Duh, kamu,…
April 2009
April 29, 2009
April 23, 2009
TUKANG ES PODENG YANG BERANGKAT SHALAT JUMAT
Terpujilah tukang es podeng itu, yang karena kepergiannya untuk menunaikan shalat jumat, saya jadi batal menikmati dagangannya di tengah hari bolong ini. Begitu pula dengan mbak-mbak yang berjejer dengan wajah kehausan di kiri kanan saya. Semuanya batal menikmati es podeng.
Sekian orang dalam satu jumat. Minimal empat jumat dalam satu bulan. Entah berapa rupiah yang tidak jadi mengalir ke dalam pundi-pundi si tukang es podeng. Tapi dia tetap berangkat meninggalkan dagangannya demi menunaikan shalat jumat.
Sementara saya sendiri, yang gajinya tidak bakalan berkurang apabila meninggalkan meja dan komputer barang sejenak untuk pergi ke mushola, masih sering absen. Saya bahkan tidak bakalan dipecat apabila ingin berdzikir dan mengaji sekalian di mushola, tapi masih sering shalat dengan tergesa-gesa. Belum lagi pikiran yang melayang-layang ke dalam kertas kerja yang saya tinggalkan di atas meja, padahal kalau sedang tidak shalat saya bahkan tidak perduli dengan semua itu.
Nah, karena itulah saya katakan tukang es podeng itu sungguh terpuji. Dia berserah diri pada Sang Maha Pemberi Rezeki. Semoga keberkahan selalu dilimpahkan kepadanya.
Sekian orang dalam satu jumat. Minimal empat jumat dalam satu bulan. Entah berapa rupiah yang tidak jadi mengalir ke dalam pundi-pundi si tukang es podeng. Tapi dia tetap berangkat meninggalkan dagangannya demi menunaikan shalat jumat.
Sementara saya sendiri, yang gajinya tidak bakalan berkurang apabila meninggalkan meja dan komputer barang sejenak untuk pergi ke mushola, masih sering absen. Saya bahkan tidak bakalan dipecat apabila ingin berdzikir dan mengaji sekalian di mushola, tapi masih sering shalat dengan tergesa-gesa. Belum lagi pikiran yang melayang-layang ke dalam kertas kerja yang saya tinggalkan di atas meja, padahal kalau sedang tidak shalat saya bahkan tidak perduli dengan semua itu.
Nah, karena itulah saya katakan tukang es podeng itu sungguh terpuji. Dia berserah diri pada Sang Maha Pemberi Rezeki. Semoga keberkahan selalu dilimpahkan kepadanya.
Labels:
an unquiet mind
April 20, 2009
ELENA
Elena, betapa mengejutkannya hidup. Tawa dan duka datang silih berganti, tanpa petunjuk sama sekali. Seperti aku hari ini. Kemarin hidup bagiku masih sebuah kesendirian. Dingin dan membosankan. Tapi kini, semuanya sekejap berubah. Langit di atas kepalaku tiba-tiba cerah. Dan tak ada lagi yang ingin kulakukan, selain duduk manis dengan senyum merekah.
Seperti juga pertemuan kita, Elena. Kemarin bagiku kau masih serupa bulan yang berada jauh dari jangkauan. Namun hari ini, begitu dekatnya aku dengan engkau sebagai tujuan.
Elena, aku ini perempuan yang tengah jatuh cinta. Baru saja datang padaku laki-laki yang menawarkan masa depan. Dia seperti begitu saja jatuh dari langit, lalu berdiri di hadapanku dengan segenggam cinta. Hingga akhirnya, kami sepakat menjalin hubungan.
Oh, Elena, kalau bukan dia yang saat itu datang menjemputku, rasanya hari ini aku masih akan berteman dengan kesepian. Dialah laki-laki yang sanggup mendentangkan lonceng besar di dalam hatiku, hingga dentangan itu membuatku tersadar bahwa aku diciptakan bukan untuk merana sendirian. Dan sekarang, seperti bisa kau lihat sendiri, aku jatuh cinta.
Elena, dia bilang padaku, dia telah lama menikmati hidup sendirian, dan menemukan aku menerbitkan keinginan yang sama sekali baru dalam hidupnya. Dia tiba-tiba jadi ingin menikmati sisa hidup bersama seorang perempuan. Dia tiba-tiba jadi ingin memperoleh anak perempuan. Dan semua itu akan diwujudkannya bersamaku. Dia mengajakku untuk menikah, dan mengajakku berdoa supaya kami dikaruniai seorang anak perempuan yang mungil dan lucu. Dia bahkan mulai menyiapkan nama untuk anak perempuannya tercinta kelak: Elena.
Ya, itulah engkau. Begitulah awal pertemuan kita. Begitulah awalnya mengapa aku jadi begitu tak sabar untuk mendekap anak perempuan yang kelak lahir dari rahimku sendiri: engkau, Elena.
***********************************************************************************
Elena, hidup memang selalu sanggup membuat siapa saja terkejut. Seperti aku hari ini. Sebuah kejadian tak disengaja mempertemukan aku dengan perempuan yang dulu pernah berbagi hidup dengan laki-laki yang kelak menjadi ayahmu. Kami duduk bersama seperti dua orang kawan lama, dan ia menceritakan banyak hal padaku.
Dia bilang, dulu bakal ayahmu baik hati dan lucu. Oh, aku sungguh setuju, karena itulah sikapnya yang selalu menawan hatiku. Kemudian perempuan itu juga bilang, bakal ayahmu dulu datang padanya menawarkan masa depan, lalu mengajaknya menikah agar dikaruniai anak perempuan. Sambil tergelak dia menambahkan, bakal ayahmu malah sudah mulai menyiapkan nama untuk anak perempuannya tercinta, namun hubungan mereka keburu kandas di tengah jalan sebelum semuanya sempat diwujudkan.
Dan kau tahu, siapa nama anak perempuan yang dulu telah disiapkan oleh laki-laki yang kelak akan menjadi ayahmu? Persis seperti nama yang disiapkannya untukmu. Namamu. Elena.
Oh, Elena, betapa aku terkejut mendengar semua itu. Kata-kata manis yang kemarin terlontar di hadapanku kini seperti berasal dari dunia yang jauh. Keinginan untuk menikmati sisa hidup bersama seorang perempuan sambil membesarkan seorang anak perempuan bernama Elena ternyata hanya sebuah kalimat usang. Dan aku terguncang.
Namun entah bagaimana caranya Elena, aku akhirnya sanggup membenahi hati. Kukatakan pada diriku sendiri, bakal ayahmu tidak lahir ke dunia lalu begitu saja tumbuh dewasa. Dia telah menempuh perjalanan panjang sebelum akhirnya berhasil menemukan aku. Mungkin jauh-jauh hari keinginan itu memang pernah terucap dari mulutnya, untuk kemudian urung di dalam hati, untuk kemudian di hadapanku kembali dilontarkan lagi.
Bagaimanapun, akulah orangnya yang telah berhasil menyuarakan kembali isi hati laki-laki yang kelak akan menjadi ayahmu. Sebagaimana dia telah berhasil mendentangkan kembali lonceng besar di dalam hatiku. Ya, Elena, aku akhirnya sanggup membenahi hati.
***********************************************************************************
Elena, betapa mengejutkannya hidup. Tawa dan duka datang silih berganti, seperti peran yang dimainkan dalam televisi. Seperti aku hari ini. Kemarin bagiku engkau begitu dekat dalam tujuan, kini dirimu laksana bulan yang jauh dari jangkauan.
Lagi-lagi tanpa sengaja, kutemukan petunjuk tentang laki-laki yang kelak akan menjadi ayahmu, Elena. Kutemukan surat-suratnya bersama seorang wanita entah siapa yang membuat hatiku amat terluka. Wanita lain yang bukan berasal dari masa lalunya. Tertulis di sana tentang cita-cita untuk hidup bersama seorang perempuan sambil membesarkan seorang anak perempuan. Dan ketika akhirnya kutemukan lagi namamu turut berada di sana, Elena, aku tak lagi mampu membenahi hati.
Dengan bersimbah air mata kuputuskan untuk menyudahi semuanya. Kusudahi apa yang tengah kujalin bersamanya. Kusudahi mimpi indah untuk membesarkan seorang anak perempuan bernama Elena. Elena yang manis dan lucu. Elena bakal anak perempuanku.
Semua itu kulakukan, Elena, karena sekarang aku sadar, tidak perempuan yang dahulu, tidak aku, mungkin tidak juga perempuan dalam surat itu, pernah dicintai oleh bakal ayahmu. Cuma engkau satu-satunya perempuan yang dicintainya, Elena. Demi engkau dia berjalan dari hati ke hati, untuk mencari yang terbaik. Dan karena aku juga sudah terlanjur mencintaimu Elena, kulepaskan dia pergi, kubiarkan dia mencari hati demi ibu yang terbaik untukmu kelak.
April 2009
Seperti juga pertemuan kita, Elena. Kemarin bagiku kau masih serupa bulan yang berada jauh dari jangkauan. Namun hari ini, begitu dekatnya aku dengan engkau sebagai tujuan.
Elena, aku ini perempuan yang tengah jatuh cinta. Baru saja datang padaku laki-laki yang menawarkan masa depan. Dia seperti begitu saja jatuh dari langit, lalu berdiri di hadapanku dengan segenggam cinta. Hingga akhirnya, kami sepakat menjalin hubungan.
Oh, Elena, kalau bukan dia yang saat itu datang menjemputku, rasanya hari ini aku masih akan berteman dengan kesepian. Dialah laki-laki yang sanggup mendentangkan lonceng besar di dalam hatiku, hingga dentangan itu membuatku tersadar bahwa aku diciptakan bukan untuk merana sendirian. Dan sekarang, seperti bisa kau lihat sendiri, aku jatuh cinta.
Elena, dia bilang padaku, dia telah lama menikmati hidup sendirian, dan menemukan aku menerbitkan keinginan yang sama sekali baru dalam hidupnya. Dia tiba-tiba jadi ingin menikmati sisa hidup bersama seorang perempuan. Dia tiba-tiba jadi ingin memperoleh anak perempuan. Dan semua itu akan diwujudkannya bersamaku. Dia mengajakku untuk menikah, dan mengajakku berdoa supaya kami dikaruniai seorang anak perempuan yang mungil dan lucu. Dia bahkan mulai menyiapkan nama untuk anak perempuannya tercinta kelak: Elena.
Ya, itulah engkau. Begitulah awal pertemuan kita. Begitulah awalnya mengapa aku jadi begitu tak sabar untuk mendekap anak perempuan yang kelak lahir dari rahimku sendiri: engkau, Elena.
***********************************************************************************
Elena, hidup memang selalu sanggup membuat siapa saja terkejut. Seperti aku hari ini. Sebuah kejadian tak disengaja mempertemukan aku dengan perempuan yang dulu pernah berbagi hidup dengan laki-laki yang kelak menjadi ayahmu. Kami duduk bersama seperti dua orang kawan lama, dan ia menceritakan banyak hal padaku.
Dia bilang, dulu bakal ayahmu baik hati dan lucu. Oh, aku sungguh setuju, karena itulah sikapnya yang selalu menawan hatiku. Kemudian perempuan itu juga bilang, bakal ayahmu dulu datang padanya menawarkan masa depan, lalu mengajaknya menikah agar dikaruniai anak perempuan. Sambil tergelak dia menambahkan, bakal ayahmu malah sudah mulai menyiapkan nama untuk anak perempuannya tercinta, namun hubungan mereka keburu kandas di tengah jalan sebelum semuanya sempat diwujudkan.
Dan kau tahu, siapa nama anak perempuan yang dulu telah disiapkan oleh laki-laki yang kelak akan menjadi ayahmu? Persis seperti nama yang disiapkannya untukmu. Namamu. Elena.
Oh, Elena, betapa aku terkejut mendengar semua itu. Kata-kata manis yang kemarin terlontar di hadapanku kini seperti berasal dari dunia yang jauh. Keinginan untuk menikmati sisa hidup bersama seorang perempuan sambil membesarkan seorang anak perempuan bernama Elena ternyata hanya sebuah kalimat usang. Dan aku terguncang.
Namun entah bagaimana caranya Elena, aku akhirnya sanggup membenahi hati. Kukatakan pada diriku sendiri, bakal ayahmu tidak lahir ke dunia lalu begitu saja tumbuh dewasa. Dia telah menempuh perjalanan panjang sebelum akhirnya berhasil menemukan aku. Mungkin jauh-jauh hari keinginan itu memang pernah terucap dari mulutnya, untuk kemudian urung di dalam hati, untuk kemudian di hadapanku kembali dilontarkan lagi.
Bagaimanapun, akulah orangnya yang telah berhasil menyuarakan kembali isi hati laki-laki yang kelak akan menjadi ayahmu. Sebagaimana dia telah berhasil mendentangkan kembali lonceng besar di dalam hatiku. Ya, Elena, aku akhirnya sanggup membenahi hati.
***********************************************************************************
Elena, betapa mengejutkannya hidup. Tawa dan duka datang silih berganti, seperti peran yang dimainkan dalam televisi. Seperti aku hari ini. Kemarin bagiku engkau begitu dekat dalam tujuan, kini dirimu laksana bulan yang jauh dari jangkauan.
Lagi-lagi tanpa sengaja, kutemukan petunjuk tentang laki-laki yang kelak akan menjadi ayahmu, Elena. Kutemukan surat-suratnya bersama seorang wanita entah siapa yang membuat hatiku amat terluka. Wanita lain yang bukan berasal dari masa lalunya. Tertulis di sana tentang cita-cita untuk hidup bersama seorang perempuan sambil membesarkan seorang anak perempuan. Dan ketika akhirnya kutemukan lagi namamu turut berada di sana, Elena, aku tak lagi mampu membenahi hati.
Dengan bersimbah air mata kuputuskan untuk menyudahi semuanya. Kusudahi apa yang tengah kujalin bersamanya. Kusudahi mimpi indah untuk membesarkan seorang anak perempuan bernama Elena. Elena yang manis dan lucu. Elena bakal anak perempuanku.
Semua itu kulakukan, Elena, karena sekarang aku sadar, tidak perempuan yang dahulu, tidak aku, mungkin tidak juga perempuan dalam surat itu, pernah dicintai oleh bakal ayahmu. Cuma engkau satu-satunya perempuan yang dicintainya, Elena. Demi engkau dia berjalan dari hati ke hati, untuk mencari yang terbaik. Dan karena aku juga sudah terlanjur mencintaimu Elena, kulepaskan dia pergi, kubiarkan dia mencari hati demi ibu yang terbaik untukmu kelak.
April 2009
Labels:
fiction
April 14, 2009
KAU AKAN MENJELMA KEMBALI
Hatiku kini ibarat biksu muda yang tengah mempelajari Budha di sebuah kuil di Dharamsala: berusaha memaknai cinta melebihi cara yang ditawarkan dunia. Ingin mencintaimu, dengan cara yang lebih mulia.
Dan apabila hatiku adalah biksu muda yang setia pada seluruh silsilah Rinpochi, dia mencoba percaya bahwa kau juga tentu mengalami reinkarnasi. Semenjak hatiku kehilanganmu, aku mencoba percaya bahwa setiap keindahan yang kutemui mungkin saja adalah kamu.
Kau bisa menjelma kembang bermekaran, yang mencoba mengisyaratkan bahwa dunia begitu indahnya sehingga tangis tak diperlukan. Kau bisa menyamar ke dalam secangkir coklat panas, yang selalu sanggup menebarkan hangat. Kau bisa merasuk ke dalam alunan jazz, yang tak pernah gagal menciptakan gembira. Kau mungkin melebur di dalam cinta para sahabat, dan diam-diam berbisik padaku bahwa aku tak pernah sendirian. Kau menemani, dalam beragam bentuk yang mungkin tak kusadari.
Atau, kau mungkin menjelma ke dalam tubuh seseorang entah siapa, yang pada suatu hari datang menawarkan cinta. Dengan hati serupa penganut Budha yang beriman pada reinkarnasi, kurasa aku harus selalu percaya bahwa kau akan menjelma kembali.
April 2009
Dan apabila hatiku adalah biksu muda yang setia pada seluruh silsilah Rinpochi, dia mencoba percaya bahwa kau juga tentu mengalami reinkarnasi. Semenjak hatiku kehilanganmu, aku mencoba percaya bahwa setiap keindahan yang kutemui mungkin saja adalah kamu.
Kau bisa menjelma kembang bermekaran, yang mencoba mengisyaratkan bahwa dunia begitu indahnya sehingga tangis tak diperlukan. Kau bisa menyamar ke dalam secangkir coklat panas, yang selalu sanggup menebarkan hangat. Kau bisa merasuk ke dalam alunan jazz, yang tak pernah gagal menciptakan gembira. Kau mungkin melebur di dalam cinta para sahabat, dan diam-diam berbisik padaku bahwa aku tak pernah sendirian. Kau menemani, dalam beragam bentuk yang mungkin tak kusadari.
Atau, kau mungkin menjelma ke dalam tubuh seseorang entah siapa, yang pada suatu hari datang menawarkan cinta. Dengan hati serupa penganut Budha yang beriman pada reinkarnasi, kurasa aku harus selalu percaya bahwa kau akan menjelma kembali.
April 2009
Labels:
poem
April 10, 2009
SILENCE
What shall I say to you?
What can I say better than silence is?
~Henry Wadsworth Longfellow
What can I say better than silence is?
~Henry Wadsworth Longfellow
Labels:
poem
March 30, 2009
LETTER FOR REBECCA BLOOMWOOD [1]
Dear Miss Bloomwood,
Pertama-tama, aku ingin kau tahu bahwa sudah sejak lama aku berniat menulis banyak tentangmu. Tapi entah bagaimana caranya, aku sudah langsung kehabisan kata-kata, bahkan sebelum sempat menggoreskan kata yang pertama. Aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Tapi, sungguh, aku begitu punya hasrat yang menggebu-gebu untuk menulis tentang dirimu. Karena itu, bagaimana kalau kita mulai saja semuanya dari awal sekali.
Tahukah kau Miss Bloomwood, aku sudah amat menyukaimu sejak awal perkenalan kita, beberapa tahun yang lalu. Aku langsung jatuh cinta pada kepribadianmu yang ceria, bersemangat, dan apa adanya. Kau sama sekali tidak pernah punya niat jahat pada orang lain, kau begitu setia pada sebuah persahabatan, dan kau tak pernah sekalipun sanggup menggadaikan nilai moral yang kau anut.
Aku tergila-gila pada caramu menyayangi Suze. Bagian favoritku adalah waktu kau terpesona menatapnya dari kejauhan, saat dia sedang hamil tua dan duduk di sebuah cafe menantimu. Kau bilang dia secantik malaikat. Aku juga tergila-gila menyaksikan hubunganmu yang serasi dengan Luke. Dan aku tergelak tidak karuan menyaksikan kekalapanmu ketika berbelanja keperluan bayi untuk Minnie. Oh, betapa aku punya sejuta alasan untuk jatuh sayang padamu.
Mengenai hasrat belanjamu yang mencengangkan itu, sejujurnya aku tidak begitu perduli. Aku menyayangimu apa adanya. Bahwa kau penggila belanja, atau penggila olahraga misalnya, tidak banyak bedanya buatku. Selama masih selalu dirimu yang jadi pemeran utamanya, cerita tentangmu akan tetap mempesona. Tapi, nyatanya, kau adalah seorang penggila belanja, dan itulah sebabnya Miss Kinsella membuat cerita tentang dirimu, sehingga aku tidak hendak mengabaikan kenyataan itu.
Baiklah, mari kita bicara sedikit mengenai itu. Terus terang, sebagai seorang wanita, yang tentu saja hobi juga berbelanja, aku tidak setuju bila hobi itu dibiarkan membabi buta. Aku sedih melihat kau menghabiskan separuh hidupmu di pusat-pusat berlanjaan mewah lalu memindahkan isinya ke dalam kamarmu, ke dalam lemari bajumu, ke dalam rak sepatumu.
Kuakui aku memang tidak sanggup mengikuti gaya hidupmu, dan tidak pernah tahu bagaimana rasanya kecanduan seperti dirimu. Namun ketahuilah Miss Bloomwood, ini bukan tentang sanggup atau tidak sanggup. Ini tentang sifat rakus yang ingin memiliki seluruh isi dunia, lantas menghambur-hamburkannya, sementara sebagian penduduk dunia lain kelaparan, dan sebagiannya lagi bekerja dengan upah minim, padahal barang-barang yang mereka hasilkan dijual dengan harga setinggi langit ketujuh, persis seperti tas tangan yang saat ini berada di atas meja riasmu itu.
Suatu hari nanti Miss Bloomwood, datanglah ke negaraku. Kau harus menginap di rumahku. Kita akan bersenda gurau di kamarku, sambil minum soda, sambil makan kudapan, sambil cekikikan sampai pagi menjelang, beserta adik perempuanku tentu saja, karena dia juga adalah penggemarmu. Lalu keesokan harinya, kita bisa jalan-jalan, dan akan kutunjukkan padamu bagaimana sedikit uang bisa memberikan kebahagiaan yang berlimpah. Kita akan mampir ke museum, lalu menikmati pemandangan indah di sana, sambil berfoto selayaknya dua orang sahabat. Kau tidak perlu membawa serta kartu kreditmu, karena di sepanjang jalan kau akan melihat begitu banyak pengemis dengan pakaian lusuh dan bau tak sedap, yang tidak akan terbantu hanya dengan sebuah kartu kredit. Mereka baru bisa hidup layak apabila segilintir orang di luar sana berhenti mementingkan diri sendiri.
Ah, betapapun kupaparkan sejuta fakta tentang orang-orang kelaparan itu, aku sadar kau tidak akan bisa berubah. Kau cuma sebuah tokoh di dalam novel. Kau cuma Rebecca Bloomwood yang kecanduan belanja. Tapi itu tak mengapa, biar aku dapat bercermin pada tingkah lakumu. Ya, kau tidak boleh pernah berubah. Biar semua pembaca novelmu bisa berkaca pada sisi burukmu. Kurasa sudah terlalu banyak penghuni bumi yang tergila-gila pada uang, terlalu banyak diantara mereka yang kecanduan belanja. Biar mereka semua merasa jera dan malu, tiap saat membaca kisah dirimu.
Selain itu, seperti telah kukatakan tadi, kau begitu punya banyak kebaikan untuk ditiru. Hal yang paling membuatku tergila-gila adalah caramu menikmati hidup. Demi Tuhan Miss Bloomwood, tak ada yang bisa melakukannya sebaik dirimu. Aku suka caramu menghayati hal-hal kecil. Yah, memang telah kutegaskan bahwa hobi belanja yang membabi buta adalah kesalahan, tapi aku suka caramu menceritakan betapa denting bel di pintu toko, harum toko, kilau lampu di dalamnya, dan lembutnya bahan sutra yang dijual di sana adalah deretan hal yang memabukkan. Oh, aku suka itu. Aku suka pada imajinasimu, tentang bank yang harus melakukan sale pada produknya, tentang buku cek warna-warni. Aku suka semua ide segarmu. Pantas saja Luke begitu mencintaimu, kau membuat dunia jadi lebih berseri-seri.
Oh, Miss Bloomwood, kurasa waktuku tak banyak. Aku harus menyudahi tulisan ini. Tulisan yang begitu sulit kumulai, dan ternyata lebih sulit lagi untuk diakhiri. Tapi lain kali aku akan menulis lagi. Terima kasih telah mendengarkan aku. Semoga kau selalu menjadi Rebecca Bloomwood yang kusayangi.
-peluk hangat dariku-
*Rebecca Bloomwood adalah karakter fiktif dalam novel Shopaholic Series karangan Sophie Kinsella.
Pertama-tama, aku ingin kau tahu bahwa sudah sejak lama aku berniat menulis banyak tentangmu. Tapi entah bagaimana caranya, aku sudah langsung kehabisan kata-kata, bahkan sebelum sempat menggoreskan kata yang pertama. Aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Tapi, sungguh, aku begitu punya hasrat yang menggebu-gebu untuk menulis tentang dirimu. Karena itu, bagaimana kalau kita mulai saja semuanya dari awal sekali.
Tahukah kau Miss Bloomwood, aku sudah amat menyukaimu sejak awal perkenalan kita, beberapa tahun yang lalu. Aku langsung jatuh cinta pada kepribadianmu yang ceria, bersemangat, dan apa adanya. Kau sama sekali tidak pernah punya niat jahat pada orang lain, kau begitu setia pada sebuah persahabatan, dan kau tak pernah sekalipun sanggup menggadaikan nilai moral yang kau anut.
Aku tergila-gila pada caramu menyayangi Suze. Bagian favoritku adalah waktu kau terpesona menatapnya dari kejauhan, saat dia sedang hamil tua dan duduk di sebuah cafe menantimu. Kau bilang dia secantik malaikat. Aku juga tergila-gila menyaksikan hubunganmu yang serasi dengan Luke. Dan aku tergelak tidak karuan menyaksikan kekalapanmu ketika berbelanja keperluan bayi untuk Minnie. Oh, betapa aku punya sejuta alasan untuk jatuh sayang padamu.
Mengenai hasrat belanjamu yang mencengangkan itu, sejujurnya aku tidak begitu perduli. Aku menyayangimu apa adanya. Bahwa kau penggila belanja, atau penggila olahraga misalnya, tidak banyak bedanya buatku. Selama masih selalu dirimu yang jadi pemeran utamanya, cerita tentangmu akan tetap mempesona. Tapi, nyatanya, kau adalah seorang penggila belanja, dan itulah sebabnya Miss Kinsella membuat cerita tentang dirimu, sehingga aku tidak hendak mengabaikan kenyataan itu.
Baiklah, mari kita bicara sedikit mengenai itu. Terus terang, sebagai seorang wanita, yang tentu saja hobi juga berbelanja, aku tidak setuju bila hobi itu dibiarkan membabi buta. Aku sedih melihat kau menghabiskan separuh hidupmu di pusat-pusat berlanjaan mewah lalu memindahkan isinya ke dalam kamarmu, ke dalam lemari bajumu, ke dalam rak sepatumu.
Kuakui aku memang tidak sanggup mengikuti gaya hidupmu, dan tidak pernah tahu bagaimana rasanya kecanduan seperti dirimu. Namun ketahuilah Miss Bloomwood, ini bukan tentang sanggup atau tidak sanggup. Ini tentang sifat rakus yang ingin memiliki seluruh isi dunia, lantas menghambur-hamburkannya, sementara sebagian penduduk dunia lain kelaparan, dan sebagiannya lagi bekerja dengan upah minim, padahal barang-barang yang mereka hasilkan dijual dengan harga setinggi langit ketujuh, persis seperti tas tangan yang saat ini berada di atas meja riasmu itu.
Suatu hari nanti Miss Bloomwood, datanglah ke negaraku. Kau harus menginap di rumahku. Kita akan bersenda gurau di kamarku, sambil minum soda, sambil makan kudapan, sambil cekikikan sampai pagi menjelang, beserta adik perempuanku tentu saja, karena dia juga adalah penggemarmu. Lalu keesokan harinya, kita bisa jalan-jalan, dan akan kutunjukkan padamu bagaimana sedikit uang bisa memberikan kebahagiaan yang berlimpah. Kita akan mampir ke museum, lalu menikmati pemandangan indah di sana, sambil berfoto selayaknya dua orang sahabat. Kau tidak perlu membawa serta kartu kreditmu, karena di sepanjang jalan kau akan melihat begitu banyak pengemis dengan pakaian lusuh dan bau tak sedap, yang tidak akan terbantu hanya dengan sebuah kartu kredit. Mereka baru bisa hidup layak apabila segilintir orang di luar sana berhenti mementingkan diri sendiri.
Ah, betapapun kupaparkan sejuta fakta tentang orang-orang kelaparan itu, aku sadar kau tidak akan bisa berubah. Kau cuma sebuah tokoh di dalam novel. Kau cuma Rebecca Bloomwood yang kecanduan belanja. Tapi itu tak mengapa, biar aku dapat bercermin pada tingkah lakumu. Ya, kau tidak boleh pernah berubah. Biar semua pembaca novelmu bisa berkaca pada sisi burukmu. Kurasa sudah terlalu banyak penghuni bumi yang tergila-gila pada uang, terlalu banyak diantara mereka yang kecanduan belanja. Biar mereka semua merasa jera dan malu, tiap saat membaca kisah dirimu.
Selain itu, seperti telah kukatakan tadi, kau begitu punya banyak kebaikan untuk ditiru. Hal yang paling membuatku tergila-gila adalah caramu menikmati hidup. Demi Tuhan Miss Bloomwood, tak ada yang bisa melakukannya sebaik dirimu. Aku suka caramu menghayati hal-hal kecil. Yah, memang telah kutegaskan bahwa hobi belanja yang membabi buta adalah kesalahan, tapi aku suka caramu menceritakan betapa denting bel di pintu toko, harum toko, kilau lampu di dalamnya, dan lembutnya bahan sutra yang dijual di sana adalah deretan hal yang memabukkan. Oh, aku suka itu. Aku suka pada imajinasimu, tentang bank yang harus melakukan sale pada produknya, tentang buku cek warna-warni. Aku suka semua ide segarmu. Pantas saja Luke begitu mencintaimu, kau membuat dunia jadi lebih berseri-seri.
Oh, Miss Bloomwood, kurasa waktuku tak banyak. Aku harus menyudahi tulisan ini. Tulisan yang begitu sulit kumulai, dan ternyata lebih sulit lagi untuk diakhiri. Tapi lain kali aku akan menulis lagi. Terima kasih telah mendengarkan aku. Semoga kau selalu menjadi Rebecca Bloomwood yang kusayangi.
-peluk hangat dariku-
*Rebecca Bloomwood adalah karakter fiktif dalam novel Shopaholic Series karangan Sophie Kinsella.
Labels:
an unquiet mind

