March 19, 2009

KEMBALI

Kamu tahu tidak, dulu setengah mati saya mengambil keputusan untuk menghapus semua hal tentang kamu. Susah payah saya iris-iris semua kenangan tentang kamu. Kepala kamu, tubuh kamu, kedua lengan dan sepasang kakimu. Lalu saya lempar jauh-jauh kamu dari hidup saya.

Sementara hati kamu, oh tolong jangan tanya tentang itu. Tentu saja saya tidak sanggup membuangnya. Saya membutuhkannya supaya bisa terus bertahan. Saya butuh untuk selalu dekat dengan hatimu. Maka, saya telan dia bulat-bulat, agar jangan pernah berpisah dari hidup saya.

Lalu, bertahun-tahun kemudian, ketika saya pikir hidup saya akan baik-baik saja berbekal tabungan sebentuk hatimu, tiba-tiba semuanya berantakan. Ibarat dulu melempar bumerang, sekonyong-konyong segala tentang kamu berceceran kembali di hadapan saya. Kepala kamu, tubuh kamu, kedua lengan dan sepasang kakimu. Kamu seperti begitu saja jatuh dari langit.

Lantas hati kamu, hati kamu yang selama ini berdiam tenang di dalam tubuh saya, serta-merta bergejolak. Dan saya tidak sanggup menenangkannya. Segala ketabahan dan kesabaran yang selama bertahun-tahun saya pendam, seperti hilang tidak berbekas. Saya tidak kuasa lagi meredam semuanya.

Saat ini, tidak ada yang lebih saya inginkan selain menyatukan kembali serpihan-serpihan tubuh kamu yang bertahun-tahun lalu telah sengaja saya iris, lalu meletakkan kembali hatimu di dalamnya. Sungguh, saat ini, tidak ada yang lebih saya inginkan, selain kembali memilikimu.

Maret 2009

0 comments:

Post a Comment