Sebagai seseorang yang lahir dengan menyandang gelar anak pertama, sekaligus cucu pertama, sudah menjadi sifat alamiah saya untuk selalu merasa bertanggungjawab terhadap segala hal di sekeliling saya. Mungkin itulah cikal bakal yang membuat saya cenderung ingin mengendalikan segala sesuatu.
Kebetulan sekali, saya juga adalah seorang paranoid. Menurut hemat saya, mencemaskan sesuatu adalah bagian dari tanggung jawab. Betapa pun rasa cemas tidak bakal bisa mengubah takdir. Betapa pun rasa cemas berbahaya bagi pikiran. Namun selama bertahun-tahun saya sudah terlanjur percaya, bahwa loving is worrying.
Sehubungan dengan dua gelar di atas tadi, saya memiliki begitu banyak adik. Baik adik kandung, maupun adik sepupu. Dari mulai balita, sampai abg yang masih sekolah. Dari mulai mahasiswa, sampai karyawan seumuran saya. Dan tidak satu pun dari mereka yang luput dari pemikiran berlebihan saya atas kecemasan dan rasa tanggung jawab.
Salah satu contoh, setiap kali saya mengabadikan tulisan pribadi di blog, yang langsung saya pikirkan adalah bagaimana tanggapan sepupu-sepupu abg saya apabila mereka membacanya. Apa yang ada di pikiran mereka saat mengetahui bahwa kakaknya ini menderita gara-gara rindu; bahwa kakaknya ini mengutuk-ngutuk tak karuan gara-gara putus cinta, bahwa kakaknya ini memiliki cinta aneh yang telah mengalami evolusi hingga sulit dijelaskan dengan kata-kata; bahwa kakaknya ini belum memiliki antusiasme terhadap pernikahan padahal dia sudah tua bangka; dan segala hal lainnya yang belum pantas mereka ketahui. Sehingga selama bertahun-tahun, saya selalu mengelak apabila abg-abg yang sudah fasih internet itu mengajak saya berteman lewat situs jejaring sosial.
Hal itu saya lakukan bukan karena ingin terlihat sempurna. Saya hanya merasa bertanggungjawab untuk melindungi mereka dari pengaruh buruk dunia (baca: saya). Saya ingin mereka tetap polos dan cuma tahu soal PR dan Pramuka. Saya ingin mereka buta terhadap hidup yang sesungguhnya kejam. Saya ingin mereka buta terhadap cinta yang ternyata sanggup menyiksa sedemikian rupa. Atau setidaknya, memperlambat semuanya sampai tiba saat yang tepat bagi mereka untuk mengetahuinya. Betapa pun mereka bisa saja mengenal semuanya lewat sinetron murahan. Betapa pun mereka bisa mengenal semuanya lewat orang lain.
Dan sore ini, hal yang saya takutkan tiba juga. Salah satu sepupu kecil saya tercinta memaksa saya melakukan konfirmasi atas ajakan pertemanannya di salah satu situs jejaring sosial. Saya cemas sekali. Karena notes saya di sana sudah terlanjur dihiasi tulisan-tulisan cinta orang dewasa yang belum rela saya apabila dia membacanya. Dan kami akan bersinggungan hidup di dalam ruang maya yang sempit itu, di mana dia akan bisa menyaksikan dinding profil saya yang sewaktu-waktu bisa berisi komentar nakal, atau menyaksikan kelakuan menyimpang beberapa dari mereka yang tergabung dalam network saya, yang belum pantas diketahuinya.
Sampai detik ini, ajakan pertemanan itu masih terkatung-katung tanpa kepastian. Saya masih tidak tahu harus berbuat apa.


0 comments:
Post a Comment