Waktu malam itu saya dan sahabat saya duduk berdua saja sambil mengobrol di dapur rumahnya, hitungan kalender tinggal menyisakan waktu satu minggu saja sebelum keberangkatannya ke New York.
Di hadapan kami, teronggok kantung-kantung belanja berisi obat dan segala macam keperluannya untuk bulan-bulan pertama. Di kamarnya terhampar juga koper besar yang isinya belum selesai dibenahi. Dan sahabat saya masih juga berceloteh dengan nada yang biasa-biasa saja, seolah tidak akan pernah terjadi apa-apa, seolah dia tidak hendak pergi kemana-mana, dan tumpukan barang-barang itu cuma belanjaan biasa.
Tapi saya, sungguh saya tidak bisa. Pikiran saya sudah tidak berada di dapur rumahnya, melainkan jauh mengembara pada hal-hal sentimentil yang saya pikirkan sendiri. Walaupun sahabat saya telah merevisi rencana kepergiannya jadi tinggal dua tahun saja, tetap tidak ada gunanya buat saya. Apalah bedanya dua tahun dan dua setengah tahun? Saya tak bisa berhenti memikirkan semua itu.
Akhirnya, jam sepuluh malam saya pamit pulang dengan hati berat, sebab tahu bahwa itulah terakhir kalinya saya bisa mengobrol santai di dapur rumahnya, untuk dua tahun ke depan. Juga sambil menyesal, sebab sama sekali tidak saya nikmati acara terakhir tadi, malah dengan bodohnya saya melamunkan kepergiannya, padahal saya bakalan punya tujuh ratus tiga puluh hari untuk melakukan itu.
August 06, 2009
August 05, 2009
SETIA
Tak habis-habisnya
kamu percayakan padaku
kata tolong itu
seolah kamu tengah berendam
di sumur percaya
yang tiada akan mengering airnya
Tak bosan-bosannya
kamu pilihkan untukku
sepotong peran
seperti seakan-akan
aku ini
artis segala zaman
Maka buatmu
kusimpan setia
yang selalu.
Agustus 2009
Thanks for always asking help ;-)
kamu percayakan padaku
kata tolong itu
seolah kamu tengah berendam
di sumur percaya
yang tiada akan mengering airnya
Tak bosan-bosannya
kamu pilihkan untukku
sepotong peran
seperti seakan-akan
aku ini
artis segala zaman
Maka buatmu
kusimpan setia
yang selalu.
Agustus 2009
Thanks for always asking help ;-)
Labels:
poem
August 02, 2009
A Midsummer Night’s Dream
Diantarnya saya ke Kota Tua
lantas di sana kita bersepeda
lalu pulang naik kereta.
Agustus 2009
lantas di sana kita bersepeda
lalu pulang naik kereta.
Agustus 2009
Labels:
poem
July 27, 2009
MY BESTFRIEND’S GRANDMA
Salah satu sahabat saya, adalah bungsu dari lima bersaudara. Keempat kakaknya semua sudah menikah dan punya anak, sehingga dia punya banyak keponakan. Seperti kebanyakan anak yang orangtuanya bekerja, semua keponakannya itu dititipkan di rumah neneknya. Sebab itu kalau saya sedang nongkrong di rumah sahabat saya, keadaannya selalu ramai oleh hilir mudik mereka.
Keponakan sahabat saya yang paling tua, sudah duduk di kelas dua sekolah dasar. Pada suatu hari, waktu saya sedang ngobrol di teras bersama sahabat saya, keponakannya itu keluar dari dalam rumah sambil menenteng telepon genggam. Dia duduk di seberang kami, lantas mulai menelepon.
Awalnya, saya tidak memperhatikan apa yang dilakukan bocah perempuan itu. Dia hanya sekedar bicara di telepon. Tapi ketika sudah hampir setengah jam, perhatian saya mulai terusik. Heran. Sebab dia bicara begitu lama, layaknya durasi bicara orang dewasa. Sahabat saya bilang, keponakannya itu sedang bicara dengan Mbah Putrinya yang tinggal di Jogja. Kalau mereka berdua sudah asyik ngobrol, lanjut sahabat saya, biasanya memang lama. Bisa sampai satu jam.
Wow. Saya takjub. Sehingga akhirnya mulai mendengarkan pembicaraan bocah itu dengan seksama. Dia sedang asyik bercerita tentang kegiatannya di sekolah, dengan nada curhat ala anak ABG, tapi kata-katanya polos. Sebentar dia diam mendengarkan sahutan neneknya di seberang sana, lantas sesekali mengiyakan, atau kadang membantah. Kemudian dia teruskan lagi ceritanya, kali ini mengadukan kelakuan nakal adiknya, lalu kembali mendengarkan sahutan.
Setelah beberapa saat, ganti dia yang bertanya keadaan neneknya, lalu diam menyimak. Begitu seterusnya, hingga akhirnya pembicaraan itu selesai. Dan saya makin takjub. Kalau tidak langsung menyaksikan sendiri, saya tidak bakalan percaya bahwa di dunia ini ada anak kelas dua SD yang bisa bercakap-cakap begitu lama di telepon dengan neneknya.
Beberapa hari yang lalu, lama setelah kejadian percakapan di telepon itu, saya dan sahabat saya jalan-jalan ke Jogja. Salah satu agenda dalam perjalanan itu, adalah mampir berkunjung ke rumah keluarga sahabat saya di daerah Kalasan. Nah, inilah rumah Mbah Putri yang dimaksud di atas. Waktu beliau menyambut kami di teras rumahnya, pikiran saya langsung melayang pada percakapan telepon yang saya saksikan dulu. Dan segera saya langsung tahu jawabannya, kenapa keponakan sahabat saya bisa bersahabat dengan neneknya.
Beliau menyambut kami dengan ramah, lantas sibuk bolak-balik ke arah dapur mengeluarkan jamuan. Kalau saya jadi nenek-nenek kelak, rasanya saya bakalan ogah menjamu anak muda sambil repot-repot membawakan piring dan sendok sendirian, sementara saya bisa menyuruh anak-anak saya melakukannya. Tapi beliau lain, dilakukannya semua itu tanpa beban, lantas ikut duduk mengobrol bersama kami. Tatapannya hangat dan bersemangat. Sesekali beliau mengeluarkan wejangan dengan gaya yang sama sekali tidak menggurui, dan sisanya, diam menyimak cerita kami layaknya beliau adalah anak muda seperti kami.
Nah, itulah jawabannya, beliau bisa menempatkan diri sejajar dengan lawan bicaranya. Sungguh nyaman rasanya. Pantas saja cucunya yang masih kelas dua SD bisa merasa bersahabat dengan dirinya. Sementara saya, yah, berhubung saya bukan cucunya, cukuplah saja saya jadi penggemar beliau, dan membuat sepotong tulisan untuk mengabadikan kisahnya.
Keponakan sahabat saya yang paling tua, sudah duduk di kelas dua sekolah dasar. Pada suatu hari, waktu saya sedang ngobrol di teras bersama sahabat saya, keponakannya itu keluar dari dalam rumah sambil menenteng telepon genggam. Dia duduk di seberang kami, lantas mulai menelepon.
Awalnya, saya tidak memperhatikan apa yang dilakukan bocah perempuan itu. Dia hanya sekedar bicara di telepon. Tapi ketika sudah hampir setengah jam, perhatian saya mulai terusik. Heran. Sebab dia bicara begitu lama, layaknya durasi bicara orang dewasa. Sahabat saya bilang, keponakannya itu sedang bicara dengan Mbah Putrinya yang tinggal di Jogja. Kalau mereka berdua sudah asyik ngobrol, lanjut sahabat saya, biasanya memang lama. Bisa sampai satu jam.
Wow. Saya takjub. Sehingga akhirnya mulai mendengarkan pembicaraan bocah itu dengan seksama. Dia sedang asyik bercerita tentang kegiatannya di sekolah, dengan nada curhat ala anak ABG, tapi kata-katanya polos. Sebentar dia diam mendengarkan sahutan neneknya di seberang sana, lantas sesekali mengiyakan, atau kadang membantah. Kemudian dia teruskan lagi ceritanya, kali ini mengadukan kelakuan nakal adiknya, lalu kembali mendengarkan sahutan.
Setelah beberapa saat, ganti dia yang bertanya keadaan neneknya, lalu diam menyimak. Begitu seterusnya, hingga akhirnya pembicaraan itu selesai. Dan saya makin takjub. Kalau tidak langsung menyaksikan sendiri, saya tidak bakalan percaya bahwa di dunia ini ada anak kelas dua SD yang bisa bercakap-cakap begitu lama di telepon dengan neneknya.
Beberapa hari yang lalu, lama setelah kejadian percakapan di telepon itu, saya dan sahabat saya jalan-jalan ke Jogja. Salah satu agenda dalam perjalanan itu, adalah mampir berkunjung ke rumah keluarga sahabat saya di daerah Kalasan. Nah, inilah rumah Mbah Putri yang dimaksud di atas. Waktu beliau menyambut kami di teras rumahnya, pikiran saya langsung melayang pada percakapan telepon yang saya saksikan dulu. Dan segera saya langsung tahu jawabannya, kenapa keponakan sahabat saya bisa bersahabat dengan neneknya.
Beliau menyambut kami dengan ramah, lantas sibuk bolak-balik ke arah dapur mengeluarkan jamuan. Kalau saya jadi nenek-nenek kelak, rasanya saya bakalan ogah menjamu anak muda sambil repot-repot membawakan piring dan sendok sendirian, sementara saya bisa menyuruh anak-anak saya melakukannya. Tapi beliau lain, dilakukannya semua itu tanpa beban, lantas ikut duduk mengobrol bersama kami. Tatapannya hangat dan bersemangat. Sesekali beliau mengeluarkan wejangan dengan gaya yang sama sekali tidak menggurui, dan sisanya, diam menyimak cerita kami layaknya beliau adalah anak muda seperti kami.
Nah, itulah jawabannya, beliau bisa menempatkan diri sejajar dengan lawan bicaranya. Sungguh nyaman rasanya. Pantas saja cucunya yang masih kelas dua SD bisa merasa bersahabat dengan dirinya. Sementara saya, yah, berhubung saya bukan cucunya, cukuplah saja saya jadi penggemar beliau, dan membuat sepotong tulisan untuk mengabadikan kisahnya.
Labels:
an unquiet mind
July 22, 2009
PERTUNJUKAN SATWA PINTAR
Kakak perempuan ibu saya, beserta keluarganya, tinggal di bilangan Cilandak. Lokasi rumahnya berdekatan dengan Kebun Binatang Ragunan. Kalau sedang ada kumpul-kumpul keluarga di sana, biasanya para sepupu kecil saya selalu merengek minta diajak jalan-jalan ke Kebun Binatang. Entah sudah berapa ratus kali saya menemani mereka pergi berkunjung ke sana.
Sore itu, kembali saya dan para sepupu mendatangi Kebun Binatang Ragunan. Biasanya kami akan putar-putar sebentar melihat hewan-hewan, lalu menghabiskan sisa sore dengan piknik di bawah pohon rindang. Mereka akan sibuk berlarian di tengah lapangan luas, sementara saya akan duduk santai di atas tikar, menikmati angin sepoi-sepoi sambil mengamati tingkah dan penampilan pengunjung yang lalu lalang. Betapa saya sangat menikmati momen itu.
Waktu sedang asyik jalan-jalan, kami melintas di sebuah tempat berloket bernama Pertunjukan Satwa Pintar. Di dekatnya ada gambar hewan-hewan yang sedang beratraksi. Karena belum pernah menyaksikan pertunjukan tersebut, sepupu saya langsung merengek penasaran. Terpaksalah saya menurutinya. Setelah membayar tiket masing-masing orang empat ribu rupiah, kami diizinkan masuk. Di dalamnya, ada kursi penonton berundak-undak dari semen yang berderet lima baris ke belakang, menghadap ke tempat sejenis panggung berlantai keramik.
Setelah kursi penonton ramai terisi, pertunjukan pertama dimulai. Seekor burung kakatua menunjukkan kebolehannya dengan membuka kartu-kartu bertuliskan ucapan Selamat Datang. Lalu hewan itu menggerakkan tubuh dengan diiringi musik dangdut, sambil mengikuti instruksi pelatihnya, sehingga tampak persis seperti gerakan manusia. Para penonton yang menyaksikan, termasuk para sepupu kecil saya, tergelak-gelak sambil bertepuk tangan. Kami sungguh terhibur.
Atraksi kedua dibawakan oleh seekor simpanse, yang sebelum sempat menunaikan tugasnya, sudah buru-buru dibawa masuk ke balik panggung. Dari sini, saya mulai merasa tidak nyaman dengan segala pertunjukan ini, sebab pelatih yang menangani simpanse tadi memperlakukan satwanya dengan kasar. Waktu itu hari sudah sore, besar kemungkinan simpanse tadi sudah lelah, sehingga tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya berdiri. Dia tidak menghiraukan sama sekali bujukan pelatihnya. Sementara si pelatih yang mungkin juga sudah sama lelahnya, akhirnya kesal. Hingga akhirnya dia bertindak kasar, lupa bahwa pertunjukan itu disaksikan oleh banyak orang, dimana sebagian besar jumlahnya adalah anak-anak. Berkali-kali disepaknya tubuh simpanse itu dengan menggunakan kaki. Tidak sekuat tenaga memang, tapi tetap saja perbuatan itu tidak pantas. Si pelatih juga terlihat beberapa kali menempeleng kepala si simpanse, yang membuat hewan itu menjerit marah dan menepis lengan si pelatih, hingga akhirnya mahluk malang itu dibawa masuk.
Selanjutnya, masih ada lagi atraksi dari berang-berang yang pandai memasukkan bola ke dalam ring yang mirip seperti ring basket. Selain itu, berang-berang itu juga pandai berhitung. Pelatih menyuruh penonton menyebutkan soal perkalian acak, semisal enam dikali tiga, lalu berang-berang itu akan memutar engkol sebanyak hasil perkalian tersebut. Ajaib, dengan tangannya yang mungil, berang-berang itu benar-benar memutar engkol sebanyak delapan belas kali. Juga untuk soal penjumlahan, dia memutar engkolnya dengan tepat. Kembali penonton ramai bertepuk tangan, kecuali saya.
Buat saya, pertunjukan satwa pintar itu sudah tidak lucu lagi. Kakatua tadi sudah tidak lucu lagi. Berang-berang tadi sudah tidak lucu lagi. Semua gara-gara simpanse malang yang diperlakukan dengan kasar. Pada momen paksaan tadi, ketika si pelatih menempeleng kepalanya, simpanse itu dengan spontan (maaf) buang air besar. Semua penonton bisa dengan jelas menyaksikan ada kotoran meluncur keluar dari bagian belakang tubuh hewan itu. Bagaimana hal itu bisa terjadi, saya tidak mengerti. Mungkin hewan itu hendak meledek, atau mungkin dia depresi, saya tidak paham. Kami semua cuma bisa terhenyak kaget. Sepupu-sepupu saya bahkan sampai terbengong-bengong dengan tampang ngeri.
Sejujurnya, saya sendiri juga kurang yakin apakah perlakuan pelatih tadi bisa dikategorikan kasar atau tidak. Kalau tendangan dan tempelengan dianggap sebagai hal yang tidak berperikemanusiaan dalam dunia manusia, mungkin hal tersebut wajar dalam dunia hewan. Entahlah. Saya cuma orang awam yang bahkan tidak menyukai hewan sama sekali. Tapi hati kecil saya yang terdalam mengatakan, perlakuan tadi tidak seharusnya terjadi.
Terus terang, saya jadi penasaran ingin mengetahui bagaimana kehidupan hewan-hewan tersebut di balik panggung. Apakah mereka diperlakukan dengan layak? Entahlah. Yang pasti, saya menyesal sore itu telah mengizinkan sepupu saya yang masih kecil-kecil menyaksikan pertunjukan tersebut.
Sore itu, kembali saya dan para sepupu mendatangi Kebun Binatang Ragunan. Biasanya kami akan putar-putar sebentar melihat hewan-hewan, lalu menghabiskan sisa sore dengan piknik di bawah pohon rindang. Mereka akan sibuk berlarian di tengah lapangan luas, sementara saya akan duduk santai di atas tikar, menikmati angin sepoi-sepoi sambil mengamati tingkah dan penampilan pengunjung yang lalu lalang. Betapa saya sangat menikmati momen itu.
Waktu sedang asyik jalan-jalan, kami melintas di sebuah tempat berloket bernama Pertunjukan Satwa Pintar. Di dekatnya ada gambar hewan-hewan yang sedang beratraksi. Karena belum pernah menyaksikan pertunjukan tersebut, sepupu saya langsung merengek penasaran. Terpaksalah saya menurutinya. Setelah membayar tiket masing-masing orang empat ribu rupiah, kami diizinkan masuk. Di dalamnya, ada kursi penonton berundak-undak dari semen yang berderet lima baris ke belakang, menghadap ke tempat sejenis panggung berlantai keramik.
Setelah kursi penonton ramai terisi, pertunjukan pertama dimulai. Seekor burung kakatua menunjukkan kebolehannya dengan membuka kartu-kartu bertuliskan ucapan Selamat Datang. Lalu hewan itu menggerakkan tubuh dengan diiringi musik dangdut, sambil mengikuti instruksi pelatihnya, sehingga tampak persis seperti gerakan manusia. Para penonton yang menyaksikan, termasuk para sepupu kecil saya, tergelak-gelak sambil bertepuk tangan. Kami sungguh terhibur.
Atraksi kedua dibawakan oleh seekor simpanse, yang sebelum sempat menunaikan tugasnya, sudah buru-buru dibawa masuk ke balik panggung. Dari sini, saya mulai merasa tidak nyaman dengan segala pertunjukan ini, sebab pelatih yang menangani simpanse tadi memperlakukan satwanya dengan kasar. Waktu itu hari sudah sore, besar kemungkinan simpanse tadi sudah lelah, sehingga tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya berdiri. Dia tidak menghiraukan sama sekali bujukan pelatihnya. Sementara si pelatih yang mungkin juga sudah sama lelahnya, akhirnya kesal. Hingga akhirnya dia bertindak kasar, lupa bahwa pertunjukan itu disaksikan oleh banyak orang, dimana sebagian besar jumlahnya adalah anak-anak. Berkali-kali disepaknya tubuh simpanse itu dengan menggunakan kaki. Tidak sekuat tenaga memang, tapi tetap saja perbuatan itu tidak pantas. Si pelatih juga terlihat beberapa kali menempeleng kepala si simpanse, yang membuat hewan itu menjerit marah dan menepis lengan si pelatih, hingga akhirnya mahluk malang itu dibawa masuk.
Selanjutnya, masih ada lagi atraksi dari berang-berang yang pandai memasukkan bola ke dalam ring yang mirip seperti ring basket. Selain itu, berang-berang itu juga pandai berhitung. Pelatih menyuruh penonton menyebutkan soal perkalian acak, semisal enam dikali tiga, lalu berang-berang itu akan memutar engkol sebanyak hasil perkalian tersebut. Ajaib, dengan tangannya yang mungil, berang-berang itu benar-benar memutar engkol sebanyak delapan belas kali. Juga untuk soal penjumlahan, dia memutar engkolnya dengan tepat. Kembali penonton ramai bertepuk tangan, kecuali saya.
Buat saya, pertunjukan satwa pintar itu sudah tidak lucu lagi. Kakatua tadi sudah tidak lucu lagi. Berang-berang tadi sudah tidak lucu lagi. Semua gara-gara simpanse malang yang diperlakukan dengan kasar. Pada momen paksaan tadi, ketika si pelatih menempeleng kepalanya, simpanse itu dengan spontan (maaf) buang air besar. Semua penonton bisa dengan jelas menyaksikan ada kotoran meluncur keluar dari bagian belakang tubuh hewan itu. Bagaimana hal itu bisa terjadi, saya tidak mengerti. Mungkin hewan itu hendak meledek, atau mungkin dia depresi, saya tidak paham. Kami semua cuma bisa terhenyak kaget. Sepupu-sepupu saya bahkan sampai terbengong-bengong dengan tampang ngeri.
Sejujurnya, saya sendiri juga kurang yakin apakah perlakuan pelatih tadi bisa dikategorikan kasar atau tidak. Kalau tendangan dan tempelengan dianggap sebagai hal yang tidak berperikemanusiaan dalam dunia manusia, mungkin hal tersebut wajar dalam dunia hewan. Entahlah. Saya cuma orang awam yang bahkan tidak menyukai hewan sama sekali. Tapi hati kecil saya yang terdalam mengatakan, perlakuan tadi tidak seharusnya terjadi.
Terus terang, saya jadi penasaran ingin mengetahui bagaimana kehidupan hewan-hewan tersebut di balik panggung. Apakah mereka diperlakukan dengan layak? Entahlah. Yang pasti, saya menyesal sore itu telah mengizinkan sepupu saya yang masih kecil-kecil menyaksikan pertunjukan tersebut.
Labels:
an unquiet mind
July 21, 2009
Natural Born EO
Jangan pernah meninggalkan seorang control-freak bersama rundown acara yg belum fix. Ketahuilah bahwa dia adalah seorang EO sejati, yang tidak akan berangkat tidur sebelum memastikan bahwa everything is under control.
Labels:
an unquiet mind
July 16, 2009
WHEN SHE'S NOT AROUND
Ibu manajer saya, yang sudah sering saya sebut-sebut namanya dalam beberapa tulisan, kira-kira seminggu yang lalu mendapat musibah. Pada suatu pagi beliau jatuh dari tangga rumahnya, lalu mengalami patah kaki. Waktu beliau mengabari kejadian tersebut, saya tidak pernah mengira hal ini akan jadi begitu berkesan, sehingga kelak saya akan menceritakannya dalam sebuah tulisan.
Karena tulang kakinya retak, Ibu manajer harus dioperasi. Sehari setelah operasi, saya dan beberapa rekan kantor menjenguknya di rumah sakit. Waktu melihat kami datang, beliau langsung tersenyum-senyum ceria seperti biasanya. Beliau duduk di atas tempat tidur, mengenakan baju piyama. Pergelangan kaki kanannya yang diperban tampak bengkak.
Menurut saya, yang sering tidak nyaman melihat perempuan bermake-up tebal, Ibu Manajer kelihatan jauh lebih cantik dari biasanya. Rambutnya tidak kaku seperti kalau beliau sedang di kantor, melainkan tergerai bebas setengah berantakan. Kulit mukanya polos saja, tidak sedikitpun dipoles bedak, malah agak berminyak. Kami mengobrol sambil bercanda, dan beliau tertawa berderai-derai sambil mendekap sebuah guling lusuh yang nampaknya sengaja dibawa dari rumah. Beliau terlihat cantik dan apa adanya.
Setelah operasi, dokter melarang Ibu Manajer untuk masuk kerja dulu. Padahal beliau bilang pada kami, akan segera masuk dua atau tiga hari sesudahnya, diusahakan berjalan menggunakan tongkat atau semacamnya. Namun ternyata beliau disuruh beristirahat dua minggu di rumah. Kami satu departemen repot dan kelabakan, karena waktunya bertepatan dengan waktu closing laporan keuangan.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, saya melakukan rekonsiliasi sendirian tanpa supervisi dari beliau. Meski awalnya kerepotan, pada akhirnya saya ternyata sanggup juga menyelesaikan semuanya. Pada saat itulah saya tersadar, bahwa selama ini rupanya saya sudah begitu dimanja. Selalu diterima dengan tangan terbuka tiap kali menemukan kerumitan. Dan apabila saya telah duduk di hadapan beliau, tidak pernah ada masalah yang tidak selesai. Padahal mungkin kalau saya mau mandiri, tidak perlu sampai beliau turun tangan mengatasi masalah. Mungkin-mungkin saja.
Dan untuk pertama kalinya pula dalam sejarah, Ibu Manajer cuti kerja begitu lama. Padahal kalau sedang berlibur pun, beliau tidak pernah pergi sampai satu minggu. Saat saya menghubungi beliau ke ponselnya untuk menanyakan beberapa hal, nada suaranya yang bersemangat menunjukkan bahwa beliau nampaknya sudah tak sabar untuk kembali ke kantor. Kalau boleh jujur, saya agak merindukan beliau. Yah, berlebihan mungkin, tapi memang begitu adanya.
Karena tulang kakinya retak, Ibu manajer harus dioperasi. Sehari setelah operasi, saya dan beberapa rekan kantor menjenguknya di rumah sakit. Waktu melihat kami datang, beliau langsung tersenyum-senyum ceria seperti biasanya. Beliau duduk di atas tempat tidur, mengenakan baju piyama. Pergelangan kaki kanannya yang diperban tampak bengkak.
Menurut saya, yang sering tidak nyaman melihat perempuan bermake-up tebal, Ibu Manajer kelihatan jauh lebih cantik dari biasanya. Rambutnya tidak kaku seperti kalau beliau sedang di kantor, melainkan tergerai bebas setengah berantakan. Kulit mukanya polos saja, tidak sedikitpun dipoles bedak, malah agak berminyak. Kami mengobrol sambil bercanda, dan beliau tertawa berderai-derai sambil mendekap sebuah guling lusuh yang nampaknya sengaja dibawa dari rumah. Beliau terlihat cantik dan apa adanya.
Setelah operasi, dokter melarang Ibu Manajer untuk masuk kerja dulu. Padahal beliau bilang pada kami, akan segera masuk dua atau tiga hari sesudahnya, diusahakan berjalan menggunakan tongkat atau semacamnya. Namun ternyata beliau disuruh beristirahat dua minggu di rumah. Kami satu departemen repot dan kelabakan, karena waktunya bertepatan dengan waktu closing laporan keuangan.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, saya melakukan rekonsiliasi sendirian tanpa supervisi dari beliau. Meski awalnya kerepotan, pada akhirnya saya ternyata sanggup juga menyelesaikan semuanya. Pada saat itulah saya tersadar, bahwa selama ini rupanya saya sudah begitu dimanja. Selalu diterima dengan tangan terbuka tiap kali menemukan kerumitan. Dan apabila saya telah duduk di hadapan beliau, tidak pernah ada masalah yang tidak selesai. Padahal mungkin kalau saya mau mandiri, tidak perlu sampai beliau turun tangan mengatasi masalah. Mungkin-mungkin saja.
Dan untuk pertama kalinya pula dalam sejarah, Ibu Manajer cuti kerja begitu lama. Padahal kalau sedang berlibur pun, beliau tidak pernah pergi sampai satu minggu. Saat saya menghubungi beliau ke ponselnya untuk menanyakan beberapa hal, nada suaranya yang bersemangat menunjukkan bahwa beliau nampaknya sudah tak sabar untuk kembali ke kantor. Kalau boleh jujur, saya agak merindukan beliau. Yah, berlebihan mungkin, tapi memang begitu adanya.
Labels:
an unquiet mind

