July 27, 2009

MY BESTFRIEND’S GRANDMA

Salah satu sahabat saya, adalah bungsu dari lima bersaudara. Keempat kakaknya semua sudah menikah dan punya anak, sehingga dia punya banyak keponakan. Seperti kebanyakan anak yang orangtuanya bekerja, semua keponakannya itu dititipkan di rumah neneknya. Sebab itu kalau saya sedang nongkrong di rumah sahabat saya, keadaannya selalu ramai oleh hilir mudik mereka.

Keponakan sahabat saya yang paling tua, sudah duduk di kelas dua sekolah dasar. Pada suatu hari, waktu saya sedang ngobrol di teras bersama sahabat saya, keponakannya itu keluar dari dalam rumah sambil menenteng telepon genggam. Dia duduk di seberang kami, lantas mulai menelepon.

Awalnya, saya tidak memperhatikan apa yang dilakukan bocah perempuan itu. Dia hanya sekedar bicara di telepon. Tapi ketika sudah hampir setengah jam, perhatian saya mulai terusik. Heran. Sebab dia bicara begitu lama, layaknya durasi bicara orang dewasa. Sahabat saya bilang, keponakannya itu sedang bicara dengan Mbah Putrinya yang tinggal di Jogja. Kalau mereka berdua sudah asyik ngobrol, lanjut sahabat saya, biasanya memang lama. Bisa sampai satu jam.

Wow. Saya takjub. Sehingga akhirnya mulai mendengarkan pembicaraan bocah itu dengan seksama. Dia sedang asyik bercerita tentang kegiatannya di sekolah, dengan nada curhat ala anak ABG, tapi kata-katanya polos. Sebentar dia diam mendengarkan sahutan neneknya di seberang sana, lantas sesekali mengiyakan, atau kadang membantah. Kemudian dia teruskan lagi ceritanya, kali ini mengadukan kelakuan nakal adiknya, lalu kembali mendengarkan sahutan.

Setelah beberapa saat, ganti dia yang bertanya keadaan neneknya, lalu diam menyimak. Begitu seterusnya, hingga akhirnya pembicaraan itu selesai. Dan saya makin takjub. Kalau tidak langsung menyaksikan sendiri, saya tidak bakalan percaya bahwa di dunia ini ada anak kelas dua SD yang bisa bercakap-cakap begitu lama di telepon dengan neneknya.

Beberapa hari yang lalu, lama setelah kejadian percakapan di telepon itu, saya dan sahabat saya jalan-jalan ke Jogja. Salah satu agenda dalam perjalanan itu, adalah mampir berkunjung ke rumah keluarga sahabat saya di daerah Kalasan. Nah, inilah rumah Mbah Putri yang dimaksud di atas. Waktu beliau menyambut kami di teras rumahnya, pikiran saya langsung melayang pada percakapan telepon yang saya saksikan dulu. Dan segera saya langsung tahu jawabannya, kenapa keponakan sahabat saya bisa bersahabat dengan neneknya.

Beliau menyambut kami dengan ramah, lantas sibuk bolak-balik ke arah dapur mengeluarkan jamuan. Kalau saya jadi nenek-nenek kelak, rasanya saya bakalan ogah menjamu anak muda sambil repot-repot membawakan piring dan sendok sendirian, sementara saya bisa menyuruh anak-anak saya melakukannya. Tapi beliau lain, dilakukannya semua itu tanpa beban, lantas ikut duduk mengobrol bersama kami. Tatapannya hangat dan bersemangat. Sesekali beliau mengeluarkan wejangan dengan gaya yang sama sekali tidak menggurui, dan sisanya, diam menyimak cerita kami layaknya beliau adalah anak muda seperti kami.

Nah, itulah jawabannya, beliau bisa menempatkan diri sejajar dengan lawan bicaranya. Sungguh nyaman rasanya. Pantas saja cucunya yang masih kelas dua SD bisa merasa bersahabat dengan dirinya. Sementara saya, yah, berhubung saya bukan cucunya, cukuplah saja saya jadi penggemar beliau, dan membuat sepotong tulisan untuk mengabadikan kisahnya.

July 22, 2009

PERTUNJUKAN SATWA PINTAR

Kakak perempuan ibu saya, beserta keluarganya, tinggal di bilangan Cilandak. Lokasi rumahnya berdekatan dengan Kebun Binatang Ragunan. Kalau sedang ada kumpul-kumpul keluarga di sana, biasanya para sepupu kecil saya selalu merengek minta diajak jalan-jalan ke Kebun Binatang. Entah sudah berapa ratus kali saya menemani mereka pergi berkunjung ke sana.

Sore itu, kembali saya dan para sepupu mendatangi Kebun Binatang Ragunan. Biasanya kami akan putar-putar sebentar melihat hewan-hewan, lalu menghabiskan sisa sore dengan piknik di bawah pohon rindang. Mereka akan sibuk berlarian di tengah lapangan luas, sementara saya akan duduk santai di atas tikar, menikmati angin sepoi-sepoi sambil mengamati tingkah dan penampilan pengunjung yang lalu lalang. Betapa saya sangat menikmati momen itu.

Waktu sedang asyik jalan-jalan, kami melintas di sebuah tempat berloket bernama Pertunjukan Satwa Pintar. Di dekatnya ada gambar hewan-hewan yang sedang beratraksi. Karena belum pernah menyaksikan pertunjukan tersebut, sepupu saya langsung merengek penasaran. Terpaksalah saya menurutinya. Setelah membayar tiket masing-masing orang empat ribu rupiah, kami diizinkan masuk. Di dalamnya, ada kursi penonton berundak-undak dari semen yang berderet lima baris ke belakang, menghadap ke tempat sejenis panggung berlantai keramik.

Setelah kursi penonton ramai terisi, pertunjukan pertama dimulai. Seekor burung kakatua menunjukkan kebolehannya dengan membuka kartu-kartu bertuliskan ucapan Selamat Datang. Lalu hewan itu menggerakkan tubuh dengan diiringi musik dangdut, sambil mengikuti instruksi pelatihnya, sehingga tampak persis seperti gerakan manusia. Para penonton yang menyaksikan, termasuk para sepupu kecil saya, tergelak-gelak sambil bertepuk tangan. Kami sungguh terhibur.

Atraksi kedua dibawakan oleh seekor simpanse, yang sebelum sempat menunaikan tugasnya, sudah buru-buru dibawa masuk ke balik panggung. Dari sini, saya mulai merasa tidak nyaman dengan segala pertunjukan ini, sebab pelatih yang menangani simpanse tadi memperlakukan satwanya dengan kasar. Waktu itu hari sudah sore, besar kemungkinan simpanse tadi sudah lelah, sehingga tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya berdiri. Dia tidak menghiraukan sama sekali bujukan pelatihnya. Sementara si pelatih yang mungkin juga sudah sama lelahnya, akhirnya kesal. Hingga akhirnya dia bertindak kasar, lupa bahwa pertunjukan itu disaksikan oleh banyak orang, dimana sebagian besar jumlahnya adalah anak-anak. Berkali-kali disepaknya tubuh simpanse itu dengan menggunakan kaki. Tidak sekuat tenaga memang, tapi tetap saja perbuatan itu tidak pantas. Si pelatih juga terlihat beberapa kali menempeleng kepala si simpanse, yang membuat hewan itu menjerit marah dan menepis lengan si pelatih, hingga akhirnya mahluk malang itu dibawa masuk.

Selanjutnya, masih ada lagi atraksi dari berang-berang yang pandai memasukkan bola ke dalam ring yang mirip seperti ring basket. Selain itu, berang-berang itu juga pandai berhitung. Pelatih menyuruh penonton menyebutkan soal perkalian acak, semisal enam dikali tiga, lalu berang-berang itu akan memutar engkol sebanyak hasil perkalian tersebut. Ajaib, dengan tangannya yang mungil, berang-berang itu benar-benar memutar engkol sebanyak delapan belas kali. Juga untuk soal penjumlahan, dia memutar engkolnya dengan tepat. Kembali penonton ramai bertepuk tangan, kecuali saya.

Buat saya, pertunjukan satwa pintar itu sudah tidak lucu lagi. Kakatua tadi sudah tidak lucu lagi. Berang-berang tadi sudah tidak lucu lagi. Semua gara-gara simpanse malang yang diperlakukan dengan kasar. Pada momen paksaan tadi, ketika si pelatih menempeleng kepalanya, simpanse itu dengan spontan (maaf) buang air besar. Semua penonton bisa dengan jelas menyaksikan ada kotoran meluncur keluar dari bagian belakang tubuh hewan itu. Bagaimana hal itu bisa terjadi, saya tidak mengerti. Mungkin hewan itu hendak meledek, atau mungkin dia depresi, saya tidak paham. Kami semua cuma bisa terhenyak kaget. Sepupu-sepupu saya bahkan sampai terbengong-bengong dengan tampang ngeri.

Sejujurnya, saya sendiri juga kurang yakin apakah perlakuan pelatih tadi bisa dikategorikan kasar atau tidak. Kalau tendangan dan tempelengan dianggap sebagai hal yang tidak berperikemanusiaan dalam dunia manusia, mungkin hal tersebut wajar dalam dunia hewan. Entahlah. Saya cuma orang awam yang bahkan tidak menyukai hewan sama sekali. Tapi hati kecil saya yang terdalam mengatakan, perlakuan tadi tidak seharusnya terjadi.

Terus terang, saya jadi penasaran ingin mengetahui bagaimana kehidupan hewan-hewan tersebut di balik panggung. Apakah mereka diperlakukan dengan layak? Entahlah. Yang pasti, saya menyesal sore itu telah mengizinkan sepupu saya yang masih kecil-kecil menyaksikan pertunjukan tersebut.

July 21, 2009

Natural Born EO

Jangan pernah meninggalkan seorang control-freak bersama rundown acara yg belum fix. Ketahuilah bahwa dia adalah seorang EO sejati, yang tidak akan berangkat tidur sebelum memastikan bahwa everything is under control.

July 16, 2009

WHEN SHE'S NOT AROUND

Ibu manajer saya, yang sudah sering saya sebut-sebut namanya dalam beberapa tulisan, kira-kira seminggu yang lalu mendapat musibah. Pada suatu pagi beliau jatuh dari tangga rumahnya, lalu mengalami patah kaki. Waktu beliau mengabari kejadian tersebut, saya tidak pernah mengira hal ini akan jadi begitu berkesan, sehingga kelak saya akan menceritakannya dalam sebuah tulisan.

Karena tulang kakinya retak, Ibu manajer harus dioperasi. Sehari setelah operasi, saya dan beberapa rekan kantor menjenguknya di rumah sakit. Waktu melihat kami datang, beliau langsung tersenyum-senyum ceria seperti biasanya. Beliau duduk di atas tempat tidur, mengenakan baju piyama. Pergelangan kaki kanannya yang diperban tampak bengkak.

Menurut saya, yang sering tidak nyaman melihat perempuan bermake-up tebal, Ibu Manajer kelihatan jauh lebih cantik dari biasanya. Rambutnya tidak kaku seperti kalau beliau sedang di kantor, melainkan tergerai bebas setengah berantakan. Kulit mukanya polos saja, tidak sedikitpun dipoles bedak, malah agak berminyak. Kami mengobrol sambil bercanda, dan beliau tertawa berderai-derai sambil mendekap sebuah guling lusuh yang nampaknya sengaja dibawa dari rumah. Beliau terlihat cantik dan apa adanya.

Setelah operasi, dokter melarang Ibu Manajer untuk masuk kerja dulu. Padahal beliau bilang pada kami, akan segera masuk dua atau tiga hari sesudahnya, diusahakan berjalan menggunakan tongkat atau semacamnya. Namun ternyata beliau disuruh beristirahat dua minggu di rumah. Kami satu departemen repot dan kelabakan, karena waktunya bertepatan dengan waktu closing laporan keuangan.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, saya melakukan rekonsiliasi sendirian tanpa supervisi dari beliau. Meski awalnya kerepotan, pada akhirnya saya ternyata sanggup juga menyelesaikan semuanya. Pada saat itulah saya tersadar, bahwa selama ini rupanya saya sudah begitu dimanja. Selalu diterima dengan tangan terbuka tiap kali menemukan kerumitan. Dan apabila saya telah duduk di hadapan beliau, tidak pernah ada masalah yang tidak selesai. Padahal mungkin kalau saya mau mandiri, tidak perlu sampai beliau turun tangan mengatasi masalah. Mungkin-mungkin saja.

Dan untuk pertama kalinya pula dalam sejarah, Ibu Manajer cuti kerja begitu lama. Padahal kalau sedang berlibur pun, beliau tidak pernah pergi sampai satu minggu. Saat saya menghubungi beliau ke ponselnya untuk menanyakan beberapa hal, nada suaranya yang bersemangat menunjukkan bahwa beliau nampaknya sudah tak sabar untuk kembali ke kantor. Kalau boleh jujur, saya agak merindukan beliau. Yah, berlebihan mungkin, tapi memang begitu adanya.

June 22, 2009

SEMPU TRIP

Weekend yang lalu, saya dan kawan-kawan pergi jalan-jalan ke Malang. Tujuan utamanya sih, pergi ke Pulau Sempu. Kami berangkat naik kereta ekonomi Matarmaja, jurusan Jakarta-Malang, dengan tiket seharga lima puluh dua ribu perak, dari Stasiun Senen.

Keadaan di kereta Matarmaja, ternyata jauh lebih baik dari perkiraan saya. Mungkin karena saya ini adalah tipe orang yang mudah (dan murah) untuk dibuat senang. Atau mungkin karena saat itu belum musim liburan sehingga kereta ekonomi tidak padat seperti gambaran di televisi, pokoknya menurut saya, keadaan di Matarmaja cukup manusiawi. Kecuali toiletnya yang tidak ada air, sehingga kami harus sering-sering membeli air mineral guna keperluan kamar mandi, juga lalu lintas pengamennya yang frekuensinya cukup tinggi, sehingga kami harus banyak-banyak sedia uang receh.

Dan setelah saya pikir-pikir lagi, kereta ekonomi Jakarta-Malang hampir tidak ada bedanya dengan kereta bisnis jurusan Bandung-Jogja yang harga tiketnya seratus sepuluh ribu rupiah. Keadaan toiletnya sama-sama menyedihkan. Hanya bedanya, di kereta bisnis kursinya bisa diputar, dan ada kipas anginnya. Itu saja.

Kami sampai di Malang besok paginya pukul delapan, lalu singgah di rumah seorang kawan, yang lokasinya kira-kira lima belas menit dari stasiun Malang. Dia inilah orangnya yang akan bertindak sebagai local guide, karena sudah pernah pergi ke Sempu sebelumnya. Rencananya, selepas zuhur kami akan berangkat ke Sempu, lalu bermalam di sana. Tapi mendadak, kawan saya punya urusan yang mesti diselesaikan sehingga keberangkatan kami mulur sampai menjelang jam lima sore.

Dari rumah kawan saya, kami bersembilan menyewa mobil menuju Sempu. Kira-kira hampir tiga jam bermobil, menjelang pukul delapan malam kami sampai di Pusat Konservasi Pulau Sempu, yang terletak di pinggir Pantai Sendang Biru. Untuk bisa mencapai pulau, dari sana kami harus menyeberang dengan perahu, tapi sayang, karena tiba terlalu malam, kami tidak diizinkan menyeberang dan harus menunggu sampai besok pagi. Terpaksa kami bermalam dengan mendirikan tenda di pinggir Pantai Sendang Biru.

Besok paginya pukul enam, kami menyeberang dengan perahu. Tidak sampai setengah jam, akhirnya sampai juga kami di Pulau Sempu. Sebelum turun, kami sempat mencatat nomor handphone si bapak penjaga perahu, sambil menitip pesan untuk minta dijemput sore sekitar pukul empat. Dari sana, kami masih harus berjalan kaki sekitar tiga jam menyusur hutan untuk sampai di puncak perjalanan ini: pantai yang konon sama cantiknya dengan pantai di film The Beach.

Memasuki hutan, sinyal handphone sudah tidak tertangkap. Kami benar-benar putus hubungan dengan dunia luar. Beberapa kilometer pertama, jalur trekking masih kering dan datar, tapi selanjutnya, karena tadi malam turun hujan, jalur tersebut makin becek dan licin, juga mulai berbukit-bukit. Bagi saya yang tergolong baru untuk kegiatan semacam ini, medan yang kami tempuh rasanya berat sekali. Belum lagi banyak batu besar dan tajam, juga batang pohon besar yang merintangi. Sementara, saya hanya bermodalkan sendal sepatu, yang meskipun jauh lebih aman ketimbang kawan saya yang cuma bersendal jepit, tetap tidak memadai untuk medan seberat itu.

Saking licinnya tanah yang kami lalui, kawan saya perempuan berkali-kali jatuh terjerembab, sehingga kakinya terkilir. Otomatis, kecepatan kami jadi melambat. Walaupun sangat bersemangat, terus terang perjalanan menyusur hutan itu bagi saya seperti berhari-hari lamanya. Setiap memandang jauh ke depan, rasanya jalan itu tak ada habis-habisnya. Kalau bukan karena bayangan tentang pantai indah yang akan kami temui, rasanya saya sudah kepingin menyerah.

Untungnya, perjalanan itu berhasil kami lalui tanpa hambatan yang berarti. Satu-satunya hal yang menyiutkan nyali saya adalah ketika hampir mencapai pantai, jalan berubah jadi menanjak, dengan lebar yang cuma bisa dilalui oleh satu orang, sementara di pinggirnya terbentang pemandangan air laut dan batu karang. Saya yang fobia pada ketinggian seketika panik dan ketakutan setengah mati, lantas cuma berani berjalan sambil merangkak.

Syukurlah tanjakan itu hanya beberapa meter saja. Pukul sepuluh kami sampai di tempat tujuan. Terbentang di hadapan saya pantai paling cantik yang pernah saya lihat. Airnya biru kehijauan, pasirnya putih. Di sekelilingnya penuh dengan pepohonan dan batu karang. Sementara jauh di sisi kiri seberang, ada air terjun kecil yang tiap beberapa menit sekali mendeburkan ombak dari balik karangnya.

Yang lebih menyenangkan, pantai itu amat sunyi sebab jauh dari keramaian. Kami tidak perlu membaginya dengan siapa-siapa, kecuali beberapa kelompok backpackers yang telah terlebih dulu bermalam di sana, dan mendirikan beberapa tenda. Di pulau yang sepi itu kami tidak mendengar suara apapun kecuali bunyi air, sehingga rasanya persis seperti berada di pulau pribadi.

Sekitar pukul dua kami memutuskan pulang, dan keluar dari pantai. Diharapkan, sebelum gelap kami sudah sampai di pinggir pulau, dan menyeberang dengan perahu yang tadi. Namun rupanya, jalan yang sebelumnya kami lalui, semakin bertambah-tambah licin. Kawan saya yang sudah sering naik gunung saja sampai mengakui, bahwa medan yang kami lalui itu sangat berat. Menurut teori, perjalanan pulang akan lebih mudah ketimbang waktu berangkat. Tapi kenyataannya, malah sebaliknya. Mungkin karena kami semua sudah kelelahan, berkali-kali salah satu dari kami jatuh tergelincir. Terutama kawan saya perempuan yang sejak berangkat sudah terkilir kakinya, kondisinya semakin memburuk sehingga dia harus dipapah.

Sementara saya, sejak awal kami keluar dari pantai, terus terang sudah jatuh mental. Medan yang memburuk itu membuat saya putus asa. Terbayang oleh saya perjalanan maha panjang yang sekali lagi akan kami lalui. Dalam keadaan stres dan lelah, saya jadi tidak fokus, sehingga berkali-kali tergelincir ke dalam kubangan lumpur. Tapi entah bagaimana caranya, setelah setengah jam pertama, kekuatan saya muncul kembali, dan saya jadi sangat bersemangat seperti waktu berangkat tadi.

Tanpa terasa, kami sudah berjalan berjam-jam dan langit di atas kepala mulai gelap. Waktu saya lihat jam tangan, rupanya sudah pukul setengah enam, dan sialnya, kami rupanya berjalan terpisah. Ada lima orang yang sudah menghilang terlebih dulu di depan. Sementara saya, berjalan dalam rombongan sisanya, termasuk di dalamnya kawan yang kakinya terkilir.

Dalam keadaan gelap menjelang magrib, saya mulai panik, namun tidak tega mengutarakannya pada kawan yang lain, sebab dari raut wajahnya, saya tahu mereka juga merasakan hal yang sama. Untungnya, tak lama berselang kami mendengar teriakan salah satu kawan dari rombongan depan, yang rupanya juga baru menyadari kalau kami semua sudah saling terpisah jauh. Lewat teriakan, rombongan depan mengatakan bahwa mereka akan berhenti berjalan, dan menunggu kami.

Ketika akhirnya kami semua telah saling berkumpul, hutan Sempu sudah benar-benar gelap. Celakanya, kawan saya yang laki-laki tidak sengaja meninggalkan senter di dalam mobil. Untungnya, seorang kawan membawa satu lampu darurat di dalam tasnya. Berbekal hanya sebuah lampu yang penerangannya tidak memadai, kami berjalan beriringan di dalam kegelapan hutan. Sementara jalur yang kami lalui, semakin sulit untuk ditempuh.

Karena tidak berani mengambil resiko terperosok dalam lubang, kami berjalan perlahan-lahan sambil terseok-seok. Hampir seluruh pakaian kami habis terbenam di tanah berlumpur. Keadaan saat itu, sungguh mengerikan sekali. Beberapa dari kami terlalu ketakutan untuk bisa bicara. Sebagian lagi, tak henti-henti menyebut nama Tuhan dengan paniknya.

Perjalanan dalam kegelapan itu rasanya seperti selamanya. Sempat terpikir oleh saya, bahwa kami semua mungkin tidak akan selamat. Kami mungkin akan mati diterkam binatang buas, mati tersasar, atau mati kelaparan. Terbayang oleh saya, besok pagi kami akan diberitakan, seperti berita hilangnya kelompok pendaki gunung yang pernah saya baca di koran-koran.

Tapi benar-benar ajaib, pada akhirnya segala ketakutan saya itu cuma ada di dalam hati. Selebihnya, saya ternyata sanggup menguasai diri. Padahal beberapa kawan, mentalnya sudah sangat down. Saya yang cengeng ini, ternyata sanggup tidak menangis. Saya juga berhasil mengabaikan segala nyeri di paha dan pergelangan kaki, yang sakitnya sungguh menyiksa. Saya bahkan berjalan tepat di belakang kawan laki-laki yang membawa lampu, lalu membantu yang lain menunjukkan jalan yang aman untuk dilalui. Entahlah, ada keinginan kuat di dalam diri saya untuk bisa bertahan hidup.

Berjam-jam kami dengan tabah menyusur jalanan yang licin. Akhirnya, pada suatu titik, kawan laki-laki yang berjalan paling depan menyatakan dengan girang bahwa kami telah sampai di bibir pantai. Katanya dia telah melihat air dan batu karang. Tapi beberapa detik kemudian dia berseru lagi, ternyata yang dilihatnya cuma batu dan batang pohon. Mungkin kawan saya itu berhalusinasi saking depresinya. Yang pasti, kekhilafan yang sempat membuat saya penuh harap itu rasanya amat menyakitkan. Dalam hati, saya kecewa dan sangat frustasi.

Namun entah bagaimana caranya, sekitar jam delapan malam, akhirnya kami sampai juga di bibir pantai. Sebelumnya saya tidak berani berharap lagi sampai melihat pemandangan air dengan mata kepala sendiri. Tapi ternyata, kami memang benar-benar sudah sampai. Yang paling membuat saya bersyukur adalah, bapak tukang perahu yang tadi mengantar kami, masih saja setia menunggu dari jam empat sore. Beliau menyambut kami dengan omelan, mungkin karena panik dan lelah menunggu. Ketika telah naik di atas perahu, hanya sedikit dari kami yang sanggup buka suara. Selebihnya cuma bisa terdiam. Mungkin masih shock. Mungkin juga karena disiram kelegaan yang terlalu, sehingga tidak sanggup berkata-kata.

Pulang ke Jakarta, saya membawa banyak oleh-oleh pelajaran berharga. Pengalaman di Pulau Sempu mengajarkan pada saya, bahwa alam liar ternyata kejam tak kenal ampun. Lebih kejam dari kemacetan Jakarta. Lebih kejam dari putus cinta. Bersombong diri, tak ada gunanya sama sekali. Tanpa persiapan dan bekal yang cukup, manusia hanya akan mati konyol di dalamnya. Dan bahwa kesetiaan dan kebersamaan, adalah syarat mutlak untuk dapat menaklukkannya.

Alam liar juga diam-diam memberi tahu saya, tentang sifat asli manusia yang secara alamiah akan muncul, apabila berada dalam keadaan terdesak. Yang mana yang tangguh, yang mana yang sabar, yang mana yang berjiwa pemimpin, dan sebagainya. Jauh di atas segalanya, alam liar telah mengajak saya untuk mengenal lebih jauh ke dalam diri saya sendiri, bahwa ternyata, saya tidak selemah yang selama ini saya bayangkan.

June 20, 2009

CATATAN PERJALANAN

Sejak dari dulu, setiap habis jalan-jalan ke luar kota, saya tidak pernah punya niat untuk membuat semacam catatan perjalanan. Kalaupun setelahnya saya membuat tulisan, pasti cuma mengangkat sisi perasaan saya akan kesan-kesan perjalanan tersebut. Menurut saya, catatan semacam itu rasanya kurang berguna, karena toh hampir semua orang pernah pergi ke Bandung, atau Jogja, misalnya.

Tapi semenjak ’mengenal’ Mbak Trinity, pikiran saya berubah sama sekali. Setelah membaca The Naked Traveler sampai habis, saya baru tersadar, catatan perjalanan itu bukan hanya tentang pergi ke Bandung, atau Jogja, misalnya, melainkan tentang pengalaman setiap orang yang masing-masing berbeda, meski tempat tujuannya sama. Betapa catatan itu amat berguna buat para pembacanya.

Namun, diam-diam, saya agak khawatir juga, karena kesuksesan catatan yang dibuat oleh Mbak Trinity, sangat dipengaruhi oleh gaya bertuturnya yang singkat namun padat. Sementara saya, seisi dunia juga tahu kalau saya ini paling ahli membuat tulisan yang berbelit-belit. Belum lagi gaya bahasa saya yang sentimentil nan sok puitis, wah, bisa-bisa butuh dua halaman sendiri untuk membahas keindahan sebuah kota yang saya datangi.

Tapi, yah, tentu semuanya harus dicoba. Entah bagaimana jadinya catatan perjalanan saya nanti, pokoknya saya berusaha supaya isinya informatif, sebab andaikata tulisan saya ini adalah seorang wanita, tentu akan sangat disayangkan apabila dia cuma sekedar cantik (setidaknya menurut saya, cantik itu kan relatif, haha), tapi tidak berisi, ya kan?

June 08, 2009

KADANG-KADANG, HIDUP ITU KEJAM

Belakangan ini, saya lagi banyak pikiran. Isinya, ya, tidak lain tidak bukan masalah kerjaan. Rekonsiliasi saya kusut dan acak-acakan, meski sudah jutaan kali saya telusuri angka-angka itu supaya bisa beres.

Puncak kekesalan saya, adalah hari senin kemarin. Berhari-hari lembur dan pulang malam, saya lelah dan frustasi. Seharian saya uring-uringan. Akhirnya, saya memutuskan pulang on time dan melupakan semuanya. Sayang, pak bos sedang ada acara, jadi saya tidak bisa nebeng seperti biasa.

Karena sedang bad mood, saya malas naik patas yang penuh, sehingga memutuskan balik arah ke Blok M demi sebuah kursi kosong. Karena baru saja hujan deras, jalanan seratus kali lipat lebih macet daripada biasanya. Hampir satu jam saya akhirnya sampai di Blok M.

Lalu, duduklah saya dengan manis di patas yang masih kosong melompong, di bawah AC yang sejuk, di pinggir jendela yang banyak pemandangan. Ketika baru mau memejamkan mata, datang penumpang baru dan duduk di sebelah saya. Sialnya, mas yang baru datang itu ukuran tubuhnya luar biasa besar. Jadi lengan saya sedikit tergencet tubuhnya yang berat. Yah, maksud hati mau duduk tenang, saya malah jadi kesal.

Tidak berapa lama, keadaan bertambah buruk lagi. Mas di sebelah saya itu tidur nyenyak, sambil mengorok! Saya yang seharian sudah frustasi, tambah frustasi. Apalagi di luar sana macetnya gila-gilaan, sehingga patas yang saya tumpangi cuma bisa bergerak seperti siput.

Duh, rasanya saya mau teriak-teriak memaki si mas itu sepuas hati, saking kesalnya. Atau malah ditambah dengan membenturkan kepala ke tembok, biar dramatis. Tapi apa daya, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Cuma bisa duduk memajukan badan, sambil berpikir bahwa hidup itu kadang memang sempurna. Sempurna kejamnya!