Betapa pun Ayah tidak suka berlama-lama meninggalkan rumah, pada suatu hari beliau mendapat tugas dinas yang cukup jauh. Perginya bukan sekedar satu atau dua minggu, melainkan 70 hari. Tapi kami sekeluarga malahan menyambut gembira tugas dinas itu, karena Ayah bisa sekaligus beribadah di tempat dinasnya tersebut.
Demikianlah akhirnya Ayah berangkat meninggalkan rumah pada akhir Oktober yang hujan. Kami sekeluarga melepasnya dengan beribu doa agar beliau dapat melaksanakan tugas dengan baik, dan agar dapat kembali pulang dengan selamat.
Selama kepergian Ayah ke tempat yang jauh itu, jujur saja, suasana di rumah sepi dan muram. Pelan-pelan terasa, bahwa ketidakhadiran beliau menghadirkan dunia yang sama sekali berbeda bagi kami semua. Hingga hal-hal detil dalam hidup, kami terbiasa diurusi dan diperhatikan oleh beliau. Kalau Ayah sedang di rumah, kami jarang mau repot-repot mengecek kunci pagar dan pintu, karena kami tahu beliau akan melakukannya, sehingga kami langsung saja berangkat tidur dengan perasaan aman. Setiap jam makan siang, Ayah terbiasa menghubungi kami satu persatu dari kantornya, sekedar untuk menanyakan apa yang sedang kami lakukan. Jika malam hari kami tiba-tiba kepingin makan sesuatu, Ayah biasanya rela keluar rumah membelikan penganan yang kami inginkan. Ayah bahkan pernah menghubungi saya pada jam pulang kantor sekedar untuk mengingatkan agar saya mampir dulu di toilet sebelum pulang, karena kalau jalanan macet dan saya terpaksa terjebak di dalam bis kota, saya tidak perlu takut kepingin pipis. Begitulah kami: Ibu, saya, dan adik-adik. Semuanya serba Ayah. Betapa hidup kami sangat bergantung pada beliau.
Dan ketika Ayah tidak di rumah, semua hal tiba-tiba berubah. Saya jadi sering berangkat tidur dengan perasaan gelisah dan tidak aman. Saya jadi sering berangkat kerja dengan perasaan berat karena harus meninggalkan Ibu yang sendirian di rumah. Saya harus bisa menemani Ibu pergi ke undangan pernikahan tetangga. Saya harus bisa mengurusi selang air di halaman. Saya harus bisa mengurusi anak kunci yang hilang dan pergi membuat duplikat gantinya. Saya harus bisa mengurusi pembayaran tagihan telepon, tagihan listrik, dan tagihan air. Saya bahkan harus janjian dengan adik-adik kalau mau lembur bekerja, karena kalau kami pulang malam beramai-ramai sekaligus, Ibu akan tinggal sendirian di rumah, dan saya sangat menghindari itu.
Tentu saja kehadiran Ayah di rumah bukan hanya sebagai laki-laki yang mengurusi selang air, atau membelikan kami jajan di malam hari. Keberadaan beliau yang maknanya dalam bagi kami semua, sulit saya ungkapkan dengan kata-kata. Rasanya tak tersentuh bahasa. Yang pasti, tanpa kehadiran beliau kami persis anak ayam yang kehilangan induk, tak terkecuali Ibu. Tanpa Ayah, kami laksana orang yang berjalan pincang.
Akhirnya, mau tidak mau, ketidakhadiran beliau membuat saya banyak berpikir. Cepat atau lambat, saya harus siap menghadapi kehilangan yang sesungguhnya. Betapa pun selepas shalat saya selalu berdoa supaya Ayah dan Ibu dipanjangkan usianya, toh beliau berdua tidak akan hidup selamanya. Saya sering menggigil memikirkan kemungkinan itu, tapi suka atau tidak, hal itu pasti akan terjadi.
Namun di atas segalanya, di atas ketakutan apabila harus kehilangan suatu hari nanti, adalah keinginan saya untuk membahagiakan beliau berdua. Ayah dan Ibu tidak akan hidup selamanya. Apa yang bisa saya lakukan hari ini untuk membahagiakan beliau berdua, akan saya lakukan.
Sekarang, sambil menanti Ayah pulang, saya akan belajar menggulung selang air di halaman, serapih mungkin, dan tanpa banyak mengeluh.
Desember 2008


0 comments:
Post a Comment