November 18, 2009

JAKARTA

"Nak, Jakarta itu bukan melulu monas yang tiangnya megah menopang bongkahan emas, bukan cuma wahana bermain mewah yang seolah mampu membeli semua mimpi anak-anak, bukan hanya gedung-gedung bertingkat yang gemerlapan dengan lampu ribuan watt.

Jakarta itu Nak, adalah penghamburan waktu luar biasa akibat macet di mana-mana, adalah banjir setinggi lutut tiap kali musim hujan tiba, adalah manusia paruh baya yang tidur menggigil di kolong jembatan. Jakarta adalah bayi masih merah yang diajak mengemis di bawah terik matahari, adalah perempuan hamil yang berlarian mengejar bus kota, lalu kena sikut dan jatuh tersungkur waktu sedang berebut di pintu masuk. Jakarta, adalah juga pemuda-pemuda yang gentayangan di pinggir jalan, sambil mengamen sambil menodong sebab perut mereka lapar.

Jakarta, Nak, sudah penuh sesak oleh kemiskinan. Ia tidak mengharapkan kedatanganmu. Sementara becak tua yang kau kayuh saban hari melewati seluruh penjuru kampung sampai betismu yang kerempeng itu bengkak sebesar kelapa, jauh lebih membutuhkanmu." sahut Ibuku waktu kuutarakan padanya niat hendak merantau ke Jakarta.

Jakarta, November 2009

November 06, 2009

BERJALAN MENUJU IKHLAS

Perjalanan ini perlahan tapi pasti mengarahkan aku ke sebuah bilik tersembunyi di sudut hati, dimana kutemui di dalamnya pasrah yang sering datang dan pergi, benci yang sering datang dan pergi, berganti-ganti menempati hanya satu posisi, hingga pada akhirnya aku tersadar bahwa ikhlas ternyata adalah perjalanan seumur hidup, dan pada tiap tapak jalan panjang yang masih harus terus kulalui ini, aku belajar untuk dewasa.

November 2009

October 30, 2009

Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK)

Sehubungan dengan lowongan CPNS yang sedang marak dimana-mana, berikut saya tuliskan hal-hal yang diperlukan untuk mendapatkan selembar kertas bernama Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK):
* Fotokopi KTP
* Surat pengantar dari kelurahan
* Foto berwarna ukuran 4×6 (tiga lembar)

Tapi, kalau anda hanya mau memperpanjang surat yang sayangnya cuma berlaku tiga bulan tersebut, berikut syaratnya:
* Fotokopi KTP
* SKCK lama
* Foto berwarna ukuran 4×6 (dua lembar)

Semua data di atas adalah valid, sebab saya lihat sendiri pengumumannya yang ditempel di loket. Oh ya, jangan tanya berapa biaya yang harus dibayar untuk mendapatkan SKCK, karena berbeda dengan syarat-syarat di atas, saya tidak pernah menemukan informasi resmi mengenai ini.

Pengalaman saya yang terakhir sih, selesai mengurus perpanjang dan melegalisir surat, si petugas bergumam tidak jelas sambil celingak-celinguk resah, yang isi gumamannya saya sinyalir sebagai berikut: bayar seikhlasnya saja.

Kemudian saya rogoh dompet, kebetulan cuma ada selembar lima puluh ribu di sana, lalu menyerahkannya pada si petugas sambil bilang, ambil sepuluh ribu Pak. Tak diduga, masih dengan tampang resah, si petugas menolak uang saya dengan alasan repot mengambil kembalian, lantas saya disuruhnya menukarnya dulu menjadi recehan.

Yah, berhubung perintahnya tadi cuma bayar seikhlasnya saja, saya kok ya tiba-tiba jadi tidak ikhlas kalau harus berepot-repot dulu merecehkan uang tersebut. Akhirnya, saya putuskan langsung meloyor pulang saja.

Akhir kata, selamat mengurus SKCK, kawan-kawan!

October 27, 2009

Antara aku dan Tuhan

Apa yang tengah aku rasakan
tak hendak kuceritakan:
hanya aku dan Tuhan yang tahu,
romantis bukan?

Oktober 2009

October 12, 2009

MAGIC INSIDE HIS VOICE

Beberapa waktu lalu, Bapak Ibu saya pulang kampung alias mudik. Tinggalah saya dan adik-adik dipercayakan menjaga rumah. Namun pada prakteknya, saya lebih sering berada sendirian di rumah ketimbang bertiga. Sebab adik saya yang perempuan sering bolak-balik ke luar kota, sementara adik saya yang laki-laki, sudah sejak lama punya jadwal menginap di tempat kos kawannya — maklum, dia punya kebiasaan terlambat kuliah yang cukup menimbulkan masalah.

Pada suatu malam di mana saya harus tidur sendirian di rumah, komplek perumahan saya terkena giliran pemadaman listrik. Sayangnya saya terlambat mengetahuinya. Kalau saja saya sudah mengetahuinya sejak sore, tentulah saya akan tinggal dulu di kantor, atau menghabiskan waktu kemana saja supaya tidak perlu tinggal sendirian di rumah.

Waktu malam itu saya turun dari bis kota, suasana sudah gelap gulita. Hujan pula. Sempat terpikir oleh saya untuk mampir saja ke rumah sahabat saya yang masih berada satu area. Tapi saya pikir-pikir lagi, tentu merepotkan kalau saya bertamu di saat mati lampu. Akhirnya, saya teguhkan hati untuk langsung pulang.

Sampai di depan pintu, terus terang tekad saya agak goyah demi membayangkan di dalam sana tidak ada siapa-siapa. Saya takut. Tapi, yah, biar bagaimanapun keadaannya, lebih aman ya berada di dalam rumah sendiri, pikir saya. Dalam kegelapan, saya meraba-raba lilin di lemari dapur. Di saat kebingungan kemana hendak mencari api untuk menyalakan lilin, terdengarlah dari kejauhan suara tukang sate yang biasa lewat di depan rumah. Langsung saya hadang gerobak satenya, minta dinyalakan lilin, sekaligus memesan satu porsi untuk makan malam. Sambil berusaha tabah saya nikmati sepiring sate tersebut di tengah cahaya lilin. Terdengar sungguh mengenaskan, tapi memang begitulah kenyataannya malam itu: saya ketakutan.

Lantas, daripada meringkuk sendirian di tengah kegelapan, saya putuskan untuk mengobrol saja dengan Bapak atau Ibu saya di telepon. Biasanya, kalau sudah mendengar suara Bapak saya yang tenang itu, keadaan seberat apapun jadi terasa ringan.

Benar saja, demi mendengar suara beliau nun jauh di seberang sana, saya langsung merasa tenang. Suara itu sanggup mengubah suasana hati jadi jauh lebih baik. Bahkan belum sampai sepuluh menit kami mengobrol, tiba-tiba lampu menyala. Ajaib.

Dan sejak saat itu saya percaya, bahwa mungkin, memang ada semacam keajaiban di balik suaranya.

October 01, 2009

GIRL IN POSTCARD

(untuk FS)

Gadis manis berkulit sawo matang itu kukira hanya hidup di dalam kartu pos. Ada gambarnya di pinggir jembatan di Leiden. Ada pula gambarnya di kaki Eiffel yang megah. Dan semuanya, memang cuma sebentuk gambar di kartu pos.

Tapi pada suatu petang, tiba-tiba gadis itu datang. Sambil tersenyum hangat dia duduk di hadapanku, lantas kita berbincang-bincang, persis seperti dua kawan lama. Waktu malam menjelang, dia pamit pulang, lalu meluncur masuk ke dalam kopaja. Ah, begitu manis hingga terasa seperti mimpi saja.

30 September 2009

September 06, 2009

MUSEUM ULLEN SENTALU


Terus terang, baru setahun terakhir ini saya mengetahui di pojokan yang sepi di daerah Kaliurang-Jogjakarta, berdiri sebuah museum cantik bernama Ullen Sentalu. Seorang kawan untuk pertama kali bercerita tentang segala keindahannya, sambil menjamin bahwa saya pasti akan suka pada museum tersebut.

Sayang, beberapa orang yang saya anggap cukup mengenal Jogja, tidak mengetahui keberadaan museum tersebut. Lewat milis dan blog para traveler baru saya tahu bahwa museum yang asing di mata orang ’awam’ tersebut rupanya telah ramai dibicarakan di kalangan pewisata budaya.

Pada pertengahan tahun ini, akhirnya saya berkesempatan jalan-jalan ke Jogja. Agenda nomor satu dalam perjalanan tersebut adalah mengunjungi Museum Ullen Sentalu. Saya dan dua sahabat berangkat ke Kaliurang diantar mobil oleh kerabat dari sahabat saya.

Perjalanan menemukan museum tersebut di dalam kompleks wisata Kaliurang tergolong sulit, karena letak museumnya yang agak terpencil. Kerabat sahabat saya yang adalah orang asli Jogja bahkan sama sekali tidak mengetahui keberadaan museum tersebut, baru ketika telah sampai di depannya dia menyadari bahwa dulu sekali rupanya dia sudah pernah datang ke sana untuk mengantar kawannya.

Museum Ullen Sentalu berdiri tegak di dataran yang agak menanjak. Untuk sampai di pintu masuknya, harus melewati beberapa anak tangga dari semen. Pintu masuk dijaga oleh seorang pria berbatik yang pendiam dan tidak banyak berbasa-basi.

Waktu kami tiba di sana, tampak beberapa kelompok kecil keluarga, dan serombongan anak muda yang tengah menunggu di halaman. Rupanya saat itu museum sedang mati listrik. Menurut si penjaga berbatik, di daerah Kaliurang memang sering terjadi mati listrik, yang tidak bisa diprediksi kapan terjadinya dan berapa lama. Dan sayangnya, museum ini tidak dilengkapi dengan mesin genset.

Karena sudah terlanjur berhasrat untuk melihat isi di dalamnya, saya dan para sahabat memutuskan menunggu bersama rombongan lain di halaman. Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya listrik menyala. Dengan tiket seharga Rp. 25.000/ orang, kami serombongan masuk dengan disambut oleh seorang pemandu perempuan yang juga berbaju batik.

Sampai di dalam barulah saya tahu, kenapa pihak museum tega membuat kami semua yang datang dari jauh, menunggu sampai listrik benar-benar menyala. Tanpa lampu, ruangan di dalam museum gelap layaknya terowongan. Ada aroma-aroma tertentu yang membuat kami seperti berada di dalam gua sejarah. Meski udara sejuk karena dilengkapi pendingin ruangan, suasana terasa hangat sebab cahaya lampu dibuat jatuh temaram.

Pemandu kami memperkenalkan diri dengan logat jawa halus. Meski tidak menggunakan mikrofon, suaranya terdengar jelas sebab rombongan kami tertib dan larut dalam suasana yang teduh. Dia menjelaskan susunan pemilik dan pengelola museum tersebut yang rupanya bukan pemerintah.

Kemudian dia menerangkan bahwa Ullen Sentalu adalah museum sejarah budaya jawa. Nama Ullen Sentalu sendiri berasal dari kata bahasa jawa Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku, yang artinya kurang lebih: Pelita Kehidupan.

Kami dibawanya menyusuri satu persatu bagian lorong. Di sepanjang dinding berderet lukisan dan foto para raja dan permaisuri keraton beserta keluarganya. Spot pertama bercerita tentang Gusti Nurul yang adalah putri dari Mangkunegara VIII. Beliau pintar main piano dan menari, sekaligus pandai berkuda. Saat ini beliau telah berusia sekitar delapan puluh tahun, dan tinggal di Bandung.

Satu persatu anggota keluarga keraton dijelaskan oleh pemandu kami. Berderet foto perempuan keraton dengan masing-masing karakternya yang mengagumkan, dalam bermacam-macam busana tradisional jawa, begitu menghipnotis saya. Rasanya seperti tengah berada di jaman lampau. Pikiran saya berkelana jauh membayangkan diri saya duduk di ruangan yang sama dengan mereka. Momen berkhayal di dalam museum itu waktu itu, sungguh tak terlupakan.

Spot lain berisi puluhan model kain batik kuno, dan pemandu kami menjelaskan tentang segala macam nilai filosofi yang terkandung di dalamnya. Bermacam corak batik yang indah dan langka terhampar di hadapan saya dengan begitu mengagumkan.

Salah satu spot yang paling berkesan adalah sebuah lukisan tentang sembilan perempuan keraton yang tengah khusyuk menarikan tarian Bedhaya Ketawang. Pemandu kami menjelaskan, tarian tersebut adalah tarian sakral yang tidak sembarang putri keraton boleh dan bisa menarikannya. Tariannya panjang dan rumit, dan hanya bisa ditarikan oleh orang-orang pilihan.

Menurut kepercayaan, tiap kali tarian itu dipertunjukan, Kanjeng Ratu Kidul akan datang berkunjung untuk menyaksikannya, dan ikut menari sebagai penari yang kesepuluh. Dalam hati saya bercita-cita, semoga satu kali saja seumur hidup, bisa berkesempatan menyaksikan tarian tersebut, entah bagaimana caranya.

Tapi di atas segalanya, bagian favorit saya adalah sebuah ruangan yang di dalamnya penuh dengan pigura berisi macam-macam surat. Menurut keterangan pemandu, surat-surat tersebut adalah surat pribadi yang ditulis tangan oleh keluarga keraton untuk seorang anggota keluarga yang tengah putus cinta. Ada yang berbahasa indonesia, ada pula yang berbahasa belanda. Isinya nasehat berisi kata-kata mutiara untuk menghibur hati. Kebanyakan dikirim dari anggota keluarga yang tengah jauh bersekolah di negeri belanda.

Ruangan itu jadi favorit saya karena di dalam sana pengunjung seperti diajak untuk mengenal putri-putri keraton itu jauh lebih dalam, hampir-hampir secara personal. Tidak ada yang bisa lebih mewah dari diizinkan mengetahui hal yang bersifat pribadi dari orang lain, apalagi surat-surat itu berasal jauh dari lembaran sejarah. Putri-putri keraton itu pandai sekali menulis kata-kata, hampir semuanya puitis dan filosofis bak Kahlil Gibran. Belum lagi tulisan tangan ala jaman dulu kala yang bersambung miring. Saya sampai ketinggalan rombongan karena tidak mau melewatkan barang satu kata pun dari surat-surat itu.

Akhirnya tur satu jam di dalam Museum Ullen Sentalu selesai sudah. Waktu satu jam benar-benar pilihan yang paling tepat. Tidak lebih, tidak kurang. Setelah berjalan melewati ruangan demi ruangan yang naik turun karena dibuat untuk menyesuaikan dengan kontur daerah Kaliurang yang memang naik turun, sampailah kami di ruangan terakhir di mana kami dijamu dengan minuman tradisonal keraton semacam teh.

Sambil istirahat dan menikmati minuman, sekali lagi saya mengedarkan pandang ke segala penjuru museum. Museum Ullen Sentalu adalah museum dengan interor paling indah yang pernah saya lihat. Oh ya, satu hal yang lupa saya ceritakan, pemandu kami bahkan tidak pernah lupa mematikan lampu dan pendingin ruangan manakali kami hendak berpindah ke rungan lain. Tidak ada aliran listrik yang dibiarkan percuma. Betapa museum ini telah dikelola dengan baik sampai pada hal yang sekecil-kecilnya.

Kalau ada orang yang berpikir bahwa bukan orang jawa sia-sia saja mendatangi museum sejarah budaya jawa ini, orang itu sungguh merugi. Sejarah itu milik setiap orang, untuk diambil segala hal yang baik-baik tentangnya. Kunjungan ke museum ini tidak pernah membuat saya berpikir bahwa suku jawa jauh lebih baik ketimbang suku-suku lainnya, ataupun sebaliknya. Museum ini ditujukan untuk orang-orang yang mau belajar dari dan tentang sejarah, juga untuk mereka yang menikmati dan menghargai keindahan.

Ah, jadi teringat saya pada kawan berjasa yang telah memperkenalkan saya pada museum ini. Betapa dia salah besar, bukan hanya saya sekedar suka, melainkan jatuh cinta pada Museum Ullen Sentalu.