Kamu tahu tidak, dulu setengah mati saya mengambil keputusan untuk menghapus semua hal tentang kamu. Susah payah saya iris-iris semua kenangan tentang kamu. Kepala kamu, tubuh kamu, kedua lengan dan sepasang kakimu. Lalu saya lempar jauh-jauh kamu dari hidup saya.
Sementara hati kamu, oh tolong jangan tanya tentang itu. Tentu saja saya tidak sanggup membuangnya. Saya membutuhkannya supaya bisa terus bertahan. Saya butuh untuk selalu dekat dengan hatimu. Maka, saya telan dia bulat-bulat, agar jangan pernah berpisah dari hidup saya.
Lalu, bertahun-tahun kemudian, ketika saya pikir hidup saya akan baik-baik saja berbekal tabungan sebentuk hatimu, tiba-tiba semuanya berantakan. Ibarat dulu melempar bumerang, sekonyong-konyong segala tentang kamu berceceran kembali di hadapan saya. Kepala kamu, tubuh kamu, kedua lengan dan sepasang kakimu. Kamu seperti begitu saja jatuh dari langit.
Lantas hati kamu, hati kamu yang selama ini berdiam tenang di dalam tubuh saya, serta-merta bergejolak. Dan saya tidak sanggup menenangkannya. Segala ketabahan dan kesabaran yang selama bertahun-tahun saya pendam, seperti hilang tidak berbekas. Saya tidak kuasa lagi meredam semuanya.
Saat ini, tidak ada yang lebih saya inginkan selain menyatukan kembali serpihan-serpihan tubuh kamu yang bertahun-tahun lalu telah sengaja saya iris, lalu meletakkan kembali hatimu di dalamnya. Sungguh, saat ini, tidak ada yang lebih saya inginkan, selain kembali memilikimu.
Maret 2009
March 19, 2009
March 16, 2009
SEPASANG HANTU
Aku tidak ingat kapan tepatnya semua ini bermula, tapi sepasang hantu seringkali berkunjung ke dalam bilik mimpiku yang kosong. Apabila gelap tiba, mereka berkeliaran di alam bawah sadarku. Sepanjang malam, aku seperti melihat mereka bercakap-cakap. Yang satu terkadang sambil duduk di depan meja makan, sementara yang satu bolak-balik ke arah dapur. Dunia mereka kelihatan begitu asing, percakapan mereka pun seperti film bisu, namun entah bagaimana caranya aku seperti telah memahami apa yang berlangsung di antara mereka.
Seseorang menyarankan aku untuk mencari teman tidur, supaya aku tidak ketakutan, dan supaya sepasang hantu itu berhenti mengunjungiku. Tapi ide itu kurasa hanya akan menambah buruk keadaan. Mana ada orang yang sudi berbaring bersama seseorang yang tidur malamnya tidak pernah tenang? Aku khawatir, dia akan lari ketakutan, demi mendengar igauanku yang tidak keruan, apabila sepasang hantu itu tengah datang menjenguk bilik mimpiku.
Seseorang lagi menerka-nerka, jangan-jangan semua itu bersumber dari persoalan hidupku yang belum selesai. Lalu harus kucari ke mana sepasang manusia yang kira-kira hendak berdamai dengan hidupku? Di gedung-gedung bertingkat? Di rumah makan? Di jalan raya? Di halte busway? Atau di atas ranjang? Aku tidak bisa menemukannya, karena aku berani bersumpah, aku tidak punya masalah dengan pasangan manapun di atas muka bumi ini. Satu-satunya yang muncul di benakku, hanyalah sepasang hantu yang setiap malam mendatangiku.
Namun setelah aku ingat-ingat kembali, aku ragu apakah benar mereka hendak menyakitiku. Mereka cuma bercakap-cakap sepanjang malam, persis seperti sebagaimana dilakukan oleh pasangan manapun di dunia nyata. Lantas kenapa percakapan sebuah pasangan jadi begitu menggangguku?
Oh Tuhan, aku takut. Bagaimana kalau ini semua memang hanya tentang aku? Bagaimana kalau ternyata satu-satunya persoalan hidupku adalah aku sendiri yang merasa terganggu melihat orang lain hidup bahagia?
Ya Tuhan, sekarang baru aku sadar, mungkin ini semua memang tentang aku. Bukan mereka yang hendak menyakitiku. Rupanya aku yang merasakan sakit di hati, demi menyaksikan mereka yang bercakap-cakap dengan bahagia.
Maret 2009
Seseorang menyarankan aku untuk mencari teman tidur, supaya aku tidak ketakutan, dan supaya sepasang hantu itu berhenti mengunjungiku. Tapi ide itu kurasa hanya akan menambah buruk keadaan. Mana ada orang yang sudi berbaring bersama seseorang yang tidur malamnya tidak pernah tenang? Aku khawatir, dia akan lari ketakutan, demi mendengar igauanku yang tidak keruan, apabila sepasang hantu itu tengah datang menjenguk bilik mimpiku.
Seseorang lagi menerka-nerka, jangan-jangan semua itu bersumber dari persoalan hidupku yang belum selesai. Lalu harus kucari ke mana sepasang manusia yang kira-kira hendak berdamai dengan hidupku? Di gedung-gedung bertingkat? Di rumah makan? Di jalan raya? Di halte busway? Atau di atas ranjang? Aku tidak bisa menemukannya, karena aku berani bersumpah, aku tidak punya masalah dengan pasangan manapun di atas muka bumi ini. Satu-satunya yang muncul di benakku, hanyalah sepasang hantu yang setiap malam mendatangiku.
Namun setelah aku ingat-ingat kembali, aku ragu apakah benar mereka hendak menyakitiku. Mereka cuma bercakap-cakap sepanjang malam, persis seperti sebagaimana dilakukan oleh pasangan manapun di dunia nyata. Lantas kenapa percakapan sebuah pasangan jadi begitu menggangguku?
Oh Tuhan, aku takut. Bagaimana kalau ini semua memang hanya tentang aku? Bagaimana kalau ternyata satu-satunya persoalan hidupku adalah aku sendiri yang merasa terganggu melihat orang lain hidup bahagia?
Ya Tuhan, sekarang baru aku sadar, mungkin ini semua memang tentang aku. Bukan mereka yang hendak menyakitiku. Rupanya aku yang merasakan sakit di hati, demi menyaksikan mereka yang bercakap-cakap dengan bahagia.
Maret 2009
Labels:
poem
March 13, 2009
KALAU REJEKI TAK KEMANA
Kisah yang ini lagi-lagi terjadi di dalam angkot. Sewaktu pulang kerja, saya mendapati seorang teman lama duduk di angkot yang saya tumpangi. Dulu semasa kuliah, kami satu anggota paduan suara, dan sempat melewati begitu banyak masa menyenangkan bersama. Sekarang dia sudah menikah, lalu punya anak. Kali terakhir saya menjumpainya, adalah bulan puasa lalu, waktu menjenguk dia yang melahirkan anak pertama.
Ketika menyadari kehadirannya, tidak ada yang ingin saya lakukan selain menjerit histeris, lalu melanjutkannya dengan obrolan seru. Sayang, posisi duduk kami berjauhan: saya di pojok, sementara dia tepat di kursi depan pintu. Akhirnya kami cuma bisa saling menatap. Dia mengerling jahil, saya senyum-senyum kecil.
Di tengah perjalanan, dari tempat duduknya, teman saya itu bertanya, berapa ongkosnya andaikata dia hendak turun di mal yang sebentar lagi bakal kami lewati. Setelah saya jawab, dia bertanya lagi, di mana saya bakal turun, lantas berapa ongkosnya. Logika saya dengan sigap mengatakan, bahwa dia berniat turun di mal, lalu ingin sekalian membayari ongkos saya. Maka tanpa pikir panjang, saya langsung menolaknya — secara tersirat tentu saja. Sambil bercanda saya bilang saya kurang yakin berapa. Tapi dengan nada serius dia meyakinkan, bahwa dia memang hendak turun di tempat yang sama dengan saya.
Terus terang, saking seriusnya dia, diam-diam saya jadi malu pada penumpang satu angkot yang menyaksikan obrolan kami. Mereka pasti mencap saya ke-GR-an karena mengira bakal dibayari. Hahaha. Tapi walaupun sandiwara teman saya itu tergolong boleh juga, intuisi saya yang selalu bisa diandalkan tetap mengatakan bahwa dia memang cuma bersandiwara. Namun akhirnya saya beritahu juga berapa ongkos sebenarnya, takut bertambah malu, siapa tahu intuisi saya kali ini menyesatkan.
Ketika angkot kami berhenti di halte depan mal, barulah misteri itu terjawab. Tanpa ba bi bu, teman saya itu mengemasi tas kerjanya, lantas bergegas turun. Sambil membayar, dia memberi kode pada saya bahwa ongkos saya sudah dibayarinya sekalian. Nah, benar saja kan! Apa kata saya tadi, dia memang berniat membayari saya.
Berhubung belum sempat berterima kasih, saya kemudian mengiriminya sms pendek mengucapkan terima kasih. Dia membalasnya dengan nada penuh kepuasan. Haha. Sial, saya kecolongan. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, ya sudahlah, saya sudah mencoba mengelak tapi tetap gagal. Memang dasarnya rejeki saya, mau bagaimana lagi. Lumayan juga sebenarnya. Hahaha.
Ketika menyadari kehadirannya, tidak ada yang ingin saya lakukan selain menjerit histeris, lalu melanjutkannya dengan obrolan seru. Sayang, posisi duduk kami berjauhan: saya di pojok, sementara dia tepat di kursi depan pintu. Akhirnya kami cuma bisa saling menatap. Dia mengerling jahil, saya senyum-senyum kecil.
Di tengah perjalanan, dari tempat duduknya, teman saya itu bertanya, berapa ongkosnya andaikata dia hendak turun di mal yang sebentar lagi bakal kami lewati. Setelah saya jawab, dia bertanya lagi, di mana saya bakal turun, lantas berapa ongkosnya. Logika saya dengan sigap mengatakan, bahwa dia berniat turun di mal, lalu ingin sekalian membayari ongkos saya. Maka tanpa pikir panjang, saya langsung menolaknya — secara tersirat tentu saja. Sambil bercanda saya bilang saya kurang yakin berapa. Tapi dengan nada serius dia meyakinkan, bahwa dia memang hendak turun di tempat yang sama dengan saya.
Terus terang, saking seriusnya dia, diam-diam saya jadi malu pada penumpang satu angkot yang menyaksikan obrolan kami. Mereka pasti mencap saya ke-GR-an karena mengira bakal dibayari. Hahaha. Tapi walaupun sandiwara teman saya itu tergolong boleh juga, intuisi saya yang selalu bisa diandalkan tetap mengatakan bahwa dia memang cuma bersandiwara. Namun akhirnya saya beritahu juga berapa ongkos sebenarnya, takut bertambah malu, siapa tahu intuisi saya kali ini menyesatkan.
Ketika angkot kami berhenti di halte depan mal, barulah misteri itu terjawab. Tanpa ba bi bu, teman saya itu mengemasi tas kerjanya, lantas bergegas turun. Sambil membayar, dia memberi kode pada saya bahwa ongkos saya sudah dibayarinya sekalian. Nah, benar saja kan! Apa kata saya tadi, dia memang berniat membayari saya.
Berhubung belum sempat berterima kasih, saya kemudian mengiriminya sms pendek mengucapkan terima kasih. Dia membalasnya dengan nada penuh kepuasan. Haha. Sial, saya kecolongan. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, ya sudahlah, saya sudah mencoba mengelak tapi tetap gagal. Memang dasarnya rejeki saya, mau bagaimana lagi. Lumayan juga sebenarnya. Hahaha.
Labels:
an unquiet mind
March 11, 2009
BAYI MUNGIL DI DALAM ANGKOT
Hujan rintik-rintik ketika malam itu saya pulang kantor. Turun dari bis kota, saya bergegas menaiki angkot yang sedang berjajar di seberang jalan. Baru sekejap duduk, tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram lengan baju saya dari arah kanan. Saya sudah hampir menduga bahwa saya punya penggemar berat yang sedang histeris, ketika saya lihat siapa gerangan pelakunya.
Oh, seorang bayi rupanya. Mungil. Duduk di pangku ibunya persis di pojok kanan saya. Dalam kegelapan, sepasang matanya yang bulat bersinar-sinar menatap saya. Sementara ibunya cuma tersenyum kecil. Kasihan, mungkin sedari tadi dia bosan, duduk dalam angkot sepi yang cahayanya temaram, sehingga langsung terhibur melihat kedatangan saya yang berkemeja warna-warni.
Eh, cengkeramannya kuat, rasanya masih terasa bekas cakarnya di kulit saya.
Dan matanya yang bulat bersinar itu, sampai hari ini, rupanya juga masih membekas di kepala saya.
Aih, semoga kapan-kapan bisa bertemu lagi.
Oh, seorang bayi rupanya. Mungil. Duduk di pangku ibunya persis di pojok kanan saya. Dalam kegelapan, sepasang matanya yang bulat bersinar-sinar menatap saya. Sementara ibunya cuma tersenyum kecil. Kasihan, mungkin sedari tadi dia bosan, duduk dalam angkot sepi yang cahayanya temaram, sehingga langsung terhibur melihat kedatangan saya yang berkemeja warna-warni.
Eh, cengkeramannya kuat, rasanya masih terasa bekas cakarnya di kulit saya.
Dan matanya yang bulat bersinar itu, sampai hari ini, rupanya juga masih membekas di kepala saya.
Aih, semoga kapan-kapan bisa bertemu lagi.
Labels:
an unquiet mind
February 24, 2009
BIRTHDAY GIFT [2]
Tradisi bertukar kado ulang tahun, tentu saja berlaku juga di antara saya dan geng kawan-kawan semasa kuliah. Dan persis seperti sekumpulan rekan kantor saya yang bernasib malang itu, mereka juga saya titipi pesan, tentang kado apa yang saya inginkan kali ini.
Di hadapan perempuan yang manis-manis itu, rupanya permintaan saya disambut dengan lebih mulus. Karena tidak mau repot, acara pembelian kado malah direncanakan untuk mengikutsertakan saya langsung ke tokonya, supaya praktis dan tidak bertele-tele.
Akhirnya, pada sebuah hari sabtu, berangkatlah saya dan salah seorang kawan satu geng ke sebuah pusat perbelanjaan, untuk sama-sama membeli kado saya. Seperti terhipnotis pada sihir simbolisasi, rencananya bakal kado yang hendak dibeli itu, akan dibawa pulang oleh kawan saya, guna diserahkan kembali pada saya, tepat pada hari ulang tahun. Hahaha. Ini agak konyol memang, tapi benar demikianlah yang terjadi.
Kemudian sampailah kami di toko pakaian yang barang dagangannya saya taksir. Sebentar saja memilih, saya langsung menjatuhkan pilihan pada sebuah atasan. Tanpa diduga, kawan saya itu ikut-ikutan jatuh hati pada sebuah celana panjang. Akhirnya, dia berbelanja juga untuk dirinya sendiri.
Di hadapan kasir, kawan saya baru sadar bahwa uang di dompetnya tidak cukup untuk membayar belanjaannya. Terpaksa dia harus menggunakan kartu debit. Sialnya, kawan saya (dan juga saya kebetulan) adalah pemegang kartu debit Lippo, sementara toko tempat kami berbelanja cuma menerima pembayaran lewat debit BCA, sehingga kawan saya harus menanggung charge sebesar tiga persen dari total belanjaannya.
Saya langsung menampik ide pembayaran dengan kartu, karena teringat bahwa di dompet saya masih ada beberapa lembar cash. Pikir saya, buat apa buang uang kalau masih bisa bayar tunai. Tapi teman saya menolak, dia bilang saya tidak boleh membayar untuk kado saya sendiri. Antara geli dan kesal saya jelaskan padanya, keluar dari toko kami bisa langsung mampir di ATM, dan mengganti uang saya, sehingga saya tidak perlu membayar kado saya sendiri. Tapi teman saya ngotot, katanya biar bagaimana pun saya akan menalangi kado saya sendiri, dan itu sungguh tidak pantas. Kami berdebat cukup lama, sampai petugas kasir di hadapan kami memotong dengan ucapan yang mengesalkan, katanya kalau teman saya kebanyakan uang, kenapa harus dilarang.
Aduh, rasanya saya ingin tampar petugas kasir itu. Tapi karena tidak ingin membuat keadaan jadi tidak mengenakkan, saya diam saja, dan membiarkan kawan saya membayar dengan kartu debit Lipponya. Dalam hati saya jadi menyesal, andai saya tidak lancang minta ikut saat pembelian kado, mungkin teman saya tidak perlu susah payah begini.
Di hadapan perempuan yang manis-manis itu, rupanya permintaan saya disambut dengan lebih mulus. Karena tidak mau repot, acara pembelian kado malah direncanakan untuk mengikutsertakan saya langsung ke tokonya, supaya praktis dan tidak bertele-tele.
Akhirnya, pada sebuah hari sabtu, berangkatlah saya dan salah seorang kawan satu geng ke sebuah pusat perbelanjaan, untuk sama-sama membeli kado saya. Seperti terhipnotis pada sihir simbolisasi, rencananya bakal kado yang hendak dibeli itu, akan dibawa pulang oleh kawan saya, guna diserahkan kembali pada saya, tepat pada hari ulang tahun. Hahaha. Ini agak konyol memang, tapi benar demikianlah yang terjadi.
Kemudian sampailah kami di toko pakaian yang barang dagangannya saya taksir. Sebentar saja memilih, saya langsung menjatuhkan pilihan pada sebuah atasan. Tanpa diduga, kawan saya itu ikut-ikutan jatuh hati pada sebuah celana panjang. Akhirnya, dia berbelanja juga untuk dirinya sendiri.
Di hadapan kasir, kawan saya baru sadar bahwa uang di dompetnya tidak cukup untuk membayar belanjaannya. Terpaksa dia harus menggunakan kartu debit. Sialnya, kawan saya (dan juga saya kebetulan) adalah pemegang kartu debit Lippo, sementara toko tempat kami berbelanja cuma menerima pembayaran lewat debit BCA, sehingga kawan saya harus menanggung charge sebesar tiga persen dari total belanjaannya.
Saya langsung menampik ide pembayaran dengan kartu, karena teringat bahwa di dompet saya masih ada beberapa lembar cash. Pikir saya, buat apa buang uang kalau masih bisa bayar tunai. Tapi teman saya menolak, dia bilang saya tidak boleh membayar untuk kado saya sendiri. Antara geli dan kesal saya jelaskan padanya, keluar dari toko kami bisa langsung mampir di ATM, dan mengganti uang saya, sehingga saya tidak perlu membayar kado saya sendiri. Tapi teman saya ngotot, katanya biar bagaimana pun saya akan menalangi kado saya sendiri, dan itu sungguh tidak pantas. Kami berdebat cukup lama, sampai petugas kasir di hadapan kami memotong dengan ucapan yang mengesalkan, katanya kalau teman saya kebanyakan uang, kenapa harus dilarang.
Aduh, rasanya saya ingin tampar petugas kasir itu. Tapi karena tidak ingin membuat keadaan jadi tidak mengenakkan, saya diam saja, dan membiarkan kawan saya membayar dengan kartu debit Lipponya. Dalam hati saya jadi menyesal, andai saya tidak lancang minta ikut saat pembelian kado, mungkin teman saya tidak perlu susah payah begini.
Labels:
an unquiet mind
February 19, 2009
JARAK USIA
Usiaku lagi-lagi bertambah satu.
Entah sudah kali yang keberapa,
semenjak aku mengenalmu.
Namun sampai hari ini,
aku masih belum dapat menyusul kamu.
Tentu saja,
aku memang tidak bakal bisa mengejar kamu.
Waktu aku lahir,
kamu sudah berlari jauh di depanku.
Dan tiap kali usiaku tambah satu,
begitu pula yang terjadi dengan usiamu.
Kadang-kadang aku membayangkan,
andai kita merayakan usia tujuh belas bersama,
mungkin saat ini kita bisa berjalan berdampingan.
Kamu tidak perlu berada jauh di depan,
sementara aku susah payah menyusul berlarian,
dan berharap kamu sudi mengurangi kecepatan.
Lalu pada saat kita duduk berhadapan,
usiaku sudah mantab dibalut kedewasaan,
sehingga tidak ragu bicara tentang masa depan.
Tapi tentu saja semua itu hanya andaikan.
Kamu sudah melesat jauh ke depan,
dan sampai pada haluan.
Aku pun tak hendak lagi mempertanyakan.
Jawabannya kurasa telah aku temukan:
Tersembunyi pada jarak di mana usia kita berpautan.
Februari 2009
Entah sudah kali yang keberapa,
semenjak aku mengenalmu.
Namun sampai hari ini,
aku masih belum dapat menyusul kamu.
Tentu saja,
aku memang tidak bakal bisa mengejar kamu.
Waktu aku lahir,
kamu sudah berlari jauh di depanku.
Dan tiap kali usiaku tambah satu,
begitu pula yang terjadi dengan usiamu.
Kadang-kadang aku membayangkan,
andai kita merayakan usia tujuh belas bersama,
mungkin saat ini kita bisa berjalan berdampingan.
Kamu tidak perlu berada jauh di depan,
sementara aku susah payah menyusul berlarian,
dan berharap kamu sudi mengurangi kecepatan.
Lalu pada saat kita duduk berhadapan,
usiaku sudah mantab dibalut kedewasaan,
sehingga tidak ragu bicara tentang masa depan.
Tapi tentu saja semua itu hanya andaikan.
Kamu sudah melesat jauh ke depan,
dan sampai pada haluan.
Aku pun tak hendak lagi mempertanyakan.
Jawabannya kurasa telah aku temukan:
Tersembunyi pada jarak di mana usia kita berpautan.
Februari 2009
Labels:
poem
February 11, 2009
BIRTHDAY GIFT [1]
Jadi ceritanya, pada tanggal 8 yang lalu, saya merayakan ulang tahun yang ke dua puluh lima. Sudah merupakan tradisi diantara saya dan beberapa kawan dekat di kantor, untuk memberikan kado pada hari ulang tahun masing-masing.
Nah, pada giliran saya kali ini, setelah bertahun-tahun puas dengan sensasi menerka kado, saya memutuskan untuk menentukan sendiri kado apa yang saya mau. Selain karena ingin memenuhi keinginan pribadi atas sebuah benda (hahaha), saya rasa keputusan itu cukup tepat, karena kawan-kawan saya jadi tidak perlu repot mondar-mandir di pusat perbelanjaan sambil susah payah menerka keinginan saya tahun ini (percayalah, setelah berulang kali mencari kado untuk orang yang sama, pada tahun ketiga semua ide akan macet, karena benda-benda yang mungkin diinginkan telah terbeli pada tahun-tahun sebelumnya).
Ketika keinginan soal kado itu saya utarakan pada kawan-kawan saya, mereka langsung terkikik geli sambil memandang saya dengan tatapan sejuta makna. Tapi saya tetap ngotot. Saya tetap pantang mundur sambil ngoceh menjelaskan apa keinginan saya. Sudah begitu lama saya mendamba sebuah perangkat audio untuk mendengarkan musik. Namun entah bagaimana caranya tiap kali saya gajian, selalu ada benda-benda yang lebih perlu dibeli dibanding benda yang satu itu. Jadi saya pikir, daripada kawan-kawan saya salah membelikan kado, sementara saya jelas-jelas menginginkan sebuah benda, kenapa tidak saya pesan saja benda itu sebagai hadiah.
Keesokan harinya, di luar dugaan saya, salah satu kawan saya berkata bahwa kado untuk saya sudah mulai dipikirkan. Saya langsung gembira sambil berkata dengan nada jumawa: apa gue bilang, jadi memudahkan kalian, kan? Lalu serta merta saya menambahkan, bahwa saya tidak mau kado yang murahan. Dalam artian, mereka harus memastikan bahwa perangkat audio itu tidak berbahaya bagi telinga saya. Apabila dengan anggaran yang telah mereka siapkan, ada kemungkinan bahwa hasilnya membahayakan, lebih baik dibatalkan saja (ya, saya tau saya sangat menyebalkan, hahaha). Walaupun air mukanya terlihat begitu ingin mencekik saya, kawan saya menyarankan agar saya tenang saja. Anggaran yang mereka sediakan tidak bakal berbahaya bagi telinga saya. Mereka sudah berkonsultasi pada Bapak IT, dan menyerahkan urusan pembelian kado itu pada beliau. Haha. Lagi-lagi beliau. Orang yang sama yang dulu pernah mengurusi PC saya yang terjangkit spyware. Tapi justru itu, saya percaya pada pilihan beliau. Sekejap saya langsung lega demi mengetahui bakal kado saya berada di tangan yang tepat.
Demikianlah segalanya membuat hari-hari penantian saya berjalan menegangkan, dan membuat saya begitu tidak sabaran. Sampai akhirnya pada suatu pagi yang hujan, kado itu tiba juga di meja saya. Dibungkus kertas biru. Ditempeli kertas ucapan selamat. Dan saya masih harus menunggu jam kantor usai untuk melihat isinya, karena kombinasi bungkusan besar dan histeria saya yang ajaib, pasti akan menimbulkan kehebohan yang mengganggu ketertiban sekitar.
Ketika sore tiba, saya dan kawan-kawan bergegas berkumpul di ruangan kasir yang tertutup, demi menyaksikan upacara pembukaan kado. Dan di sanalah dia, kado saya yang manis itu: perangkat audio berupa headphone paling keren di seantero jagat raya. Benda yang membuat saya begitu berbahagia, bukan hanya karena dia bisa mengalirkan bunyi musik di dalamnya, tapi juga karena kawan-kawan saya tercinta, dengan bantuan Bapak IT, telah bersusah payah menghadirkannya untuk saya.
Akhir kata, tentu saja, terima kasih saya yang tak terhingga untuk kawan-kawan saya tercinta, dan Bapak IT yang baik hati :)
Nah, pada giliran saya kali ini, setelah bertahun-tahun puas dengan sensasi menerka kado, saya memutuskan untuk menentukan sendiri kado apa yang saya mau. Selain karena ingin memenuhi keinginan pribadi atas sebuah benda (hahaha), saya rasa keputusan itu cukup tepat, karena kawan-kawan saya jadi tidak perlu repot mondar-mandir di pusat perbelanjaan sambil susah payah menerka keinginan saya tahun ini (percayalah, setelah berulang kali mencari kado untuk orang yang sama, pada tahun ketiga semua ide akan macet, karena benda-benda yang mungkin diinginkan telah terbeli pada tahun-tahun sebelumnya).
Ketika keinginan soal kado itu saya utarakan pada kawan-kawan saya, mereka langsung terkikik geli sambil memandang saya dengan tatapan sejuta makna. Tapi saya tetap ngotot. Saya tetap pantang mundur sambil ngoceh menjelaskan apa keinginan saya. Sudah begitu lama saya mendamba sebuah perangkat audio untuk mendengarkan musik. Namun entah bagaimana caranya tiap kali saya gajian, selalu ada benda-benda yang lebih perlu dibeli dibanding benda yang satu itu. Jadi saya pikir, daripada kawan-kawan saya salah membelikan kado, sementara saya jelas-jelas menginginkan sebuah benda, kenapa tidak saya pesan saja benda itu sebagai hadiah.
Keesokan harinya, di luar dugaan saya, salah satu kawan saya berkata bahwa kado untuk saya sudah mulai dipikirkan. Saya langsung gembira sambil berkata dengan nada jumawa: apa gue bilang, jadi memudahkan kalian, kan? Lalu serta merta saya menambahkan, bahwa saya tidak mau kado yang murahan. Dalam artian, mereka harus memastikan bahwa perangkat audio itu tidak berbahaya bagi telinga saya. Apabila dengan anggaran yang telah mereka siapkan, ada kemungkinan bahwa hasilnya membahayakan, lebih baik dibatalkan saja (ya, saya tau saya sangat menyebalkan, hahaha). Walaupun air mukanya terlihat begitu ingin mencekik saya, kawan saya menyarankan agar saya tenang saja. Anggaran yang mereka sediakan tidak bakal berbahaya bagi telinga saya. Mereka sudah berkonsultasi pada Bapak IT, dan menyerahkan urusan pembelian kado itu pada beliau. Haha. Lagi-lagi beliau. Orang yang sama yang dulu pernah mengurusi PC saya yang terjangkit spyware. Tapi justru itu, saya percaya pada pilihan beliau. Sekejap saya langsung lega demi mengetahui bakal kado saya berada di tangan yang tepat.
Demikianlah segalanya membuat hari-hari penantian saya berjalan menegangkan, dan membuat saya begitu tidak sabaran. Sampai akhirnya pada suatu pagi yang hujan, kado itu tiba juga di meja saya. Dibungkus kertas biru. Ditempeli kertas ucapan selamat. Dan saya masih harus menunggu jam kantor usai untuk melihat isinya, karena kombinasi bungkusan besar dan histeria saya yang ajaib, pasti akan menimbulkan kehebohan yang mengganggu ketertiban sekitar.
Ketika sore tiba, saya dan kawan-kawan bergegas berkumpul di ruangan kasir yang tertutup, demi menyaksikan upacara pembukaan kado. Dan di sanalah dia, kado saya yang manis itu: perangkat audio berupa headphone paling keren di seantero jagat raya. Benda yang membuat saya begitu berbahagia, bukan hanya karena dia bisa mengalirkan bunyi musik di dalamnya, tapi juga karena kawan-kawan saya tercinta, dengan bantuan Bapak IT, telah bersusah payah menghadirkannya untuk saya.
Akhir kata, tentu saja, terima kasih saya yang tak terhingga untuk kawan-kawan saya tercinta, dan Bapak IT yang baik hati :)
Labels:
an unquiet mind

