March 16, 2009

SEPASANG HANTU

Aku tidak ingat kapan tepatnya semua ini bermula, tapi sepasang hantu seringkali berkunjung ke dalam bilik mimpiku yang kosong. Apabila gelap tiba, mereka berkeliaran di alam bawah sadarku. Sepanjang malam, aku seperti melihat mereka bercakap-cakap. Yang satu terkadang sambil duduk di depan meja makan, sementara yang satu bolak-balik ke arah dapur. Dunia mereka kelihatan begitu asing, percakapan mereka pun seperti film bisu, namun entah bagaimana caranya aku seperti telah memahami apa yang berlangsung di antara mereka.

Seseorang menyarankan aku untuk mencari teman tidur, supaya aku tidak ketakutan, dan supaya sepasang hantu itu berhenti mengunjungiku. Tapi ide itu kurasa hanya akan menambah buruk keadaan. Mana ada orang yang sudi berbaring bersama seseorang yang tidur malamnya tidak pernah tenang? Aku khawatir, dia akan lari ketakutan, demi mendengar igauanku yang tidak keruan, apabila sepasang hantu itu tengah datang menjenguk bilik mimpiku.

Seseorang lagi menerka-nerka, jangan-jangan semua itu bersumber dari persoalan hidupku yang belum selesai. Lalu harus kucari ke mana sepasang manusia yang kira-kira hendak berdamai dengan hidupku? Di gedung-gedung bertingkat? Di rumah makan? Di jalan raya? Di halte busway? Atau di atas ranjang? Aku tidak bisa menemukannya, karena aku berani bersumpah, aku tidak punya masalah dengan pasangan manapun di atas muka bumi ini. Satu-satunya yang muncul di benakku, hanyalah sepasang hantu yang setiap malam mendatangiku.

Namun setelah aku ingat-ingat kembali, aku ragu apakah benar mereka hendak menyakitiku. Mereka cuma bercakap-cakap sepanjang malam, persis seperti sebagaimana dilakukan oleh pasangan manapun di dunia nyata. Lantas kenapa percakapan sebuah pasangan jadi begitu menggangguku?

Oh Tuhan, aku takut. Bagaimana kalau ini semua memang hanya tentang aku? Bagaimana kalau ternyata satu-satunya persoalan hidupku adalah aku sendiri yang merasa terganggu melihat orang lain hidup bahagia?

Ya Tuhan, sekarang baru aku sadar, mungkin ini semua memang tentang aku. Bukan mereka yang hendak menyakitiku. Rupanya aku yang merasakan sakit di hati, demi menyaksikan mereka yang bercakap-cakap dengan bahagia.

Maret 2009

0 comments:

Post a Comment