March 30, 2009

LETTER FOR REBECCA BLOOMWOOD [1]

Dear Miss Bloomwood,

Pertama-tama, aku ingin kau tahu bahwa sudah sejak lama aku berniat menulis banyak tentangmu. Tapi entah bagaimana caranya, aku sudah langsung kehabisan kata-kata, bahkan sebelum sempat menggoreskan kata yang pertama. Aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Tapi, sungguh, aku begitu punya hasrat yang menggebu-gebu untuk menulis tentang dirimu. Karena itu, bagaimana kalau kita mulai saja semuanya dari awal sekali.

Tahukah kau Miss Bloomwood, aku sudah amat menyukaimu sejak awal perkenalan kita, beberapa tahun yang lalu. Aku langsung jatuh cinta pada kepribadianmu yang ceria, bersemangat, dan apa adanya. Kau sama sekali tidak pernah punya niat jahat pada orang lain, kau begitu setia pada sebuah persahabatan, dan kau tak pernah sekalipun sanggup menggadaikan nilai moral yang kau anut.

Aku tergila-gila pada caramu menyayangi Suze. Bagian favoritku adalah waktu kau terpesona menatapnya dari kejauhan, saat dia sedang hamil tua dan duduk di sebuah cafe menantimu. Kau bilang dia secantik malaikat. Aku juga tergila-gila menyaksikan hubunganmu yang serasi dengan Luke. Dan aku tergelak tidak karuan menyaksikan kekalapanmu ketika berbelanja keperluan bayi untuk Minnie. Oh, betapa aku punya sejuta alasan untuk jatuh sayang padamu.

Mengenai hasrat belanjamu yang mencengangkan itu, sejujurnya aku tidak begitu perduli. Aku menyayangimu apa adanya. Bahwa kau penggila belanja, atau penggila olahraga misalnya, tidak banyak bedanya buatku. Selama masih selalu dirimu yang jadi pemeran utamanya, cerita tentangmu akan tetap mempesona. Tapi, nyatanya, kau adalah seorang penggila belanja, dan itulah sebabnya Miss Kinsella membuat cerita tentang dirimu, sehingga aku tidak hendak mengabaikan kenyataan itu.

Baiklah, mari kita bicara sedikit mengenai itu. Terus terang, sebagai seorang wanita, yang tentu saja hobi juga berbelanja, aku tidak setuju bila hobi itu dibiarkan membabi buta. Aku sedih melihat kau menghabiskan separuh hidupmu di pusat-pusat berlanjaan mewah lalu memindahkan isinya ke dalam kamarmu, ke dalam lemari bajumu, ke dalam rak sepatumu.

Kuakui aku memang tidak sanggup mengikuti gaya hidupmu, dan tidak pernah tahu bagaimana rasanya kecanduan seperti dirimu. Namun ketahuilah Miss Bloomwood, ini bukan tentang sanggup atau tidak sanggup. Ini tentang sifat rakus yang ingin memiliki seluruh isi dunia, lantas menghambur-hamburkannya, sementara sebagian penduduk dunia lain kelaparan, dan sebagiannya lagi bekerja dengan upah minim, padahal barang-barang yang mereka hasilkan dijual dengan harga setinggi langit ketujuh, persis seperti tas tangan yang saat ini berada di atas meja riasmu itu.

Suatu hari nanti Miss Bloomwood, datanglah ke negaraku. Kau harus menginap di rumahku. Kita akan bersenda gurau di kamarku, sambil minum soda, sambil makan kudapan, sambil cekikikan sampai pagi menjelang, beserta adik perempuanku tentu saja, karena dia juga adalah penggemarmu. Lalu keesokan harinya, kita bisa jalan-jalan, dan akan kutunjukkan padamu bagaimana sedikit uang bisa memberikan kebahagiaan yang berlimpah. Kita akan mampir ke museum, lalu menikmati pemandangan indah di sana, sambil berfoto selayaknya dua orang sahabat. Kau tidak perlu membawa serta kartu kreditmu, karena di sepanjang jalan kau akan melihat begitu banyak pengemis dengan pakaian lusuh dan bau tak sedap, yang tidak akan terbantu hanya dengan sebuah kartu kredit. Mereka baru bisa hidup layak apabila segilintir orang di luar sana berhenti mementingkan diri sendiri.

Ah, betapapun kupaparkan sejuta fakta tentang orang-orang kelaparan itu, aku sadar kau tidak akan bisa berubah. Kau cuma sebuah tokoh di dalam novel. Kau cuma Rebecca Bloomwood yang kecanduan belanja. Tapi itu tak mengapa, biar aku dapat bercermin pada tingkah lakumu. Ya, kau tidak boleh pernah berubah. Biar semua pembaca novelmu bisa berkaca pada sisi burukmu. Kurasa sudah terlalu banyak penghuni bumi yang tergila-gila pada uang, terlalu banyak diantara mereka yang kecanduan belanja. Biar mereka semua merasa jera dan malu, tiap saat membaca kisah dirimu.

Selain itu, seperti telah kukatakan tadi, kau begitu punya banyak kebaikan untuk ditiru. Hal yang paling membuatku tergila-gila adalah caramu menikmati hidup. Demi Tuhan Miss Bloomwood, tak ada yang bisa melakukannya sebaik dirimu. Aku suka caramu menghayati hal-hal kecil. Yah, memang telah kutegaskan bahwa hobi belanja yang membabi buta adalah kesalahan, tapi aku suka caramu menceritakan betapa denting bel di pintu toko, harum toko, kilau lampu di dalamnya, dan lembutnya bahan sutra yang dijual di sana adalah deretan hal yang memabukkan. Oh, aku suka itu. Aku suka pada imajinasimu, tentang bank yang harus melakukan sale pada produknya, tentang buku cek warna-warni. Aku suka semua ide segarmu. Pantas saja Luke begitu mencintaimu, kau membuat dunia jadi lebih berseri-seri.

Oh, Miss Bloomwood, kurasa waktuku tak banyak. Aku harus menyudahi tulisan ini. Tulisan yang begitu sulit kumulai, dan ternyata lebih sulit lagi untuk diakhiri. Tapi lain kali aku akan menulis lagi. Terima kasih telah mendengarkan aku. Semoga kau selalu menjadi Rebecca Bloomwood yang kusayangi.

-peluk hangat dariku-

*Rebecca Bloomwood adalah karakter fiktif dalam novel Shopaholic Series karangan Sophie Kinsella.

March 27, 2009

HEARTLIST

Andaikata hatimu adalah sebuah playlist
aku sadar bahwa aku bukan (lagi) jawaranya,
namun meski begitu aku percaya
aku masih selalu mondar-mandir di chart-nya.

Maret 2009

March 24, 2009

JEJAK [2]

…, padahal kamu bisa saja pergi tanpa meninggalkan jejak.

Tapi kamu terlalu terburu-buru hingga lupa membersihkan kaki dulu. Dan lihatlah sekarang, jejak kakimu nyata berjajar di lantai hatiku. Akibatnya, aku jadi tahu kemana kamu pergi, dan bisa dengan mudah menyusul kamu.

Ah, tiba-tiba aku jadi curiga, jangan-jangan memang sengaja kamu tinggalkan jejak-jejak itu.

Maret 2009

JEJAK [1]

Kamu memang jagonya meninggalkan jejak.
Tak satupun kaki memiliki lekukan seindah jejak yang kamu tinggalkan, tak setengahnya, tak juga seperempatnya. Tak ada yang seindah kamu.

Tak pula ada debu selekat jejak yang kamu tinggalkan. Segala kebingungan dan ketidaknyamanan yang pernah kamu berikan masih jua berbekas meski rajin disikat waktu. Tak ada yang sesulit memahami kamu.

Kamu memang jagonya meninggalkan jejak.

Maret 2009

March 19, 2009

KEMBALI

Kamu tahu tidak, dulu setengah mati saya mengambil keputusan untuk menghapus semua hal tentang kamu. Susah payah saya iris-iris semua kenangan tentang kamu. Kepala kamu, tubuh kamu, kedua lengan dan sepasang kakimu. Lalu saya lempar jauh-jauh kamu dari hidup saya.

Sementara hati kamu, oh tolong jangan tanya tentang itu. Tentu saja saya tidak sanggup membuangnya. Saya membutuhkannya supaya bisa terus bertahan. Saya butuh untuk selalu dekat dengan hatimu. Maka, saya telan dia bulat-bulat, agar jangan pernah berpisah dari hidup saya.

Lalu, bertahun-tahun kemudian, ketika saya pikir hidup saya akan baik-baik saja berbekal tabungan sebentuk hatimu, tiba-tiba semuanya berantakan. Ibarat dulu melempar bumerang, sekonyong-konyong segala tentang kamu berceceran kembali di hadapan saya. Kepala kamu, tubuh kamu, kedua lengan dan sepasang kakimu. Kamu seperti begitu saja jatuh dari langit.

Lantas hati kamu, hati kamu yang selama ini berdiam tenang di dalam tubuh saya, serta-merta bergejolak. Dan saya tidak sanggup menenangkannya. Segala ketabahan dan kesabaran yang selama bertahun-tahun saya pendam, seperti hilang tidak berbekas. Saya tidak kuasa lagi meredam semuanya.

Saat ini, tidak ada yang lebih saya inginkan selain menyatukan kembali serpihan-serpihan tubuh kamu yang bertahun-tahun lalu telah sengaja saya iris, lalu meletakkan kembali hatimu di dalamnya. Sungguh, saat ini, tidak ada yang lebih saya inginkan, selain kembali memilikimu.

Maret 2009

March 16, 2009

SEPASANG HANTU

Aku tidak ingat kapan tepatnya semua ini bermula, tapi sepasang hantu seringkali berkunjung ke dalam bilik mimpiku yang kosong. Apabila gelap tiba, mereka berkeliaran di alam bawah sadarku. Sepanjang malam, aku seperti melihat mereka bercakap-cakap. Yang satu terkadang sambil duduk di depan meja makan, sementara yang satu bolak-balik ke arah dapur. Dunia mereka kelihatan begitu asing, percakapan mereka pun seperti film bisu, namun entah bagaimana caranya aku seperti telah memahami apa yang berlangsung di antara mereka.

Seseorang menyarankan aku untuk mencari teman tidur, supaya aku tidak ketakutan, dan supaya sepasang hantu itu berhenti mengunjungiku. Tapi ide itu kurasa hanya akan menambah buruk keadaan. Mana ada orang yang sudi berbaring bersama seseorang yang tidur malamnya tidak pernah tenang? Aku khawatir, dia akan lari ketakutan, demi mendengar igauanku yang tidak keruan, apabila sepasang hantu itu tengah datang menjenguk bilik mimpiku.

Seseorang lagi menerka-nerka, jangan-jangan semua itu bersumber dari persoalan hidupku yang belum selesai. Lalu harus kucari ke mana sepasang manusia yang kira-kira hendak berdamai dengan hidupku? Di gedung-gedung bertingkat? Di rumah makan? Di jalan raya? Di halte busway? Atau di atas ranjang? Aku tidak bisa menemukannya, karena aku berani bersumpah, aku tidak punya masalah dengan pasangan manapun di atas muka bumi ini. Satu-satunya yang muncul di benakku, hanyalah sepasang hantu yang setiap malam mendatangiku.

Namun setelah aku ingat-ingat kembali, aku ragu apakah benar mereka hendak menyakitiku. Mereka cuma bercakap-cakap sepanjang malam, persis seperti sebagaimana dilakukan oleh pasangan manapun di dunia nyata. Lantas kenapa percakapan sebuah pasangan jadi begitu menggangguku?

Oh Tuhan, aku takut. Bagaimana kalau ini semua memang hanya tentang aku? Bagaimana kalau ternyata satu-satunya persoalan hidupku adalah aku sendiri yang merasa terganggu melihat orang lain hidup bahagia?

Ya Tuhan, sekarang baru aku sadar, mungkin ini semua memang tentang aku. Bukan mereka yang hendak menyakitiku. Rupanya aku yang merasakan sakit di hati, demi menyaksikan mereka yang bercakap-cakap dengan bahagia.

Maret 2009

March 13, 2009

KALAU REJEKI TAK KEMANA

Kisah yang ini lagi-lagi terjadi di dalam angkot. Sewaktu pulang kerja, saya mendapati seorang teman lama duduk di angkot yang saya tumpangi. Dulu semasa kuliah, kami satu anggota paduan suara, dan sempat melewati begitu banyak masa menyenangkan bersama. Sekarang dia sudah menikah, lalu punya anak. Kali terakhir saya menjumpainya, adalah bulan puasa lalu, waktu menjenguk dia yang melahirkan anak pertama.

Ketika menyadari kehadirannya, tidak ada yang ingin saya lakukan selain menjerit histeris, lalu melanjutkannya dengan obrolan seru. Sayang, posisi duduk kami berjauhan: saya di pojok, sementara dia tepat di kursi depan pintu. Akhirnya kami cuma bisa saling menatap. Dia mengerling jahil, saya senyum-senyum kecil.

Di tengah perjalanan, dari tempat duduknya, teman saya itu bertanya, berapa ongkosnya andaikata dia hendak turun di mal yang sebentar lagi bakal kami lewati. Setelah saya jawab, dia bertanya lagi, di mana saya bakal turun, lantas berapa ongkosnya. Logika saya dengan sigap mengatakan, bahwa dia berniat turun di mal, lalu ingin sekalian membayari ongkos saya. Maka tanpa pikir panjang, saya langsung menolaknya — secara tersirat tentu saja. Sambil bercanda saya bilang saya kurang yakin berapa. Tapi dengan nada serius dia meyakinkan, bahwa dia memang hendak turun di tempat yang sama dengan saya.

Terus terang, saking seriusnya dia, diam-diam saya jadi malu pada penumpang satu angkot yang menyaksikan obrolan kami. Mereka pasti mencap saya ke-GR-an karena mengira bakal dibayari. Hahaha. Tapi walaupun sandiwara teman saya itu tergolong boleh juga, intuisi saya yang selalu bisa diandalkan tetap mengatakan bahwa dia memang cuma bersandiwara. Namun akhirnya saya beritahu juga berapa ongkos sebenarnya, takut bertambah malu, siapa tahu intuisi saya kali ini menyesatkan.

Ketika angkot kami berhenti di halte depan mal, barulah misteri itu terjawab. Tanpa ba bi bu, teman saya itu mengemasi tas kerjanya, lantas bergegas turun. Sambil membayar, dia memberi kode pada saya bahwa ongkos saya sudah dibayarinya sekalian. Nah, benar saja kan! Apa kata saya tadi, dia memang berniat membayari saya.

Berhubung belum sempat berterima kasih, saya kemudian mengiriminya sms pendek mengucapkan terima kasih. Dia membalasnya dengan nada penuh kepuasan. Haha. Sial, saya kecolongan. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, ya sudahlah, saya sudah mencoba mengelak tapi tetap gagal. Memang dasarnya rejeki saya, mau bagaimana lagi. Lumayan juga sebenarnya. Hahaha.