Andaikata waktuku satu minggu adalah seloyang kue bolu, yang harus dibagi untuk banyak hal penting dalam hidup, aku ragu telah membaginya dengan rata.
Karena kusaksikan di sebuah irisan yang tipis, kedua lengan ibuku menggapai-gapai mencari perhatian, memintaku untuk menebalkan irisan untuknya. Terlalu tipis, keluhnya.
Lalu, kulihat kawan-kawan baikku berebut bagian dari satu irisan tipis lainnya, yang tidak akan pernah bisa memuaskan satu orangpun. Terlalu sedikit untuk kami semua, protes mereka.
Sementara, tergeletak di sebelahnya, irisan setebal batu bata yang sanggup memberi makan sepuluh kepala. Namun, aku tak berdaya untuk membaginya pada siapa-siapa. Ada jurnal-jurnal yang dengan berkuasa memilikinya.
Dan, di dalam loyang yang sama, diantara irisan-irisan yang berat sebelah itu, berceceran remah-remah di sekelilingnya. Di sanalah bagianku.
Juni 2009


0 comments:
Post a Comment