Andaikata bisa, masih ingin aku tinggal di rumah bersamamu.
Kita akan menikmati pagi sambil duduk di depan televisi, menyaksikan acara kesukaanmu yang menayangkan hijaunya pemandangan sawah, atau birunya laut entah di mana itu, sambil berharap suatu hari nanti kita bisa mengunjunginya.
Sehabis makan siang, kita akan menikmati sepoi angin di teras loteng. Seperti biasa, kau boleh membaringkan kepalamu di atas pangkuanku, lalu aku akan mulai mencabuti satu-persatu rambut yang memutih di kepalamu. Dan seperti biasanya pula, kau akan jatuh tertidur sampai tiba waktunya masjid di seberang rumah kita mengumandangkan adzan ashar.
Sambil menunggu kau terbangun, mungkin aku akan bisa membuatkan sepiring Indomie rebus untukmu. Dengan sedikit kuah, dengan sedikit cabai, dan harus dicampur dengan sebutir telur — seperti biasanya. Lalu akan kupandangi engkau dengan gembira sekaligus malu, saat sedang kau nikmati piring itu. Gembira karena masih bisa kubuatkan sepiring Indomie kesukaanmu. Malu karena ternyata aku memang cuma bisa masak Indomie.
Atau jika tak dapat kulakukan semua itu, cukuplah aku sekedar berada di rumah bersamamu. Mungkin untuk berlari mendahului langkahmu yang terpaksa harus berhenti memasak apabila dering telepon rumah berbunyi. Mungkin untuk membantumu menemukan di mana kacamatamu berada, karena kau selalu saja lupa tempat terakhir kau meletakkannya. Mungkin untuk membawakan buku dzikir dan doamu ke pangkuanmu, karena setiap selepas shalat kau selalu membutuhkannya. Mungkin sekedar untuk membuatmu tidak merasa kesepian, karena Ayah saat ini sedang berada jauh dari rumah.
Namun sayang sekali, hari ini senin pagi, dan aku harus pergi. Ada setumpuk pekerjaan menantiku di luar sana. Tapi aku janji, tidak akan terlambat pulang ke rumah. Sampai jumpa nanti malam.
November 2008


0 comments:
Post a Comment