Tiap kali pulang sekolah, aku dan Ibu selalu melewati toko kue.
Di etalasenya terpajang kue warna-warni menggoda.
Berkali-kali Ibu menawari aku untuk memilih salah satu.
Boleh yang merah, coklat, atau biru, Ibu akan membayarinya untukku.
Tapi entah mengapa aku tak pernah suka.
Hanya kue milik bibi tetangga, yang kurasa mampu menerbitkan selera.
Walaupun warnanya putih saja, tapi membuat aku amat tergoda.
Namun aku harus berbagi dengan putri bibi tetangga.
Yang memang untuknyalah bibi tetangga menghidangkan kue itu tiap hari jumat sore.
Harus selalu kutunggu putri bibi tetangga merasa kekenyangan.
Barulah aku diijinkan mengambil sepotong kue itu.
Namun pada kenyataannya, hal itu tidak pernah terjadi.
Putri bibi tetangga tidak penah menyisakan sepotong kue pun untukku.
Semua selalu disantapnya habis, hingga tinggal remah-remah di atas piringnya.
Sesuatu yang menurutku wajar saja, karena kue itu pasti nikmat rasanya.
Dan memang hanya untuknyalah bibi tetangga menghidangkan kue itu tiap hari jumat sore.
Sebelum bibi tetangga memindahkan piring kue itu ke bak cuci piring, aku selalu diizinkan untuk menikmati remah-remah yang tersisa.
Ibu mungkin akan marah jika mengetahui apa yang kulakukan.
Sementara beliau sanggup membelikan aku kue manapun yang dijual di toko, aku malah mengais remah-remah milik bibi tetangga.
Tapi aku tak perduli, kunikmati remah-remah yang lezat itu dengan penuh kebahagiaan.
Saking lezatnya remah-remah itu, pikiranku bahkan tak pernah sampai pada satu loyang yang sebelumnya dinikmati oleh putri bibi tetangga.
Aku tak pernah benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya menikmati kue itu dengan utuh, tanpa harus berbagi dengan orang lain.
Remah-remah itu sudah lebih dari cukup untukku.
Selalu bisa membuat perutku kenyang, dan hatiku bahagia.
Entah apa yang terkandung dalam adonannya.
Kurasa remah-remah itu berasal dari surga.
Desember 2008


0 comments:
Post a Comment