Dear Miss Bloomwood,
Pertama-tama, aku ingin kau tahu bahwa sudah sejak lama aku berniat menulis banyak tentangmu. Tapi entah bagaimana caranya, aku sudah langsung kehabisan kata-kata, bahkan sebelum sempat menggoreskan kata yang pertama. Aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Tapi, sungguh, aku begitu punya hasrat yang menggebu-gebu untuk menulis tentang dirimu. Karena itu, bagaimana kalau kita mulai saja semuanya dari awal sekali.
Tahukah kau Miss Bloomwood, aku sudah amat menyukaimu sejak awal perkenalan kita, beberapa tahun yang lalu. Aku langsung jatuh cinta pada kepribadianmu yang ceria, bersemangat, dan apa adanya. Kau sama sekali tidak pernah punya niat jahat pada orang lain, kau begitu setia pada sebuah persahabatan, dan kau tak pernah sekalipun sanggup menggadaikan nilai moral yang kau anut.
Aku tergila-gila pada caramu menyayangi Suze. Bagian favoritku adalah waktu kau terpesona menatapnya dari kejauhan, saat dia sedang hamil tua dan duduk di sebuah cafe menantimu. Kau bilang dia secantik malaikat. Aku juga tergila-gila menyaksikan hubunganmu yang serasi dengan Luke. Dan aku tergelak tidak karuan menyaksikan kekalapanmu ketika berbelanja keperluan bayi untuk Minnie. Oh, betapa aku punya sejuta alasan untuk jatuh sayang padamu.
Mengenai hasrat belanjamu yang mencengangkan itu, sejujurnya aku tidak begitu perduli. Aku menyayangimu apa adanya. Bahwa kau penggila belanja, atau penggila olahraga misalnya, tidak banyak bedanya buatku. Selama masih selalu dirimu yang jadi pemeran utamanya, cerita tentangmu akan tetap mempesona. Tapi, nyatanya, kau adalah seorang penggila belanja, dan itulah sebabnya Miss Kinsella membuat cerita tentang dirimu, sehingga aku tidak hendak mengabaikan kenyataan itu.
Baiklah, mari kita bicara sedikit mengenai itu. Terus terang, sebagai seorang wanita, yang tentu saja hobi juga berbelanja, aku tidak setuju bila hobi itu dibiarkan membabi buta. Aku sedih melihat kau menghabiskan separuh hidupmu di pusat-pusat berlanjaan mewah lalu memindahkan isinya ke dalam kamarmu, ke dalam lemari bajumu, ke dalam rak sepatumu.
Kuakui aku memang tidak sanggup mengikuti gaya hidupmu, dan tidak pernah tahu bagaimana rasanya kecanduan seperti dirimu. Namun ketahuilah Miss Bloomwood, ini bukan tentang sanggup atau tidak sanggup. Ini tentang sifat rakus yang ingin memiliki seluruh isi dunia, lantas menghambur-hamburkannya, sementara sebagian penduduk dunia lain kelaparan, dan sebagiannya lagi bekerja dengan upah minim, padahal barang-barang yang mereka hasilkan dijual dengan harga setinggi langit ketujuh, persis seperti tas tangan yang saat ini berada di atas meja riasmu itu.
Suatu hari nanti Miss Bloomwood, datanglah ke negaraku. Kau harus menginap di rumahku. Kita akan bersenda gurau di kamarku, sambil minum soda, sambil makan kudapan, sambil cekikikan sampai pagi menjelang, beserta adik perempuanku tentu saja, karena dia juga adalah penggemarmu. Lalu keesokan harinya, kita bisa jalan-jalan, dan akan kutunjukkan padamu bagaimana sedikit uang bisa memberikan kebahagiaan yang berlimpah. Kita akan mampir ke museum, lalu menikmati pemandangan indah di sana, sambil berfoto selayaknya dua orang sahabat. Kau tidak perlu membawa serta kartu kreditmu, karena di sepanjang jalan kau akan melihat begitu banyak pengemis dengan pakaian lusuh dan bau tak sedap, yang tidak akan terbantu hanya dengan sebuah kartu kredit. Mereka baru bisa hidup layak apabila segilintir orang di luar sana berhenti mementingkan diri sendiri.
Ah, betapapun kupaparkan sejuta fakta tentang orang-orang kelaparan itu, aku sadar kau tidak akan bisa berubah. Kau cuma sebuah tokoh di dalam novel. Kau cuma Rebecca Bloomwood yang kecanduan belanja. Tapi itu tak mengapa, biar aku dapat bercermin pada tingkah lakumu. Ya, kau tidak boleh pernah berubah. Biar semua pembaca novelmu bisa berkaca pada sisi burukmu. Kurasa sudah terlalu banyak penghuni bumi yang tergila-gila pada uang, terlalu banyak diantara mereka yang kecanduan belanja. Biar mereka semua merasa jera dan malu, tiap saat membaca kisah dirimu.
Selain itu, seperti telah kukatakan tadi, kau begitu punya banyak kebaikan untuk ditiru. Hal yang paling membuatku tergila-gila adalah caramu menikmati hidup. Demi Tuhan Miss Bloomwood, tak ada yang bisa melakukannya sebaik dirimu. Aku suka caramu menghayati hal-hal kecil. Yah, memang telah kutegaskan bahwa hobi belanja yang membabi buta adalah kesalahan, tapi aku suka caramu menceritakan betapa denting bel di pintu toko, harum toko, kilau lampu di dalamnya, dan lembutnya bahan sutra yang dijual di sana adalah deretan hal yang memabukkan. Oh, aku suka itu. Aku suka pada imajinasimu, tentang bank yang harus melakukan sale pada produknya, tentang buku cek warna-warni. Aku suka semua ide segarmu. Pantas saja Luke begitu mencintaimu, kau membuat dunia jadi lebih berseri-seri.
Oh, Miss Bloomwood, kurasa waktuku tak banyak. Aku harus menyudahi tulisan ini. Tulisan yang begitu sulit kumulai, dan ternyata lebih sulit lagi untuk diakhiri. Tapi lain kali aku akan menulis lagi. Terima kasih telah mendengarkan aku. Semoga kau selalu menjadi Rebecca Bloomwood yang kusayangi.
-peluk hangat dariku-
*Rebecca Bloomwood adalah karakter fiktif dalam novel Shopaholic Series karangan Sophie Kinsella.


0 comments:
Post a Comment