Betapa pun Ayah tidak suka berlama-lama meninggalkan rumah, pada suatu hari beliau mendapat tugas dinas yang cukup jauh. Perginya bukan sekedar satu atau dua minggu, melainkan 70 hari. Tapi kami sekeluarga malahan menyambut gembira tugas dinas itu, karena Ayah bisa sekaligus beribadah di tempat dinasnya tersebut.
Demikianlah akhirnya Ayah berangkat meninggalkan rumah pada akhir Oktober yang hujan. Kami sekeluarga melepasnya dengan beribu doa agar beliau dapat melaksanakan tugas dengan baik, dan agar dapat kembali pulang dengan selamat.
Selama kepergian Ayah ke tempat yang jauh itu, jujur saja, suasana di rumah sepi dan muram. Pelan-pelan terasa, bahwa ketidakhadiran beliau menghadirkan dunia yang sama sekali berbeda bagi kami semua. Hingga hal-hal detil dalam hidup, kami terbiasa diurusi dan diperhatikan oleh beliau. Kalau Ayah sedang di rumah, kami jarang mau repot-repot mengecek kunci pagar dan pintu, karena kami tahu beliau akan melakukannya, sehingga kami langsung saja berangkat tidur dengan perasaan aman. Setiap jam makan siang, Ayah terbiasa menghubungi kami satu persatu dari kantornya, sekedar untuk menanyakan apa yang sedang kami lakukan. Jika malam hari kami tiba-tiba kepingin makan sesuatu, Ayah biasanya rela keluar rumah membelikan penganan yang kami inginkan. Ayah bahkan pernah menghubungi saya pada jam pulang kantor sekedar untuk mengingatkan agar saya mampir dulu di toilet sebelum pulang, karena kalau jalanan macet dan saya terpaksa terjebak di dalam bis kota, saya tidak perlu takut kepingin pipis. Begitulah kami: Ibu, saya, dan adik-adik. Semuanya serba Ayah. Betapa hidup kami sangat bergantung pada beliau.
Dan ketika Ayah tidak di rumah, semua hal tiba-tiba berubah. Saya jadi sering berangkat tidur dengan perasaan gelisah dan tidak aman. Saya jadi sering berangkat kerja dengan perasaan berat karena harus meninggalkan Ibu yang sendirian di rumah. Saya harus bisa menemani Ibu pergi ke undangan pernikahan tetangga. Saya harus bisa mengurusi selang air di halaman. Saya harus bisa mengurusi anak kunci yang hilang dan pergi membuat duplikat gantinya. Saya harus bisa mengurusi pembayaran tagihan telepon, tagihan listrik, dan tagihan air. Saya bahkan harus janjian dengan adik-adik kalau mau lembur bekerja, karena kalau kami pulang malam beramai-ramai sekaligus, Ibu akan tinggal sendirian di rumah, dan saya sangat menghindari itu.
Tentu saja kehadiran Ayah di rumah bukan hanya sebagai laki-laki yang mengurusi selang air, atau membelikan kami jajan di malam hari. Keberadaan beliau yang maknanya dalam bagi kami semua, sulit saya ungkapkan dengan kata-kata. Rasanya tak tersentuh bahasa. Yang pasti, tanpa kehadiran beliau kami persis anak ayam yang kehilangan induk, tak terkecuali Ibu. Tanpa Ayah, kami laksana orang yang berjalan pincang.
Akhirnya, mau tidak mau, ketidakhadiran beliau membuat saya banyak berpikir. Cepat atau lambat, saya harus siap menghadapi kehilangan yang sesungguhnya. Betapa pun selepas shalat saya selalu berdoa supaya Ayah dan Ibu dipanjangkan usianya, toh beliau berdua tidak akan hidup selamanya. Saya sering menggigil memikirkan kemungkinan itu, tapi suka atau tidak, hal itu pasti akan terjadi.
Namun di atas segalanya, di atas ketakutan apabila harus kehilangan suatu hari nanti, adalah keinginan saya untuk membahagiakan beliau berdua. Ayah dan Ibu tidak akan hidup selamanya. Apa yang bisa saya lakukan hari ini untuk membahagiakan beliau berdua, akan saya lakukan.
Sekarang, sambil menanti Ayah pulang, saya akan belajar menggulung selang air di halaman, serapih mungkin, dan tanpa banyak mengeluh.
Desember 2008
December 09, 2008
December 05, 2008
CINTA INI TERLALU TUA BAGI HATIKU*
Cinta ini terlalu tua bagi hatiku.
Bertahun-tahun sudah dia hidup di dalamnya.
Dari semula kecil dan egois, hingga menjelma cinta yang tumbuh dewasa.
Jadi kurasa kini dia boleh pergi mengembara.
Namun rupanya cinta ini tidak mau beranjak.
Masih mau menetap nyaman, padahal dia sudah terlalu tua bagi hatiku.
Nampaknya baginya hatiku adalah rumah tempatnya berteduh.
Nampaknya baginya hatiku adalah Ibu tempatnya mengadu.
Dan diam-diam, aku setuju.
Desember 2008
*Diambil dari kalimat dalam cerpen Dewi Lestari: Curhat Buat Sahabat
Bertahun-tahun sudah dia hidup di dalamnya.
Dari semula kecil dan egois, hingga menjelma cinta yang tumbuh dewasa.
Jadi kurasa kini dia boleh pergi mengembara.
Namun rupanya cinta ini tidak mau beranjak.
Masih mau menetap nyaman, padahal dia sudah terlalu tua bagi hatiku.
Nampaknya baginya hatiku adalah rumah tempatnya berteduh.
Nampaknya baginya hatiku adalah Ibu tempatnya mengadu.
Dan diam-diam, aku setuju.
Desember 2008
*Diambil dari kalimat dalam cerpen Dewi Lestari: Curhat Buat Sahabat
Labels:
poem
November 23, 2008
I WISH I COULD STAY HOME WITH YOU
Andaikata bisa, masih ingin aku tinggal di rumah bersamamu.
Kita akan menikmati pagi sambil duduk di depan televisi, menyaksikan acara kesukaanmu yang menayangkan hijaunya pemandangan sawah, atau birunya laut entah di mana itu, sambil berharap suatu hari nanti kita bisa mengunjunginya.
Sehabis makan siang, kita akan menikmati sepoi angin di teras loteng. Seperti biasa, kau boleh membaringkan kepalamu di atas pangkuanku, lalu aku akan mulai mencabuti satu-persatu rambut yang memutih di kepalamu. Dan seperti biasanya pula, kau akan jatuh tertidur sampai tiba waktunya masjid di seberang rumah kita mengumandangkan adzan ashar.
Sambil menunggu kau terbangun, mungkin aku akan bisa membuatkan sepiring Indomie rebus untukmu. Dengan sedikit kuah, dengan sedikit cabai, dan harus dicampur dengan sebutir telur — seperti biasanya. Lalu akan kupandangi engkau dengan gembira sekaligus malu, saat sedang kau nikmati piring itu. Gembira karena masih bisa kubuatkan sepiring Indomie kesukaanmu. Malu karena ternyata aku memang cuma bisa masak Indomie.
Atau jika tak dapat kulakukan semua itu, cukuplah aku sekedar berada di rumah bersamamu. Mungkin untuk berlari mendahului langkahmu yang terpaksa harus berhenti memasak apabila dering telepon rumah berbunyi. Mungkin untuk membantumu menemukan di mana kacamatamu berada, karena kau selalu saja lupa tempat terakhir kau meletakkannya. Mungkin untuk membawakan buku dzikir dan doamu ke pangkuanmu, karena setiap selepas shalat kau selalu membutuhkannya. Mungkin sekedar untuk membuatmu tidak merasa kesepian, karena Ayah saat ini sedang berada jauh dari rumah.
Namun sayang sekali, hari ini senin pagi, dan aku harus pergi. Ada setumpuk pekerjaan menantiku di luar sana. Tapi aku janji, tidak akan terlambat pulang ke rumah. Sampai jumpa nanti malam.
November 2008
Kita akan menikmati pagi sambil duduk di depan televisi, menyaksikan acara kesukaanmu yang menayangkan hijaunya pemandangan sawah, atau birunya laut entah di mana itu, sambil berharap suatu hari nanti kita bisa mengunjunginya.
Sehabis makan siang, kita akan menikmati sepoi angin di teras loteng. Seperti biasa, kau boleh membaringkan kepalamu di atas pangkuanku, lalu aku akan mulai mencabuti satu-persatu rambut yang memutih di kepalamu. Dan seperti biasanya pula, kau akan jatuh tertidur sampai tiba waktunya masjid di seberang rumah kita mengumandangkan adzan ashar.
Sambil menunggu kau terbangun, mungkin aku akan bisa membuatkan sepiring Indomie rebus untukmu. Dengan sedikit kuah, dengan sedikit cabai, dan harus dicampur dengan sebutir telur — seperti biasanya. Lalu akan kupandangi engkau dengan gembira sekaligus malu, saat sedang kau nikmati piring itu. Gembira karena masih bisa kubuatkan sepiring Indomie kesukaanmu. Malu karena ternyata aku memang cuma bisa masak Indomie.
Atau jika tak dapat kulakukan semua itu, cukuplah aku sekedar berada di rumah bersamamu. Mungkin untuk berlari mendahului langkahmu yang terpaksa harus berhenti memasak apabila dering telepon rumah berbunyi. Mungkin untuk membantumu menemukan di mana kacamatamu berada, karena kau selalu saja lupa tempat terakhir kau meletakkannya. Mungkin untuk membawakan buku dzikir dan doamu ke pangkuanmu, karena setiap selepas shalat kau selalu membutuhkannya. Mungkin sekedar untuk membuatmu tidak merasa kesepian, karena Ayah saat ini sedang berada jauh dari rumah.
Namun sayang sekali, hari ini senin pagi, dan aku harus pergi. Ada setumpuk pekerjaan menantiku di luar sana. Tapi aku janji, tidak akan terlambat pulang ke rumah. Sampai jumpa nanti malam.
November 2008
Labels:
poem
November 19, 2008
HORRIBLE MARRIAGE-THINGS
Hari itu saya malas makan siang di luar kantor, jadi memutuskan pesan makanan saja. Waktu saya masuk ke ruang pantry, di sana sudah ada Pak Manajer Operasional dan Mbak Asmen. Tidak berapa lama, masuk pula Ibu Personalia.
Pak Manajer nampak asyik mengobrol dengan Mbak Asmen. Mereka membahas tentang keponakan Pak Manajer yang kabarnya manja setengah mati, sehingga membuat repot keluarganya. Sementara saya dan Ibu Personalia, terlalu asyik menikmati makanan masing-masing sehingga memilih diam saja.
Pak Manajer bilang, perlu ada perubahan cara didik orang tua terhadap anak, sehingga anak tidak tumbuh sebagai pribadi yang manja. Lalu dia menambahkan, selain terhadap anak-anaknya, sikap disiplin juga dia berlakukan pada istrinya.
“…, klo saya sih di rumah, disiplin banget. Klo anak atau istri bandel, langsung saya kerasin, klo mereka ngancem kabur dari rumah, malah langsung saya tantangin, saya kasihin aja koper ama bajunya sekalian, klo gak digituin, nanti pada manja” ujar Pak Manajer dengan gayanya yang ceplas-ceplos seperti biasa.
Mendengar itu, Mbak Asmen yang tengah hamil tua, langsung protes.
“Kok gitu sih, Pak? istri kan harusnya disayang, masa diusir, sih?”
“Lho, kata siapa suami harus sayang istri? sekarang ini jamannya istri yang sayang suami,…” bantah Pak Manajer. Mengenai kalimatnya yang satu ini, saya sudah hafal benar. Setiap ada kesempatan yang berkaitan dengan tema itu, Pak Manajer selalu mengucapkan kalimat yang sama. Menurut dugaan saya, istri Pak Manajer adalah tipikal istri pembangkang, dan hubungan mereka nampaknya tidak harmonis.
“Ya saling menyayangi dong, Pak, jangan cuma satu pihak aja” Mbak Asmen menyahut. Dalam hati, tentu saja saya setuju dengan Mbak Asmen. Kalimat Pak Manajer itu saya rasa timbul sebagai akibat dari rumah tangganya yang kurang harmonis.
“Coba buktinya kamu liat, dulu waktu jaman pacaran laki-laki kan baik banget, sekarang udah nikah, langsung cuek, langsung gampang marah. Makanya saya bilang, laki-laki sayang sama perempuan itu lagu lama, sekarang jamannya istri sayang sama suami,…”
“Ah, suami saya gak gitu kok,..” Mbak Asmen menyahut lagi.
“Ya kamu kan nikahnya baru, belom terlalu keliatan, nanti lama-lama juga kamu percaya omongan saya, iya gak Bu?” Pak Manajer langsung melihat ke arah Ibu Personalia, meminta dukungan.
Di luar dugaan, walaupun sambil berusaha tidak kelihatan memihak, Ibu Personalia mengamini ucapan Pak Manajer.
“Iya sih Pak,…” ujarnya malu-malu.
“Suami saya juga klo lagi jemput, gak sabaran dia nunggu di bawah, kesel melulu, padahal waktu pacaran, baeknya minta ampun,…” lanjutnya kemudian.
“Nah, apa saya bilang! kamu denger sendiri tuh pengakuan yang udah nikah bertahun-tahun,…” Pak Manajer kontan puas mendengar pengakuan Ibu Personalia. Sementara Mbak Asmen cuma bisa tersenyum. Perdebatan itu akhirnya selesai sudah. Tidak lama, Pak Manajer dan Mbak Asmen berlalu meninggalkan ruang pantry.
Namun rupanya, semua itu belum selesai untuk Ibu Personalia.
“…, ya gitu deh, Ratna. Saya kadang-kadang juga kesel sendiri ama suami, tapi seringnya sih saya yang ngalah” sambungnya sambil menyeringai ke arah saya. Sebenarnya saya agak risih mendengar cerita Ibu Personalia, tapi demi kesopanan, saya dengarkan saja keluh-kesahnya.
“Gitu Rat klo udah berkeluarga, gak boleh cepet emosi, klo salah satu kesel, yang lain harus ngalah. Saya aja klo udah bete, diem aja. Klo sayanya ikutan kesel, wah, bisa ribut nanti, Ratna,..” Ibu Personalia masih belum puas menyiksa saya, kata-katanya mengalir begitu saja, seakan dia telah menanti lama untuk momen curhat macam begini.
Atas kejujurannya, sebenarnya Ibu Personalia pantas diacungi jempol, tapi terus terang, saya agak terguncang mendengarnya. Selama ini saya tidak pernah percaya pada segala macam pendapat minor Pak Manajer tentang hubungan antar suami istri, tapi kali ini, saya jadi cukup terpengaruh.
Ibu Personalia di mata saya, adalah perempuan yang kelihatannya bebas masalah rumah tangga. Suaminya adalah seorang manajer perusahaan telekomunikasi yang kelihatan ‘waras’ dan terpelajar, dan mereka punya satu anak balita yang sedang lucu-lucunya. Tak pernah terbayangkan oleh saya, pada suatu siang di ruang pantry, Ibu Personalia akan mengeluhkan masalah rumah tangganya. Terlebih lagi, dalam kapasitasnya sebagai perwakilan dari manajemen kantor, Ibu Personalia biasanya cenderung menutup diri dan menjaga jarak terhadap kami para karyawan.
“Apalagi saya nikah gak cuma sama dia, istilahnya ya saya nikah sama keluarga besarnya. Makanya nanti klo Ratna punya calon suami, diperhatikan baik-baik soal keluarganya juga, gimana sifat Ayahnya, gimana Ibunya, gimana adik-adiknya,…” lanjut Ibu Personalia, membuat saya langsung teringat pada beberapa teman yang diperlakukan dengan tidak semestinya oleh pasangannya, atau yang hubungannya tidak harmonis dengan keluarga pasangannya.
Akhirnya saya tidak tahan lagi. Saya benci cerita-cerita tidak sedap mengenai pernikahan. Saya muak pada oknum-oknum yang merusak nama baik pernikahan. Saya ingin selalu percaya bahwa pernikahan, walaupun tidak sempurna, indah apa adanya. Sambil meminta maaf, saya bilang saja saya harus segera kembali ke ruangan. Dengan sangat terpaksa, saya hentikan keluh-kesah itu.
Pak Manajer nampak asyik mengobrol dengan Mbak Asmen. Mereka membahas tentang keponakan Pak Manajer yang kabarnya manja setengah mati, sehingga membuat repot keluarganya. Sementara saya dan Ibu Personalia, terlalu asyik menikmati makanan masing-masing sehingga memilih diam saja.
Pak Manajer bilang, perlu ada perubahan cara didik orang tua terhadap anak, sehingga anak tidak tumbuh sebagai pribadi yang manja. Lalu dia menambahkan, selain terhadap anak-anaknya, sikap disiplin juga dia berlakukan pada istrinya.
“…, klo saya sih di rumah, disiplin banget. Klo anak atau istri bandel, langsung saya kerasin, klo mereka ngancem kabur dari rumah, malah langsung saya tantangin, saya kasihin aja koper ama bajunya sekalian, klo gak digituin, nanti pada manja” ujar Pak Manajer dengan gayanya yang ceplas-ceplos seperti biasa.
Mendengar itu, Mbak Asmen yang tengah hamil tua, langsung protes.
“Kok gitu sih, Pak? istri kan harusnya disayang, masa diusir, sih?”
“Lho, kata siapa suami harus sayang istri? sekarang ini jamannya istri yang sayang suami,…” bantah Pak Manajer. Mengenai kalimatnya yang satu ini, saya sudah hafal benar. Setiap ada kesempatan yang berkaitan dengan tema itu, Pak Manajer selalu mengucapkan kalimat yang sama. Menurut dugaan saya, istri Pak Manajer adalah tipikal istri pembangkang, dan hubungan mereka nampaknya tidak harmonis.
“Ya saling menyayangi dong, Pak, jangan cuma satu pihak aja” Mbak Asmen menyahut. Dalam hati, tentu saja saya setuju dengan Mbak Asmen. Kalimat Pak Manajer itu saya rasa timbul sebagai akibat dari rumah tangganya yang kurang harmonis.
“Coba buktinya kamu liat, dulu waktu jaman pacaran laki-laki kan baik banget, sekarang udah nikah, langsung cuek, langsung gampang marah. Makanya saya bilang, laki-laki sayang sama perempuan itu lagu lama, sekarang jamannya istri sayang sama suami,…”
“Ah, suami saya gak gitu kok,..” Mbak Asmen menyahut lagi.
“Ya kamu kan nikahnya baru, belom terlalu keliatan, nanti lama-lama juga kamu percaya omongan saya, iya gak Bu?” Pak Manajer langsung melihat ke arah Ibu Personalia, meminta dukungan.
Di luar dugaan, walaupun sambil berusaha tidak kelihatan memihak, Ibu Personalia mengamini ucapan Pak Manajer.
“Iya sih Pak,…” ujarnya malu-malu.
“Suami saya juga klo lagi jemput, gak sabaran dia nunggu di bawah, kesel melulu, padahal waktu pacaran, baeknya minta ampun,…” lanjutnya kemudian.
“Nah, apa saya bilang! kamu denger sendiri tuh pengakuan yang udah nikah bertahun-tahun,…” Pak Manajer kontan puas mendengar pengakuan Ibu Personalia. Sementara Mbak Asmen cuma bisa tersenyum. Perdebatan itu akhirnya selesai sudah. Tidak lama, Pak Manajer dan Mbak Asmen berlalu meninggalkan ruang pantry.
Namun rupanya, semua itu belum selesai untuk Ibu Personalia.
“…, ya gitu deh, Ratna. Saya kadang-kadang juga kesel sendiri ama suami, tapi seringnya sih saya yang ngalah” sambungnya sambil menyeringai ke arah saya. Sebenarnya saya agak risih mendengar cerita Ibu Personalia, tapi demi kesopanan, saya dengarkan saja keluh-kesahnya.
“Gitu Rat klo udah berkeluarga, gak boleh cepet emosi, klo salah satu kesel, yang lain harus ngalah. Saya aja klo udah bete, diem aja. Klo sayanya ikutan kesel, wah, bisa ribut nanti, Ratna,..” Ibu Personalia masih belum puas menyiksa saya, kata-katanya mengalir begitu saja, seakan dia telah menanti lama untuk momen curhat macam begini.
Atas kejujurannya, sebenarnya Ibu Personalia pantas diacungi jempol, tapi terus terang, saya agak terguncang mendengarnya. Selama ini saya tidak pernah percaya pada segala macam pendapat minor Pak Manajer tentang hubungan antar suami istri, tapi kali ini, saya jadi cukup terpengaruh.
Ibu Personalia di mata saya, adalah perempuan yang kelihatannya bebas masalah rumah tangga. Suaminya adalah seorang manajer perusahaan telekomunikasi yang kelihatan ‘waras’ dan terpelajar, dan mereka punya satu anak balita yang sedang lucu-lucunya. Tak pernah terbayangkan oleh saya, pada suatu siang di ruang pantry, Ibu Personalia akan mengeluhkan masalah rumah tangganya. Terlebih lagi, dalam kapasitasnya sebagai perwakilan dari manajemen kantor, Ibu Personalia biasanya cenderung menutup diri dan menjaga jarak terhadap kami para karyawan.
“Apalagi saya nikah gak cuma sama dia, istilahnya ya saya nikah sama keluarga besarnya. Makanya nanti klo Ratna punya calon suami, diperhatikan baik-baik soal keluarganya juga, gimana sifat Ayahnya, gimana Ibunya, gimana adik-adiknya,…” lanjut Ibu Personalia, membuat saya langsung teringat pada beberapa teman yang diperlakukan dengan tidak semestinya oleh pasangannya, atau yang hubungannya tidak harmonis dengan keluarga pasangannya.
Akhirnya saya tidak tahan lagi. Saya benci cerita-cerita tidak sedap mengenai pernikahan. Saya muak pada oknum-oknum yang merusak nama baik pernikahan. Saya ingin selalu percaya bahwa pernikahan, walaupun tidak sempurna, indah apa adanya. Sambil meminta maaf, saya bilang saja saya harus segera kembali ke ruangan. Dengan sangat terpaksa, saya hentikan keluh-kesah itu.
Labels:
an unquiet mind
November 13, 2008
BABY’S WAY
Rabindranath Tagore
If baby wanted to, he could fly up to heaven this moment.
It is not for nothing that he does not leave us.
He loves to rest his head on mother’s bosom, and cannot ever bear to lose sight of her.
Baby knows all manner of wise words, though few on earth can understand their meaning.
It is not for nothing that he never wants to speak.
The one thing he wants is to learn mother’s words from mother’s lips.
That is why he looks so innocent.
Baby had a heap of gold and pearls, yet he came like a beggar on to this earth.
It is not for nothing he came in such a disguise.
This dear little naked mendicant pretends to be utterly helpless, so that he may beg for mother’s wealth of love.
Baby was so free from every tie in the land of the tiny crescent moon.
It was not for nothing he gave up his freedom.
He knows that there is room for endless joy in mother’s little corner of a heart, and it is sweeter far than liberty to be caught and pressed in her dear arms.
Baby never knew how to cry.
He dwelt in the land of perfect bliss.
It is not for nothing he has chosen to shed tears.
Though with the smile of his dear face he draws mother’s yearning heart to him, yet his little cries over tiny troubles weave the double bond of pity and love.
(one of the most beautiful poems I have ever seen in my life)
If baby wanted to, he could fly up to heaven this moment.
It is not for nothing that he does not leave us.
He loves to rest his head on mother’s bosom, and cannot ever bear to lose sight of her.
Baby knows all manner of wise words, though few on earth can understand their meaning.
It is not for nothing that he never wants to speak.
The one thing he wants is to learn mother’s words from mother’s lips.
That is why he looks so innocent.
Baby had a heap of gold and pearls, yet he came like a beggar on to this earth.
It is not for nothing he came in such a disguise.
This dear little naked mendicant pretends to be utterly helpless, so that he may beg for mother’s wealth of love.
Baby was so free from every tie in the land of the tiny crescent moon.
It was not for nothing he gave up his freedom.
He knows that there is room for endless joy in mother’s little corner of a heart, and it is sweeter far than liberty to be caught and pressed in her dear arms.
Baby never knew how to cry.
He dwelt in the land of perfect bliss.
It is not for nothing he has chosen to shed tears.
Though with the smile of his dear face he draws mother’s yearning heart to him, yet his little cries over tiny troubles weave the double bond of pity and love.
(one of the most beautiful poems I have ever seen in my life)
Labels:
poem
November 10, 2008
23 CARDS OF WEDDING INVITATION
(mengenang pernikahan Ika: 8 November 2008)
Tahun pernikahan belum berakhir. Setelah Idul Fitri usai, akhir pekan saya kembali padat dengan jadwal menghadiri undangan pernikahan, terus hingga akhir tahun. Dan seperti sebelumnya, saya kembali dipercaya untuk membagikan undangan pernikahan. Kali ini lebih serius. Bukan cuma sekedar kabar lewat email atau sms, melainkan 23 buah kartu undangan yang harus segera berada di tangan penerimanya, dalam waktu kurang dari satu minggu.
Terus terang, pada saat menerima tugas itu, sebenarnya saya cuma asal mengiyakan, karena waktu itu saya tengah sibuk menyelesaikan tugas kantor menjelang deadline, dan sibuk mengurusi beberapa hal lainnya. Sempat terpikir oleh saya untuk menyerahkan setumpuk undangan itu pada beberapa kawan yang punya waktu lebih luang. Tapi naluri alamiah saya sebagai seorang Control Freak tidak mengizinkan itu. Dalam pikiran saya, rasa-rasanya cuma saya yang mampu melakukannya. Saya lebih suka terseok-seok menyelesaikan semuanya, daripada harus menyerahkannya pada orang lain, dan menempuh resiko gagal.
Tapi tetap saja, pada prakteknya, proses distribusi setumpuk undangan itu tidak bisa tidak melibatkan beberapa kawan yang untungnya berbaik hati membantu saya. Tugas saya hanya sekedar membagi undangan-undangan itu menjadi beberapa kelompok wilayah penerima, menentukan siapa yang akan saya titipi undangan untuk siapa, serta menentukan waktu dan tempat pertemuan. Lalu apabila si calon penerima tidak punya waktu untuk menemui saya, terpaksa saya hanya akan mengirimkannya sms yang berisi waktu dan tempat acara.
Di balik ketakutan saya kalau-kalau setumpuk undangan itu tidak dapat sampai sebelum waktunya, sejujurnya saya sangat menikmati kegiatan itu. Bukan cuma sekedar menikmati kebahagiaan dapat menolong orang lain, dan kenikmatan menguji diri atas sebuah tantangan, di atas segalanya, saya sangat menikmati peran saya sebagai seseorang yang mengatur segalanya. Hahaha. Walaupun sesungguhnya mereka melakukan itu bukan karena saya, melainkan karena undangan yang berada di tangan saya, tetap saja, semua orang bergerak atas instruksi saya. Hahaha.
Demikianlah akhirnya sampai 23 buah kartu undangan itu tiba sebelum waktu acara. Tidak hanya menyebabkan kawan saya yang menikah merasa berbahagia, juga menghantarkan saya pada kepuasan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Tahun pernikahan belum berakhir. Setelah Idul Fitri usai, akhir pekan saya kembali padat dengan jadwal menghadiri undangan pernikahan, terus hingga akhir tahun. Dan seperti sebelumnya, saya kembali dipercaya untuk membagikan undangan pernikahan. Kali ini lebih serius. Bukan cuma sekedar kabar lewat email atau sms, melainkan 23 buah kartu undangan yang harus segera berada di tangan penerimanya, dalam waktu kurang dari satu minggu.
Terus terang, pada saat menerima tugas itu, sebenarnya saya cuma asal mengiyakan, karena waktu itu saya tengah sibuk menyelesaikan tugas kantor menjelang deadline, dan sibuk mengurusi beberapa hal lainnya. Sempat terpikir oleh saya untuk menyerahkan setumpuk undangan itu pada beberapa kawan yang punya waktu lebih luang. Tapi naluri alamiah saya sebagai seorang Control Freak tidak mengizinkan itu. Dalam pikiran saya, rasa-rasanya cuma saya yang mampu melakukannya. Saya lebih suka terseok-seok menyelesaikan semuanya, daripada harus menyerahkannya pada orang lain, dan menempuh resiko gagal.
Tapi tetap saja, pada prakteknya, proses distribusi setumpuk undangan itu tidak bisa tidak melibatkan beberapa kawan yang untungnya berbaik hati membantu saya. Tugas saya hanya sekedar membagi undangan-undangan itu menjadi beberapa kelompok wilayah penerima, menentukan siapa yang akan saya titipi undangan untuk siapa, serta menentukan waktu dan tempat pertemuan. Lalu apabila si calon penerima tidak punya waktu untuk menemui saya, terpaksa saya hanya akan mengirimkannya sms yang berisi waktu dan tempat acara.
Di balik ketakutan saya kalau-kalau setumpuk undangan itu tidak dapat sampai sebelum waktunya, sejujurnya saya sangat menikmati kegiatan itu. Bukan cuma sekedar menikmati kebahagiaan dapat menolong orang lain, dan kenikmatan menguji diri atas sebuah tantangan, di atas segalanya, saya sangat menikmati peran saya sebagai seseorang yang mengatur segalanya. Hahaha. Walaupun sesungguhnya mereka melakukan itu bukan karena saya, melainkan karena undangan yang berada di tangan saya, tetap saja, semua orang bergerak atas instruksi saya. Hahaha.
Demikianlah akhirnya sampai 23 buah kartu undangan itu tiba sebelum waktu acara. Tidak hanya menyebabkan kawan saya yang menikah merasa berbahagia, juga menghantarkan saya pada kepuasan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Labels:
an unquiet mind
November 05, 2008
I’M SLIPPING A STEP [2]
Bahwa bos saya adalah seseorang yang arogan, itu mungkin saja. Tapi satu hal yang pasti: saya bersalah. Dan tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh seseorang yang bersalah, selain meminta maaf.
Terus terang saja, walaupun sebelumnya saya memang berniat meminta maaf secara langsung, bukan cuma lewat balasan email, keinginan itu sempat hampir mati digilas ego. Haha.
Namun ketika beberapa hari berlalu, saya tersiksa. Sedih rasanya melihat hubungan baik yang rusak gara-gara nila setitik. Untung saja, dengan bantuan nasehat dan motivasi dari Mario Teguh yang menyamar ke dalam tubuh kawan saya, berhasil saya kalahkan ego itu: meminta maaf dengan sederhana, langsung di hadapan bos saya.
Awalnya bos saya terlihat kaget menyaksikan saya yang serta-merta menjatuhkan diri di kursi di hadapannya. Tapi dalam hitungan sekian detik, wajahnya tiba-tiba terlihat cerah demi mendengar kata maaf yang meluncur dari bibir saya. Bersamaan dengan itu, dunia saya pun langsung ikut-ikutan cerah.
Fiuuuuuuuuuh!
PS. Thanks to Arif for being such a Mario Teguh :)
Terus terang saja, walaupun sebelumnya saya memang berniat meminta maaf secara langsung, bukan cuma lewat balasan email, keinginan itu sempat hampir mati digilas ego. Haha.
Namun ketika beberapa hari berlalu, saya tersiksa. Sedih rasanya melihat hubungan baik yang rusak gara-gara nila setitik. Untung saja, dengan bantuan nasehat dan motivasi dari Mario Teguh yang menyamar ke dalam tubuh kawan saya, berhasil saya kalahkan ego itu: meminta maaf dengan sederhana, langsung di hadapan bos saya.
Awalnya bos saya terlihat kaget menyaksikan saya yang serta-merta menjatuhkan diri di kursi di hadapannya. Tapi dalam hitungan sekian detik, wajahnya tiba-tiba terlihat cerah demi mendengar kata maaf yang meluncur dari bibir saya. Bersamaan dengan itu, dunia saya pun langsung ikut-ikutan cerah.
Fiuuuuuuuuuh!
PS. Thanks to Arif for being such a Mario Teguh :)
Labels:
an unquiet mind

