Hari itu saya malas makan siang di luar kantor, jadi memutuskan pesan makanan saja. Waktu saya masuk ke ruang pantry, di sana sudah ada Pak Manajer Operasional dan Mbak Asmen. Tidak berapa lama, masuk pula Ibu Personalia.
Pak Manajer nampak asyik mengobrol dengan Mbak Asmen. Mereka membahas tentang keponakan Pak Manajer yang kabarnya manja setengah mati, sehingga membuat repot keluarganya. Sementara saya dan Ibu Personalia, terlalu asyik menikmati makanan masing-masing sehingga memilih diam saja.
Pak Manajer bilang, perlu ada perubahan cara didik orang tua terhadap anak, sehingga anak tidak tumbuh sebagai pribadi yang manja. Lalu dia menambahkan, selain terhadap anak-anaknya, sikap disiplin juga dia berlakukan pada istrinya.
“…, klo saya sih di rumah, disiplin banget. Klo anak atau istri bandel, langsung saya kerasin, klo mereka ngancem kabur dari rumah, malah langsung saya tantangin, saya kasihin aja koper ama bajunya sekalian, klo gak digituin, nanti pada manja” ujar Pak Manajer dengan gayanya yang ceplas-ceplos seperti biasa.
Mendengar itu, Mbak Asmen yang tengah hamil tua, langsung protes.
“Kok gitu sih, Pak? istri kan harusnya disayang, masa diusir, sih?”
“Lho, kata siapa suami harus sayang istri? sekarang ini jamannya istri yang sayang suami,…” bantah Pak Manajer. Mengenai kalimatnya yang satu ini, saya sudah hafal benar. Setiap ada kesempatan yang berkaitan dengan tema itu, Pak Manajer selalu mengucapkan kalimat yang sama. Menurut dugaan saya, istri Pak Manajer adalah tipikal istri pembangkang, dan hubungan mereka nampaknya tidak harmonis.
“Ya saling menyayangi dong, Pak, jangan cuma satu pihak aja” Mbak Asmen menyahut. Dalam hati, tentu saja saya setuju dengan Mbak Asmen. Kalimat Pak Manajer itu saya rasa timbul sebagai akibat dari rumah tangganya yang kurang harmonis.
“Coba buktinya kamu liat, dulu waktu jaman pacaran laki-laki kan baik banget, sekarang udah nikah, langsung cuek, langsung gampang marah. Makanya saya bilang, laki-laki sayang sama perempuan itu lagu lama, sekarang jamannya istri sayang sama suami,…”
“Ah, suami saya gak gitu kok,..” Mbak Asmen menyahut lagi.
“Ya kamu kan nikahnya baru, belom terlalu keliatan, nanti lama-lama juga kamu percaya omongan saya, iya gak Bu?” Pak Manajer langsung melihat ke arah Ibu Personalia, meminta dukungan.
Di luar dugaan, walaupun sambil berusaha tidak kelihatan memihak, Ibu Personalia mengamini ucapan Pak Manajer.
“Iya sih Pak,…” ujarnya malu-malu.
“Suami saya juga klo lagi jemput, gak sabaran dia nunggu di bawah, kesel melulu, padahal waktu pacaran, baeknya minta ampun,…” lanjutnya kemudian.
“Nah, apa saya bilang! kamu denger sendiri tuh pengakuan yang udah nikah bertahun-tahun,…” Pak Manajer kontan puas mendengar pengakuan Ibu Personalia. Sementara Mbak Asmen cuma bisa tersenyum. Perdebatan itu akhirnya selesai sudah. Tidak lama, Pak Manajer dan Mbak Asmen berlalu meninggalkan ruang pantry.
Namun rupanya, semua itu belum selesai untuk Ibu Personalia.
“…, ya gitu deh, Ratna. Saya kadang-kadang juga kesel sendiri ama suami, tapi seringnya sih saya yang ngalah” sambungnya sambil menyeringai ke arah saya. Sebenarnya saya agak risih mendengar cerita Ibu Personalia, tapi demi kesopanan, saya dengarkan saja keluh-kesahnya.
“Gitu Rat klo udah berkeluarga, gak boleh cepet emosi, klo salah satu kesel, yang lain harus ngalah. Saya aja klo udah bete, diem aja. Klo sayanya ikutan kesel, wah, bisa ribut nanti, Ratna,..” Ibu Personalia masih belum puas menyiksa saya, kata-katanya mengalir begitu saja, seakan dia telah menanti lama untuk momen curhat macam begini.
Atas kejujurannya, sebenarnya Ibu Personalia pantas diacungi jempol, tapi terus terang, saya agak terguncang mendengarnya. Selama ini saya tidak pernah percaya pada segala macam pendapat minor Pak Manajer tentang hubungan antar suami istri, tapi kali ini, saya jadi cukup terpengaruh.
Ibu Personalia di mata saya, adalah perempuan yang kelihatannya bebas masalah rumah tangga. Suaminya adalah seorang manajer perusahaan telekomunikasi yang kelihatan ‘waras’ dan terpelajar, dan mereka punya satu anak balita yang sedang lucu-lucunya. Tak pernah terbayangkan oleh saya, pada suatu siang di ruang pantry, Ibu Personalia akan mengeluhkan masalah rumah tangganya. Terlebih lagi, dalam kapasitasnya sebagai perwakilan dari manajemen kantor, Ibu Personalia biasanya cenderung menutup diri dan menjaga jarak terhadap kami para karyawan.
“Apalagi saya nikah gak cuma sama dia, istilahnya ya saya nikah sama keluarga besarnya. Makanya nanti klo Ratna punya calon suami, diperhatikan baik-baik soal keluarganya juga, gimana sifat Ayahnya, gimana Ibunya, gimana adik-adiknya,…” lanjut Ibu Personalia, membuat saya langsung teringat pada beberapa teman yang diperlakukan dengan tidak semestinya oleh pasangannya, atau yang hubungannya tidak harmonis dengan keluarga pasangannya.
Akhirnya saya tidak tahan lagi. Saya benci cerita-cerita tidak sedap mengenai pernikahan. Saya muak pada oknum-oknum yang merusak nama baik pernikahan. Saya ingin selalu percaya bahwa pernikahan, walaupun tidak sempurna, indah apa adanya. Sambil meminta maaf, saya bilang saja saya harus segera kembali ke ruangan. Dengan sangat terpaksa, saya hentikan keluh-kesah itu.


0 comments:
Post a Comment