Lala, yang ada hanya wajah-wajah yang sama sekali tidak saya kenal. Sebelumnya saya memang sudah menduga, bahwa acara ini pasti akan didominasi oleh komunitas mahasiswa UI. Tapi rupanya dugaan saya salah. Acara itu tidak sekedar didominasi oleh mahasiswa UI. SEMUA ORANG YANG BERADA DI TEMPAT ITU ADALAH MAHASISWA UI. Tahulah saya bahwa Tuhan rupanya telah mendengar doa saya. Akhir pekan saya akan berjalan lebih tidak biasa dari yang saya harapkan.

Saya cuma bisa duduk diam mendapati kenyataan bahwa semua orang di sekeliling saya telah saling mengenal. Tadinya saya pikir akan ada setidaknya beberapa orang yang merasa asing satu sama lain, sehingga saya tidak perlu merasa asing sendirian. Tapi saya sudah terlanjur berada di sini. Tidak mungkin saya berbalik pulang. Lagipula, saya sudah mendapatkan keinginan saya: akhir pekan yang tidak biasa. Saya harus mengakhirinya sampai tuntas.

Tapi akhirnya, semuanya tidak seburuk yang saya bayangkan. Saya dengar beberapa orang di sekitar saya bukan mahasiswa UI. Dan setelah beberapa menit menyesuaikan diri dengan pemandangan sekeliling, di komunitas UI itu saya bisa melihat beberapa wajah yang saya kenali sebagai adik kelas atau senior saya di SMU. Bahwa saya cuma sebatas kenal wajah dengan mereka, malah membuat saya lega. Saya tidak perlu repot-repot berbasa-basi dengan mereka. Cukup keberadaan mereka membuat saya tenang bahwa saya tidak benar-benar asing.

Saya mulai merasa nyaman mendengarkan arahan panitia di depan yang menjelaskan tentang apa yang harus kami lakukan besok hari minggu. Kami para relawan sudah terbagi-bagi ke dalam kelompok. Saya berada di kelompok yang bertugas mengurusi lomba. Tugas saya adalah membacakan pertanyaan kuis untuk para peserta lomba.

Di kejauhan, saya lihat Lala baru saja datang, rupanya teman saya itu terlambat. Dia langsung bergabung ke dalam kelompok di seberang sana. Rupanya dia kebagian mengurusi taman bacaan anak. Dia tidak melihat saya. Jadi kami tidak langsung bertegur sapa.

Ketika saya sedang duduk manis mendengarkan pengarahan, perempuan di sebelah saya tersenyum sambil menawarkan tangan tanda perkenalan. Jujur saja, walaupun saya datang sendirian, saya sama sekali tidak berencana untuk mendapatkan teman baru. Niat saya datang kesini untuk mendapatkan akhir pekan yang tidak biasa, mendaftar jadi relawan, bermain dengan anak-anak, bergembira dengan anak-anak, lalu pulang. Saya merasa tidak punya urusan dengan para mahasiswa UI ini.

Tapi perempuan di samping saya itu bukan main sopannya, sehingga akhirnya saya tidak berdaya. Kami pun berkenalan. Ternyata dia mahasiswa FIB angkatan 2007. Namanya Arien. Saya lalu dikenalkannya pula pada beberapa temannya yang lain. Kebanyakan dari jurusan Ilmu Perpustakaan, dan mereka semua masih muda. Selain orang asing, rupanya saya tergolong yang paling tua di sini. Benar-benar akhir pekan yang tidak biasa, saya terkikik dalam hati.

Akhirnya, akhir pekan saya itu memang berlangsung menakjubkan. Sampai hari minggunya, seharian saya bersenang-senang mengurusi lomba anak-anak bersama teman-teman baru saya para mahasiswa yang masih muda-muda itu. Kami tidak habis-habisnya tertawa-tawa dan berfoto-foto. Sebelum berpisah kami tidak lupa bertukar email dan nomor telepon sambil berjanji untuk mengadakan pertemuan lagi.

Malam harinya, ketika akhirnya saya berhasil berbaring di tempat tidur, dengan badan pegal akibat kelelahan, saya merasa seperti tertimpa surga. Rasanya bahagia sekali. Saya berhasil mendapatkan akhir pekan yang menakjubkan. Semoga anak-anak yang mengikuti lomba hari itu, bahagia pula seperti saya. Amin.

PS. Terima kasih Lala, wouldn’t make it without you :)

July 25, 2008

HAPPY FRIENDSHIP ANNIVERSARY

Untuk yang ke-tiga ribu enam ratus lima puluh dua kalinya: I LOVE YOU BOTH!

July 24, 2008

PAMAN DATANG

Kemarin paman datang
Pamanku dari desa
Dibawakannya rambutan pisang
Dan sayur mayur segala rupa
Bercerita paman tentang ternaknya
Berkembang biak semua

Padaku paman berjanji
Mengajak libur di desa
Hatiku girang tidak terperi
Terbayang sudah aku di sana
Mandi di sungai turun ke sawah
Menggiring kerbau ke kandang

(antara kenang-kenangan waktu kecil dan keinginan berlibur akhir pekan ini yang tidak kesampaian)

July 10, 2008

NOBODY DOES IT BETTER

Nobody does it better
Makes me feel sad for the rest
Nobody does it half as good as you
Baby, you’re the best
I wasn’t lookin’, but somehow you found me
I tried to hide from your love light
But like heaven above me, the spy who loved me
Is keeping all my secrets safe tonight
And nobody does it better
Though sometimes I wish someone could
Nobody does it quite the way you do
Why’d you have to be so good?
The way that you hold me whenever you hold me
There’s some kind of magic inside you
That keeps me from runnin’, but just keep it comin’
How’d you learn to do the things you do?

And nobody does it better
Makes me feel sad for the rest
Nobody does it half as good as you
Baby, baby
Darling, you’re the best
Baby, you’re the best
Baby, you’re the best

(nobody covers this song better than Yorke)

July 06, 2008

THE GREENBACK

I believe that banking institution is more dangerous to our liberties than standing armies. The issuing power of money should be taken away from the banks and restored to the people whom it belongs.

(Thomas Jefferson)


The Greenback, begitu orang ramai menjuluki dolar, tidak hanya digunakan di dalam negeri saja, bahkan menjadi cadangan devisa utama bagi negara-negara dunia. Di akhir 90-an, 70 persen cadangan devisa dunia dipenuhi dengan dolar. Pamor dolar memang agak sedikit surut ketika euro -saudara mudanya sesama fiat money- mulai diperkenalkan. Euro mulai mengambil share hampir 25 persen di akhir 2005, sementara dolar sedikit menciut hingga tinggal sekitar 65 persen.

Berapa peredaran dolar yang dipompa keluar dari Amerika setiap harinya? Diperkirakan lebih dari 1.5 milliar dolar AS. Dengan menimbang produksi untuk satu dolarnya kurang dari satu sen, maka sudah pasti dolar bukan sekedar mata uang, tapi telah menjadi produk ekspor paling unggul Amerika19.

Bagaimana dolar bisa menjadi begitu besar pengaruhnya? Siapa tim sukses di belakangnya? Apa dampaknya bagi perekonomian dunia?

Cek Kosong Yang Sakti

Ada yang menggambarkan dolar seperti cek kosong. Penerbit cek adalah orang terpandang. Ia bukan hanya dihormati, tapi juga dianggap sebagai sesepuh yang mapan. Ia tidak kaya raya, memang, tapi paling tidak, mobil yang ia pakai dan rumah yang ia diami, meski hanya pinjaman, telah membuat citra baru dirinya sebagai orang kaya. Bila ia menghendaki sesuatu, cukup baginya menulis cek.

Penerima cek tak secuil pun meragukan ceknya. Kenapa? Karena penulisnya adalah orang terpandang dan terhormat. Tak mungkin ia melakukan penipuan. Padahal, cek yang ditulis ini sebetulnya tidak ada dananya alias kosong. Si penulis cek tidak memiliki dana yang cukup di bank. Kalau saja si penerima cek membawanya ke bank untuk mencairkannya, tentu bank akan menolaknya.

Namun, dengan kekuatan pencitraan tadi, si penerima cek tidak pernah datang ke bank. Ia tidak merasa perlu untuk mencairkan ceknya. Ia tidak peduli apakah cek itu benar-benar ada dananya, sehingga tak perlu ia datang ke bank untuk mencairkannya. Ia, dan banyak lagi penerima cek dari penulis yang sama, tidak merasa perlu mempersoalkan cek itu, dan bahkan menjadikan cek itu sebagai alat pembayaran yang bisa dipindah-pindahkan dari orang yang satu ke orang yang lainnya. Karena kelihaian si penulis cek, dunia internasional pun tersihir. Bahkan, semua pasar komoditi, tak terkecuali mereka para makelar minyak, menerima penjualan emas hitamnya dengan cek itu juga.

Praktis, setiap orang penerima cek hanya menyimpan, mensirkulasikan, dan menimbunnya. Mereka tidak pernah datang untuk mencairkan ceknya. Bahkan mereka ikut-ikutan menggunakan cek itu sebagai alat pembayaran.

Dalam logika keuangan, cek tak ubahnya utang. Dimana si penulis cek memiliki utang kepada si penerima cek. Kalau si penerima mau, ia bisa datang ke bank yang ditunjuk untuk mencairkan ceknya. Namun, selama cek itu tidak benar-benar dicairkan, si penulis cek akan terbebas dari tagihan pembayaran.

Ilustrasi ini menggambarkan bagaimana dolar, yang tak ubahnya cek kosong, meluas pengaruhnya menjadi alat transaksi global. Pengaruhnya semakin mendunia ketika dolar disepakati sebagai satu-satunya alat pembayaran resmi minyak. Negara-negara industri yang tidak memiliki sumber daya minyak seperti Jepang dan Cina, tak pelak perlu menyimpan dolar dalam devisa mereka untuk keperluan pembelian minyak bagi industrinya.

The Federal Reserve

When you or I write a check there must be sufficient funds in our account to cover the check, but when the Federal Reserve writes a check, there is no bank deposit on which that check is drawn. When The Federal Reserve writes a check, it is creating money 20.

Siapa yang bisa memaksakan kertas menjadi berharga seperti emas? Siapa yang bisa menulis cek kosong tanpa pernah dikomplain? Tidak lain adalah The Federal Reserve System atau disingkat Federal Reserve atau lebih pendek lagi The Fed. Bagaimana cek kosong itu bisa dikeluarkan?

Di bawah payung Federal Reserve Act, 1913, The Fed lah yang berhak menerbitkan dan mencetak dolar, bukan Departemen Keuangan (U.S Treasury). Disinilah keanehannya. Sebuah institusi yang memiliki otoritas untuk mencetak uang, bukan dimiliki oleh negara. Sebaliknya, oleh sekelompok pemilik swasta. Inilah ruang yang longgar untuk bisa melakukan eksploitasi atas sesamanya. Kesempatan untuk memonopoli keuangan global, atas nama warga Amerika.

Warga Amerika boleh jadi bangga karena mata uang mereka, melalui The Fed, menjadi mata uang internasional yang paling berpengaruh. Namun ada juga anggota Kongres yang mencium rencana jahat dengan menyebut The Fed sebagai tukang monopoli. Louis T. McFadden, Chairman of the Comittee on Banking and Currency, pada tanggal 10 Juni 1932 mengungkapkannya kepada publik 21.

Some people think The Federal Reserve is The United States government’s institutions. They are not government institutions. They are private credit monopolies which prey upon the people of United States for the benefit of themselves and their foreign swindlers.

Laiknya negara besar, AS memiliki banyak negarawan dengan visi jangka panjang. Termasuk negarawan yang memiliki visi bagaimana keuangan semestinya dikelola. Bahkan sebelum The Fed didirikan, beberapa diantaranya mengingatkan bahayanya ketika institusi bank yang menerbitkan uang diserahkan kepada segelintir orang. Mereka bisa bertindak bukan atas nama dan kepentingan negara, tapi bergerak untuk mengeruk profit bagi pundi-pundi keuangan mereka sendiri.

Presiden Andrew Jackson (1836) dengan tegas mengingatkan:

If Congress has the right to issue paper money, it was given to them to be used by the government, and not to be delegated to individuals or corporations.

Berbeda dengan presiden AS ke-7 itu, Presiden AS ke-3, Thomas Jefferson, seperti dikutip di awal bagian ini, menyatakan institusi bank bisa jauh lebih berbahaya ketimbang tentara musuh. Karena itu, Jefferson merekomendasikan agar kekuasaan untuk menerbitkan uang dicabut dari bank dan diberikan kepada mereka yang lebih berhak.

Namun, peringatan para mantan presiden itu hanya disimpan dalam rak-rak buku museum. Kekuatan manusia-manusia serakah yang menduduki kursi kekuasaan berhasil meredamnya. Buktinya, legislasi yang mengukuhkan berlakunya Federal Reserve System bisa disahkan. Meskipun secara tersirat, pengesahan ini lagi-lagi ditentang oleh presiden yang berkuasa saat itu, Woodrow Wilson (1913-1921):

A great industrial nation is controlled by its system of credit. Our system of credit is concentrated in the hands of few men. We have come to be one of the worst ruled, one of the most completely controlled and dominated governments in the world. No longer a government of free opinion, no longer a government by conviction and vote of the majority, but a government by the opinion and duress of small groups of dominant men.

Wilson boleh saja menyindir segelintir orang yang berkuasa itu, namun sejarah juga yang membuktikan, penampilan mereka sangat perkasa. Segelintir orang yang menguasai keuangan dunia. Mereka, seperti dikatakan Jefferson, memang lebih berbahaya daripada tentara musuh yang kelihatan. Karena melalui keuangan global, kolonialisme tidak lagi terjadi secara kasat mata. Penjajahan dunia tidak lagi perlu meneteskan darah sedikitpun. Kolonialisme yang menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan cukup diatur oleh segelintir orang dari tempat yang jauh. Tanpa bau mesiu, tanpa gedubrak-gedubruk, cukup dengan dentingan segelas martini.

Dollar Over Hang

Pada tahun 60-an, suplai dolar AS terus meningkat mengakibatkan dolar terdepresiasi terhadap mata uang asing. Peningkatan suplai dolar ditengarai sebagai akibat pengeluaran pemerintah AS yang terus meningkat, khususnya untuk membiayai Perang Vietnam dan belanja program sosial Presiden Johnson.

Suplai dolar yang meningkat juga mengerek tingkat inflasi AS. Harga-harga produk AS meningkat sehingga tidak bisa berkompetisi dengan produk asing. Akibatnya impor cenderung mengungguli ekspor. Terjadi defisit perdagangan AS, surplus dolar ternyata juga menimbulkan masalah. Adalah Robert Triffin, ekonom Belgia yang menjadi profesor ekonomi di Yale University yang mengungkapkan apa yang disebutnya sebagai dolar over hang. Ini terjadi ketika nilai dolar yang disimpan sebagai cadangan devisa oleh negara-negara mitra AS telah melampaui nilai emas yang disimpan AS sebagai cadangan setiap dolar yang mereka cetak pada kurs 35 dolar per ons. Dolar over hang terjadi pada tahun 1960 dan semakin memburuk pada tahun-tahun sesudahnya.

Karena melihat fakta memburuknya kondisi dolar, tantangan dan kritikan terus disampaikan khususnya oleh beberapa negara dengan reserve dolar dominan seperti Perancis, Inggris, dan Jerman. Adalah Charles De Gaulle, presiden Perancis ke-5, yang secara terbuka menyerang eksistensi dolar dan mengundang negara-negara dunia lainnya untuk menciptakan regim moneter yang kembali kepada emas. De Gaulle tidak main-main. Ia mengapalkan dolar AS kembali ke Amerika dan meminta untuk diganti dengan emas. Tahun 1965, De Gaulle memerintahkan Perancis mengonversi 150 juta dolar AS ke dalam emas. Ia juga merencanakan untuk menukarkan dolar dalam jumlah yang sama, begitu penukaran yang pertama sukses. Tindakan itu kemudian diikuti oleh Spanyol yang menukarkan 60 juta dolar AS ke dalam emas.

Langkah ini sangat memukul Amerika Serikat. Simpanan emas mereka di Fort Knox berkurang senilai 100 juta dolar AS. Presiden Johnson gelagapan dan segera memutar otak mengantisipasi gelombang penukaran dolar ke emas yang bisa membahayakan stabilitas dolar dan membawa Amerika Serikat ke jurang petaka ekonomi. Kongres pun menyetujui proposal Johnson untuk mengurangi 25 persen emas yang dijadikan back up dolar.

Sementara itu dolar over hang semakin memburuk. The Fed mencetak dolar lebih banyak untuk membiayai pengeluaran pemerintah dan belanja militer. Ini mengakibatkan dolar yang disimpan sebagai cadangan devisa di luar AS meningkat drastis. Diperkirakan, pada tahun 1971, nilainya mencapai 50 miliar dolar AS, sementara cadangan emas AS hanya senilai 15 juta dolar AS. Inilah yang menyebabkan Presiden Nixon melempar handuk. Pada bulan Agustus 1971, dia mencabut konvertibilitas dolar, yang menandai berakhirnya sistem Bretton Woods 23.

Mulai saat itu, dolar diserahkan sepenuhnya kepada pasar dan tidak lagi di-back up dengan emas sama sekali. Atau dengan kata lain, pemerintah AS tidak lagi melayani pihak manapun yang hendak menukarkan dolarnya dengan emas.

Bagi segelintir orang yang berkuasa, inilah periode yang mereka nanti-nantikan. Karena setelah keberanian Presiden Nixon ini, regim moneter dunia benar-benar akan sangat terkontrol pada manusia-manusia tertentu, bukan lagi tunduk kepada emas.

Apa artinya? Inilah awal dolar tidak lagi sebagai mata uang yang netral. Ia sudah menjadi alat yang bisa digunakan sebagai eksploitasi. Ia sudah menjadi Green Evil. Alat untuk menjaga supremasi dan superioritas AS atas negara-negara lain. Dimana, kata Henry CK Liu, negara AS lah yang boleh mencetak dolar. Sedang masyarakat dunia lainnya menyediakan barang dan jasa yang bisa ditukar dengan dolar.

Endnotes


19William Bonner & Addison Wiggins: Financial Reckoning Day. Hal.7

20 Dinyatakan secara resmi oleh Boston Federal Reserve Bank. Lihat di http://www.freedomdomain.com/bankquot.html

21 Ibid.

22 Berlaku pertama kali sejak tahun 1957.

23 Sistem ini diratifikasi oleh 44 negara pada tahun 1944, dimana dolar AS berperan sentral dalam sistem moneter dunia. Dolar bisa dijadikan sebagai cadangan devisa. Untuk setiap 35 dolar AS ekual dengan satu ons emas.

(The Satanic Finance – A. Riawan Amin)

July 04, 2008

AKAN SEMBUH KEMBALI

Kecewa.

Sebenarnya saya kecewa,
Tetapi di dalam kecewa,
Saya maafkan saudara.

Sebab bukan baru sekali saya kecewa,
Melainkan sudah berbilang kali.

Dan setiap kali saya kecewa,
Setiap kali saya bangun kembali,
Sekian kali saya merasai kelucuan diri.

Kini, saudara, saya sudah belajar kecewa,
Saya menangis tertawa dalam kecewa,
Mengetahui hati berdarah,
Dicakar berulang kali,
Tetapi nanti akan sembuh kembali.


HB. Jassin – 1942
semalam, perkenalan pertama dengan puisinya beliau,...

June 27, 2008

DI BALIK TERPAAN HUJAN BATIK

and if she tells you two is one
then two is one my love

(Suede - She’s In Fashion)



Hujan batik melanda dunia mode kita. Jakarta dihujani kain batik dengan berbagai macam corak dan warna. Saya, sebagai penyuka batik, tentu saja turut berbahagia karenanya. Gara-gara hujan batik, saya jadi tiba-tiba bisa jalan di mal sambil mengenakan batik, tanpa harus menunggu adanya undangan acara Kartini, dipadukan dengan jeans pula. Amboi, gembiranya saya! Tiba-tiba semua orang, terutama kaum perempuan, beramai-ramai mengenakan batik, sehingga batik bukan lagi monopoli bapak-bapak yang menghadiri undangan pernikahan, atau seragam ibu-ibu pegawai pemerintahan setiap hari jumat. Batik jadi seperti perawan yang mekar pada usia 17, yang menguarkan pesona terpendam sampai-sampai seisi dunia jatuh cinta padanya.

Jika memang benar demikian yang terjadi, sungguh saya berbahagia karenanya. Alangkah indahnya dunia jika dibungkus batik. Tapi, apakah pasukan perempuan berbatik yang memadati mal-mal ibu kota, memadati jalan-jalan raya, dan memadati perkantoran Jakarta benar-benar mencintai batik itu sendiri?

Sebagai perempuan yang tahu benar bagaimana sulitnya melawan diri dari cengkeraman sihir mode, saya takut kebanyakan dari mereka sebenarnya tidak perduli, apakah yang mereka kenakan adalah batik, atau mungkin pakaian ala seragam ABRI, asalkan itulah tren moden saat ini. Apalagi jika gelontoran batik dalam berbagai macam model dan warna yang memenuhi mal-mal ibu kota semakin tidak terkendali. Saya khawatir bahwa hujan batik hanya akan menjadi euforia semata. Komoditas bisnis semata.

Apabila kita melihatnya secara sekilas, seakan memang tidak ada pihak yang dirugikan -kecuali tentu saja perempuan yang tidak bisa menahan diri sehingga kalap memborong batik, yang patut saya akui, memang sungguh menggoda dalam berbagai corak dan warnanya. Tapi, pernahkah terpikir oleh kita, bagaimana citra batik paska berlalunya euforia itu?

Berdasarkan pengalaman saya sebagai perempuan yang tentu saja pernah tergoda oleh rayuan mode yang memabukkan, saya tahu benar bagaimana siklus kerja mode. Dia selalu bisa menyihir para perempuan untuk tiba-tiba berbondong-bondong memuja sesuatu, lantas tiba-tiba mencampakkannya begitu saja untuk kembali memuja sesuatu yang baru, dan begitu seterusnya. Saya masih ingat betul, bagaimana tiba-tiba skinny jeans jadi begitu menawan di mata saya, sehingga saya jadi muak menatap tumpukkan baggy jeans yang menggunung di lemari saya, setelah sebelumnya saya begitu tergila-gila pada mereka. Dengan cara yang sedemikian rupa, fashion berhasil mencuci otak saya.

Maka, betapa cemasnya saya membayangkan citra batik apabila sihir mode telah pudar dari dirinya. Saya membayangkan perempuan-perempuan itu akan berangsur-angsur menanggalkan baju-baju batik modernnya, ketika melihat produk terbaru yang tengah naik daun. Dan batik-batik itu pun terlupakan, cuma jadi pajangan di lemari, dan kembali digunakan hanya untuk menghadiri undangan pernikahan. Yang lebih parah, jika masih ada seseorang yang nekat mengenakan baju batik untuk berjalan-jalan di mal, seisi dunia akan mengutuknya sambil berujar: “basi banget sih masih pake batik! batik udah gak mode lagi, tauk!”. Sungguh suatu efek samping yang cukup fatal, karena menurut hemat saya, bicara batik berarti bicara identitas nasional.

Tapi semoga, semoga saja, ini hanya pikiran buruk saya yang kelewatan, semoga ini cuma sekedar kebiasaan saya yang memang suka mencemaskan sesuatu secara berlebihan. Semoga saya cuma sekedar sok pintar dengan penilaian sembrono saya bahwa perempuan Jakarta gampang dicucuk hidungnya oleh mode. Semoga saya cuma sekedar suudzon bahwa perempuan Jakarta yang kini tengah berbatik itu akan segera mencibir apa yang sedang dikenakannya apabila dihadapkan pada bintang fashion yang baru. Semoga perempuan Jakarta memang benar-benar mencintai batik.