March 13, 2009

KALAU REJEKI TAK KEMANA

Kisah yang ini lagi-lagi terjadi di dalam angkot. Sewaktu pulang kerja, saya mendapati seorang teman lama duduk di angkot yang saya tumpangi. Dulu semasa kuliah, kami satu anggota paduan suara, dan sempat melewati begitu banyak masa menyenangkan bersama. Sekarang dia sudah menikah, lalu punya anak. Kali terakhir saya menjumpainya, adalah bulan puasa lalu, waktu menjenguk dia yang melahirkan anak pertama.

Ketika menyadari kehadirannya, tidak ada yang ingin saya lakukan selain menjerit histeris, lalu melanjutkannya dengan obrolan seru. Sayang, posisi duduk kami berjauhan: saya di pojok, sementara dia tepat di kursi depan pintu. Akhirnya kami cuma bisa saling menatap. Dia mengerling jahil, saya senyum-senyum kecil.

Di tengah perjalanan, dari tempat duduknya, teman saya itu bertanya, berapa ongkosnya andaikata dia hendak turun di mal yang sebentar lagi bakal kami lewati. Setelah saya jawab, dia bertanya lagi, di mana saya bakal turun, lantas berapa ongkosnya. Logika saya dengan sigap mengatakan, bahwa dia berniat turun di mal, lalu ingin sekalian membayari ongkos saya. Maka tanpa pikir panjang, saya langsung menolaknya — secara tersirat tentu saja. Sambil bercanda saya bilang saya kurang yakin berapa. Tapi dengan nada serius dia meyakinkan, bahwa dia memang hendak turun di tempat yang sama dengan saya.

Terus terang, saking seriusnya dia, diam-diam saya jadi malu pada penumpang satu angkot yang menyaksikan obrolan kami. Mereka pasti mencap saya ke-GR-an karena mengira bakal dibayari. Hahaha. Tapi walaupun sandiwara teman saya itu tergolong boleh juga, intuisi saya yang selalu bisa diandalkan tetap mengatakan bahwa dia memang cuma bersandiwara. Namun akhirnya saya beritahu juga berapa ongkos sebenarnya, takut bertambah malu, siapa tahu intuisi saya kali ini menyesatkan.

Ketika angkot kami berhenti di halte depan mal, barulah misteri itu terjawab. Tanpa ba bi bu, teman saya itu mengemasi tas kerjanya, lantas bergegas turun. Sambil membayar, dia memberi kode pada saya bahwa ongkos saya sudah dibayarinya sekalian. Nah, benar saja kan! Apa kata saya tadi, dia memang berniat membayari saya.

Berhubung belum sempat berterima kasih, saya kemudian mengiriminya sms pendek mengucapkan terima kasih. Dia membalasnya dengan nada penuh kepuasan. Haha. Sial, saya kecolongan. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, ya sudahlah, saya sudah mencoba mengelak tapi tetap gagal. Memang dasarnya rejeki saya, mau bagaimana lagi. Lumayan juga sebenarnya. Hahaha.

0 comments:

Post a Comment