Belakangan ini, saya lagi banyak pikiran. Isinya, ya, tidak lain tidak bukan masalah kerjaan. Rekonsiliasi saya kusut dan acak-acakan, meski sudah jutaan kali saya telusuri angka-angka itu supaya bisa beres.
Puncak kekesalan saya, adalah hari senin kemarin. Berhari-hari lembur dan pulang malam, saya lelah dan frustasi. Seharian saya uring-uringan. Akhirnya, saya memutuskan pulang on time dan melupakan semuanya. Sayang, pak bos sedang ada acara, jadi saya tidak bisa nebeng seperti biasa.
Karena sedang bad mood, saya malas naik patas yang penuh, sehingga memutuskan balik arah ke Blok M demi sebuah kursi kosong. Karena baru saja hujan deras, jalanan seratus kali lipat lebih macet daripada biasanya. Hampir satu jam saya akhirnya sampai di Blok M.
Lalu, duduklah saya dengan manis di patas yang masih kosong melompong, di bawah AC yang sejuk, di pinggir jendela yang banyak pemandangan. Ketika baru mau memejamkan mata, datang penumpang baru dan duduk di sebelah saya. Sialnya, mas yang baru datang itu ukuran tubuhnya luar biasa besar. Jadi lengan saya sedikit tergencet tubuhnya yang berat. Yah, maksud hati mau duduk tenang, saya malah jadi kesal.
Tidak berapa lama, keadaan bertambah buruk lagi. Mas di sebelah saya itu tidur nyenyak, sambil mengorok! Saya yang seharian sudah frustasi, tambah frustasi. Apalagi di luar sana macetnya gila-gilaan, sehingga patas yang saya tumpangi cuma bisa bergerak seperti siput.
Duh, rasanya saya mau teriak-teriak memaki si mas itu sepuas hati, saking kesalnya. Atau malah ditambah dengan membenturkan kepala ke tembok, biar dramatis. Tapi apa daya, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Cuma bisa duduk memajukan badan, sambil berpikir bahwa hidup itu kadang memang sempurna. Sempurna kejamnya!


0 comments:
Post a Comment