March 11, 2009

BAYI MUNGIL DI DALAM ANGKOT

Hujan rintik-rintik ketika malam itu saya pulang kantor. Turun dari bis kota, saya bergegas menaiki angkot yang sedang berjajar di seberang jalan. Baru sekejap duduk, tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram lengan baju saya dari arah kanan. Saya sudah hampir menduga bahwa saya punya penggemar berat yang sedang histeris, ketika saya lihat siapa gerangan pelakunya.

Oh, seorang bayi rupanya. Mungil. Duduk di pangku ibunya persis di pojok kanan saya. Dalam kegelapan, sepasang matanya yang bulat bersinar-sinar menatap saya. Sementara ibunya cuma tersenyum kecil. Kasihan, mungkin sedari tadi dia bosan, duduk dalam angkot sepi yang cahayanya temaram, sehingga langsung terhibur melihat kedatangan saya yang berkemeja warna-warni.

Eh, cengkeramannya kuat, rasanya masih terasa bekas cakarnya di kulit saya.

Dan matanya yang bulat bersinar itu, sampai hari ini, rupanya juga masih membekas di kepala saya.

Aih, semoga kapan-kapan bisa bertemu lagi.

February 24, 2009

BIRTHDAY GIFT [2]

Tradisi bertukar kado ulang tahun, tentu saja berlaku juga di antara saya dan geng kawan-kawan semasa kuliah. Dan persis seperti sekumpulan rekan kantor saya yang bernasib malang itu, mereka juga saya titipi pesan, tentang kado apa yang saya inginkan kali ini.

Di hadapan perempuan yang manis-manis itu, rupanya permintaan saya disambut dengan lebih mulus. Karena tidak mau repot, acara pembelian kado malah direncanakan untuk mengikutsertakan saya langsung ke tokonya, supaya praktis dan tidak bertele-tele.

Akhirnya, pada sebuah hari sabtu, berangkatlah saya dan salah seorang kawan satu geng ke sebuah pusat perbelanjaan, untuk sama-sama membeli kado saya. Seperti terhipnotis pada sihir simbolisasi, rencananya bakal kado yang hendak dibeli itu, akan dibawa pulang oleh kawan saya, guna diserahkan kembali pada saya, tepat pada hari ulang tahun. Hahaha. Ini agak konyol memang, tapi benar demikianlah yang terjadi.

Kemudian sampailah kami di toko pakaian yang barang dagangannya saya taksir. Sebentar saja memilih, saya langsung menjatuhkan pilihan pada sebuah atasan. Tanpa diduga, kawan saya itu ikut-ikutan jatuh hati pada sebuah celana panjang. Akhirnya, dia berbelanja juga untuk dirinya sendiri.

Di hadapan kasir, kawan saya baru sadar bahwa uang di dompetnya tidak cukup untuk membayar belanjaannya. Terpaksa dia harus menggunakan kartu debit. Sialnya, kawan saya (dan juga saya kebetulan) adalah pemegang kartu debit Lippo, sementara toko tempat kami berbelanja cuma menerima pembayaran lewat debit BCA, sehingga kawan saya harus menanggung charge sebesar tiga persen dari total belanjaannya.

Saya langsung menampik ide pembayaran dengan kartu, karena teringat bahwa di dompet saya masih ada beberapa lembar cash. Pikir saya, buat apa buang uang kalau masih bisa bayar tunai. Tapi teman saya menolak, dia bilang saya tidak boleh membayar untuk kado saya sendiri. Antara geli dan kesal saya jelaskan padanya, keluar dari toko kami bisa langsung mampir di ATM, dan mengganti uang saya, sehingga saya tidak perlu membayar kado saya sendiri. Tapi teman saya ngotot, katanya biar bagaimana pun saya akan menalangi kado saya sendiri, dan itu sungguh tidak pantas. Kami berdebat cukup lama, sampai petugas kasir di hadapan kami memotong dengan ucapan yang mengesalkan, katanya kalau teman saya kebanyakan uang, kenapa harus dilarang.

Aduh, rasanya saya ingin tampar petugas kasir itu. Tapi karena tidak ingin membuat keadaan jadi tidak mengenakkan, saya diam saja, dan membiarkan kawan saya membayar dengan kartu debit Lipponya. Dalam hati saya jadi menyesal, andai saya tidak lancang minta ikut saat pembelian kado, mungkin teman saya tidak perlu susah payah begini.

February 19, 2009

JARAK USIA

Usiaku lagi-lagi bertambah satu.
Entah sudah kali yang keberapa,
semenjak aku mengenalmu.
Namun sampai hari ini,
aku masih belum dapat menyusul kamu.

Tentu saja,
aku memang tidak bakal bisa mengejar kamu.
Waktu aku lahir,
kamu sudah berlari jauh di depanku.
Dan tiap kali usiaku tambah satu,
begitu pula yang terjadi dengan usiamu.

Kadang-kadang aku membayangkan,
andai kita merayakan usia tujuh belas bersama,
mungkin saat ini kita bisa berjalan berdampingan.
Kamu tidak perlu berada jauh di depan,
sementara aku susah payah menyusul berlarian,
dan berharap kamu sudi mengurangi kecepatan.
Lalu pada saat kita duduk berhadapan,
usiaku sudah mantab dibalut kedewasaan,
sehingga tidak ragu bicara tentang masa depan.

Tapi tentu saja semua itu hanya andaikan.
Kamu sudah melesat jauh ke depan,
dan sampai pada haluan.
Aku pun tak hendak lagi mempertanyakan.
Jawabannya kurasa telah aku temukan:
Tersembunyi pada jarak di mana usia kita berpautan.

Februari 2009

February 11, 2009

BIRTHDAY GIFT [1]

Jadi ceritanya, pada tanggal 8 yang lalu, saya merayakan ulang tahun yang ke dua puluh lima. Sudah merupakan tradisi diantara saya dan beberapa kawan dekat di kantor, untuk memberikan kado pada hari ulang tahun masing-masing.

Nah, pada giliran saya kali ini, setelah bertahun-tahun puas dengan sensasi menerka kado, saya memutuskan untuk menentukan sendiri kado apa yang saya mau. Selain karena ingin memenuhi keinginan pribadi atas sebuah benda (hahaha), saya rasa keputusan itu cukup tepat, karena kawan-kawan saya jadi tidak perlu repot mondar-mandir di pusat perbelanjaan sambil susah payah menerka keinginan saya tahun ini (percayalah, setelah berulang kali mencari kado untuk orang yang sama, pada tahun ketiga semua ide akan macet, karena benda-benda yang mungkin diinginkan telah terbeli pada tahun-tahun sebelumnya).

Ketika keinginan soal kado itu saya utarakan pada kawan-kawan saya, mereka langsung terkikik geli sambil memandang saya dengan tatapan sejuta makna. Tapi saya tetap ngotot. Saya tetap pantang mundur sambil ngoceh menjelaskan apa keinginan saya. Sudah begitu lama saya mendamba sebuah perangkat audio untuk mendengarkan musik. Namun entah bagaimana caranya tiap kali saya gajian, selalu ada benda-benda yang lebih perlu dibeli dibanding benda yang satu itu. Jadi saya pikir, daripada kawan-kawan saya salah membelikan kado, sementara saya jelas-jelas menginginkan sebuah benda, kenapa tidak saya pesan saja benda itu sebagai hadiah.

Keesokan harinya, di luar dugaan saya, salah satu kawan saya berkata bahwa kado untuk saya sudah mulai dipikirkan. Saya langsung gembira sambil berkata dengan nada jumawa: apa gue bilang, jadi memudahkan kalian, kan? Lalu serta merta saya menambahkan, bahwa saya tidak mau kado yang murahan. Dalam artian, mereka harus memastikan bahwa perangkat audio itu tidak berbahaya bagi telinga saya. Apabila dengan anggaran yang telah mereka siapkan, ada kemungkinan bahwa hasilnya membahayakan, lebih baik dibatalkan saja (ya, saya tau saya sangat menyebalkan, hahaha). Walaupun air mukanya terlihat begitu ingin mencekik saya, kawan saya menyarankan agar saya tenang saja. Anggaran yang mereka sediakan tidak bakal berbahaya bagi telinga saya. Mereka sudah berkonsultasi pada Bapak IT, dan menyerahkan urusan pembelian kado itu pada beliau. Haha. Lagi-lagi beliau. Orang yang sama yang dulu pernah mengurusi PC saya yang terjangkit spyware. Tapi justru itu, saya percaya pada pilihan beliau. Sekejap saya langsung lega demi mengetahui bakal kado saya berada di tangan yang tepat.

Demikianlah segalanya membuat hari-hari penantian saya berjalan menegangkan, dan membuat saya begitu tidak sabaran. Sampai akhirnya pada suatu pagi yang hujan, kado itu tiba juga di meja saya. Dibungkus kertas biru. Ditempeli kertas ucapan selamat. Dan saya masih harus menunggu jam kantor usai untuk melihat isinya, karena kombinasi bungkusan besar dan histeria saya yang ajaib, pasti akan menimbulkan kehebohan yang mengganggu ketertiban sekitar.

Ketika sore tiba, saya dan kawan-kawan bergegas berkumpul di ruangan kasir yang tertutup, demi menyaksikan upacara pembukaan kado. Dan di sanalah dia, kado saya yang manis itu: perangkat audio berupa headphone paling keren di seantero jagat raya. Benda yang membuat saya begitu berbahagia, bukan hanya karena dia bisa mengalirkan bunyi musik di dalamnya, tapi juga karena kawan-kawan saya tercinta, dengan bantuan Bapak IT, telah bersusah payah menghadirkannya untuk saya.

Akhir kata, tentu saja, terima kasih saya yang tak terhingga untuk kawan-kawan saya tercinta, dan Bapak IT yang baik hati :)

January 21, 2009

RUMAHKU SEPERTI CANDU

Aku kini tengah kecanduan pada rumahku sendiri.
Karena Ayahku yang kemarin pergi jauh itu telah pulang kembali
dan Ibuku yang kemarin kesepian itu sekarang sudah ceria kembali.
Rumahku yang sempat muram itu sekejap berubah terang
hingga aku mencanduinya laksana induk ayam mengeram telur di dalam kandang.

Januari 2009

January 07, 2009

SHOW SOME PRIDE

Sebuah email masuk ke dalam inbox saya pada suatu pagi. Saat melihat nama pengirimnya, saya sudah bisa menduga apa isi email tersebut. Pasti salah satu dari pertanyaan usang yang sudah berkali-kali diajukan pada saya.

Tersebutlah si laki-laki pengirim email tersebut. Status saya dan dia cuma sekedar teman sekolah, dan saya tidak pernah benar-benar mengenalnya. Namun kami akhirnya bersinggungan hidup lebih dekat, karena laki-laki itu jatuh cinta pada sahabat saya.

Dari sejak masa sekolah dulu, laki-laki itu tidak habis-habisnya mencintai sahabat saya. Saya masih ingat betul, ketika lulus sekolah, saya dan para sahabat terpaksa menjalani long distance relationship, karena sahabat saya diterima di perguruan tinggi negeri, masing-masing di Purwokerto dan di Bandung, sehingga cuma bisa bertemu setiap beberapa bulan sekali, tapi di antara sesi curhat kami yang waktunya terlalu singkat bila dibandingkan dengan begitu banyaknya cerita yang ingin dibagi, selalu sempat terselip keluhan dari mulut sahabat saya bahwa laki-laki yang satu itu masih selalu saja menghubunginya, dengan cara yang tidak sama dengan pertemanan biasa.

Dan ketika selepas kuliah saya dan para sahabat akhirnya berkumpul lagi di Jakarta, laki-laki itu masih tetap mencintai sahabat saya. Cinta yang dirasanya itu mungkin sudah beranak pinak di dalam hatinya, sehingga membuat dia merasa perlu mengabarkannya pula lewat saya. Lewat email saya. Lewat sms ke ponsel saya. Lewat teman yang lain. Tak lupa pula dia menyelipkan pertanyaan usang yang berinti pada apakah sahabat saya sudah punya pasangan, betapa pun sudah berulang kali saya menjawabnya.

Pertanyaan yang sama itulah yang tiba di email saya pagi itu.

Pertanyaan usang yang sampai saat ini masih enggan saya untuk membalasnya.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya tidak ada yang salah dengan pertanyaan sederhana itu. Tapi saking sederhananya, pertanyaan itu sama sekali tidak disertai dengan basa-basi, atau apapun yang menunjukkan bahwa laki-laki itu menyadari eksistensi saya, bukan sekedar berfokus pada apa yang akan saya jawab — namun sudahlah, kita maklumi saja, karena sebagian kita memang bisa tiba-tiba jadi bodoh kalau sedang jatuh cinta.

Lalu, tidak pula ada yang salah dengan laki-laki tersebut. Secara fisik, dia baik-baik saja. Kepribadiannya pun sejauh yang saya tahu, cukup baik. Sementara karirnya, menurut saya baik sekali. Dan bahwa dia jatuh cinta pada sahabat saya, itu sangat normal. Sahabat saya, dengan segala keindahan yang melekat pada dirinya, memang selalu membuat laki-laki normal minimal diam-diam tertarik padanya. Kalau boleh jujur, sebenarnya laki-laki yang itu cuma salah satu diantaranya. Namun, laki-laki itu telah membuat satu kesalahan fatal, yang membuat dia jadi berbeda dari sekian banyak laki-laki yang jatuh cinta pada sahabat saya.

Menurut hemat saya, rasa cinta adalah anugerah yang tidak seorang pun di muka bumi ini berhak membunuhnya. Siapa pun berhak mencintai siapa pun, sejak kapan pun, sampai kapan pun. Namun memaksa seseorang untuk membalas cinta, adalah hal yang berbeda. Mr. Beautiful juga pernah bilang, bahwa Tuhan bukan Ibu mertuamu, maka tak satupun dari kita bisa memaksakan cinta. Jadi, itulah kesalahan fatal yang dilakukan laki-laki tersebut. Secara halus, dengan berbagai cara yang tendensius, dia telah memaksa sahabat saya untuk balas mencintai dirinya. Dan yang lebih parah, ketika dia mulai mengajak orang-orang terdekat sahabat saya, untuk bersimpati pada dia dan segala rasa cintanya yang hebat itu. Seakan-akan dia merasa bangga, apabila seisi dunia menaruh kasihan padanya. Oh come on, show some pride!

Di mata saya, pendekatan berlebihan yang dilakukan laki-laki itu telah merendahkan keagungan cinta. Dia telah membuat rasa cinta seolah-olah jadi sesuatu yang memalukan. Padahal, mengetahui bahwa masih ada rasa hangat bersarang di dalam hati, yang khusus ditujukan untuk satu orang tertentu, adalah keindahan yang tidak dapat ditukar dengan apapun. Dia telah membuat kegiatan mencintai jadi tak lebih dari drama murahan yang menuntut belas kasihan. Sama sekali tidak ada harga diri yang diselipkan di dalam sana. Memalukan menurut saya. Padahal, mencintai itu seharusnya bisa jadi gelar yang hebat. Tidak banyak orang yang sanggup mencintai selama yang laki-laki itu lakukan. Dan seharusnya, sahabat saya bisa merasa tersanjung demi dicintai dengan begitu hebatnya, kalau saja laki-laki itu mau sedikit mengangkat kepalanya, dan mencintai dengan cara yang lebih terpuji.

Bahwa dia mencintai sahabat saya dengan segenap urat nadinya, adalah kebebasan miliknya yang tidak akan diganggu-gugat. Dia boleh mencintai sahabat saya sambil jungkir balik dengan hatinya sendiri, sambil guling-gulingan dengan hatinya sendiri, sambil menangis tujuh hari tujuh malam sekalipun, dengan hatinya sendiri. Tapi dia tidak berhak memaksakan cinta di hati siapa pun. Dia juga harus sadar, bahwa sahabat saya berhak mencintai laki-laki manapun di jagat raya ini. Dan bahwa dia harus menghormati cinta yang sahabat saya miliki, kemana pun cinta itu ditujukan, sebagaimana dia menginginkan cintanya yang hebat itu dihormati.

So come on buddy, show us some pride!

January 05, 2009

BACKPACKING JOGJA

Aku kembali dalam keadaan miskin
dan kulitku coklat terbakar matahari Jogja,
namun aku sangat sehat
dan tak ada yang bisa lebih hebat dari perasaanku.

Januari 2009