June 22, 2009

SEMPU TRIP

Weekend yang lalu, saya dan kawan-kawan pergi jalan-jalan ke Malang. Tujuan utamanya sih, pergi ke Pulau Sempu. Kami berangkat naik kereta ekonomi Matarmaja, jurusan Jakarta-Malang, dengan tiket seharga lima puluh dua ribu perak, dari Stasiun Senen.

Keadaan di kereta Matarmaja, ternyata jauh lebih baik dari perkiraan saya. Mungkin karena saya ini adalah tipe orang yang mudah (dan murah) untuk dibuat senang. Atau mungkin karena saat itu belum musim liburan sehingga kereta ekonomi tidak padat seperti gambaran di televisi, pokoknya menurut saya, keadaan di Matarmaja cukup manusiawi. Kecuali toiletnya yang tidak ada air, sehingga kami harus sering-sering membeli air mineral guna keperluan kamar mandi, juga lalu lintas pengamennya yang frekuensinya cukup tinggi, sehingga kami harus banyak-banyak sedia uang receh.

Dan setelah saya pikir-pikir lagi, kereta ekonomi Jakarta-Malang hampir tidak ada bedanya dengan kereta bisnis jurusan Bandung-Jogja yang harga tiketnya seratus sepuluh ribu rupiah. Keadaan toiletnya sama-sama menyedihkan. Hanya bedanya, di kereta bisnis kursinya bisa diputar, dan ada kipas anginnya. Itu saja.

Kami sampai di Malang besok paginya pukul delapan, lalu singgah di rumah seorang kawan, yang lokasinya kira-kira lima belas menit dari stasiun Malang. Dia inilah orangnya yang akan bertindak sebagai local guide, karena sudah pernah pergi ke Sempu sebelumnya. Rencananya, selepas zuhur kami akan berangkat ke Sempu, lalu bermalam di sana. Tapi mendadak, kawan saya punya urusan yang mesti diselesaikan sehingga keberangkatan kami mulur sampai menjelang jam lima sore.

Dari rumah kawan saya, kami bersembilan menyewa mobil menuju Sempu. Kira-kira hampir tiga jam bermobil, menjelang pukul delapan malam kami sampai di Pusat Konservasi Pulau Sempu, yang terletak di pinggir Pantai Sendang Biru. Untuk bisa mencapai pulau, dari sana kami harus menyeberang dengan perahu, tapi sayang, karena tiba terlalu malam, kami tidak diizinkan menyeberang dan harus menunggu sampai besok pagi. Terpaksa kami bermalam dengan mendirikan tenda di pinggir Pantai Sendang Biru.

Besok paginya pukul enam, kami menyeberang dengan perahu. Tidak sampai setengah jam, akhirnya sampai juga kami di Pulau Sempu. Sebelum turun, kami sempat mencatat nomor handphone si bapak penjaga perahu, sambil menitip pesan untuk minta dijemput sore sekitar pukul empat. Dari sana, kami masih harus berjalan kaki sekitar tiga jam menyusur hutan untuk sampai di puncak perjalanan ini: pantai yang konon sama cantiknya dengan pantai di film The Beach.

Memasuki hutan, sinyal handphone sudah tidak tertangkap. Kami benar-benar putus hubungan dengan dunia luar. Beberapa kilometer pertama, jalur trekking masih kering dan datar, tapi selanjutnya, karena tadi malam turun hujan, jalur tersebut makin becek dan licin, juga mulai berbukit-bukit. Bagi saya yang tergolong baru untuk kegiatan semacam ini, medan yang kami tempuh rasanya berat sekali. Belum lagi banyak batu besar dan tajam, juga batang pohon besar yang merintangi. Sementara, saya hanya bermodalkan sendal sepatu, yang meskipun jauh lebih aman ketimbang kawan saya yang cuma bersendal jepit, tetap tidak memadai untuk medan seberat itu.

Saking licinnya tanah yang kami lalui, kawan saya perempuan berkali-kali jatuh terjerembab, sehingga kakinya terkilir. Otomatis, kecepatan kami jadi melambat. Walaupun sangat bersemangat, terus terang perjalanan menyusur hutan itu bagi saya seperti berhari-hari lamanya. Setiap memandang jauh ke depan, rasanya jalan itu tak ada habis-habisnya. Kalau bukan karena bayangan tentang pantai indah yang akan kami temui, rasanya saya sudah kepingin menyerah.

Untungnya, perjalanan itu berhasil kami lalui tanpa hambatan yang berarti. Satu-satunya hal yang menyiutkan nyali saya adalah ketika hampir mencapai pantai, jalan berubah jadi menanjak, dengan lebar yang cuma bisa dilalui oleh satu orang, sementara di pinggirnya terbentang pemandangan air laut dan batu karang. Saya yang fobia pada ketinggian seketika panik dan ketakutan setengah mati, lantas cuma berani berjalan sambil merangkak.

Syukurlah tanjakan itu hanya beberapa meter saja. Pukul sepuluh kami sampai di tempat tujuan. Terbentang di hadapan saya pantai paling cantik yang pernah saya lihat. Airnya biru kehijauan, pasirnya putih. Di sekelilingnya penuh dengan pepohonan dan batu karang. Sementara jauh di sisi kiri seberang, ada air terjun kecil yang tiap beberapa menit sekali mendeburkan ombak dari balik karangnya.

Yang lebih menyenangkan, pantai itu amat sunyi sebab jauh dari keramaian. Kami tidak perlu membaginya dengan siapa-siapa, kecuali beberapa kelompok backpackers yang telah terlebih dulu bermalam di sana, dan mendirikan beberapa tenda. Di pulau yang sepi itu kami tidak mendengar suara apapun kecuali bunyi air, sehingga rasanya persis seperti berada di pulau pribadi.

Sekitar pukul dua kami memutuskan pulang, dan keluar dari pantai. Diharapkan, sebelum gelap kami sudah sampai di pinggir pulau, dan menyeberang dengan perahu yang tadi. Namun rupanya, jalan yang sebelumnya kami lalui, semakin bertambah-tambah licin. Kawan saya yang sudah sering naik gunung saja sampai mengakui, bahwa medan yang kami lalui itu sangat berat. Menurut teori, perjalanan pulang akan lebih mudah ketimbang waktu berangkat. Tapi kenyataannya, malah sebaliknya. Mungkin karena kami semua sudah kelelahan, berkali-kali salah satu dari kami jatuh tergelincir. Terutama kawan saya perempuan yang sejak berangkat sudah terkilir kakinya, kondisinya semakin memburuk sehingga dia harus dipapah.

Sementara saya, sejak awal kami keluar dari pantai, terus terang sudah jatuh mental. Medan yang memburuk itu membuat saya putus asa. Terbayang oleh saya perjalanan maha panjang yang sekali lagi akan kami lalui. Dalam keadaan stres dan lelah, saya jadi tidak fokus, sehingga berkali-kali tergelincir ke dalam kubangan lumpur. Tapi entah bagaimana caranya, setelah setengah jam pertama, kekuatan saya muncul kembali, dan saya jadi sangat bersemangat seperti waktu berangkat tadi.

Tanpa terasa, kami sudah berjalan berjam-jam dan langit di atas kepala mulai gelap. Waktu saya lihat jam tangan, rupanya sudah pukul setengah enam, dan sialnya, kami rupanya berjalan terpisah. Ada lima orang yang sudah menghilang terlebih dulu di depan. Sementara saya, berjalan dalam rombongan sisanya, termasuk di dalamnya kawan yang kakinya terkilir.

Dalam keadaan gelap menjelang magrib, saya mulai panik, namun tidak tega mengutarakannya pada kawan yang lain, sebab dari raut wajahnya, saya tahu mereka juga merasakan hal yang sama. Untungnya, tak lama berselang kami mendengar teriakan salah satu kawan dari rombongan depan, yang rupanya juga baru menyadari kalau kami semua sudah saling terpisah jauh. Lewat teriakan, rombongan depan mengatakan bahwa mereka akan berhenti berjalan, dan menunggu kami.

Ketika akhirnya kami semua telah saling berkumpul, hutan Sempu sudah benar-benar gelap. Celakanya, kawan saya yang laki-laki tidak sengaja meninggalkan senter di dalam mobil. Untungnya, seorang kawan membawa satu lampu darurat di dalam tasnya. Berbekal hanya sebuah lampu yang penerangannya tidak memadai, kami berjalan beriringan di dalam kegelapan hutan. Sementara jalur yang kami lalui, semakin sulit untuk ditempuh.

Karena tidak berani mengambil resiko terperosok dalam lubang, kami berjalan perlahan-lahan sambil terseok-seok. Hampir seluruh pakaian kami habis terbenam di tanah berlumpur. Keadaan saat itu, sungguh mengerikan sekali. Beberapa dari kami terlalu ketakutan untuk bisa bicara. Sebagian lagi, tak henti-henti menyebut nama Tuhan dengan paniknya.

Perjalanan dalam kegelapan itu rasanya seperti selamanya. Sempat terpikir oleh saya, bahwa kami semua mungkin tidak akan selamat. Kami mungkin akan mati diterkam binatang buas, mati tersasar, atau mati kelaparan. Terbayang oleh saya, besok pagi kami akan diberitakan, seperti berita hilangnya kelompok pendaki gunung yang pernah saya baca di koran-koran.

Tapi benar-benar ajaib, pada akhirnya segala ketakutan saya itu cuma ada di dalam hati. Selebihnya, saya ternyata sanggup menguasai diri. Padahal beberapa kawan, mentalnya sudah sangat down. Saya yang cengeng ini, ternyata sanggup tidak menangis. Saya juga berhasil mengabaikan segala nyeri di paha dan pergelangan kaki, yang sakitnya sungguh menyiksa. Saya bahkan berjalan tepat di belakang kawan laki-laki yang membawa lampu, lalu membantu yang lain menunjukkan jalan yang aman untuk dilalui. Entahlah, ada keinginan kuat di dalam diri saya untuk bisa bertahan hidup.

Berjam-jam kami dengan tabah menyusur jalanan yang licin. Akhirnya, pada suatu titik, kawan laki-laki yang berjalan paling depan menyatakan dengan girang bahwa kami telah sampai di bibir pantai. Katanya dia telah melihat air dan batu karang. Tapi beberapa detik kemudian dia berseru lagi, ternyata yang dilihatnya cuma batu dan batang pohon. Mungkin kawan saya itu berhalusinasi saking depresinya. Yang pasti, kekhilafan yang sempat membuat saya penuh harap itu rasanya amat menyakitkan. Dalam hati, saya kecewa dan sangat frustasi.

Namun entah bagaimana caranya, sekitar jam delapan malam, akhirnya kami sampai juga di bibir pantai. Sebelumnya saya tidak berani berharap lagi sampai melihat pemandangan air dengan mata kepala sendiri. Tapi ternyata, kami memang benar-benar sudah sampai. Yang paling membuat saya bersyukur adalah, bapak tukang perahu yang tadi mengantar kami, masih saja setia menunggu dari jam empat sore. Beliau menyambut kami dengan omelan, mungkin karena panik dan lelah menunggu. Ketika telah naik di atas perahu, hanya sedikit dari kami yang sanggup buka suara. Selebihnya cuma bisa terdiam. Mungkin masih shock. Mungkin juga karena disiram kelegaan yang terlalu, sehingga tidak sanggup berkata-kata.

Pulang ke Jakarta, saya membawa banyak oleh-oleh pelajaran berharga. Pengalaman di Pulau Sempu mengajarkan pada saya, bahwa alam liar ternyata kejam tak kenal ampun. Lebih kejam dari kemacetan Jakarta. Lebih kejam dari putus cinta. Bersombong diri, tak ada gunanya sama sekali. Tanpa persiapan dan bekal yang cukup, manusia hanya akan mati konyol di dalamnya. Dan bahwa kesetiaan dan kebersamaan, adalah syarat mutlak untuk dapat menaklukkannya.

Alam liar juga diam-diam memberi tahu saya, tentang sifat asli manusia yang secara alamiah akan muncul, apabila berada dalam keadaan terdesak. Yang mana yang tangguh, yang mana yang sabar, yang mana yang berjiwa pemimpin, dan sebagainya. Jauh di atas segalanya, alam liar telah mengajak saya untuk mengenal lebih jauh ke dalam diri saya sendiri, bahwa ternyata, saya tidak selemah yang selama ini saya bayangkan.

June 20, 2009

CATATAN PERJALANAN

Sejak dari dulu, setiap habis jalan-jalan ke luar kota, saya tidak pernah punya niat untuk membuat semacam catatan perjalanan. Kalaupun setelahnya saya membuat tulisan, pasti cuma mengangkat sisi perasaan saya akan kesan-kesan perjalanan tersebut. Menurut saya, catatan semacam itu rasanya kurang berguna, karena toh hampir semua orang pernah pergi ke Bandung, atau Jogja, misalnya.

Tapi semenjak ’mengenal’ Mbak Trinity, pikiran saya berubah sama sekali. Setelah membaca The Naked Traveler sampai habis, saya baru tersadar, catatan perjalanan itu bukan hanya tentang pergi ke Bandung, atau Jogja, misalnya, melainkan tentang pengalaman setiap orang yang masing-masing berbeda, meski tempat tujuannya sama. Betapa catatan itu amat berguna buat para pembacanya.

Namun, diam-diam, saya agak khawatir juga, karena kesuksesan catatan yang dibuat oleh Mbak Trinity, sangat dipengaruhi oleh gaya bertuturnya yang singkat namun padat. Sementara saya, seisi dunia juga tahu kalau saya ini paling ahli membuat tulisan yang berbelit-belit. Belum lagi gaya bahasa saya yang sentimentil nan sok puitis, wah, bisa-bisa butuh dua halaman sendiri untuk membahas keindahan sebuah kota yang saya datangi.

Tapi, yah, tentu semuanya harus dicoba. Entah bagaimana jadinya catatan perjalanan saya nanti, pokoknya saya berusaha supaya isinya informatif, sebab andaikata tulisan saya ini adalah seorang wanita, tentu akan sangat disayangkan apabila dia cuma sekedar cantik (setidaknya menurut saya, cantik itu kan relatif, haha), tapi tidak berisi, ya kan?

June 08, 2009

KADANG-KADANG, HIDUP ITU KEJAM

Belakangan ini, saya lagi banyak pikiran. Isinya, ya, tidak lain tidak bukan masalah kerjaan. Rekonsiliasi saya kusut dan acak-acakan, meski sudah jutaan kali saya telusuri angka-angka itu supaya bisa beres.

Puncak kekesalan saya, adalah hari senin kemarin. Berhari-hari lembur dan pulang malam, saya lelah dan frustasi. Seharian saya uring-uringan. Akhirnya, saya memutuskan pulang on time dan melupakan semuanya. Sayang, pak bos sedang ada acara, jadi saya tidak bisa nebeng seperti biasa.

Karena sedang bad mood, saya malas naik patas yang penuh, sehingga memutuskan balik arah ke Blok M demi sebuah kursi kosong. Karena baru saja hujan deras, jalanan seratus kali lipat lebih macet daripada biasanya. Hampir satu jam saya akhirnya sampai di Blok M.

Lalu, duduklah saya dengan manis di patas yang masih kosong melompong, di bawah AC yang sejuk, di pinggir jendela yang banyak pemandangan. Ketika baru mau memejamkan mata, datang penumpang baru dan duduk di sebelah saya. Sialnya, mas yang baru datang itu ukuran tubuhnya luar biasa besar. Jadi lengan saya sedikit tergencet tubuhnya yang berat. Yah, maksud hati mau duduk tenang, saya malah jadi kesal.

Tidak berapa lama, keadaan bertambah buruk lagi. Mas di sebelah saya itu tidur nyenyak, sambil mengorok! Saya yang seharian sudah frustasi, tambah frustasi. Apalagi di luar sana macetnya gila-gilaan, sehingga patas yang saya tumpangi cuma bisa bergerak seperti siput.

Duh, rasanya saya mau teriak-teriak memaki si mas itu sepuas hati, saking kesalnya. Atau malah ditambah dengan membenturkan kepala ke tembok, biar dramatis. Tapi apa daya, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Cuma bisa duduk memajukan badan, sambil berpikir bahwa hidup itu kadang memang sempurna. Sempurna kejamnya!

June 06, 2009

IRISAN BOLU WAKTU

Andaikata waktuku satu minggu adalah seloyang kue bolu, yang harus dibagi untuk banyak hal penting dalam hidup, aku ragu telah membaginya dengan rata.

Karena kusaksikan di sebuah irisan yang tipis, kedua lengan ibuku menggapai-gapai mencari perhatian, memintaku untuk menebalkan irisan untuknya. Terlalu tipis, keluhnya.

Lalu, kulihat kawan-kawan baikku berebut bagian dari satu irisan tipis lainnya, yang tidak akan pernah bisa memuaskan satu orangpun. Terlalu sedikit untuk kami semua, protes mereka.

Sementara, tergeletak di sebelahnya, irisan setebal batu bata yang sanggup memberi makan sepuluh kepala. Namun, aku tak berdaya untuk membaginya pada siapa-siapa. Ada jurnal-jurnal yang dengan berkuasa memilikinya.

Dan, di dalam loyang yang sama, diantara irisan-irisan yang berat sebelah itu, berceceran remah-remah di sekelilingnya. Di sanalah bagianku.

Juni 2009

June 04, 2009

BUKAN TEMAN YANG BAIK

Salah satu teman baik saya, yang adalah teman baik sejak jaman SD, yang kemarin dulu sempat kecanduan novel Twilight itu, menikah sekitar sebulan lalu (atau dua bulan lalu, duh maap saya lupa). Berhubung orangtuanya sudah pindah dinas ke Palembang, yang mana juga adalah kampung halamannya, dan mengingat bahwa resepsi pernikahan adalah hajatan milik orangtua, maka resepsi pernikahannya digelar di kampung halamannya tersebut.

Saya tidak menghadiri acara itu, tentu sudah bisa diduga. Palembang terlalu jauh, dan waktu itu saya sedang pusing sekali dengan pekerjaan, sehingga sama sekali tidak berdaya. Untungnya, teman baik saya itu maklum.

Nah, sampai disitu, semua baik-baik saja. Yang menjadi persoalan adalah, saya lupa tanggal pernikahannya, dan tidak sempat mengucapkan secara langsung. Padahal sebelumnya, di kepala saya sudah terbayang skenario indah tentang membeli kado pernikahan, lalu menyempatkan bertemu dia di Jakarta sebelum acara. Tapi entah bagaimana caranya, saya sibuk sendiri, dan baru tiba-tiba tersadar tentang hal itu pada suatu malam. Detik itu juga, saya sms dia. Betapa hancur hati saya, waktu malam itu dia bilang, dia baru saja landing di Palembang, dan hari pernikahannya adalah besok lusa.

Terus terang, sampai hari ini, saya masih juga belum sempat menemuinya. Entahlah. Belakangan saya dapati saya ini semakin cuek saja pada teman-teman terdekat. Bahkan terhadap salah satu sahabat saya yang bakal berangkat sekolah itu, bisa dibilang saya harus sedikit dipaksa untuk bisa bertemu.

Lalu, masih ada lagi ‘dosa’ saya terhadap teman baik saya yang baru menikah itu. Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja obrolan di status Facebook-nya menyatakan bahwa dia rupanya sudah mulai ngidam. Terus terang, saya sedih sekali harus mengetahuinya dengan cara seperti itu. Kalau saja dalam minggu-minggu ini saya sempat menemuinya, atau setidaknya menyenggol-nyenggol dia di yahoo messenger, mungkin saya bisa mendengar berita bahagia itu langsung dari mulutnya. Tapi nyatanya, saya sudah berubah jadi teman yang cuek sekali.

Dan sejujurnya, masih ada lagi daftar beberapa orang terdekat yang padanya saya merasa berdosa atas kecuekan saya. Tapi lain kali saja saya ceritakan, saya malu menuliskannya.

June 03, 2009

LESSON FROM MISTAKES

Hari ini saya mendapat pelajaran berharga sekali. Tentang menyikapi perbedaan pendapat. Tentang memahami orang lain dari posisi dia berada. Tentang pertemanan. Dan tentang maaf.

Bermula dari kasus yang terjadi antara Ibu Prita dan RS. Omni yang ramai diberitakan media, dan mengundang banyak simpati. Jadilah saya ikut merasa terpanggil rasa kepeduliannya, karena sebagai seorang blogger, saya merasa perlu benar ada kejelasan dan keadilan soal bagaimana kebebasan berpendapat dilindungi dalam undang-undang. Dan sebagai seorang awam penyakitan yang sering merasakan menginap di rumah sakit, saya tahu benar bagaimana rasanya merasa kecil dan tak berdaya di hadapan dokter rumah sakit yang kebanyakan angkuh.

Menurut hemat saya, pangkal kasus ini terjadi akibat kecenderungan sebagian besar dokter dan rumah sakit yang arogan, ditambah lagi dengan ketidakmengertian pasien, dan sikap mereka yang pasif. Waktu tadi pagi artikel di sebuah surat kabar mengurai hal yang sama dengan analisa saya, giranglah saya. Lantas saya kutiplah isi artikelnya yang menyebutkan tentang lima hak pasien, saya cantumkan di halaman status yang disediakan oleh situs Facebook.

Harapan saya, bukan cuma para dokter yang berintrospeksi, dengan berbekal sepotong info mengenai hak-haknya, para pasien diharapkan bisa keluar dari lembah ketidakmengertian dan bisa berubah jadi lebih aktif. Mereka biar bisa punya bargaining power untuk mereduksi kearoganan institusi kedokteran.

Nah, salah satu teman baik saya, kebetulan adalah karyawan RS. Omni. Awalnya dia netral saja terhadap kasus ini, paling-paling cuma khawatir imbas buruknya berpengaruh ke karyawan yang tak berdosa seperti dirinya. Tanpa saya duga, siang tadi, waktu saya mencantumkan status itu, dia protes lewat sms. Dia bilang dia tidak senang membaca status saya karena dianggapnya memojokkan rumah sakit tempatnya bekerja.

Terus terang, saya langsung kesal membaca kalimatnya. Padahal jelas-jelas isinya cuma menyebutkan lima hak pasien yang sama sekali tidak menyebutkan nama institusi manapun. Dengan emosi, saya balas smsnya. Isinya, ya kurang lebih mengungkapkan kekesalan saya padanya. Walaupun perasaan saya rada tidak tega karena dia teman baik saya sendiri, saya sudah tidak bisa mengendalikan diri. Kalimat saya cukup emosional.

Setelah berjam-jam, sms saya tak dibalasnya. Terus terang, saya jadi menunggu-nunggu. Penasaran mau tahu apa balasnya, karena teman baik saya ini kebetulan adalah seorang yang reaksioner. Tak disangka tak dinyana, ketika akhirnya balasan sms itu tiba juga, isinya jauh sekali dari dugaan saya. Kalimat pertama dibukanya dengan ucapan maaf, lalu dia mengakui, dia tidak seharusnya menuduh saya. Dia bilang, dia jadi defensif karena khawatir terjadi hal-hal buruk terhadap kantornya, yang jelas berpengaruh terhadap masa depannya. Lantas dia menjelaskan, sulit baginya bersikap netral, tapi pada akhirnya dia sadar dan mencoba menilai semuanya secara proporsional. Terakhir, dia bilang dia tidak mau kehilangan teman baik cuma gara-gara perdebatan sepele.

Duh, hati siapa yang tega kalau sudah membaca kalimat seperti itu. Apalagi, saya sendiri jelas punya salah. Saya tadi terlalu emosi dalam membalas smsnya. Harusnya saya bisa membalas smsnya dengan cara yang lebih anggun dan menyejukkan. Andai tadi saya mau sebentar saja membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi sulit seperti dia, tentu tidak akan begini jadinya. Langsung saya balas smsnya dengan berondongan kata maaf yang tak kalah panjangnya. Sambil dengan mata berkaca-kaca.

Baru saya sadari, ini semua konyol sekali, kami nyaris kehilangan satu sama lain cuma gara-gara perdebatan sepele. Lagipula, bukan begini cara berdebat yang baik dan benar. Kalau salah satu dari kami sudah mulai emosi, harusnya kan salah satunya mencoba mendinginkan, bukan malah membalas dengan statement yang memprovokasi.

Dan setelah saya pikir-pikir lagi, di balik sikapnya yang kadang reaksioner, kawan baik saya itu punya kualitas unggul yang tidak saya miliki. Dia berani berbesar hati meminta maaf terlebih dulu. Taruhan, andaikata tadi dia tidak meminta maaf duluan, mungkin kami masih akan terus menyimpan kesal sampai entah kapan.

Berbekal kejadian hari ini, saya berjanji pada diri sendiri, untuk jangan pernah lagi bertindak menuruti emosi. Belajar melihat segala sesuatu dengan bijaksana. Dan, belajar untuk mau meminta maaf. Duh, betapa maaf itu manis rasanya, obat mujarab untuk segala persoalan.

PS. Lima hak pasien, yaitu mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis, meminta pendapat dokter atau dokter lain, mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis, menolak tindakan medis, dan mendapatkan isi rekam medis

May 25, 2009

You Are What You Eat

Jadi ceritanya, malam itu saya dan adik saya yang perempuan sedang duduk di depan televisi. Tidak berapa lama, muncul di hadapan kami iklan makanan beku dalam kaleng. Perhatian saya langsung tertuju pada sekawanan ikan segar sebagai bahan baku makanan kaleng tersebut.

“Ih, ikan teri,..!” celetuk saya spontan.

“Yeeee, itu mah ikan tunaa,..” adik saya kontan protes. Nada suaranya terdengar sangat terganggu, demi mendapati kakaknya yang tiada sanggup membedakan jenis ikan. Walaupun sesungguhnya dia harus memakluminya, karena bertahun-tahun tinggal satu rumah, dia tahu benar saya tidak pandai membedakan makanan. (Saya bahkan tidak bisa membedakan tekstur daging: kambing atau sapi. Hahaha).

Nah, ketika saya sedang tertawa geli dalam hati mengingat kebodohan sendiri, tiba-tiba adik saya ikut-ikutan tertawa. Tawanya sungguh menyebalkan. Dan seolah-olah seperti baru saja mendapatkan ilham, di sela-sela tawanya dia berujar:

“You are what you eat! Hahahaha!”

Tawanya membahana makin kencang. Lama-lama makin menyebalkan. Sungguh memalukan sekali. Padahal, kalau menu makan saya selama ini teri, harusnya dia juga begitu, wong kami serumah. Sial. Tapi yah sudahlah, teri itu kan sehat, banyak kalsiumnya. Hahaha.