Andaikata hatimu adalah sebuah playlist
aku sadar bahwa aku bukan (lagi) jawaranya,
namun meski begitu aku percaya
aku masih selalu mondar-mandir di chart-nya.
Maret 2009
March 27, 2009
March 24, 2009
JEJAK [2]
…, padahal kamu bisa saja pergi tanpa meninggalkan jejak.
Tapi kamu terlalu terburu-buru hingga lupa membersihkan kaki dulu. Dan lihatlah sekarang, jejak kakimu nyata berjajar di lantai hatiku. Akibatnya, aku jadi tahu kemana kamu pergi, dan bisa dengan mudah menyusul kamu.
Ah, tiba-tiba aku jadi curiga, jangan-jangan memang sengaja kamu tinggalkan jejak-jejak itu.
Maret 2009
Tapi kamu terlalu terburu-buru hingga lupa membersihkan kaki dulu. Dan lihatlah sekarang, jejak kakimu nyata berjajar di lantai hatiku. Akibatnya, aku jadi tahu kemana kamu pergi, dan bisa dengan mudah menyusul kamu.
Ah, tiba-tiba aku jadi curiga, jangan-jangan memang sengaja kamu tinggalkan jejak-jejak itu.
Maret 2009
Labels:
poem
JEJAK [1]
Kamu memang jagonya meninggalkan jejak.
Tak satupun kaki memiliki lekukan seindah jejak yang kamu tinggalkan, tak setengahnya, tak juga seperempatnya. Tak ada yang seindah kamu.
Tak pula ada debu selekat jejak yang kamu tinggalkan. Segala kebingungan dan ketidaknyamanan yang pernah kamu berikan masih jua berbekas meski rajin disikat waktu. Tak ada yang sesulit memahami kamu.
Kamu memang jagonya meninggalkan jejak.
Maret 2009
Tak satupun kaki memiliki lekukan seindah jejak yang kamu tinggalkan, tak setengahnya, tak juga seperempatnya. Tak ada yang seindah kamu.
Tak pula ada debu selekat jejak yang kamu tinggalkan. Segala kebingungan dan ketidaknyamanan yang pernah kamu berikan masih jua berbekas meski rajin disikat waktu. Tak ada yang sesulit memahami kamu.
Kamu memang jagonya meninggalkan jejak.
Maret 2009
Labels:
poem
March 19, 2009
KEMBALI
Kamu tahu tidak, dulu setengah mati saya mengambil keputusan untuk menghapus semua hal tentang kamu. Susah payah saya iris-iris semua kenangan tentang kamu. Kepala kamu, tubuh kamu, kedua lengan dan sepasang kakimu. Lalu saya lempar jauh-jauh kamu dari hidup saya.
Sementara hati kamu, oh tolong jangan tanya tentang itu. Tentu saja saya tidak sanggup membuangnya. Saya membutuhkannya supaya bisa terus bertahan. Saya butuh untuk selalu dekat dengan hatimu. Maka, saya telan dia bulat-bulat, agar jangan pernah berpisah dari hidup saya.
Lalu, bertahun-tahun kemudian, ketika saya pikir hidup saya akan baik-baik saja berbekal tabungan sebentuk hatimu, tiba-tiba semuanya berantakan. Ibarat dulu melempar bumerang, sekonyong-konyong segala tentang kamu berceceran kembali di hadapan saya. Kepala kamu, tubuh kamu, kedua lengan dan sepasang kakimu. Kamu seperti begitu saja jatuh dari langit.
Lantas hati kamu, hati kamu yang selama ini berdiam tenang di dalam tubuh saya, serta-merta bergejolak. Dan saya tidak sanggup menenangkannya. Segala ketabahan dan kesabaran yang selama bertahun-tahun saya pendam, seperti hilang tidak berbekas. Saya tidak kuasa lagi meredam semuanya.
Saat ini, tidak ada yang lebih saya inginkan selain menyatukan kembali serpihan-serpihan tubuh kamu yang bertahun-tahun lalu telah sengaja saya iris, lalu meletakkan kembali hatimu di dalamnya. Sungguh, saat ini, tidak ada yang lebih saya inginkan, selain kembali memilikimu.
Maret 2009
Sementara hati kamu, oh tolong jangan tanya tentang itu. Tentu saja saya tidak sanggup membuangnya. Saya membutuhkannya supaya bisa terus bertahan. Saya butuh untuk selalu dekat dengan hatimu. Maka, saya telan dia bulat-bulat, agar jangan pernah berpisah dari hidup saya.
Lalu, bertahun-tahun kemudian, ketika saya pikir hidup saya akan baik-baik saja berbekal tabungan sebentuk hatimu, tiba-tiba semuanya berantakan. Ibarat dulu melempar bumerang, sekonyong-konyong segala tentang kamu berceceran kembali di hadapan saya. Kepala kamu, tubuh kamu, kedua lengan dan sepasang kakimu. Kamu seperti begitu saja jatuh dari langit.
Lantas hati kamu, hati kamu yang selama ini berdiam tenang di dalam tubuh saya, serta-merta bergejolak. Dan saya tidak sanggup menenangkannya. Segala ketabahan dan kesabaran yang selama bertahun-tahun saya pendam, seperti hilang tidak berbekas. Saya tidak kuasa lagi meredam semuanya.
Saat ini, tidak ada yang lebih saya inginkan selain menyatukan kembali serpihan-serpihan tubuh kamu yang bertahun-tahun lalu telah sengaja saya iris, lalu meletakkan kembali hatimu di dalamnya. Sungguh, saat ini, tidak ada yang lebih saya inginkan, selain kembali memilikimu.
Maret 2009
Labels:
poem
March 16, 2009
SEPASANG HANTU
Aku tidak ingat kapan tepatnya semua ini bermula, tapi sepasang hantu seringkali berkunjung ke dalam bilik mimpiku yang kosong. Apabila gelap tiba, mereka berkeliaran di alam bawah sadarku. Sepanjang malam, aku seperti melihat mereka bercakap-cakap. Yang satu terkadang sambil duduk di depan meja makan, sementara yang satu bolak-balik ke arah dapur. Dunia mereka kelihatan begitu asing, percakapan mereka pun seperti film bisu, namun entah bagaimana caranya aku seperti telah memahami apa yang berlangsung di antara mereka.
Seseorang menyarankan aku untuk mencari teman tidur, supaya aku tidak ketakutan, dan supaya sepasang hantu itu berhenti mengunjungiku. Tapi ide itu kurasa hanya akan menambah buruk keadaan. Mana ada orang yang sudi berbaring bersama seseorang yang tidur malamnya tidak pernah tenang? Aku khawatir, dia akan lari ketakutan, demi mendengar igauanku yang tidak keruan, apabila sepasang hantu itu tengah datang menjenguk bilik mimpiku.
Seseorang lagi menerka-nerka, jangan-jangan semua itu bersumber dari persoalan hidupku yang belum selesai. Lalu harus kucari ke mana sepasang manusia yang kira-kira hendak berdamai dengan hidupku? Di gedung-gedung bertingkat? Di rumah makan? Di jalan raya? Di halte busway? Atau di atas ranjang? Aku tidak bisa menemukannya, karena aku berani bersumpah, aku tidak punya masalah dengan pasangan manapun di atas muka bumi ini. Satu-satunya yang muncul di benakku, hanyalah sepasang hantu yang setiap malam mendatangiku.
Namun setelah aku ingat-ingat kembali, aku ragu apakah benar mereka hendak menyakitiku. Mereka cuma bercakap-cakap sepanjang malam, persis seperti sebagaimana dilakukan oleh pasangan manapun di dunia nyata. Lantas kenapa percakapan sebuah pasangan jadi begitu menggangguku?
Oh Tuhan, aku takut. Bagaimana kalau ini semua memang hanya tentang aku? Bagaimana kalau ternyata satu-satunya persoalan hidupku adalah aku sendiri yang merasa terganggu melihat orang lain hidup bahagia?
Ya Tuhan, sekarang baru aku sadar, mungkin ini semua memang tentang aku. Bukan mereka yang hendak menyakitiku. Rupanya aku yang merasakan sakit di hati, demi menyaksikan mereka yang bercakap-cakap dengan bahagia.
Maret 2009
Seseorang menyarankan aku untuk mencari teman tidur, supaya aku tidak ketakutan, dan supaya sepasang hantu itu berhenti mengunjungiku. Tapi ide itu kurasa hanya akan menambah buruk keadaan. Mana ada orang yang sudi berbaring bersama seseorang yang tidur malamnya tidak pernah tenang? Aku khawatir, dia akan lari ketakutan, demi mendengar igauanku yang tidak keruan, apabila sepasang hantu itu tengah datang menjenguk bilik mimpiku.
Seseorang lagi menerka-nerka, jangan-jangan semua itu bersumber dari persoalan hidupku yang belum selesai. Lalu harus kucari ke mana sepasang manusia yang kira-kira hendak berdamai dengan hidupku? Di gedung-gedung bertingkat? Di rumah makan? Di jalan raya? Di halte busway? Atau di atas ranjang? Aku tidak bisa menemukannya, karena aku berani bersumpah, aku tidak punya masalah dengan pasangan manapun di atas muka bumi ini. Satu-satunya yang muncul di benakku, hanyalah sepasang hantu yang setiap malam mendatangiku.
Namun setelah aku ingat-ingat kembali, aku ragu apakah benar mereka hendak menyakitiku. Mereka cuma bercakap-cakap sepanjang malam, persis seperti sebagaimana dilakukan oleh pasangan manapun di dunia nyata. Lantas kenapa percakapan sebuah pasangan jadi begitu menggangguku?
Oh Tuhan, aku takut. Bagaimana kalau ini semua memang hanya tentang aku? Bagaimana kalau ternyata satu-satunya persoalan hidupku adalah aku sendiri yang merasa terganggu melihat orang lain hidup bahagia?
Ya Tuhan, sekarang baru aku sadar, mungkin ini semua memang tentang aku. Bukan mereka yang hendak menyakitiku. Rupanya aku yang merasakan sakit di hati, demi menyaksikan mereka yang bercakap-cakap dengan bahagia.
Maret 2009
Labels:
poem
March 13, 2009
KALAU REJEKI TAK KEMANA
Kisah yang ini lagi-lagi terjadi di dalam angkot. Sewaktu pulang kerja, saya mendapati seorang teman lama duduk di angkot yang saya tumpangi. Dulu semasa kuliah, kami satu anggota paduan suara, dan sempat melewati begitu banyak masa menyenangkan bersama. Sekarang dia sudah menikah, lalu punya anak. Kali terakhir saya menjumpainya, adalah bulan puasa lalu, waktu menjenguk dia yang melahirkan anak pertama.
Ketika menyadari kehadirannya, tidak ada yang ingin saya lakukan selain menjerit histeris, lalu melanjutkannya dengan obrolan seru. Sayang, posisi duduk kami berjauhan: saya di pojok, sementara dia tepat di kursi depan pintu. Akhirnya kami cuma bisa saling menatap. Dia mengerling jahil, saya senyum-senyum kecil.
Di tengah perjalanan, dari tempat duduknya, teman saya itu bertanya, berapa ongkosnya andaikata dia hendak turun di mal yang sebentar lagi bakal kami lewati. Setelah saya jawab, dia bertanya lagi, di mana saya bakal turun, lantas berapa ongkosnya. Logika saya dengan sigap mengatakan, bahwa dia berniat turun di mal, lalu ingin sekalian membayari ongkos saya. Maka tanpa pikir panjang, saya langsung menolaknya — secara tersirat tentu saja. Sambil bercanda saya bilang saya kurang yakin berapa. Tapi dengan nada serius dia meyakinkan, bahwa dia memang hendak turun di tempat yang sama dengan saya.
Terus terang, saking seriusnya dia, diam-diam saya jadi malu pada penumpang satu angkot yang menyaksikan obrolan kami. Mereka pasti mencap saya ke-GR-an karena mengira bakal dibayari. Hahaha. Tapi walaupun sandiwara teman saya itu tergolong boleh juga, intuisi saya yang selalu bisa diandalkan tetap mengatakan bahwa dia memang cuma bersandiwara. Namun akhirnya saya beritahu juga berapa ongkos sebenarnya, takut bertambah malu, siapa tahu intuisi saya kali ini menyesatkan.
Ketika angkot kami berhenti di halte depan mal, barulah misteri itu terjawab. Tanpa ba bi bu, teman saya itu mengemasi tas kerjanya, lantas bergegas turun. Sambil membayar, dia memberi kode pada saya bahwa ongkos saya sudah dibayarinya sekalian. Nah, benar saja kan! Apa kata saya tadi, dia memang berniat membayari saya.
Berhubung belum sempat berterima kasih, saya kemudian mengiriminya sms pendek mengucapkan terima kasih. Dia membalasnya dengan nada penuh kepuasan. Haha. Sial, saya kecolongan. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, ya sudahlah, saya sudah mencoba mengelak tapi tetap gagal. Memang dasarnya rejeki saya, mau bagaimana lagi. Lumayan juga sebenarnya. Hahaha.
Ketika menyadari kehadirannya, tidak ada yang ingin saya lakukan selain menjerit histeris, lalu melanjutkannya dengan obrolan seru. Sayang, posisi duduk kami berjauhan: saya di pojok, sementara dia tepat di kursi depan pintu. Akhirnya kami cuma bisa saling menatap. Dia mengerling jahil, saya senyum-senyum kecil.
Di tengah perjalanan, dari tempat duduknya, teman saya itu bertanya, berapa ongkosnya andaikata dia hendak turun di mal yang sebentar lagi bakal kami lewati. Setelah saya jawab, dia bertanya lagi, di mana saya bakal turun, lantas berapa ongkosnya. Logika saya dengan sigap mengatakan, bahwa dia berniat turun di mal, lalu ingin sekalian membayari ongkos saya. Maka tanpa pikir panjang, saya langsung menolaknya — secara tersirat tentu saja. Sambil bercanda saya bilang saya kurang yakin berapa. Tapi dengan nada serius dia meyakinkan, bahwa dia memang hendak turun di tempat yang sama dengan saya.
Terus terang, saking seriusnya dia, diam-diam saya jadi malu pada penumpang satu angkot yang menyaksikan obrolan kami. Mereka pasti mencap saya ke-GR-an karena mengira bakal dibayari. Hahaha. Tapi walaupun sandiwara teman saya itu tergolong boleh juga, intuisi saya yang selalu bisa diandalkan tetap mengatakan bahwa dia memang cuma bersandiwara. Namun akhirnya saya beritahu juga berapa ongkos sebenarnya, takut bertambah malu, siapa tahu intuisi saya kali ini menyesatkan.
Ketika angkot kami berhenti di halte depan mal, barulah misteri itu terjawab. Tanpa ba bi bu, teman saya itu mengemasi tas kerjanya, lantas bergegas turun. Sambil membayar, dia memberi kode pada saya bahwa ongkos saya sudah dibayarinya sekalian. Nah, benar saja kan! Apa kata saya tadi, dia memang berniat membayari saya.
Berhubung belum sempat berterima kasih, saya kemudian mengiriminya sms pendek mengucapkan terima kasih. Dia membalasnya dengan nada penuh kepuasan. Haha. Sial, saya kecolongan. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, ya sudahlah, saya sudah mencoba mengelak tapi tetap gagal. Memang dasarnya rejeki saya, mau bagaimana lagi. Lumayan juga sebenarnya. Hahaha.
Labels:
an unquiet mind
March 11, 2009
BAYI MUNGIL DI DALAM ANGKOT
Hujan rintik-rintik ketika malam itu saya pulang kantor. Turun dari bis kota, saya bergegas menaiki angkot yang sedang berjajar di seberang jalan. Baru sekejap duduk, tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram lengan baju saya dari arah kanan. Saya sudah hampir menduga bahwa saya punya penggemar berat yang sedang histeris, ketika saya lihat siapa gerangan pelakunya.
Oh, seorang bayi rupanya. Mungil. Duduk di pangku ibunya persis di pojok kanan saya. Dalam kegelapan, sepasang matanya yang bulat bersinar-sinar menatap saya. Sementara ibunya cuma tersenyum kecil. Kasihan, mungkin sedari tadi dia bosan, duduk dalam angkot sepi yang cahayanya temaram, sehingga langsung terhibur melihat kedatangan saya yang berkemeja warna-warni.
Eh, cengkeramannya kuat, rasanya masih terasa bekas cakarnya di kulit saya.
Dan matanya yang bulat bersinar itu, sampai hari ini, rupanya juga masih membekas di kepala saya.
Aih, semoga kapan-kapan bisa bertemu lagi.
Oh, seorang bayi rupanya. Mungil. Duduk di pangku ibunya persis di pojok kanan saya. Dalam kegelapan, sepasang matanya yang bulat bersinar-sinar menatap saya. Sementara ibunya cuma tersenyum kecil. Kasihan, mungkin sedari tadi dia bosan, duduk dalam angkot sepi yang cahayanya temaram, sehingga langsung terhibur melihat kedatangan saya yang berkemeja warna-warni.
Eh, cengkeramannya kuat, rasanya masih terasa bekas cakarnya di kulit saya.
Dan matanya yang bulat bersinar itu, sampai hari ini, rupanya juga masih membekas di kepala saya.
Aih, semoga kapan-kapan bisa bertemu lagi.
Labels:
an unquiet mind

